"Kamu adalah luka paling berdarah dalam hidupku."
Satu hari aku tidak ada untukmu, dan kamu menghukumku dengan keheningan selamanya. Aku mencoba lari, aku mencoba mencintai orang lain, bahkan aku menjadi wanita yang buruk dengan mendua demi melupakan bayangmu. Tapi semua sia-sia. Kamu tetap pergi, dan yang paling menyakitkan... kamu memilih sahabatku untuk menggantikan posisiku.
Dapatkan luka ini sembuh saat penyebabnya kini bahagia dengan orang terdekatku?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon byyyycaaaa, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 28
Suara kapur Pak Danu yang berderit di papan tulis terasa seperti sembilu yang menggores harga diriku. Di depan sana, ia sedang menjelaskan tentang pengkhianatan dalam sejarah, sementara di bangkuku, aku sedang meratapi pengkhianatan yang lebih nyata.
Mataku tertuju pada buku paket, tapi pikiranku tidak ada di sana. Aku teringat bagaimana teman-teman satu gengku—orang-orang yang tertawa bersamaku setiap hari—ternyata punya "grup rahasia" sendiri untuk menutupi hubungan Guntur dan Fita. Mereka semua tahu. Mereka semua melihatku seperti orang bodoh yang menjaga kesetiaan pada seseorang yang sudah lama pindah ke hati lain.
Kenapa gue harus menghindar? tanyaku pada diri sendiri.
Rasanya sesak harus berpura-pura tidak tahu saat berpapasan dengan mereka di koridor. Aku lelah memasang topeng "Afisa yang penurut". Aku ingin lari, tapi sekolah ini terasa semakin sempit. Setiap sudutnya punya memori tentang Guntur, dan setiap bisikan di kelas terasa seperti sedang membicarakanku.
Lalu ada Alan.
Cowok itu benar-benar tidak terduga. Di saat semua orang mengasihaniku atau menertawakanku, dia justru datang dengan tantangan. Latihan debat di kafe depan sekolah sore ini adalah satu-satunya pelarian yang masuk akal. Bersama Alan, aku bukan lagi pengagum Guntur. Aku adalah Afisa yang punya suara, yang punya argumen, dan yang—kata Alan—punya tatapan sedingin es.
Aku melirik jam dinding. Masih ada dua jam lagi sebelum bel pulang berbunyi. Di dalam laci, tiket dari Radit seolah berteriak memintaku datang ke lapangan bola, sementara aroma roti dari Bintang terus mengingatkanku pada ketulusan yang baru saja kusakiti.
Gue nggak bisa terus-terusan jadi pengecut, batinku sambil mengepalkan tangan di bawah meja.
Hari ini, aku tidak akan pergi ke lapangan untuk menonton Guntur. Aku akan pergi ke kafe itu. Aku akan bertemu Alan. Aku akan belajar cara memenangkan argumen, agar suatu saat nanti, ketika aku berdiri di depan Guntur dan Fita, aku tidak lagi kehabisan kata-kata.
"Afisa! Halaman 145, apa kesimpulan dari Perjanjian Renville?" suara Pak Danu menggelegar, memutus rantai lamunanku.
Aku menarik napas panjang, menegakkan punggung, dan menatap Pak Danu tanpa ragu. "Perjanjian itu adalah bukti bahwa diplomasi sering kali hanya menjadi cara untuk mengulur waktu sebelum pengkhianatan yang lebih besar terjadi, Pak."
Satu kelas terdiam. Pak Danu menaikkan kacamata, tampak terkejut dengan jawaban yang sedikit "melenceng" tapi sangat tajam itu. Di sampingku, Anjani mengerutkan kening.
Ya, aku sudah selesai menjadi penonton dalam hidupku sendiri.
Kringgg!
Bel istirahat berdentang nyaring, memutus keheningan canggung yang kutinggalkan setelah menjawab pertanyaan Pak Danu. Aku segera memasukkan buku-bukuku, tidak memedulikan tatapan heran teman-teman sekelas.
Aku berjalan menuju kantin dengan langkah lebar. Perutku lapar, tapi hatiku lebih haus akan ruang untuk bernapas. Begitu sampai di ambang pintu kantin, mataku langsung menangkap pemandangan yang biasa kulihat: Guntur, Fita, dan anggota geng lainnya sudah berkumpul di meja tengah yang selalu menjadi singgasana mereka.
"Fis! Afisa! Sini!"
Suara Kaila melengking di antara keriuhan kantin. Ia melambaikan tangan dengan antusias, memberi kode agar aku menempati kursi kosong di sebelahnya—tepat di seberang Guntur dan Fita yang sedang berbagi satu mangkuk bakso.
Aku berhenti sejenak. Aku melihat mereka semua—teman-teman yang selama ini kupikir adalah garda terdepanku, namun ternyata adalah penonton yang paling menikmati drama kehancuranku. Kaila, sepupuku sendiri, tampak tersenyum lebar seolah-olah tidak ada rahasia besar yang sedang ia sembunyikan di balik senyumnya itu
Aku menarik napas dalam, lalu membuang muka. Aku melangkah melewati meja mereka tanpa menoleh sedikit pun, seolah-olah kursi kosong di sana hanyalah udara kosong.
"Fis? Lo nggak dengar?" Suara Kaila terdengar bingung, menyusul di belakangku.
Aku terus berjalan menuju pojok kantin yang paling sepi, sebuah bangku kayu tua di bawah pohon kersen yang jarang ditempati karena jauh dari pusat perhatian. Aku duduk di sana, membelakangi mereka semua. Aku bisa merasakan keheningan sesaat di meja tengah itu. Mereka pasti sedang saling lirik, mungkin bertanya-tanya mengapa si afisa yang ceria ini tiba-tiba kehilangan indra pendengarannya.
Dari sudut mataku, aku melihat Kaila hendak berdiri untuk menghampiriku, tapi Guntur menahan lengannya dan menggeleng pelan. Baguslah. Setidaknya dia masih punya sisa harga diri untuk tidak memaksaku masuk ke lingkaran sandiwara mereka.
Aku mengeluarkan roti pemberian Bintang dari tas. Aroma manisnya menguar, sedikit menenangkan sarafku yang tegang. Di tempat sepi ini, aku bukan lagi Afisa yang harus tersenyum pahit melihat kemesraan Guntur dan Fita. Di sini, aku hanya seorang gadis yang sedang mempersiapkan diri untuk babak baru hidupnya.
"Gue bukan lagi bagian dari kalian," bisikku pelan sebelum menggigit roti itu.
Tiba-tiba, sebuah bayangan menutupi meja kayu di depanku. Aku mendongak, mengira itu Kaila yang nekat mendekat, namun ternyata itu adalah sosok lain yang membawa segelas es teh manis.
palingan dia cemburu dengar cerita dari Radit kalo Afis bersinar di UI dan lagi dekat sama Arkan
nggak usah ditanggapi Fis
muak Ama afis🤣
moga Afis dapat pendamping yang benar-benar membuat dia bahagia
lupakan Guntur dan segala penyesalan itu Fis
main gabung aja orang lagi asik b2