Aku berumur tujuh tahun saat nyamuk itu menggigit.
Aku berumur lima puluh dua saat akhirnya bisa berjalan lagi.
Empat puluh lima tahun di antaranya adalah sunyi.
Namaku Mahesa. Kakiku mulai membengkak sejak kecil. Dokter bilang cidera. Ibu bilang kutukan. Ayah bilang aku harus kuat.
Tidak ada yang bilang bahwa aku akan kehilangan segalanya.
Ayah meninggal jatuh dari bangunan. Ibu pergi membawa adik—dengan teriakan terakhir: "Dadah kaki gajah!" Kakek menjual sawah, lalu mati di pelukanku.
Sendirian. Mengemis. Dikucilkan. Mencoba bunuh diri—tali putus, atap roboh.
Lalu datang Reza, anak kecil pemberani yang berjanji: "Aku akan jadi dokter. Aku akan obati kaki Bapak."
Dua puluh tahun kemudian, pintu gubuk itu diketuk. Ia kembali.
Operasi berhasil. Aku bisa berjalan lagi.
Tapi infeksi kembali. Dokter bilang: amputasi.
Aku menatap kakiku—kaki yang menyiksaku selama 45 tahun, tapi juga satu-satunya yang setia menemani. Lalu aku berkata pada Reza:
"Aku mau pergi utuh."
---
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon ayaelsa, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
BAB 25: BIMBANG KIRIM SURAT KE IBU
--
Minggu pertama tanpa ibu. Tanpa Bima. Tanpa yang pergi.
Mahesa duduk di beranda. Di siang yang panas. Di tempat yang menjadi miliknya sejak dulu—sejak masih ada yang memperhatikan, sejak masih ada yang peduli. Sekarang hanya dia dan kakek. Dua orang di rumah tua yang tiba-tiba terasa terlalu besar.
Kertas bekas di tangan. Pensil pendek. Ujungnya patah. Harus dipegang miring untuk menulis. Kertas itu dari sampul buku tulis lama—kakek menyimpannya, mungkin untuk saat seperti ini.
Mahesa menatap kertas kosong. Lama. Pikiran kosong. Atau terlalu penuh. Tidak tahu.
Lalu mulai menulis. Huruf besar. Hati-hati.
"Ibu..."
Berhenti. Melihat kata itu. Ibu. Dulu kata itu hangat. Dulu kata itu berarti tempat pulang. Sekarang? Sekarang hanya kenangan. Sekarang hanya... nama.
"Ibu, aku di sini baik. Kakek baik. Kakinya..."
Pensil berhenti. Tidak tahu melanjutkan. Tidak mau bohong bilang baik. Kakinya tidak baik. Semakin besar. Luka abses mulai mengering, tapi bekasnya menganga. Kulit di sekitar merah kehitaman. Nyeri setiap malam. Obat habis. Uang habis. Sawah kakek sudah laku.
Tapi juga tidak mau bikin ibu khawatir. Tidak mau bilang "kakinya makin parah" karena ibu sudah pergi. Ibu punya hidup baru. Ibu punya Pak Darmo. Ibu punya Bima. Ibu tidak butuh beban tambahan.
"Kakinya sama seperti dulu. Tidak apa-apa."
Ia menulis itu. Dusta yang manis. Dusta yang melindungi. Dusta yang... biasa.
"Kakek baik. Dia jaga aku. Setiap hari masak. Setiap malam temani kalau sakit. Kakek tidur di lantai biar aku bisa tidur di kasur. Kakek bilang punggungnya sakit, tapi dia tidak pernah mengeluh.
Ibu, apa Ibu baik? Apa Bima baik? Apa... apa Ibu ingat aku?"
Tangan bergetar. Air mata jatuh. Membasahi kertas. Membuat tinta luntur.
Ia hapus air mata dengan lengan. Terus menulis.
"Aku tidak marah Ibu pergi. Aku tahu Ibu punya hidup baru. Aku hanya... aku hanya ingin Ibu tahu, aku di sini. Aku masih hidup. Aku masih ingat Ibu.
Kalau Ibu punya waktu, tolong kabari aku. Kasih tahu alamat Ibu. Supaya aku bisa kirim surat. Supaya aku tahu Ibu baik.
Dari anakmu,
Mahesa."
Selesai. Surat itu selesai. Mahesa membaca ulang. Berkali-kali. Air mata terus jatuh. Tapi ia biarkan. Tidak ada yang lihat. Hanya dia dan kertas.
---
Kakek keluar dari dapur. Dengan dua piring. Nasi dan sayur. Sederhana. Tapi hangat.
"Sudah selesai?" tanya kakek. Melihat surat di tangan Mahesa.
Mahesa mengangguk. Menyodorkan surat. Kakek membaca. Perlahan. Matanya rabun, harus didekatkan. Bibirnya bergerak-gerak mengikuti kata.
Selesai membaca, kakek diam. Lama. Lalu berkata, "Bagus. Tapi kamu tahu alamatnya?"
Mahesa menggeleng. "Tidak, Kek. Ibu tidak bilang."
Kakek menghela napas. "Mungkin lupa. Mungkin..."
Tidak melanjutkan. Tapi Mahesa tahu. Mungkin sengaja. Mungkin memang tidak ingin dikirimi surat. Mungkin memang ingin putus hubungan.
"Ibu mungkin sibuk, Kek," Mahesa berkata. Membela. Seperti biasa. "Pak Darmo punya kebun besar. Pasti banyak kerja."
Kakek mengangguk. Tidak membantah. Tapi matanya... matanya berkata lain. Matanya berkata, "anak tidak pernah sibuk untuk ibunya."
Tapi tidak diucapkan. Kakek terlalu baik untuk mengucapkan itu.
"Nanti kita tanya-tanya," kata kakek akhirnya. "Mungkin ada tetangga yang tahu. Mungkin bisa nitip lewat orang."
Mahesa mengangguk. Tapi tidak berharap. Sudah belajar untuk tidak berharap.
---
Mereka makan. Diam. Hanya suara kunyahan. Suara jangkrik dari luar. Suara angin yang masuk lewat celah dinding.
"Kek," Mahesa memanggil. Suara kecil.
"Iya, Nak?"
"Apa ibu akan bales?"
Kakek berhenti mengunyah. Menatap Mahesa. Lama. Lalu berkata, "Mungkin. Mungkin tidak. Tapi yang penting kamu sudah menulis. Kamu sudah mencoba."
Mahesa diam. Memproses.
"Coba itu penting," kakek melanjutkan. "Karena coba berarti kamu peduli. Kamu sayang. Itu yang membedakan kamu dari orang-orang yang hanya diam."
Mahesa tidak tahu harus berkata apa. Hanya mengangguk. Lalu makan lagi.
---
Sore. Mahesa masih di beranda. Surat di tangan. Dilipat rapi. Dimasukkan ke amplop bekas—amplop bekas undangan pernikahan tetangga. Kakek menyimpannya. Mungkin untuk saat seperti ini.
Tapi alamat? Tidak ada. Hanya nama ibu. Siti Aminah. Dan nama desa. Tidak lebih.
"Besok kita ke kantor pos," kata kakek. "Tanya-tanya. Mungkin bisa dititipkan ke desa seberang. Mungkin ada yang kenal."
Mahesa mengangguk. Tapi dalam hati, ia tahu. Surat ini mungkin tidak akan sampai. Ibu mungkin tidak akan pernah menerimanya. Tapi setidaknya, ia sudah menulis. Setidaknya, perasaannya sudah keluar.
---
Malam. Mahesa berbaring di kasur. Kakek di lantai di sampingnya. Seperti biasa.
"Kek," panggil Mahesa. Suara pelan.
"Iya, Nak?"
"Apa ibu sayang aku?"
Diam. Panjang. Terlalu panjang.
Lalu kakek berkata, "Ibu kamu... ibu kamu orang baik. Tapi kadang orang baik pun bisa bingung. Bisa takut. Bisa... salah ambil keputusan."
Mahesa diam. Mendengar.
"Ayamnu sakit," kakek melanjutkan. "Ibu kamu takut. Takut tidak bisa ngurus. Takut kamu makin parah. Takut... banyak hal. Lalu dia lihat Pak Darmo. Lihat kesempatan buat mulai baru. Dan dia ambil."
"Tapi kenapa aku nggak boleh ikut, Kek?"
Kakek menghela napas. Berat.
"Mungkin Pak Darmo nggak mau. Mungkin ibu malu. Mungkin... mungkin banyak alasan yang bahkan ibu sendiri nggak bisa jelaskan."
Mahesa diam. Air mata mengalir lagi. Malam ini basah.
"Tapi itu nggak berarti ibu nggak sayang," kakek menambahkan. "Ibu sayang. Cuma caranya... kacau."
Mahesa tidak menjawab. Hanya menangis diam-diam. Kakek tahu. Dari suara napas yang tersendat. Tapi kakek tidak berkata apa-apa. Hanya meraih tangan Mahesa. Menggenggam. Erat.
---
Pagi. Mahesa bangun dengan surat di samping bantal. Ia mengambilnya. Membaca sekali lagi. Air mata ingin keluar lagi, tapi ditahan.
Kakek sudah di dapur. Memasak bubur. Harum sederhana memenuhi rumah.
Mahesa bangun. Berjalan ke dapur. Pincang. Kaki kanan sakit. Tapi sudah biasa.
"Kek," katanya. "Suratnya... nggak jadi dikirim."
Kakek berhenti mengaduk. Menatapnya. Tidak kaget.
"Kenapa?"
Mahesa diam. Lalu berkata, "Ibu pasti sudah punya hidup baru. Dia nggak perlu diingatkan tentang... tentang aku. Tentang masa lalu."
Kakek meletakkan sendok. Mendekat. Tangannya yang keriput meraih bahu Mahesa.
"Kamu pikir kamu masa lalu yang harus dilupakan?"
Mahesa tidak menjawab. Tapi matanya berkata iya.
"Kamu bukan masa lalu." Kakek tegas. "Kamu anaknya. Kamu darah dagingnya. Ibu mungkin lupa jalan pulang, tapi dia tidak akan lupa kamu."
"Tapi Kek, dia nggak pernah kirim kabar. Sudah sebulan. Nggak ada surat. Nggak ada uang. Nggak ada..."
"Kadang orang butuh waktu," kakek memotong. "Butuh waktu untuk beresin hidup sendiri sebelum bisa hubungi yang lain."
Mahesa diam. Mencerna.
"Terserah kamu," kakek melanjutkan. "Mau dikirim atau nggak. Yang penting, kamu sudah nulis. Kamu sudah keluarin isi hati. Itu yang penting."
Mahesa menatap surat di tangannya. Amplop bekas undangan. Nama ibu di depan. Alamat kosong.
Ia mengambil keputusan. Melipat surat. Memasukkannya ke dalam buku—buku catatan nenek tentang tanaman obat. Menyimpannya.
"Nanti," katanya. "Nanti kalau aku tahu alamatnya. Nanti kalau ibu siap."
Kakek mengangguk. Tersenyum tipis. Lalu kembali ke dapur. Mengaduk bubur.
---
Hari-hari berlalu. Mahesa tidak lagi memikirkan surat itu. Tapi kadang, saat malam, saat sendiri, ia membuka buku nenek. Membaca surat itu lagi. Membaca kata-katanya sendiri. Mengingat ibu. Mengingat Bima. Mengingat yang pergi.
Dan setiap kali membaca, ia menangis. Tapi tidak lagi tangis yang menghancurkan. Tangis yang melegakan. Seperti membuang beban. Seperti mengaku pada diri sendiri.
Kakek tahu. Kakek selalu tahu. Tapi tidak pernah bertanya. Hanya ada. Hanya menemani. Hanya... menjadi rumah.
Suatu malam, Mahesa bertanya, "Kek, kakek nggak capek jaga aku?"
Kakek tertawa kecil. "Capek? Kamu pikir kakek ini apa? Masih kuat, Nak. Masih kuat."
Tapi Mahesa tahu. Kakek semakin tua. Jalannya semakin lambat. Tangannya semakin bergetar. Kadang batuk-batuk di malam hari.
Dan Mahesa takut. Takut suatu hari nanti, kakek juga pergi. Meninggalkannya sendiri. Di rumah ini. Dengan kaki besar. Dengan surat yang tidak pernah dikirim.
Tapi malam ini, kakek masih di sini. Masih memasak bubur. Masih tidur di lantai. Masih menggenggam tangannya saat ia menangis.
Itu cukup. Untuk malam ini. Untuk surat yang tersimpan. Untuk ibu yang jauh. Untuk semua ketakutan.
Itu cukup.
Karena ada kakek. Ada yang tinggal. Ada yang tidak pergi.
Malam ini, itu cukup.
---