NovelToon NovelToon
Hijrah Hati Menuju Ridha Nya

Hijrah Hati Menuju Ridha Nya

Status: sedang berlangsung
Genre:Balas Dendam / Cinta Seiring Waktu / Diam-Diam Cinta
Popularitas:2.8k
Nilai: 5
Nama Author: my name si phoo

Rizal telah menyiapkan segalanya sebuah cincin dan masa depan yang ia dedikasikan sepenuhnya untuk Intan. Namun, tepat di malam ia berencana melamar, dunianya runtuh. Di depan matanya sendiri, ia melihat Intan mengkhianati cintanya, berselingkuh dengan sahabat karib yang paling ia percayai.
Di tengah hancurnya harga diri Rizal, hadir Aisyah, ibu tiri Intan yang selama ini menyimpan simpati pada ketulusan Rizal. Sebagai wanita yang lama menjanda dan tahu betul tabiat buruk putri tirinya, Aisyah menawarkan sebuah jalan keluar yang tak terduga.
"Nikahi aku, Rizal. Jangan biarkan Intan menginjak harga dirimu lagi. Aku akan mengangkat derajatmu lebih tinggi dari yang pernah ia bayangkan."
Kini Rizal berada di persimpangan: tetap meratapi pengkhianatan, atau menerima tawaran Aisyah untuk membalas luka dengan cara yang paling elegan—menjadi ayah tiri dari wanita yang menghancurkan hatinya.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon my name si phoo, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Bab 23

Sesampainya di kamar, Rizal segera mengunci pintu dengan rapat.

Ia menatap Aisyah dengan tatapan yang sangat serius, membuat suasana yang tadinya hangat seketika berubah menjadi tegang.

Aisyah yang melihat gelagat tidak biasa suaminya hanya bisa berdiri mematung di tengah ruangan.

"Sayang, jangan teriak, jangan kaget," ucap Rizal dengan suara rendah, mencoba menenangkan istrinya sebelum badai kebenaran terungkap.

Jantung Aisyah berdegup kencang. Ia meremas ujung apronnya dengan cemas.

"Ada apa, Mas? Jangan membuatku takut. Apa ini soal kesehatanmu? Atau soal kantor?"

Tanpa mengucapkan sepatah kata pun, Rizal menunjukkan rekaman CCTV dari layar ponselnya yang sudah tersambung dengan kamera tersembunyi di ruang kerja.

Ia memutar rekaman beberapa jam yang lalu, memperlihatkan dengan jelas sosok Intan yang sedang menggeledah laci dan menyembunyikan sertifikat rumah ke dalam bajunya.

Aisyah membelalakkan matanya. Tangannya gemetar hebat hingga ia harus berpegangan pada pinggiran tempat tidur agar tidak jatuh.

Air mata mulai menggenang, menghancurkan binar kebahagiaan yang baru saja ia rasakan pagi tadi.

"Astaghfirullah. Jadi dia membohongi kita, Mas?" isak Aisyah tertahan. Suaranya pecah karena rasa sakit yang luar biasa.

"Semua perhatiannya, semua bantuannya di dapur, ternyata hanya sandiwara untuk mencuri dari kita?"

Aisyah menutup mulutnya dengan tangan, tidak percaya bahwa anak yang ia peluk dengan penuh kasih sayang kemarin adalah orang yang sama yang sedang merencanakan kehancuran keluarga mereka.

Rizal menghela napas berat, lalu merangkul bahu istrinya yang terguncang. "Dia tidak sendiri, Aisyah. Aku yakin Hadi ada di balik semua ini. Dia memanfaatkan Intan sebagai alat untuk mengambil alih aset kita."

"Lalu apa yang harus kita lakukan, Mas? Haruskah kita panggil polisi sekarang?" tanya Aisyah dengan suara serak.

Rizal berdiri tegak di depan jendela kamar, sorot matanya yang tajam kembali seperti saat ia memimpin perusahaan sebelum kecelakaan itu terjadi.

Ia menatap Aisyah yang masih terguncang, lalu menggenggam kedua pundak istrinya untuk menyalurkan kekuatan.

"Kita tidak bisa gegabah. Jika kita konfrontasi sekarang, Hadi akan melarikan diri dan kita tidak akan pernah bisa menangkapnya. Biarkan Intan mengira dia menang," bisik Rizal dengan nada yang dingin namun terukur. Rizal menyusun rencana untuk menjebak Hadi saat ia datang mengambil sertifikat itu.

"Aku akan membiarkan Intan membawa sertifikat itu keluar untuk diserahkan pada Hadi. Saat itulah, aku dan pihak kepolisian akan menyergap mereka di tempat pertemuan," lanjut Rizal.

Ia kemudian menatap mata Aisyah yang sembab. "Sekarang kembalilah ke dapur. Bersikaplah seolah tidak terjadi apa-apa. Jangan biarkan dia curiga sedikit pun. Aku akan memantau semuanya dari sini."

Aisyah menganggukkan kepalanya dengan berat. Ia menghapus air matanya, menarik napas panjang, dan mencoba mengatur detak jantungnya yang masih berpacu kencang.

Dengan langkah yang dipaksakan tegar, ia membuka pintu kamar dan turun kembali menuju dapur produksi.

Begitu sampai di ambang pintu paviliun, pemandangan itu terasa seperti belati yang menghujam hatinya.

Di dapur, ia melihat Intan yang tersenyum ke arahnya dengan wajah yang begitu polos, seolah tidak baru saja melakukan pengkhianatan besar.

"Gimana, Ma? Punggung Papa sudah lebih baik?" tanya Intan sambil tetap lincah memasukkan kue ke dalam toples.

Senyumnya tampak sangat tulus, padahal di dalam hatinya ia hanya memikirkan kapan bisa melarikan diri dari rumah ini.

Aisyah berusaha membalas senyuman itu, meski bibirnya terasa kaku.

"Sudah, Sayang. Papa hanya butuh sedikit istirahat. Ayo, kita lanjutkan lagi pekerjaannya. Pesanan mall harus selesai sebelum sore, kan?"

Intan mengangguk semangat, tanpa menyadari bahwa setiap gerakannya kini berada dalam pengawasan mata elang Rizal melalui layar monitor di atas sana.

Waktu terus bergulir hingga jam menunjukkan pukul empat sore, saat yang telah dijanjikan oleh Intan dan Hadi untuk bertemu di sebuah tempat yang jauh dari pantauan keluarga Baskoro.

Atmosfer di rumah mulai terasa tegang,

setidaknya bagi Rizal dan Aisyah yang sedang bersandiwara dalam kecemasan.

Intan tampak gelisah, ia berkali-kali melirik jam di pergelangan tangannya sambil sesekali menyentuh tas kecil yang ia selempangkan—tas yang di dalamnya tersimpan sertifikat berharga milik papanya.

Melihat gerak-gerik itu, Aisyah yang sedang merapikan meja dapur mencoba memancing dengan suara setenang mungkin.

"Kemana, Intan? Sore-sore begini sudah rapi, kamu mau pergi?" tanya Aisyah, matanya menatap lekat ke arah putrinya, mencari sisa-sisa kejujuran yang mungkin masih ada.

Intan sedikit tersentak, namun dengan cepat ia memulas senyum manis yang biasa ia gunakan untuk menipu.

"Intan mau cari buah, Ma," jawab Intan dengan nada santai.

"Tiba-tiba Intan pengen makan buah segar. Sekalian buat Papa juga supaya badannya makin fit. Dekat sini kok, paling cuma sebentar."

"Oh, ya sudah. Hati-hati di jalan ya, Sayang," ucap Aisyah sambil mengelus lengan Intan—sebuah pelukan perpisahan terselubung karena ia tahu apa yang akan terjadi setelah ini.

Intan mengangguk cepat, lalu bergegas keluar rumah tanpa menoleh lagi.

Ia tidak menyadari bahwa dari balik kaca jendela ruang kerja di lantai atas, Rizal sedang berdiri tegak memperhatikan langkahnya.

Begitu motor yang dikendarai Intan meninggalkan gerbang, Rizal langsung merogoh ponselnya.

"Target sudah bergerak. Ikuti dia dari jarak aman," perintah Rizal kepada tim keamanan kantornya dan pihak kepolisian yang sudah bersiaga di luar area perumahan.

Rizal kemudian turun ke bawah, menghampiri Aisyah yang kini terduduk lemas di kursi ruang tamu.

"Rencananya sudah dimulai, Aisyah. Kita harus segera berangkat jika ingin melihat akhir dari semua ini," ujar Rizal tegas.

Angin sore berembus dingin di sebuah taman pinggiran kota yang sepi.

Intan berdiri dengan cemas di bawah pohon besar, memegang tasnya erat-erat.

Tak lama kemudian, sebuah motor berhenti dan Hadi turun dengan seringai kemenangan.

"Mana sertifikatnya?" tagih Hadi tanpa basa-basi.

Intan merogoh tasnya dan mengeluarkan map biru itu. Namun, tepat saat ujung map itu berpindah tangan, suara sirene polisi memecah kesunyian.

Beberapa mobil petugas dan mobil hitam milik Rizal mengepung mereka dari segala penjuru.

"Angkat tangan!" teriak petugas kepolisian.

Wajah Intan seketika pucat pasi. Map itu jatuh ke tanah. Dari dalam mobil hitam, Rizal keluar dengan langkah tegap, diikuti Aisyah yang wajahnya sembap karena tangisan.

"M-mama.. Papa..." lirih Intan dengan bibir bergetar hebat.

Tanpa sepatah kata pun, Rizal menarik lengan Intan dengan tegas, membawanya menjauh dari Hadi yang kini sudah diringkus paksa.

Hadi masuk ke mobil polisi dengan tangan terborgol, meronta-ronta namun tak berdaya.

Rizal tidak membawa Intan ke kantor polisi. Baginya, ada hukuman yang lebih tepat untuk membersihkan hati putrinya yang telah teracuni.

"Masuk ke mobil," perintah Rizal dingin.

Di dalam perjalanan yang sunyi, Intan mulai histeris saat menyadari arah jalan yang mereka tempuh.

Ia tahu ayahnya berniat memasukkannya ke pondok pesantren untuk menebus segala dosanya.

"Mama, Intan minta maaf! Intan khilaf, Ma! Intan tidak mau masuk pondok!" teriak Intan sambil terisak-isak di kursi belakang.

Ia mencoba meraih kursi depan, memohon pada ibunya.

"Tolong, Ma! Intan janji akan berubah, tapi jangan di sana!"

Hati Aisyah hancur berkeping-keping mendengar teriakan putrinya. Namun, ia tahu kelembutannya selama ini justru membuat Intan menjadi durhaka.

Dengan sisa kekuatan yang ada, Aisyah memejamkan matanya dan berpura-pura tidak mendengar suara Intan yang sedang duduk di kursi belakang.

Ia menutup telinganya dengan doa dalam hati, membiarkan air mata mengalir tanpa suara.

Rizal tidak goyah sedikit pun. Sorot matanya fokus pada jalanan di depan.

Dengan kecepatan stabil, Rizal melajukan mobilnya menuju ke pondok pesantren yang ada di Kediri.

Tempat yang ia harap bisa menjadi tempat suci bagi Intan untuk menemukan kembali jati dirinya yang hilang.

Setelah menempuh perjalanan panjang yang penuh dengan isak tangis dan permohonan, mobil Rizal akhirnya berhenti di depan sebuah gerbang kayu besar yang kokoh.

Papan nama bertuliskan aksara Arab dan Indonesia menegaskan bahwa mereka telah sampai di sebuah pondok pesantren ternama di Kediri.

Suasana di sana sangat tenang, hanya terdengar sayup-sayup suara santri yang sedang mendaras Al-Qur'an.

Seorang pria tua bersahaja dengan sorban putih dan wajah yang memancarkan keteduhan keluar menyambut mereka.

Beliau adalah Kyai sepuh pengasuh pondok tersebut.

Rizal turun dari mobil, diikuti oleh Aisyah yang masih berusaha menguatkan hatinya. Rizal menjabat tangan sang Kyai dengan takzim.

"Saya titip putri saya, Kyai," ucap Rizal dengan suara berat dan tulus.

"Tolong bimbing dia, ajarkan dia arti kejujuran dan kasih sayang yang sebenarnya. Saya ingin dia menjadi manusia baru saat keluar dari sini nanti."

Mendengar ucapan ayahnya, Intan menggelengkan kepalanya dengan liar. Ia memegang pintu mobil dengan erat, menolak untuk turun.

"Nggak, Pa! Intan nggak mau di sini! Mama, tolong Intan, Ma!"

Kyai sepuh hanya tersenyum tipis, penuh kebijaksanaan.

Beliau memberi isyarat kepada beberapa santriwati senior yang sudah menunggu di dekat gerbang.

Dengan lembut namun tegas, para santriwati membawa Intan ke kamarnya.

Meskipun Intan terus meronta dan memanggil nama mamanya, pegangan para santriwati itu tak goyah, membawa Intan masuk semakin dalam ke area asrama putri.

Aisyah memalingkan wajahnya, tak sanggup melihat putrinya diseret oleh konsekuensi perbuatannya sendiri.

Ia menyandarkan kepalanya di bahu Rizal, membiarkan air matanya jatuh untuk terakhir kalinya demi kebaikan Intan.

"Dia akan baik-baik saja di sini, Nyonya. Ini adalah awal dari kesembuhan jiwanya," ucap Kyai sepuh menenangkan.

Rizal mengangguk hormat sebagai tanda pamit. Ia merangkul pundak istrinya, menuntunnya kembali ke dalam mobil.

Setelah itu, Rizal mengajak istrinya untuk pulang ke rumah.

Di sepanjang perjalanan pulang, kabin mobil terasa sunyi.

Rumah mereka mungkin akan terasa sepi tanpa Intan, namun mereka tahu, ini adalah harga yang harus dibayar demi menyelamatkan masa depan putri mereka dari kehancuran yang lebih besar.

1
falea sezi
lanjut donk
falea sezi
aisyah umur brp
my name is pho: 25 tahun
total 1 replies
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!