Zevanya Putri Wiratmadja. Putri tunggal seorang konglomerat kaya di Kotanya. Hidupnya sangat sempurna karena memiliki keluarga harmonis dan juga kakak laki-laki yang tampan. Namun siapa sangka? Diam-diam Vanya malah menyukai kakak angkat laki-lakinya itu.
Saat Vanya dengan nekat akan menyatakan perasaannya, kakak laki-lakinya malah mengenalkan seorang wanita yang ia claim sebagai pacarnya.
Di tengah kekacauan hatinya, Vanya bertemu dengan laki-laki menyebalkan yang makin membuat kacau hari-harinya.
Akankah Vanya memilih untuk melupakan kakaknya? Ataukah Vanya lebih memilih untuk memperjuangkan cintanya? Atau malah pindah haluan dan memilih laki-laki menyebalkan yang sayangnya sangat tampan itu?
ikuti terus kisahnya
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon A19, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
5. Ulang tahun Vera
"Ganteng nya mama mau kemana nih udah rapi begini?"
Vano pun menghentikan langkahnya saat sampai di ruang keluarga. Dilihatnya sang mama yang sedang menonton televisi sambil memakai masker di wajah. Di sana ada juga sang papa yang sedang fokus pada laptop di pangkuan nya.
"Ma, aku pergi dulu ya. Ada acara birthday party temen aku" ucap Vano setengah berbohong.
"Paling lambat jam duabelas harus udah pulang" perintah Hendra.
"Iya pa. Aku pamit ya" Vano mencium tangan kedua orang tuanya.
'Jam duabelas? Ini aja udah jam delapan. Gak asik banget deh' gerutu Vano saat sudah berada di dalam mobil Porsche 911 Carerra warna biru.
Tak lupa juga Vano membawa kado untuk kekasihnya dan sebuah bucket bunga mawar merah yang berisi 100 tangkai.
Setelah sampai di pelataran rumah mewah berlantai 2, Vano langsung keluar dari mobilnya sambil membawa hadiah yang sudah ia siapkan tadi.
Pesta itu di adakan di taman belakang yang luas dengan dekorasi mewah ala princess kesukaan Vera.
"Nah ini dia. Ayo sayang. Pa, Ma, kenalin ini pacar aku. Ganteng kan?" saat melihat Vano di pintu masuk kebun, Vera langsung menariknya mendekat kepada sepasang suami istri yang mengenakan pakaian mewah.
Karena Vera berucap lumayan keras, hampir semua tamu mendengar penuturan nya yang memang seolah sengaja memamerkan.
"Kamu udah punya pacar sayang?" tanya sang mama. Sudah menjadi rahasia umum jika Vera ini terkenal sebagai anak manja dan tukang bully, apalagi keluarganya termasuk orang berada.
"Siapa nama kamu?" seorang laki-laki paruh baya menatap Vano dari ujung rambut sampai ujung kaki seolah menilai.
"Nama saya Vano om" dengan sopan Vano menyalimi kedua orangtua Vera yang seperti ogah-ogahan merespon nya.
"Dari keluarga mana?" tanya nya lagi. Kini tatapan menyelidik ia layangkan kepada Vano yang masih terlihat santai dan tak gentar sedikit pun.
Sedangkan mama Vera hanya diam sambil bersedekap dada saja namun terlihat sangat angkuh menurut Vano.
"Papa ih. Jangan gitu lah sama pacar aku. Dia selevel juga kok sama kita" Vera menghampiri sang papa lalu memeluk lengannya untuk menenangkan.
"Kalau dia selevel sama kita, papa cuman pengen tau aja dia dari keluarga mana" nada nya terdengar sangat angkuh di telinga Vano.
'Cuma perusahaan kecil aja belagu banget nih pak tua' sungut Vano di dalam hati.
Ia sangat geram dengan kesombongan yang orangtua Vera tunjukkan. Padahal mereka masih belum ada apa-apanya dengan orangtuanya. Namun sebisa mungkin ia sembunyikan kekesalannya itu.
"Vano ini dari keluarga Leonardo. Papa tau kan Pak Hendra? Nah itu ayahnya" pamer Vera dengan bangga.
Kedua orangtua Vera langsung mendelik kaget. Dengan tergesa-gesa mereka menghampiri Vano. Vano yang melihat itupun langsung memutar kedua bola matanya malas.
"Oalah nak Vano ini ternyata anaknya Pak Hendra toh. Duh tante kenal sekali loh sama mama kamu. Tante suka belanja di butik mama kamu" Ninik selaku mama Vera memegang tangan kanan Vano sok akrab.
Anton berdehem singkat. Tatapan mata yang tadi terlihat angkuh langsung sirna saat itu juga.
"Saya sangat setuju kalau kamu yang menjadi pacar anak saya" Anton kini menatap Vano dengan senyuman ramah.
'Cih najis banget sumpah liatnya. Dasar penjilat! ' umpat batin Vano.
"Berarti sekolah kamu itu milik kakek nya nak Vano ya sayang?" Ninik beralih kepada Vera yang masih menampilkan senyum bangga nya.
"Iya dong. Nanti nya juga pasti akan diwariskan ke pacar aku. Dia kan anak tunggal" celoteh Vera.
'Tunggal? Hem sepertinya bukan' Dalam batin nya Vano merasa sedih saat Vera menyinggung soal dirinya yang anak tunggal.
"Bagus lah kalau begitu. Ayo kita mulai saja sekarang acaranya" ajak Anton.
Setelah acara Tiup Lilin dan Potong Kue, semua tamu diperbolehkan untuk menikmati hidangan yang sudah di sediakan oleh keluarga Vera.
Mungkin bagi yang lainnya, acara ini termasuk mewah. Namun bagi Vano, acara yang Vera atur sendiri itu sangatlah norak.
"Eh sayang cobain ini deh" Vera menyodorkan segelas wine kepada Vano yang sedang memilih minuman.
"Aku nyetir sendiri sayang. Jadi nggak berani minum. Maaf ya" Vano menolak minuman itu sambil mengubah raut wajahnya seolah pura-pura menyesal.
"Yaudah kalo gitu cobain yang ini aja" Vera mengambil sebuah gelas berisi soda tanpa alkohol.
Dengan ragu Vano menerima nya. Vera menatap ke arah Vano seakan memastikan Vano meminum soda yang ia ambilkan tadi.
Saat gelas itu tinggal sejengkal lagi dari bibir Vano, seorang pelayan tanpa sengaja menyenggol punggung Vano membuat minuman itu tumpah ke lantai beserta gelasnya.
"Bisa kerja nggak sih! Cepet beresin" sentak Vera kepada pelayan yang menyenggol Vano tadi. Pelayan itupun hanya diam lalu membersihkan gelas yang pecah dan juga tumpahan soda di lantai.
'Brengsek! Tinggal sedikit lagi gw bisa milikin Vano seutuhnya. Dasar pelayan goblok!' maki Vera dalam hati.
Diam-diam Vano tersenyum menang di belakang Vera.
'Lo pikir bisa ngejebak gw hah?! Dasar jalang!' ucap batin Vano.
Ponsel mahal Vano berdering dalam saku nya. Vano pun mengambil ponsel itu untuk melihat siapa yang menelpon nya.
"Bentar ya sayang aku angkat telpon dulu. Mama nelpon" pamit Vano tanpa menunjukkan layar ponselnya.
Setelah sedikit menjauh, Vano mengangkat panggilan itu. Suara bising musik DJ langsung terdengar di telinganya.
"Woi Van! Posisi?" tanya seseorang di seberang sana dengan sedikit berteriak.
"Brisik anjing! Ada apaan sih? Gw lagi di birthday party nya si nenek lampir" Vano melihat ke kanan dan kiri memastikan situasi aman tanpa ada orang yang mendengarkan pembicaraan nya.
"Wohoho pacar sendiri di bilang nenek lampir. Sini ajalah mending. Radit lagi ngadain party di rumah nya. Lagi galau dia. Om Romi sama Tante Mirna lagi di luar negeri"
"Otw"
Setelah mematikan sambungan telepon, Vano pun langsung pergi tanpa berpamitan dengan Vera yang mulai mencari nya.
'Bodoamat lah sama cewe itu' Batin Vano sambil menyalakan mesin mobil nya.
Sudah 20 menit Vano tak kunjung kembali. Ninik dan Anton kini sedang menenangkan Vera di dalam kamarnya yang sedang mencak-mencak karena Vano pergi tanpa berpamitan padanya.
"Barusan penjaga di gerbang lapor kalo pacar kamu udah pergi sekitar limabelas menit yang lalu" ucap Anton.
"Sudahlah sayang jangan marah-marah terus. Hari ini kan hari bahagia kamu loh. Mungkin aja Vano ada urusan mendadak. Apalagi tadi bilang ke kamu kalau mamanya yang nelpon. Keluarga konglomerat seperti mereka itu pasti super sibuk. Vano bisa datang aja itu udah keliatan lah kalau kamu itu penting buat dia" Ninik mencoba menenangkan putri nya dengan kata-kata manis.
"Mama kamu benar. Apalagi dia pewaris tunggal. Kamu harus pepet dia dan jangan sampai lepas. Jangan malah kamu kekang dia. Nanti yang ada dia bosan sama kamu" Anton ikut menasehati.
"iiih papa. Aku nggak akan biarin dia dimiliki siapapun. Hanya aku yang pantas sama dia. Cuma aku!" sudut bibir Vera terangkat membentuk seringaian tajam.