Sebuah kisah tentang seorang putri es yang bernama Aira Skypia. Ia memiliki kekuatan es yang luar biasa, tetapi juga memiliki hati yang penuh dengan dendam dan murka. Setelah keluarganya dibunuh oleh musuh yang kejam, putri es ini berusaha membalas dendam dan menghancurkan musuhnya dengan kekuatan esnya.
Namun, kekuatan luar biasa yang ia miliki kini lenyap seketika setelah musuhnya mengutuk seluruh keturunan es agar tidak ada yang menjadi penerus kejayaan kerajaan es.
Dalam perjalanan kultivasinya, ia harus berhadapan dengan bangsa vampir. Aira terpaksa harus hidup dan berlatih di dalam istana kerajaan Vampir.
Bagaimana cara putri es hidup setelahnya?
Seperti apa perjuangan Aira di dalan kerajaan Vampir yang dipenuhi oleh energi kegelapan?
Bagaimana cara ia membalas dendam tanpa kekuatan yang dimilikinya?
Pantengin terus ceritanya sampai akhir🗣️🗣️
Jangan lupa like, vote, dan komen biar author makin semangat....🦋
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon MellaMar, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Aira kekasih vampir
"Kenapa vampir sialan itu terus mengikutiku!". Batin Aira
Aira merasa jantungnya berdetak kencang ketika pria itu berbicara, suaranya yang dingin dan menakutkan membuat Aira merasa seperti terjebak dalam kekuatan esnya. Dia mencoba untuk menahan napasnya, berharap pria itu tidak bisa mendengar suaranya.
Tapi pria itu hanya tertawa, suaranya yang menggugah membuat Aira percaya bahwa dirinya sedang diintai. "Aku bisa mencium aroma esmu, putri es. Kamu tidak bisa bersembunyi dariku."
Suaranya yang penuh dengan kepercayaan diri membuat Aira merasa seperti dia tidak memiliki pilihan lain selain turun.
" Ayahanda sangat membenci orang yang putus asa. Ayahanda...ibunda...kakak...sertai aku". batinnya.
Tapi Aira tidak ingin menyerah. Dia menggulung bajunya, mencoba untuk memikirkan cara untuk melarikan diri. Tiba-tiba, dia mendengar suara angin yang berhembus, membuat dedaunan di sekitarnya bergetar.
Aira memanfaatkan kesempatan itu, dia melompat dari pohon itu ke pohon yang lain. Aira turun setelah mencapai pohon ketiga dan berlari secepat mungkin, meninggalkan pria itu di bawah pohon.
"Berhentilah mengikutiku, vampir bodoh!". Gumam Aira
Aira berlari dengan napas yang terengah-engah, jantungnya berdetak kencang karena ketakutan. Dia tidak tahu kemana dia harus pergi, tapi dia terus berlari.
Dedaunan kering berderak di bawah kakinya, ranting-ranting pohon menghantam wajahnya, tapi Aira tidak memperdulikannya. Dia hanya terus berlari, mencoba untuk meninggalkan pria itu di belakang.
Tiba-tiba, Aira mendengar suara air yang mengalir. Dia berlari ke arah suara itu dan melihat sebuah sungai yang lebar dan dalam. Aira tidak ragu-ragu, dia melompat ke dalam air dan mulai berenang.
"Akhirnya aku bisa bernapas". Ucap aira di dalam air.
Air yang dingin membungkus tubuhnya, membuat Aira merasa sedikit lebih tenang. Aira memiliki suatu keahlian berbicara dalam air, hal itu lah yang membuat sang raja Skypia membanggakan putrinya.
Dia berenang sekuat tenaga, mencoba untuk mencapai seberang sungai. "Sepertinya dia berhenti mengejarku". Aira bermonolog
Tapi ketika dia mencapai tengah sungai, Aira mendengar suara yang membuatnya berhenti berenang. "Kamu tidak bisa melarikan diri dari aku, putri es," kata suara itu,
Aira menoleh ke belakang dan melihat pria itu berdiri di tepi sungai, matanya yang berkobar-kobar seperti api. Aira menghembuskan nafasnya kasar. "Sialan!".
Aira kembali menenggelamkan dirinya, dan bertahan dibawah sana beberapa lama. "Sepertinya dia sudah pergi".
Aira muncul ke permukaan air, mata yang waspada memindai sekeliling. Dia tidak melihat pria itu lagi, tapi dia tidak yakin apakah dia sudah benar-benar pergi.
"Dia pergi".
Aira berenang ke tepi sungai dan keluar dari air, tubuhnya yang basah kuyup membuat dia merasa bajunya semakin berat. Dia mencari tempat yang aman untuk beristirahat, dan akhirnya menemukan sebuah gua kecil di dekat sungai.
Aira masuk ke dalam gua, mata yang terbiasa dengan kegelapan membuat dia bisa melihat dengan jelas. Dia menemukan tempat yang kering dan duduk, mencoba untuk menghempaskan napasnya.
"Sepertinya aku akan aman di sini ". Gumamnya
Tapi ketika dia sedang beristirahat, Aira mendengar suara yang membuatnya merasa tidak nyaman. Suara itu seperti... langkah kaki. Aira menoleh ke arah suara itu, mata yang waspada memindai kegelapan.
Dan kemudian, Aira melihatnya. Pria itu berdiri di pintu gua, membuat Aira meringis. "Berhentilah mengikutiku!". Teriak Aira.
Pria itu tidak menjawab, ia hanya tersenyum dengan mata yang tak beralih dari Aira. Dia melangkah masuk ke dalam gua, suaranya yang berat membuat Aira merasa seperti tanah bergetar.
Aira berdiri, tangannya yang terkatup menjadi kepalan. "Berhenti! Jangan berani mendekatiku!" teriaknya, mencoba untuk menutupi ketakutannya.
Pria itu terus melangkah, "Kamu tidak bisa melarikan diri dari aku, putri es," ucapnya angkuh.
Aira mundur, tangannya yang terulur ke depan mencoba untuk melindungi dirinya. "Berhenti! Aku tidak akan membiarkanmu mendekati aku!" teriaknya lagi, suaranya yang bergetar membuat Aira merasa seperti dia akan menangis.
Tapi pria itu tidak berhenti, dia terus melangkah sampai Aira terpojok di dinding gua. "Aku mohon menjauhlah". Batin aira bergetar.
Aira menutup matanya, menunggu apa yang akan terjadi selanjutnya. Tapi yang dia rasakan adalah... keheningan. Aira membuka matanya perlahan-lahan, dan melihat pria itu berdiri di depannya, hanya beberapa sentimeter dari wajahnya.
Pria itu menatapnya dengan mata elangnya, tapi tidak ada kekerasan atau ancaman di wajahnya. Hanya... kesedihan. Aira merasa bingung, tidak tahu apa yang harus dilakukan.
"Kamu tidak perlu takut padaku," kata pria itu, suaranya yang lembut membuat Aira merasa semakin aneh. "Aku tidak akan menyakitimu."
Aira merasa tidak percaya, tapi ada sesuatu di mata pria itu yang membuatnya merasa bahwa dia benar-benar tidak akan menyakiti. Dia mengambil napas dalam-dalam dan mencoba untuk berbicara.
"Apa yang kamu inginkan?" tanya Aira, suaranya yang masih bergetar membuat dia merasa tidak yakin.
Pria itu tersenyum, dan Aira melihat sesuatu di matanya yang membuatnya merasa nostalgia. "Aku ingin membantumu, putri es," katanya. "Aku ingin membantumu membalaskan dendam atas keluargamu."
"Tidak mungkin". Sanggah Aira. "Kau orang asing yang tiba-tiba mendatangiku dan hampir membuatku celaka". Aira membantah
"Apa kau tidak mengingatku, Aira?". Ucap pria itu
"Tentu saja aku tau! Kau vampir. Kau terus mengejarku seolah aku itu hewan buruanmu!". Aira mengeluarkan semua kekesalan yang ia tahan
Pria iru tersenyum mendengar semua ucapan Aira. "Sungguh kau tidak mengingatku?". tanyanya menatap aira lekat
" Aku tidak percaya kamu masih berani menatapku setelah semua yang kamu lakukan!" teriaknya,
Pria itu tidak bergerak, hanya menatap Aira dengan mata yang berambisi. "Aira, aku bukan seperti itu lagi," katanya, suaranya yang lembut membuat Aira merasa sedikit lebih tenang. "Aku telah berubah. Aku ingin membantumu, bukan menyakitimu."
"Berubah? Kamu berpikir kamu bisa berubah begitu saja? Kamu adalah vampir, pembunuh, peminum darah! Kamu tidak bisa berubah hanya karena kamu ingin!"
Pria itu tidak menjawab, hanya menatap Aira dengan mata yang penuh dengan kesedihan. Aira melihat sesuatu di matanya yang membuatnya merasa tidak nyaman, tapi dia tidak bisa menampik perasaan bahwa ada sesuatu yang aneh tentang pria itu.
"Minggir lah! Aku tidak percaya denganmu!" teriaknya, tangannya yang terulur ke depan mencoba untuk mendorong pria itu menjauh.
Pria itu tidak bergerak. "Aku tidak akan pergi," katanya, suaranya yang tenang membuat Aira merasa frustrasi. "Aku akan membantumu, kamu mau atau tidak."
Aira merasa amarahnya meningkat, dia mengangkat tangannya dan melemparkan bola es ke arah pria itu. Tapi pria itu tidak bergerak, membuat Aira mengalihkan bola es itu menghantam dinding gua dan pecah menjadi serpihan-serpihan kecil.
"Lihat kan? Aku masih memiliki kekuatan untuk membunuhmu!" . Bantah Aira mendorong kasar pria itu.
Aira hendak berjalan pergi ke luar gua, namun pria itu menghentikan langkah Aira dengan perkataannya.
"Aira! Kau adalah kekasihku". Ucap pria itu. "Kenapa kau meninggalkanku lagi?"
Aira sedikit tertegun. "Kekasih? ....lagi?" gumam Aira.
"Sepertinya kau salah mengira, aku bukan kekasihmu!". Ucap Aira tanpa menoleh