update setiap tanggal genap
Lin Yinjia adalah mahasiswi biasa yang hidupnya sederhana namun hangat bersama keluarganya. Ketika adiknya mengalami kecelakaan dan terbaring koma, kehidupannya perlahan berubah. Demi membantu biaya pengobatan, Yinjia terpaksa mempertahankan perjodohan yang sudah diatur keluarganya dengan Gu Zhenrui, pewaris keluarga kaya yang arogan dan penuh kesombongan.
Di kampus, Yinjia harus menghadapi berbagai gosip, sindiran, dan pengkhianatan dari orang-orang yang dulu ia percaya. Ketika ia mulai menyadari bahwa tunangannya berselingkuh, Yinjia memutuskan untuk berhenti menjadi gadis yang hanya diam menerima semuanya.
Kesempatan datang saat ia diterima magang di sebuah perusahaan ekspor impor besar di Shanghai. Di sanalah ia bertemu Guo Linghe—presiden direktur perusahaan yang dingin, kaku, dan memiliki dunia yang sama sekali berbeda dari kehidupan Yinjia.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon frj_nyt, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Camilan di Meja
Lin Yinjia selalu datang lebih awal ke kampus. Bukan karena dia mahasiswa yang sangat rajin. Lebih karena dia tidak suka terburu-buru. Ketika orang lain masih berlari ke kelas dengan napas terengah-engah, Yinjia sudah duduk di bangkunya sambil membuka laptop dan mencatat ulang materi kemarin.
Pagi itu koridor gedung ekonomi masih setengah sepi. Beberapa mahasiswa berjalan sambil membawa kopi, sebagian lagi duduk di tangga sambil mengobrol pelan.Yinjia mendorong pintu kelasnya dengan bahu.
Tasnya agak berat hari ini karena ia membawa beberapa buku tambahan. Tugas laporan statistik yang menumpuk membuatnya tidak punya pilihan selain membawa semuanya. Dia berjalan ke barisan tengah, tempat duduk yang selalu dia pilih sejak semester pertama.
Namun langkahnya berhenti. Di atas mejanya ada sesuatu. Sebuah kotak kecil berwarna putih. Yinjia mengerjapkan mata beberapa kali. “Eh?”
Dia mendekat perlahan, seperti takut benda itu tiba-tiba bergerak. Kotak itu terlihat seperti kotak kue dari toko roti kampus yang cukup terkenal. Di atasnya ditempel stiker kecil bergambar kelinci.
Yinjia melihat ke kanan dan kiri. Kelas masih hampir kosong. Dua mahasiswa laki-laki di barisan belakang sedang membicarakan pertandingan basket semalam dan bahkan tidak melirik ke arahnya. “Siapa yang taruh ini…” gumamnya pelan.
Dia mengangkat kotak itu. Ringan. Ketika dibuka, aroma manis langsung keluar. Di dalamnya ada tiga potong milk bread dan satu egg tart kecil.
Yinjia menatapnya beberapa detik dengan ekspresi bingung. “Serius…?” Dia membuka lagi tutup kotaknya, memastikan dia tidak salah lihat Tetap sama. Roti. Tidak ada catatan. Tidak ada nama. Tidak ada pesan.
Dia memutar tubuh dan melihat ke belakang lagi. Tidak ada orang yang terlihat mencurigakan.
“Yinjia.”
Suara seseorang memanggil dari pintu kelas. Yinjia menoleh. Xu Yara masuk sambil membawa tas selempang kecil dan minuman kopi dingin. “Kenapa berdiri di situ?” tanya Yara.
Yinjia langsung mengangkat kotak di tangannya. “Ini… kamu yang kasih?”
Yara mengerutkan kening. “Apa?”
“Ini.” Yinjia memperlihatkan isi kotak. Yara mendekat sedikit dan melihatnya dengan ekspresi heran. “Kamu bawa sendiri bukan?”
“Enggak. Ini sudah ada di meja.”
“Siapa yang taruh?”
Yinjia mengangkat bahu. “Makanya aku nanya.”
Yara tertawa kecil. “Wah… mungkin ada yang diam-diam suka sama kamu.”
Yinjia langsung menggeleng. “Jangan bercanda.” Dia duduk sambil menaruh kotak itu di samping laptopnya. Yara duduk di kursi sebelahnya dan masih melihat kotak roti itu dengan rasa penasaran. “Lumayan juga yang beli. Toko roti itu mahal.”
“Serius?”
“Lumayan.”
Yinjia kembali melihat roti itu. Kalau benar dari toko yang dimaksud Yara, satu kotak seperti ini mungkin cukup mahal untuk ukuran mahasiswa biasa. “Kenapa orang mau kasih aku roti?” gumamnya.
Yara tertawa lagi. “Kamu ini benar-benar tidak peka ya.”
“Apa hubungannya dengan peka?”
“Kalau ada orang suka sama kamu ya wajar dia kasih sesuatu.”
Yinjia langsung menggeleng cepat. “Enggak mungkin.” Dia mengambil salah satu milk bread dan menatapnya sejenak. “Kalau ini racun gimana?”
Yara menatapnya dengan ekspresi datar. “Siapa yang mau repot-repot meracuni kamu pakai roti.”
“Ya… siapa tahu.”
“Kalau kamu takut ya jangan dimakan.”
Yinjia memikirkan itu beberapa detik. Lalu dia menggigit sedikit roti itu. Rasanya lembut dan manis. Dia berhenti mengunyah dan memandang Yara. “Enak.”
Yara tertawa. “Kamu benar-benar aneh.”
“Kamu mau?”
“Enggak. Kamu saja.”
Beberapa mahasiswa mulai masuk ke kelas. Suara kursi ditarik dan tas dijatuhkan ke meja membuat ruangan perlahan ramai. Namun pikiran Yinjia masih tertahan pada satu hal. Siapa yang menaruh roti ini?
Dia mencoba melihat ke sekeliling. Tidak ada yang terlihat memperhatikannya secara khusus. Sebagian sibuk dengan ponsel, sebagian membuka buku.
Semua terlihat biasa. Seolah tidak ada yang tahu apa pun. Yinjia akhirnya menghela napas kecil dan memakan satu lagi roti itu. Kalau seseorang memang berniat baik, rasanya tidak sopan kalau dia membuangnya. Dan kalau itu benar dari orang yang menyukainya…
Entah kenapa pikiran itu membuatnya sedikit tidak nyaman. Dia tidak pernah berpikir soal itu. Apalagi sekarang. Hidupnya sudah cukup rumit. Perjodohan dengan Gu Zhenrui saja sudah membuatnya pusing.
Memikirkan seseorang yang mungkin diam-diam menyukainya hanya akan menambah masalah baru.
Ketika dosen masuk dan kelas mulai, Yinjia menutup kotak roti itu dan menyimpannya di dalam tas. Namun rasa penasaran kecil masih tertinggal di kepalanya. Siapa yang memberinya camilan pagi ini? Dan kenapa orang itu tidak meninggalkan nama?
Kelas statistik pagi itu berjalan seperti biasanya. Dosen menjelaskan rumus sambil menulis cepat di papan, sementara sebagian mahasiswa sibuk mencatat dan sebagian lain hanya menatap layar laptop dengan ekspresi setengah mengantuk.
Lin Yinjia termasuk yang benar-benar memperhatikan. Bukan karena dia sangat menyukai statistik, tapi karena dia tahu dirinya tidak sepintar beberapa mahasiswa lain di kelas ini. Kalau dia tidak fokus sejak awal, materi akan terasa dua kali lebih sulit saat belajar nanti.
Tangannya bergerak cepat di atas buku catatan. Sesekali dia menatap papan tulis, lalu kembali menulis. Namun beberapa menit kemudian, sesuatu mengganggu pikirannya lagi. Kotak roti itu.
Tasnya terletak di bawah meja. Di dalamnya masih ada dua potong milk bread dan satu egg tart kecil. Yinjia mencoba kembali fokus ke catatan. Tapi pikirannya terus berputar. Siapa yang menaruhnya? Apakah seseorang memang diam-diam memperhatikannya? Atau hanya lelucon?
Dia melirik ke kanan. Xu Yara sedang mencatat sambil menggigit sedotan kopi dinginnya. Ekspresinya terlihat biasa saja. Yinjia menoleh ke belakang.
Barisan belakang diisi beberapa mahasiswa laki-laki yang sering bercanda di kelas. Salah satu dari mereka sedang menonton sesuatu di ponsel dengan suara sangat kecil. Tidak ada yang terlihat mencurigakan.
Yinjia menghela napas pelan. “Mungkin memang cuma kebetulan,” pikirnya.
Ketika kelas selesai, mahasiswa langsung mulai membereskan barang mereka. Suara kursi bergeser dan percakapan kecil memenuhi ruangan. Yara menutup bukunya. “Mau ke kantin?” tanyanya.
“Sebentar,” jawab Yinjia.
Dia masih memasukkan beberapa catatan ke dalam tas. Saat mereka berjalan keluar kelas, suasana koridor sudah jauh lebih ramai. Mahasiswa dari kelas lain juga baru selesai kuliah.
Beberapa orang menyapa Yara. Dia cukup dikenal karena aktif di organisasi kampus. Yinjia biasanya hanya tersenyum kecil di sampingnya. Mereka berjalan menuju tangga ketika seseorang tiba-tiba memanggil dari belakang.
“Lin Yinjia.”
Suara laki-laki. Yinjia berhenti dan menoleh. Seorang mahasiswa tinggi berdiri beberapa langkah di belakang mereka. Wajahnya cukup familiar.
Chen Luo.
Mahasiswa tahun ketiga yang cukup populer di fakultas ekonomi. Dia dikenal pintar, aktif di organisasi, dan sering ikut kompetisi akademik.
Selain itu, banyak mahasiswi yang menyukainya. Yinjia sebenarnya pernah beberapa kali berbicara dengannya, tapi hanya sebatas percakapan singkat tentang tugas atau kegiatan kampus. Chen Luo berjalan mendekat dengan langkah santai. “Kamu menjatuhkan ini tadi,” katanya sambil mengulurkan sesuatu.
Sebuah pulpen. Yinjia langsung memeriksa tas kecil di tangannya. Benar. Pulpen hitam kesayangannya tidak ada. “Oh! Terima kasih,” katanya cepat sambil mengambil pulpen itu.
Chen Luo tersenyum ringan. “Tidak masalah.” Dia terlihat ingin mengatakan sesuatu lagi, tapi akhirnya hanya mengangguk kecil dan berjalan pergi.
Yinjia menatap punggungnya beberapa detik sebelum kembali berjalan bersama Yara. Namun ketika mereka sampai di tangga, Yara tiba-tiba berbicara dengan nada berbeda. “Kamu dekat dengan Chen Luo?”
“Tidak juga,” jawab Yinjia jujur.
“Dia jarang memperhatikan orang.”
“Barusan dia cuma mengembalikan pulpen.”
Yara tidak langsung menjawab. Ekspresinya sedikit sulit dibaca. Beberapa detik kemudian dia berkata pelan, “Banyak orang di kampus suka dia.”
Yinjia mengangkat bahu. “Ya… aku tahu.”
“Tapi dia tidak pernah benar-benar dekat dengan siapa pun.”
Yinjia menoleh. “Kamu kenapa tiba-tiba bahas dia?”
Yara menggeleng ringan. “Tidak apa-apa. Cuma bilang saja.”
Mereka akhirnya sampai di kantin kampus. Tempat itu selalu ramai saat jam makan siang. Suara mahasiswa bercampur dengan aroma makanan dari berbagai kios.
Yinjia membeli semangkuk mie sederhana. Yara membeli nasi ayam. Mereka duduk di meja dekat jendela. Yinjia baru saja membuka sumpitnya ketika sesuatu tiba-tiba teringat.
Dia membuka tasnya. Kotak roti itu masih ada. Yara memperhatikan. “Kamu masih simpan?”
“Iya.”
Yinjia membuka kotaknya lagi. Roti di dalamnya masih terlihat segar. Dia menatapnya beberapa detik sebelum berkata pelan, “Menurutmu siapa yang kasih?”
Yara mengangkat bahu. “Bagaimana aku tahu?”
“Tapi aneh.”
“Kenapa?”
“Kalau seseorang mau kasih sesuatu, biasanya dia akan bilang.”
“Tidak juga.”
Yara menyesap minumannya. “Kadang orang sengaja tidak bilang.”
“Kenapa?”
“Karena dia malu.”
Yinjia memikirkan itu sebentar. Lalu dia tertawa kecil. “Kalau benar ada orang yang suka aku, dia pasti salah orang.”
Yara mengangkat alis. “Maksudnya?”
“Aku sudah dijodohkan.” Kalimat itu keluar begitu saja. Padahal sebenarnya Yinjia jarang membicarakan hal itu di kampus.
Yara menatapnya beberapa detik sebelum berkata pelan, “Tidak semua orang peduli soal itu.”
Yinjia tidak menjawab. Dia hanya mengambil egg tart kecil itu dan menggigitnya. Rasanya manis. Terlalu manis untuk pagi yang penuh pikiran seperti ini. Beberapa meja dari mereka, seseorang duduk sendirian sambil membuka laptop.
Chen Luo.
Dia sebenarnya sudah berada di kantin sejak beberapa menit lalu. Namun dia memilih duduk agak jauh. Dari tempatnya, dia bisa melihat Yinjia dengan jelas. Kotak roti itu masih ada di meja Yinjia. Dia memperhatikannya beberapa detik. Lalu menundukkan kepala kembali ke layar laptop. Ekspresinya tenang. Seolah tidak terjadi apa pun.
Sementara itu, Yinjia sama sekali tidak menyadari bahwa orang yang ia pikirkan sejak pagi ternyata berada tidak jauh darinya. Dia hanya menghela napas kecil sambil menutup kembali kotak camilan itu.
Hari di kampus masih panjang. Dan dia belum tahu bahwa kejadian kecil seperti sebuah kotak roti di meja akan menjadi awal dari banyak hal yang lebih rumit dalam hidupnya.