Wu Xuan mahasiswa elite jurusan bisnis, hukum dan manajemen tanpa sadar memasuki dunia novel kultivasi yang baru saja dibacanya, bukan sebagai mc, bukan juga villain, tapi menjadi karakter pendukung yang akan mati pada arc awal. Dengan bantuan sistem, Wu Xuan berusaha mengubah cerita.
Ia masuk ke tubuh patriark tua, namun karena sistem membantunya menerobos, tubuh tuanya berubah menjadi muda dan tampan.
Dia melamar wanita (Villain) yang harusnya menjadi menantunya, karena pembatalan pertunangan sepihak yang dilakukan oleh anaknya.
Demi menghindari masalah di masa depan, ini adalah jalan yang harus di ambil oleh Wu Xuan.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon EGGY ARIYA WINANDA, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Warisan Sub Villain
Sinar matahari sore menyepuh Taman Spiritual Klan Wu dengan warna keemasan yang hangat. Taman ini adalah mahakarya tata ruang tingkat dewa; air terjun mini yang mengalirkan cairan Qi murni bergemericik lembut, sementara pohon-pohon persik abadi menggugurkan kelopaknya yang bercahaya ke atas hamparan rumput zamrud. Di tengah paviliun terbuka yang dikelilingi kolam teratai kristal, alunan musik kecapi dan seruling bambu mengalun merdu, dimainkan oleh selusin pelayan wanita yang menari dengan gerakan gemulai bagaikan aliran air.
Ini adalah pemandangan surgawi, sebuah kemewahan yang hanya bisa dinikmati oleh seorang penguasa.
Di atas dipan giok raksasa yang dilapisi bulu monster rubah salju, Wu Xuan bersandar dengan sangat santai. Jubah hitamnya sedikit terbuka di bagian dada, memancarkan aura maskulin yang liar namun berkelas. Di sisinya, Qin Wuyan bersandar manja di dada bidang suaminya. Wajah Wuyan itu bersemu merah cerah. Tangannya dengan anggun mengupas buah anggur spiritual bercahaya, lalu menyuapkannya ke bibir Wu Xuan.
Wu Xuan menerima suapan itu, lalu dengan sengaja menjilat ujung jari Wuyan, membuat gadis itu tersentak pelan dan membenamkan wajahnya ke dada Wu Xuan karena malu. Wu Xuan tersenyum lembut, sebelah tangannya membelai pinggang ramping pinggang Wuyan dengan posesif.
Sebuah adegan romantis yang begitu memabukkan. Namun, adegan ini sejatinya adalah sebuah racun mematikan yang sengaja dipertontonkan untuk satu penonton khusus.
Hanya berjarak beberapa meter dari dipan utama, Yan Melin duduk bersimpuh di atas tikar sutra yang diperuntukkan untuk Selir. Tidak ada meja giok di depannya, hanya ada pelayan yang mengipasinya. Ia duduk di sana, dipaksa menjadi penonton atas kemesraan suaminya dengan wanita lain. Matanya memerah menahan cemburu yang menggerogoti kewarasannya hingga ke tulang.
Di balik wajah luar Wu Xuan yang sedingin es dan setenang dewa, jiwa pemuda Bumi berusia 24 tahun di dalam tubuhnya sedang tertawa terbahak-bahak.
'Ah, rasanya seperti menjadi kaisar kuno,' monolog Wu Xuan dalam hati, menikmati sensasi buah spiritual yang meleleh di mulutnya. 'Anggur murni, istri cantik yang menyuapiku, musik tradisional... Jika teman-teman kuliahku dulu melihatku sekarang, mereka pasti akan mati karena iri. Sayangnya, aku harus mempertahankan wajah tiran sedingin es ini agar wibawaku tidak runtuh. Menjadi penguasa tiran yang keren itu ternyata cukup melelahkan untuk otot wajah, tapi jujur saja, melihat istri pertama yang manipulatif ini terbakar api cemburu adalah hiburan sore yang sangat memuaskan.'
Tepat saat Wu Xuan mengecup puncak kepala Wuyan, suara langkah kaki berat yang berirama memecah alunan musik.
Dari ujung jembatan kristal, Jenderal Agung Wu Zuan melangkah maju dengan zirah perangnya yang berdentang pelan. Di belakangnya, ketiga pangeran Keluarga Wu—Wu Guan, Wu Ling, dan Wu Shan—mengikuti dengan postur tegak. Ketiga pemuda itu telah mengenakan zirah tempur ekspedisi, memancarkan aura kultivator muda yang siap menumpahkan darah.
Para pelayan wanita segera menghentikan tarian mereka, menunduk, dan mundur ke pinggir paviliun.
"Lapor, Yang Mulia Archduke," Jenderal Wu Zuan berlutut dengan satu kaki, memberikan hormat militer yang tegas. "Pasukan ekspedisi perbatasan Selatan telah siap. Kami akan berangkat menuju garis depan untuk menekan sisa-sisa pemberontak yang mencoba kabur, para kultivator iblis liar dan binatang buas."
Wu Xuan menegakkan posisi duduknya. Tangannya dengan lembut melepaskan rangkulan Wuyan, memberinya isyarat untuk duduk tegak di sampingnya sebagai Nyonya Utama. Sang Archduke menatap ketiga putranya secara bergantian.
Wu Guan dan Wu Ling menatap ayah mereka dengan fanatisme yang menyala-nyala. Sementara Wu Shan, meski wajahnya masih sedikit pucat, menatap dengan rahang mengeras, mencoba membuktikan bahwa ia bisa berguna
"Bagus," ucap Wu Xuan, suaranya berat dan bergema di seluruh taman, mengusir semua kesan santai sebelumnya. "Namun, sebelum kalian berangkat, ada perintah khusus yang harus kalian laksanakan."
Ketiga putranya langsung berlutut serempak. "Kami mendengarkan, Ayahanda!"
Mata keemasan Wu Xuan menatap tajam ke arah Wu Shan.
"Shan'er," panggil Wu Xuan.
Mendengar ayahnya memanggil nama kecilnya, tubuh Wu Shan sedikit tersentak. Harapan mekar di dadanya. Ayahnya masih memperhatikannya.
"Saat pasukan mencapai perbatasan selatan," lanjut Wu Xuan, nada bicaranya sangat presisi seolah ia sedang membacakan peta masa depan. "Jangan ikuti rute patroli utama. Pergilah ke sektor paling barat, cari sebuah tebing yang berbentuk seperti tengkorak gagak. Di dasarnya, ada sebuah gua terpencil yang tersegel oleh ilusi. Hancurkan ilusi itu, masuklah ke dalam. Di sana, ada sebuah warisan dari seorang kultivator aliran keras tingkat Primordial Suci, mungkin bisa membantumu mencapai ranah roh atau ranah kuno dengan mudah."
Wu Shan membelalakkan matanya lebar-lebar. Warisan tingkat Primordial?! Di perbatasan yang tandus?!
Di dalam hatinya, jiwa Wu Xuan menyeringai licik. 'Dalam novel aslinya, kau menemukan gua itu secara tidak sengaja saat melarikan diri, lalu warisan itu membuatmu menjadi sub-villain yang merepotkan Protagonis Chu Zhang. Kenapa harus menunggu kebetulan? Aku akan langsung memberikan kunci spoiler ini padamu sekarang. Mari kita lihat bagaimana Chu Zhang menghadapi musuh yang sudah melakukan grinding level sebelum waktunya.'
"Warisan itu sangat cocok dengan fisikmu," Wu Xuan menegaskan. Ia kemudian menoleh ke arah Wu Ling. "Ling'er."
"Hamba, Ayahanda!" jawab Wu Ling dengan antusias.
"Kau pergilah ke sudut terdalam hutan perbatasan rawa beracun," perintah Wu Xuan. "Abaikan semua monster. Terus masuk sampai kau menemukan sebuah danau yang airnya berwarna hijau zamrud bercahaya. Jangan takut pada racunnya, menyelamlah ke dasar danau itu. Di sana, tertancap sebuah pedang warisan tingkat tinggi yang memiliki afinitas angin dan racun. Pedang itu menunggumu."
Wu Ling menelan ludah, matanya berbinar penuh keserakahan akan kekuatan dan semangat.
"Dan Guan'er," Wu Xuan beralih pada putra tertuanya yang kini memegang gelar Pangeran Mahkota. "Tugasmu bukan mencari harta karun. Statusmu sekarang berbeda. Kau adalah komandan mereka. Tugasmu adalah mengawal mereka dari kejauhan, memastikan tidak ada kultivator liar yang mengganggu kedua adikmu saat mereka mengambil hak mereka. Pastikan mereka berdua kembali dalam keadaan bernapas."
Wu Guan menunduk dalam. "Sesuai perintah! Hamba akan melindungi nyawa mereka dengan nyawa hamba sendiri!"
Ketiga pangeran itu saling melirik. Di dalam mata mereka, Wu Xuan tidak lagi terlihat sebagai seorang manusia. Ia terlihat seperti dewa mahatahu yang bisa melihat menembus tabir waktu dan takdir. Bagaimana mungkin ayah mereka tahu lokasi pasti dari dua warisan tingkat dewa di wilayah perbatasan yang bahkan belum pernah dipetakan oleh militer kekaisaran?!
Wu Xuan berdiri dari dipannya, melangkah perlahan mendekati ketiga putranya.
"Aku tahu isi kepala kalian," ucap Wu Xuan, suaranya turun satu oktaf, menjadi sangat dingin dan menusuk. "Aku tahu kalian bertiga masih memendam dendam satu sama lain. Kau, Shan, membenci Guan yang mengambil posisimu. Dan kalian berdua membenci Shan atas perlakuan masa lalu."
Ketiga pemuda itu menundukkan kepala mereka semakin dalam, keringat dingin menetes dari dahi mereka. Di hadapan Primordial Suci ini, tidak ada satu pun rahasia hati yang bisa disembunyikan.
"Dengarkan aku baik-baik," Wu Xuan berhenti tepat di depan mereka. Aura dari Dao Halo di punggungnya berdesir, memberikan tekanan yang membuat taman itu hening seketika. "Dunia ini terlalu besar untuk diperebutkan oleh tiga ekor naga kecil dari sarang yang sama. Jika kalian mengikuti apa yang kukatakan, jika kalian menyingkirkan ego kalian dan bekerja sama tanpa memberontak kepadaku..."
Wu Xuan memberikan jeda yang dramatis, matanya menatap lurus ke arah cakrawala ibukota jauh di utara.
"...tiga wilayah besar dari seluruh Kekaisaran Great Yan akan kuwariskan untuk kalian masing-masing. Kalian akan menjadi raja di wilayah kalian sendiri, tanpa perlu saling menodongkan pedang demi satu takhta Wilayah Selatan yang kecil ini."
Pernyataan itu meledak di dalam otak semua orang yang mendengarnya seperti petir di siang bolong.
Jenderal Wu Zuan hampir tersedak ludahnya sendiri. Yan Melin mendongak dengan syok absolut. Qin Wuyan menutup mulutnya. Tiga wilayah besar kekaisaran?! Kekaisaran Yan memiliki Wilayah Utara, Barat, Timur, dan Pusat. Sang Archduke secara terang-terangan baru saja mendeklarasikan ambisinya untuk menaklukkan setengah kekaisaran dan membagikannya kepada putra-putranya!
"Untuk sekarang," titah Wu Xuan, nadanya tidak menerima bantahan, "ikuti apa yang kukatakan. Tumbuhlah menjadi monster yang kutakuti, atau matilah sebagai ampas untuk di pijak."
"KAMI BERSUMPAH DENGAN DARAH KAMI, AYAHANDA!" teriak ketiga pemuda itu serempak, darah keremajaan mereka mendidih oleh ambisi penaklukan yang baru saja ditanamkan oleh ayah mereka.
"Beri hormat pada ibu kalian, lalu pergilah," perintah Wu Xuan.
Ketiga putranya memutar arah. Pertama, mereka menghadap ke arah Qin Wuyan yang duduk di dipan utama.
Bagi Wu Shan, ini adalah penghinaan batin yang sangat berat. Ia harus berlutut dan menyembah seorang gadis yang seumuran dengannya, yang dulu dia tolak, sebagai Ibu Utama. Rahangnya mengeras, namun di bawah tatapan mematikan ayahnya, Wu Shan menjatuhkan lututnya dan menunduk hormat.
Selanjutnya, mereka berbalik ke arah tikar tempat Yan Melin duduk. Kali ini, giliran Wu Guan dan Wu Ling yang harus menelan ludah pahit. Wanita ini adalah iblis yang menyiksa mereka selama belasan tahun. Namun, sebagai bentuk kepatuhan mutlak pada hierarki tiran ayahnya, kedua pangeran itu menunduk dan memberikan hormat tanpa ekspresi mengeluh sedikitpun.
Sebuah dinamika psikologis yang sangat sakit, namun mengikat mereka dalam satu rantai kekuasaan.
Tepat saat mereka selesai memberikan hormat, sistem di dalam kepala Wu Xuan berdentang dengan sangat heboh.
[Ding! Peringatan Perubahan Takdir Mayor!]
[Mendeteksi bahwa Host secara aktif dan terencana telah memberikan 'Peluang Surgawi' kepada karakter sub-villain (Wu Shan) dan karakter penting (Wu Ling), sekaligus menyatukan faksi internal keluarga yang seharusnya hancur karena perang saudara.]
[Tindakan ini sepenuhnya merusak plot protagonis Chu Zhang yang seharusnya memanen warisan tersebut untuk power-up!]
[Selamat! Host mendapatkan hadiah intervensi plot tingkat tinggi:]
[Teknik Pedang Penebas Langit (Heaven-Slicing Sword Art) - Tingkat Primordial!]
[100.000x Pil Esensi Tingkat Jiwa Puncak!]
Wu Xuan nyaris tersedak napasnya sendiri saat membaca hadiah kedua. Seratus ribu pil tingkat jiwa puncak?! Sistem ini benar-benar tidak memiliki konsep inflasi ekonomi! Bagi seorang kultivator tingkat Primordial, pil tingkat Jiwa memang tidak ada bedanya dengan permen kacang. Tapi bagi sebuah aset militer, seratus ribu pil ini bisa menolong ribuan pasukan yang mengalami kemacetan!
"Zuan," panggil Wu Xuan dengan nada santai, seolah baru saja teringat harus membuang sampah.
"Hamba, Yang Mulia!"
Wu Xuan menjentikkan jarinya. Tiga buah botol giok berkualitas tinggi melayang melesat ke tangan ketiga putranya.
"Masing-masing botol itu berisi seratus pil esensi tingkat Jiwa Puncak. Gunakan untuk mempercepat penyerapan warisan kalian," ucap Wu Xuan santai pada anak-anaknya yang langsung membelalakkan mata karena tidak percaya memegang banyak pil tingkat jiwa puncak sebanyak itu.
Kemudian, Wu Xuan melemparkan sebuah cincin spasial yang cukup besar, mendarat tepat di telapak tangan Jenderal Wu Zuan.
"Dan untukmu, Zuan," lanjut Wu Xuan, menguap pelan sambil kembali duduk di samping Qin Wuyan. "Di dalam cincin itu ada sisa sembilan puluh sembilan ribu tujuh ratus pil tingkat Jiwa Puncak. Pil-pil itu sudah tidak berguna untukku, rasanya hambar seperti debu. Distribusikan pada prajurit tingkat ranah jiwa dan ranah roh yang menunjukkan bakat dan kesetiaan di garis depan. Jangan buat aku malu dengan memiliki prajurit yang lemah."
BUK!
Jenderal veteran bermata satu itu langsung jatuh dengan kedua lututnya. Tangan kasarnya yang memegang cincin spasial itu bergetar seolah ia sedang memegang masa depan klan. Sembilan puluh sembilan ribu pil ranah Jiwa Puncak?! Ini akan membantu banyak tentara muda mencapai terobosan lebih cepat!
"Terima kasih Archduke dengan ini tentara muda tidak takut mengalami kemacetan! Saya pastikan mereka akan bersumpah darah sebagai pengabdiannya pada keluarga Wu!" teriak Jenderal Wu Zuan dengan air mata fanatisme mengalir di pipinya yang berbekas luka.
"Pergilah," usir Wu Xuan dengan kibasan tangannya.
Jenderal Wu Zuan dan ketiga pangeran itu mundur dengan teratur, lalu menghilang dari taman spiritual, membawa serta ambisi yang akan segera mengubah kekuatan dunia.
Kini, taman itu kembali seperti semula, menyisakan alunan musik pelan dari para pelayan yang kebingungan.
Wu Xuan menoleh ke arah Qin Wuyan yang masih terpukau menatapnya. Tanpa peringatan, sang Archduke menunduk, menyelipkan satu lengannya di bawah lutut Wuyan, dan lengan lainnya di punggung gadis itu, mengangkatnya dalam gaya bridal style dengan sangat mudah.
"Suamiku! A-Apa yang kau lakukan? Pelayan sedang melihat..." Wuyan memekik pelan, wajahnya memerah hingga ke telinga, secara naluriah mengalungkan lengannya ke leher kuat Wu Xuan.
"Biarkan mereka melihat," kekeh Wu Xuan pelan, matanya memancarkan gairah maskulin yang nakal dan mendominasi. "Anak-anak sudah pergi. Urusan politik bisa di urus nanti. Sekarang... saatnya kita melanjutkan kultivasi ganda kita yang tertunda. Ranah kultivasimu masih perlu distabilkan, bukan?"
"A-Aku... aku sudah stabil, Suamiku... uhh," Wuyan menyembunyikan wajahnya yang malu di dada bidang suaminya yang hangat, namun tubuhnya tidak menolak sedikit pun.
Wu Xuan tertawa lepas. Ia tidak mempedulikan pelayan yang menundukkan wajah mereka dengan rona merah. Ia berbalik dan melangkah membawa Istri Utamanya masuk ke dalam paviliun pribadinya yang mewah, perlahan menutup pintu giok raksasa di belakangnya.
Meninggalkan satu orang di luar.
Yan Melin masih duduk bersimpuh di atas tikar sutranya di tengah taman. Angin senja yang mulai dingin meniup rambutnya. Ia ditinggalkan begitu saja, seperti pajangan usang yang terlupakan.
Beberapa saat kemudian, dari balik dinding formasi paviliun utama yang sengaja tidak disegel kedap suara oleh Wu Xuan, terdengar suara erangan lembut yang manis. Suara desahan napas Wuyan yang dipenuhi kenikmatan, disusul oleh suara ranjang giok yang berderit pelan namun konstan.
Suara penyatuan fisik dan gairah itu mengalir keluar, menusuk telinga Yan Melin bagaikan ribuan belati es.
Ia dipaksa duduk di luar sana, dalam kedinginan malam yang mulai turun, dihantui oleh suara kenikmatan kultivasi ganda antara pria yang dulu cinta padanya, dengan gadis muda yang mengambil posisinya.
Hukuman paling menyiksa bagi wanita sombong bukanlah kematian. Hukuman terberatnya adalah dibiarkan hidup untuk melihat orang lain menikmati apa yang dahulu dimilikinya.
Di bawah langit senja Wilayah Selatan yang semakin gelap, Yan Melin hanya bisa meneteskan air mata kecemburuan.
Bersambung...