NovelToon NovelToon
GAMON

GAMON

Status: sedang berlangsung
Genre:Cinta Seiring Waktu
Popularitas:447
Nilai: 5
Nama Author: Vianza

"Cintai aku sekali lagi."

(Cuma enam suku kata. Tapi beratnya kayak batu nisan.
Kata siapa yang ngomong? Keana ke Bima? Atau Bima yang dulu, yang masih gamon, yang masih berharap? Dua-duanya bisa.
Itu celanya. Itu bagusnya.)

---

"Peluk hangat untukmu yang selalu berusaha paham akan aksaraku, aku belajar bahwa kolaborasi bisa datang dari mana saja-bahkan dari algoritma yang dirancang untuk memahami bahasa."

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Vianza, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Bab 6: Bima Pindah Gigi

...GAMON...

...Bab 6: Bima Pindah Gigi...

...POV Bima...

---

Dua Minggu Sejak Putus

Bima berhenti menghitung hari.

Bukan karena dia lupa. Tapi karena menghitung hari hanya mengingatkan dia pada satu hal: sudah berapa lama dia hidup tanpa Keana. Dan itu menyakitkan.

Jadi dia berhenti.

Dia ganti hitungannya dengan hal lain: berapa banyak yang udah dia perbaiki dari dirinya sendiri.

---

Pukul 04.30 – Kost Bima

Alarm belum bunyi. Tapi mata Bima udah kebuka.

Dulu, jam segini dia bangun kalau mau masak bekal buat Keana. Masak dengan hati-hati, nata nasi di kotak makan, kasih stiker kecil bertuliskan "love you". Semua demi senyum Keana nanti siang.

Sekarang? Keana udah nggak ada. Tapi dia tetap bangun.

Karena kalau dia diem, pikirannya langsung lari ke mana-mana. Ke angkringan. Ke kata-kata Keana. Ke matanya yang dingin waktu bilang "aku butuh yang lebih".

Jadi dia bangun. Gerak. Lari.

Baju ganti. Sepatu tali. Headset nyalain—playlist lagu-lagu dengan beat keras yang bikin dia lupa kalau hidup kadang kejam.

Pertama kali lari, napasnya ngos-ngosan. Lima menit aja udah kayak mau mati. Otot betis sakit. Pinggang pegal. Jantung kayak mau copot.

Tapi dia nggak berhenti.

Hari kedua, sama. Hari ketiga, mulai bisa sepuluh menit. Hari keempat, dia muter kompleks satu putaran penuh—lima belas menit tanpa berhenti.

Dia ingat dulu, Keana pernah bilang: "Aku suka cowok yang aktif. Bima, kamu olahraga dong, biar nggak lembek."

Sekarang dia olahraga. Tapi bukan buat Keana.

Buat dirinya sendiri. Buat ngebuktiin kalau dia bisa jadi lebih.

---

Pukul 07.00 – Kost Bima

Pulang lari, badan basah kuyup. Buka baju, berdiri di depan kaca.

Badan mulai berubah. Dulu agak buncit, sekarang mulai keliatan. Perut mulai rata. Lengan mulai berisi.

Dulu, dia nggak peduli penampilan. Yang penting Keana terima apa adanya. Keana bilang dia sayang Bima apa adanya.

Tapi ternyata... "apa adanya" Bima nggak cukup.

Sekarang dia sadar: nggak ada salahnya jadi lebih baik. Bukan buat orang lain. Tapi buat diri sendiri.

Dia mandi. Air dingin, tapi dia ngerasa hidup. Setiap tetes air kayak ngebasuh luka-luka lama. Luka yang selama ini dia pendam.

---

Pukul 08.30 – Kantor

Bima duduk di meja kerja. Dua minggu lalu, orang-orang di kantor masih bisik-bisik soal dia. Karyawan yang diputusin pacar. Karyawan yang nangis di toilet. Karyawan yang keliatan hancur.

Sekarang, mereka mulai liat perubahan.

Dia masuk tepat waktu. Kerja fokus. Nggak melamun. Nggak buka ponsel tiap lima menit buat ngecek chat dari Keana—karena emang nggak ada chat.

Doni dateng, bawa dua gelas kopi. Satu buat Bima.

"Lo kelihatan beda," kata Doni sambil duduk.

"Beda gimana?"

"Kayak... ada api." Doni tatap dia. "Dulu lo kayak orang mati. Sekarang lo hidup lagi."

Bima tersenyum tipis. "Gue lagi coba."

"Coba apaan?"

"Coba jadi sesuatu."

Doni diem sebentar. Lalu ngangguk. "Gue dukung lo, Bim. Tapi inget, jangan kebanyakan mikir. Kadang, orang yang terlalu fokus bangkit, lupa kalau mereka juga manusia. Butuh istirahat. Butuh temen ngobrol."

Bima tahu Doni bener. Tapi dia belum siap istirahat. Karena kalau istirahat, dia mulai mikir. Dan kalau mulai mikir, yang muncul cuma satu: Keana.

---

Pukul 12.00 – Waktu Makan

Bima nggak ke kantin. Dia duduk di meja kerja, buka laptop. Bukan kerja—tapi kursus online.

Udah dua minggu dia ikut kursus. Public speaking, digital marketing, bahasa Inggris. Setiap malem, sepulang kantor, dia belajar. Nggak peduli mata perih. Nggak peduli badan capek.

Dia ingat kata-kata Keana: "Kamu nggak akan pernah bisa saingin mereka."

Sekarang, setiap kali mau nyerah, dia ulang kalimat itu. Bukan buat nyiksa diri. Tapi buat ngingetin: dia harus buktiin kalau Keana salah.

Hari ini dia daftar kursus baru. Sertifikasi IT. Biayanya lumayan—setengah dari tabungan yang dia kumpulkan setahun terakhir. Tapi dia nggak mikir panjang.

Karena dia tahu, investasi terbaik adalah dirinya sendiri.

---

Minggu Pagi – Di Masjid

Bima duduk di saf belakang. Habis subuh, jamaah pulang satu per satu. Dia tinggal sendiri. Masjid sunyi. Cuma suara kipas angin tua yang berputar pelan.

Di tangannya, buku catatan kecil. Buku yang dulu dia beli di warung pas hari kelima setelah putus. Sekarang udah hampir penuh.

Dia buka. Baca ulang apa yang dia tulis minggu-minggu pertama.

---

Hari ke-1: Rasanya kayak mati.

Hari ke-3: Nggak bisa makan. Nggak bisa tidur.

Hari ke-5: Doni dateng. Gue mulai sadar.

Hari ke-7: Pertama kali lari. Napas kayak mau putus.

Hari ke-10: Mulai bisa lari 15 menit.

Hari ke-14: Daftar kursus public speaking. Takut. Tapi jalan.

Hari ke-21: Liat dia sama Andra di restoran. Dunia berhenti. Tapi gue nggak nangis.

Hari ke-25: Hapus semua fotonya.

Hari ke-30: Turun 7 kilo. Kursus level dasar lulus.

---

Dia tutup buku itu. Napas panjang.

Tiga puluh hari. Satu bulan. Rasanya kayak bertahun-tahun.

Tapi dia masih di sini. Masih hidup. Masih bergerak.

Di luar, matahari mulai naik. Cahaya masuk lewat celah jendela masjid.

Bima menengadah. Berdoa. Bukan minta Keana balik. Tapi minta kekuatan.

"Allah, kalau ini jalan yang harus gue lewatin... tolong jangan bikin gue lembek. Jangan bikin gue nyerah. Gue mau buktiin—bukan buat dia, tapi buat diri gue sendiri. Gue mau jadi sesuatu."

---

Sore Hari – Dalam Perjalanan Pulang

Bima naik motor. Macet di lampu merah. Di sampingnya, sebuah mobil hitam berhenti. Jendela mobil terbuka sedikit.

Dari dalam, terdengar suara tawa. Suara perempuan yang dia kenal.

Keana.

Bima nggak nengok. Dia cuma lurus ke depan. Tapi jantungnya berdetak kencang. Tangannya di setang motor, ngepal.

Di mobil itu, Keana tertawa sama Andra. Mungkin lagi ngobrol soal liburan. Mungkin lagi rencana dinner. Mungkin lagi bahagia dengan "yang lebih" yang dulu dia bilang.

Lampu hijau. Mobil itu jalan duluan.

Bima masih di tempat. Beberapa detik. Lalu dia tarik napas. Gas motor diputer.

Dia nggak ngejar. Nggak ngeliat ke belakang. Dia cuma jalan—ke depan, ke tempat di mana Keana udah nggak ada.

---

Malam Itu – Kost Bima

Bima duduk di lantai. Lampu mati. Cuma cahaya dari luar yang masuk lewat jendela.

Ponsel di tangan. Galeri foto. Kosong. Semua foto Keana udah dia hapus minggu lalu.

Tapi dia ingat satu foto. Foto yang paling susah dia hapus. Foto di kereta, waktu Keana tidur di pangkuannya. Tangannya memegang rambut Keana. Keana tidur nyenyak, kayak nggak punya beban.

Dulu, di foto itu, dia berpikir: "Ini dia orang yang akan bersama aku selamanya."

Sekarang?

Bima senyum pahit. Sendirian di gelap.

Ponsel bergetar.

Ibu: "Nak, Ibu kangen. Kok lama nggak kabar? Sehat?"

Bima baca pesan itu. Matanya hangat. Di tengah semua kehancuran ini, masih ada Ibu. Masih ada orang yang sayang dia tanpa syarat.

Bima: "Maaf, Bu. Banyak kerjaan. Aku sehat kok. Ibu sehat?"

Ibu: "Ibu sehat. Tapi kangen kamu. Kapan pulang?"

Bima: "Nanti, Bu. Aku janji. Sekarang lagi... lagi siapin sesuatu."

Ibu: "Siapin apa, Nak?"

Bima berhenti sebentar. Mikir. Lalu ngetik.

Bima: "Masa depan, Bu. Buat Ibu. Buat aku."

Ibu: "Ibu cuma minta kamu bahagia, Nak. Nggak perlu jadi apa-apa. Yang penting kamu sehat."

Bima tatap layar. Matanya basah.

Ibu nggak tahu. Ibu nggak tahu kalau anaknya lagi berusaha mati-matian buat bangkit. Ibu nggak tahu kalau anaknya sempat hampir tenggelam.

Tapi Ibu selalu percaya. Selalu doain. Selalu ada.

Bima tarik napas. Hapus air mata.

Bima: "Ibu, doain aku ya."

Ibu: "Ibu nggak pernah berhenti doain kamu, Nak."

---

Pukul 23.00

Bima belum tidur. Dia buka laptop. Buka website sertifikasi IT. Form pendaftaran masih terbuka.

Dia isi satu per satu. Nama. Alamat. Pekerjaan. Dan di kolom terakhir: alasan ikut kursus.

Jarinya berhenti. Mikir.

Alasan?

Dia bisa nulis: "Buat buktiin ke mantan kalau dia salah."

Tapi dia nggak nulis itu.

Dia ngetik:

"Buat jadi versi terbaik dari diri sendiri."

Karena itulah alasan sebenarnya. Bukan buat Keana. Bukan buat orang lain. Tapi buat dia.

Dia klik submit.

Pendaftaran terkirim. Uang tabungan terpotong. Sekarang tinggal belajar, ujian, dan berdoa.

Bima tutup laptop. Matikan lampu. Berbaring.

Di luar, hujan mulai turun. Tapi malam ini, dia nggak takut.

Karena dia tahu, badai pasti lewat. Dan setelah badai, biasanya ada pelangi.

---

Bersambung ke Bab 7: Keana Mulai Runtuh

---

📝 Preview Bab 7:

Sementara Bima mulai bangkit, di apartemen mewah, Keana mulai merasakan sesuatu yang aneh.

Andra makin sering pulang malam. Janji-janji mulai dilupakan. Dan diam-diam, Keana mulai bandingin.

Tapi bukan lagi dengan pria lain. Tapi dengan satu nama yang dulu dia buang: Bima.

Bab 7: Keana Mulai Runtuh—soon!!

---

1
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!