NovelToon NovelToon
GUGURNYA SAYAP DI PANGKUAN PREGIWA

GUGURNYA SAYAP DI PANGKUAN PREGIWA

Status: sedang berlangsung
Genre:Action / Romansa Fantasi / Cinta Istana/Kuno
Popularitas:364
Nilai: 5
Nama Author: syakhira ahyarul husna

Gatotkaca dikenal sebagai ksatria otot kawat tulang besi, sang penjaga langit Pringgandani yang tak kenal ampun di medan laga. Tidak ada panah yang mampu menggores kulitnya, dan tidak ada musuh yang tak gemetar mendengar raungannya. Ia diciptakan murni untuk perang dan pengorbanan.

Namun, segala keperkasaan itu luluh lantak seketika di batas Hutan Wanamarta, saat ia menatap sepasang mata teduh milik Dewi Pregiwa.

Di tengah bayang-bayang kelam intrik Astina dan ancaman perang besar Baratayuda yang semakin memanas, cinta yang canggung namun tulus tumbuh di antara mereka. Gatotkaca sang manusia baja harus belajar merengkuh kelembutan, sementara Pregiwa harus menghadapi kenyataan pahit: pria yang mencintainya telah ditakdirkan oleh para dewa menjadi perisai hidup bagi Pandawa.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon syakhira ahyarul husna, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

BAB 12

Aroma anyir darah di Celah Sungsang telah lama tertinggal, tersapu oleh angin kering Lembah Kematian yang tak berbelas kasih. Namun, kengerian dari pembantaian hari itu menempel lekat di benak seribu prajurit Amarta, melebihi debu yang mengotori zirah mereka. Iring-iringan agung itu kini bergerak dalam keheningan yang nyaris absolut. Tidak ada lagi kelakar pelan di antara barisan belakang. Tidak ada lagi keluhan tentang teriknya matahari.

Mata mereka, yang dulunya menatap Senopati Gatotkaca dengan campuran segan dan takut, kini memancarkan sesuatu yang jauh lebih dalam: pemujaan yang absolut.

Bagi para prajurit itu, pria separuh raksasa yang kembali melayang diam di angkasa di atas kereta kencana itu bukanlah sekadar panglima. Ia adalah manifestasi murka dewa pelindung. Mereka telah menyaksikan bagaimana Gatotkaca membelah batu gunung dengan kepalan tangan, merobek barisan pembunuh bayaran layaknya merobek secarik kertas sutra, dan kembali dengan zirah bermandi darah musuh—semuanya hanya demi memastikan tak segores debu pun menyentuh kereta Dewi Pregiwa. Loyalitas pasukan pengawal itu kini tidak lagi bersumber dari titah Prabu Arjuna, melainkan dari rasa gentar dan hormat yang mengakar hingga ke sumsum tulang terhadap Gatotkaca.

Namun, puja-puji tak bersuara dari ribuan prajuritnya sama sekali tidak mampu menyembuhkan luka yang menganga di dalam dada sang ksatria.

Hari demi hari bergulir layaknya tetesan air yang jatuh di atas luka bakar. Waktu merangkak dengan sangat lambat, namun ironisnya, terasa terlalu cepat membawa mereka menuju garis akhir.

Memasuki hari kesembilan perjalanan, lanskap alam berubah dengan sangat ekstrem. Tanah tandus dan bebatuan karst mulai digantikan oleh padang rumput tundra yang keras dan beku. Di kejauhan, membelah awan kelabu yang menggantung rendah, puncak-puncak pegunungan Kerajaan Swantipura mulai menampakkan keangkuhannya. Puncak-puncak itu diselimuti oleh salju abadi, tampak putih cemerlang namun memancarkan aura dingin yang mengancam nyawa.

Swantipura. Negeri para penunggang kuda lapis baja. Negeri di mana mahkota permaisuri—dan sekaligus belenggu abadi—telah menanti Dewi Pregiwa.

Seiring dengan menanjaknya kontur daratan, suhu udara merosot tajam dengan kecepatan yang tidak masuk akal. Angin yang sebelumnya membawa hawa panas gurun, kini berhembus membawa serpihan kristal es yang menusuk kulit layaknya ribuan jarum kasat mata. Langit kehilangan warna birunya, digantikan oleh hamparan abu-abu pekat yang menghalangi sinar matahari.

Bagi Gatotkaca, perubahan suhu ini hanyalah gangguan kecil. Darah Kawah Candradimuka di dalam nadinya dengan mudah menolak hawa beku tersebut. Ia bahkan tidak perlu menambahkan jubah mantel di atas zirah Antakusumanya. Namun, saat mata elangnya menatap ke bawah, ke arah kereta kencana yang roda-rodanya mulai dilapisi embun beku, kepanikan yang teramat sangat kembali mencengkeram jantungnya.

Kereta kencana pualam dan kayu jati berlapis emas itu dirancang untuk menunjukkan kemegahan Amarta di iklim tropis yang hangat. Kereta itu sama sekali tidak dirancang untuk menahan gempuran badai salju dataran tinggi.

Menjelang senja di hari kesepuluh, apa yang ditakutkan oleh Gatotkaca benar-benar terjadi.

Semesta seolah ingin menguji seberapa jauh penderitaan bisa ditanggung oleh kedua anak manusia itu. Badai salju pertama turun menyapu lereng pegunungan. Bukan sekadar hujan salju yang indah, melainkan pusaran angin puyuh berwarna putih pekat yang membutakan pandangan, menerbangkan tenda-tenda perbekalan, dan membuat kuda-kuda putih Amarta meringkik panik sambil menolak melangkah maju.

"BERHENTI! DIRIKAN PERKEMAHAN DARURAT!" Raungan Gatotkaca menembus deru badai, memerintahkan pasukannya yang mulai tercerai-berai. "LINDUNGI KERETA GUSTI PUTRI DENGAN FORMASI PERISAI RAPAT! JANGAN BIARKAN ANGIN MENEMBUS CELAH KABIN!"

Para prajurit yang menggigil kedinginan, dengan bibir membiru dan jari-jari yang nyaris mati rasa, segera bergerak mematuhi perintah itu. Mereka membariskan kuda-kuda dan kereta logistik membentuk lingkaran barikade, menempatkan kereta kencana Dewi Pregiwa tepat di pusat pusaran. Ratusan perisai baja ditegakkan saling mengunci, berusaha menahan hantaman angin salju yang mengamuk liar.

Namun, barikade fisik itu tidak mampu menghentikan hawa beku yang menyusup menembus celah-celah papan kayu jati.

Di dalam kabin keretanya, Dewi Pregiwa meringkuk di sudut dipan, memeluk lututnya erat-erat. Ketiga lapis selimut bulu domba yang menutupi tubuhnya sama sekali tidak mampu mengusir dingin yang kini telah menembus hingga ke sumsum tulangnya. Kain dodot sutranya yang mewah terasa tipis layaknya jaring laba-laba. Wajah pualamnya yang selalu merona kini memucat seputih salju di luar sana. Bibirnya membiru, bergetar hebat tanpa bisa dikendalikan.

Dua orang embannya yang berada di dalam kabin menangis tersedu-sedu sambil menggosok-gosokkan kedua tangan mereka, berusaha menyalurkan kehangatan yang tidak seberapa pada telapak tangan sang putri.

"Gusti Putri... hamba mohon, bertahanlah," isak salah satu emban, giginya bergemeretak menahan dingin. "Perapian tidak bisa dinyalakan di dalam kereta... asapnya akan mencekik kita. Badai ini... badai ini akan membunuh kita semua sebelum kita melihat gerbang Swantipura."

Pregiwa memejamkan mata. Napasnya terengah-engah, menghasilkan kepulan kabut putih tipis di udara kabin yang membeku. Kesadarannya mulai meremang. Entah mengapa, di ambang kematian karena hipotermia ini, ia justru merasa damai.

*Jika aku mati di sini, membeku di tengah badai salju ini,* batin Pregiwa dengan sisa-sisa kewarasannya yang mulai memudar, *aku tidak perlu menikah dengan Pangeran Swantipura. Ayahanda tidak akan disalahkan, karena ini adalah kehendak alam. Dan Kanda Gatotkaca... ia akan terbebas dari sumpahnya. Kami tidak perlu menanggung dosa. Biarlah salju ini menguburku... bersama dengan cintaku yang tak pernah bisa kuucapkan secara lantang.*

Tubuh Pregiwa perlahan merosot dari posisinya, kehilangan tenaga untuk menopang dirinya sendiri.

"GUSTI PUTRI!" jeritan panik kedua emban itu pecah, membelah suara dengungan badai di luar.

Jeritan itu bekerja lebih cepat dari rapalan mantera pemanggil roh. Di luar sana, berdiri di tengah amukan badai salju dengan zirah emas yang mulai tertutup lapisan es putih, Gatotkaca seketika mematung. Telinganya yang kebas oleh suara angin menangkap jeritan putus asa dari dalam kereta.

Tanpa membuang waktu seperseribu detik pun, tanpa mempedulikan teriakan komandan pasukan yang mencoba menahannya, Gatotkaca menerjang maju. Ia menyibak barisan prajurit yang memegang perisai layaknya menyingkirkan ranting-ranting kering. Sepatu bajanya menghancurkan bongkahan es di tanah.

Ia tiba di depan pintu kereta kencana. Tangannya yang besar dan terbungkus sarung tangan baja mencengkeram gagang pintu kayu berlapis emas itu, lalu menariknya hingga engselnya menjerit patah.

Pintu terbuka. Angin salju yang ganas sempat berhembus masuk, namun tubuh raksasa Gatotkaca segera menutupi celah pintu, menghalangi badai.

Pemandangan di dalam kabin itu membuat jantung Gatotkaca serasa berhenti berdetak untuk selamanya. Dewi Pregiwa tergeletak tak berdaya di pangkuan para embannya. Kulitnya yang seputih pualam kini tampak pucat pasi tanpa setetes pun aliran darah. Bibirnya yang biasa tersenyum lembut padanya, kini membiru mengerikan. Mata teduh itu tertutup rapat, seolah menolak untuk kembali melihat kekejaman dunia.

"Gusti Putri!" bariton Gatotkaca bergetar hebat, dipenuhi oleh kepanikan yang nyaris meruntuhkan akal sehatnya.

Ia melompat masuk ke dalam kabin yang sempit itu, berlutut di lantai kayu hingga membuat kereta berderit keras menahan bobotnya. Ia menatap kedua emban yang ketakutan setengah mati melihat kedatangannya yang tiba-tiba.

"Menyingkir," geram Gatotkaca, suaranya sangat pelan, sangat dalam, namun mengandung ketegasan absolut yang tidak mentolerir bantahan apa pun. Tata krama keraton, jarak sosial, dan sumpah jabatannya... semuanya hancur lebur di hadapan ancaman kematian yang sedang merenggut nyawa wanita yang dicintainya.

Kedua emban itu segera beringsut mundur, merapat ke dinding kereta sambil gemetar ketakutan.

Gatotkaca menanggalkan sarung tangan bajanya dengan kasar, melemparkannya ke sudut kabin. Untuk pertama kalinya dalam perjalanan ini, ia membiarkan kulit kasarnya bersentuhan langsung dengan udara. Ia mengulurkan kedua tangan besarnya yang kapalan, menyusupkannya ke bawah punggung dan lutut Pregiwa, lalu mengangkat tubuh rapuh sang putri ke dalam pelukannya.

Dingin. Sangat dingin. Tubuh Pregiwa terasa seperti bongkahan es yang dipahat menyerupai manusia.

Gatotkaca mendekap tubuh itu erat-erat ke dadanya. Ia tidak peduli jika pelat zirah emasnya terasa keras. Ia memejamkan matanya rapat-rapat, memusatkan seluruh sisa tenaga prana dan darah Candradimuka di dalam tubuh separuh raksasanya. Ia memaksa jantungnya berdetak lebih cepat, lebih keras, memompa lahar gaib ke seluruh pembuluh darahnya.

Perlahan, keajaiban yang mengerikan itu terjadi.

Suhu tubuh Gatotkaca meningkat drastis. Pelat zirah emas Antakusuma yang melindunginya mulai memancarkan hawa panas yang luar biasa. Lapisan es yang sebelumnya menempel di zirahnya menguap seketika menjadi kabut uap air. Udara di dalam kabin kereta yang sebelumnya membeku, perlahan-lahan berubah menjadi hangat, layaknya sebuah ruangan yang dihangatkan oleh perapian besar dari kayu pinus terbaik.

Gatotkaca menjadi tungku kehidupan bagi Pregiwa. Ia membiarkan hawa panas murni dari dalam jiwanya mengalir, membungkus tubuh sang putri, mengusir hawa beku yang mencoba mencuri nyawanya. Ia merundukkan wajahnya, menyandarkan pipinya yang kasar ke dahi Pregiwa yang seputih salju.

"Jangan tinggalkan aku, Tuan Putri," bisik Gatotkaca parau, suaranya pecah oleh isak tangis yang tak lagi bisa ia bendung. Ia tidak peduli jika kedua emban di sudut sana mendengar pengakuannya. Ia tidak peduli jika besok ia harus dipancung karena kelancangannya memeluk calon permaisuri Swantipura sedekat ini. "Kumohon... jangan menyerah pada salju ini. Kau tidak boleh mati di tempat yang dingin ini. Bangunlah... kumohon padamu, bangunlah, separuh jiwaku."

Air mata panas menetes dari sudut mata elang sang ksatria, jatuh tepat di pipi Pregiwa. Setetes air mata yang membawa kehangatan absolut dari sebuah jiwa yang rela terbakar demi menghidupkan kembali cinta matinya.

Beberapa menit berlalu bagai berabad-abad di dalam kabin yang dihangatkan secara magis itu. Di luar, badai salju masih mengamuk, namun di dalam pelukan raksasa sang senopati, sebuah kehidupan perlahan ditarik paksa kembali dari ambang maut.

Bibir Pregiwa yang membiru perlahan mulai mendapatkan kembali rona kemerahannya. Napasnya yang tadi nyaris tak terdengar, kini mulai berhembus teratur, meresapi hawa panas yang memancar dari dada bidang Gatotkaca. Jemari tangannya yang kaku bergerak pelan, tanpa sadar meremas ujung jubah beludru merah yang menutupi lengan sang pria.

Perlahan, sangat perlahan, kelopak mata yang dihiasi bulu mata lentik itu terbuka.

Pandangan Pregiwa masih kabur, namun hal pertama yang ia rasakan adalah aroma maskulin dari logam tua, keringat prajurit, dan kehangatan mutlak yang hanya ia kenali dari satu orang di seluruh alam semesta ini. Ia mendongak, dan menemukan wajah Gatotkaca yang basah oleh air mata, menatapnya dengan raut kepanikan dan kelegaan yang melebur menjadi satu.

"Kanda... Gatotkaca...?" bisik Pregiwa lemah, suaranya serak dan nyaris tak terdengar.

Mendengar suara itu, Gatotkaca menghela napas panjang yang terdengar seperti raungan keputusasaan yang akhirnya dilepaskan. Ia mempererat dekapannya, menyembunyikan wajahnya di perpotongan leher Pregiwa, menangis dalam diam layaknya seorang anak kecil yang baru saja menemukan kembali ibunya yang hilang. Raksasa pembantai dari Celah Sungsang itu kini tak lebih dari seorang pria yang hatinya remuk redam oleh cinta.

"Hamba di sini, Tuan Putri. Hamba di sini," bisik Gatotkaca berulang-ulang, membiarkan air matanya membasahi kain sutra Pregiwa. "Jangan pernah lagi mencoba pergi ke tempat yang tidak bisa hamba jangkau. Jangan pernah lagi menyerah. Hamba tidak akan membiarkan salju ini membekukanmu... tidak akan pernah."

1
Siska Dianti
fresh ceritnta seru banget ngangkat sejarah perwayangan
MUHAMMAD AQIEL ELYAS
terimakasih dukunganya kak
Siskadianti @gmail.com
sedih
Siskadianti @gmail.com
keren sejarah begini tapi di buat novel
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!