NovelToon NovelToon
DARI MAFIA JADI CEO

DARI MAFIA JADI CEO

Status: sedang berlangsung
Genre:Anak Genius / CEO / Persahabatan
Popularitas:234
Nilai: 5
Nama Author: Alif Cariza Nofiriyanto

seorang yang miskin dan berubah rekrut menjadi mafia dan dipercaya menjadi CEO perusahaan besar
perebutan takhta dan warisan.
Aryo adalah karakter underdog yang kuat—seorang anak yatim piatu yang bukan sekadar beruntung, tapi memang memiliki kualitas "Dewa" yang diakui oleh sang kakek. Ini menciptakan dinamika yang berbahaya dengan Paman Budiono yang merasa memiliki "hak lahir" sebagai anak tertua.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Alif Cariza Nofiriyanto, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

episode 15

Laras, Dio, dan Aan bergerak cepat menuju Sektor Empat. Lorong-lorong pualam yang biasanya berpendar tenang kini berkedip merah, tanda bahwa sistem imun kota sedang berjuang melawan infeksi hitam tersebut. Di dinding-dinding kristal, zat hitam itu merayap seperti akar pohon yang mati, mengeluarkan suara desis seperti asam yang membakar logam.

"Gunakan masker oksigen kalian!" teriak Aan. "Zat ini mengonsumsi nitrogen di udara untuk membelah diri!"

Dio menyalakan obor plasma modifikasinya. Api biru keputihan menyembur keluar, memotong kegelapan. "Lar, ini bukan sekadar virus komputer. Lihat itu! Benda ini punya tekstur. Ini seperti oli yang diberi nyawa untuk membunuh."

"Itu adalah Nanobot Korosif," Laras menganalisis melalui antarmuka cahaya di pergelangan tangannya. "Grup Hitam telah menggabungkan teknologi chip lama ayah dengan material sisa Konsorsium. Mereka tidak ingin menguasai Astra Mawar, mereka ingin menjadikannya peti mati raksasa di langit."

Saat mereka sampai di pusat pemurni atmosfer Sektor Empat, mereka melihat drone kelopak bunga yang terinfeksi kini berubah bentuk. Kelopak-kelopaknya yang indah melengkung tajam, berubah menjadi duri-duri hitam yang siap menyerang.

"Mundur!" Laras mendorong Dio tepat saat drone itu menembakkan duri kristal yang telah menghitam.

Laras memejamkan mata, memfokuskan pikirannya pada chip di lehernya. Ia mencoba masuk ke dalam jaringan frekuensi kota, mencari titik lemah dari infeksi tersebut. "Paman Aan, aku butuh kau mengalihkan aliran energi Arca ke pipa-pipa termal di bawah kaki kita. Kita harus memanaskan lantai ini hingga 500°C dalam tiga detik!"

"Tapi itu akan merusak lapisan pelindung sektor ini, Laras!" seru Aan.

"Lakukan saja! Lebih baik kehilangan satu sektor daripada kehilangan seluruh kota!"

Aan menempelkan telapak mekaniknya ke panel dinding. Matanya berpendar terang. "Energi dialihkan... Sekarang!"

Lantai di bawah mereka seketika membara. Zat hitam itu bereaksi histeris; ia menggeliat dan mengeluarkan jeritan frekuensi tinggi yang menyakitkan telinga. Dio memanfaatkan momen itu, melompat maju dengan obor plasmanya, membakar simpul utama parasit yang menempel pada mesin pemurni.

"Mati kau, karat sialan!" teriak Dio sambil menghujamkan panas murni ke jantung infeksi.

Dalam ledakan cahaya putih yang menyilaukan, zat hitam itu menguap, meninggalkan bau logam terbakar yang menyengat. Suasana seketika hening. Cahaya biru di dinding kembali stabil, perlahan-lahan menghapus noda hitam yang tersisa.

Laras terduduk lemas di lantai yang perlahan mendingin. Keringat bercucuran di wajahnya. "Kita berhasil menghentikannya di sini. Tapi pemicunya... pemicunya masih ada di Bumi."

"Siapa pun yang memasukkan ini ke kapalku, dia tahu persis jadwal keberangkatanku," Dio menatap tangannya yang gemetar. "Hanya ada segelintir orang yang punya akses ke kargo panti asuhan."

Tiba-tiba, suara Sinta terdengar melalui radio, namun suaranya tidak stabil. "Laras... Aan... Cepat ke ruang komunikasi. Kita baru saja menerima transmisi video dari markas Dio di Jakarta. Seseorang tertangkap kamera sedang menyabotase kargo kedua sebelum EMP meledak."

Laras dan yang lainnya berlari kembali ke ruang utama. Di layar besar, sebuah rekaman hitam-putih diputar. Terlihat seorang pria dengan seragam mekanik Mawar Hitam sedang menyuntikkan cairan hitam ke dalam peti-peti kargo. Saat pria itu menoleh ke arah kamera sebelum menghancurkannya, jantung Laras seakan berhenti berdetak.

"Itu tidak mungkin..." bisik Dio. "Dia seharusnya sudah mati saat perang jalanan di perbatasan dulu."

Pria di layar itu adalah salah satu mantan tangan kanan Aryo, seseorang yang dulu dianggap sebagai paman oleh Laras. Seseorang yang tahu semua rahasia teknis keluarga Baskoro.

"Pengkhianatan ini sudah direncanakan sejak lama," ujar Sinta dingin. "Dia tidak bekerja untuk Konsorsium. Dia bekerja untuk dirinya sendiri. Dia ingin menjadi penguasa baru di Bumi dengan menggunakan sisa-sisa kegelapan yang ditinggalkan Aryo."

Laras berdiri tegak, matanya kini memancarkan tekad yang jauh lebih keras. "Dia pikir dia mengenal teknologi Ayah lebih baik dariku. Dia salah."

Ia menoleh ke arah sang utusan cahaya yang berdiri di bayang-bayang. "Kirimkan pesan ke Bumi melalui jembatan Tycho. Bukan data energi, tapi peringatan. Katakan pada mereka: Mawar Hitam telah mekar di Bulan, dan durinya kini menjangkau hingga ke akar terdalam pengkhianat."

Laras berdiri di depan meja peta bintang yang kini memancarkan proyeksi bola dunia dengan resolusi tinggi. Titik-titik panas di Jakarta berpendar, menunjukkan aktivitas energi yang tidak wajar di bekas wilayah industri pinggiran kota.

"Namanya Surya," suara Dio berat, penuh kekecewaan yang mendalam. "Dia mekanik terbaik Ayahmu setelah Paman Aan. Dia yang merancang sistem transmisi motor-motor kita. Aku tidak percaya dia menjual jiwanya pada parasit hitam itu."

"Dia tidak menjualnya, Dio," sahut Aan sambil membedah sisa-sisa nanobot yang berhasil ia amankan dalam tabung isolasi. "Dia terobsesi. Surya selalu percaya bahwa teknologi Arca seharusnya digunakan untuk mendominasi, bukan dibagikan. Baginya, visi Aryo tentang 'energi untuk rakyat' adalah pemborosan kekuatan."

Laras memperbesar tampilan pada titik koordinat di Jakarta. "Dia bersembunyi di bawah reruntuhan pabrik baja lama. Tempat itu memiliki lapisan timbal yang cukup tebal untuk menahan sisa-sisa EMP. Paman Aan, bisakah kita mengunci frekuensi otaknya? Dia memiliki implan saraf lama yang pernah dipasang Ayah untuk membantu sinkronisasi mesin."

Aan mencoba menghubungkan sistem sarafnya dengan satelit Astra Mawar. "Sulit, Laras. Dia menggunakan enkripsi berlapis. Tapi aku bisa melihat apa yang sedang dia bangun. Dia tidak hanya mengirim virus ke sini. Dia sedang membangun pemancar tandingan di Bumi. Dia ingin membajak sinyal dari menara Tycho untuk menarik jatuh Astra Mawar kembali ke atmosfer."

"Dia ingin menjatuhkan kita?" Sinta terkesiap. "Itu akan memusnahkan jutaan nyawa, termasuk pengikutnya sendiri!"

"Bagi orang seperti Surya, lebih baik melihat mawar ini terbakar daripada melihatnya dimiliki oleh orang lain," ujar Laras dingin. Ia menoleh ke arah Dio. "Dio, kargomu masih punya satu unit drone penyerbu yang belum terinfeksi?"

Dio menyeringai tipis, mengerti arah pembicaraan Laras. "Unit 'Duri Mawar'. Aku menyembunyikannya di bawah tumpukan bibit tomat. Itu drone fisik, tidak terhubung ke jaringan Arca, jadi Surya tidak akan bisa meretasnya dari jauh."

"Siapkan drone itu," perintah Laras. "Kita akan mengirimkan 'pesan' balik ke Jakarta. Kita tidak akan mengebomnya. Kita akan mengirimkan virus penetral yang dikembangkan dari cahaya Arca. Kita akan mematikan teknologinya secara permanen sebelum dia sempat menarik pelatuk gravitasinya."

Sang utusan cahaya yang sejak tadi diam, kini melangkah mendekat. "Gunakan cahaya ini dengan bijak, Penjaga. Menghancurkan musuh adalah cara lama. Mematikan ambisinya tanpa meneteskan darah adalah cara para bintang."

Laras mengangguk. Jemarinya mulai memprogram rute penerbangan drone tersebut, melintasi atmosfer Bumi yang kini gelap tanpa radar pemerintah.

"Ayah selalu bilang, bagian tersulit dari memperbaiki mesin adalah mengetahui kapan harus mengganti onderdil yang sudah rusak total," bisik Laras pada dirinya sendiri. "Maafkan aku, Paman Surya. Tapi taman ini butuh udara bersih."

Di kejauhan, sebuah benda kecil melesat keluar dari rahim Astra Mawar, meluncur cepat menuju kegelapan Bumi. Di bawah sana, di sebuah bunker gelap di Jakarta, Surya menatap monitornya yang berkedip, tidak menyadari bahwa mawar yang ia khianati kini sedang mengirimkan durinya untuk menjemputnya.

1
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!