NovelToon NovelToon
The Dancer And The Night King

The Dancer And The Night King

Status: sedang berlangsung
Genre:CEO / Cinta Seiring Waktu
Popularitas:306
Nilai: 5
Nama Author: DearlyBoa

Di panggung, Laras adalah doa yang dipanjatkan lewat gerak tubuh. Setiap jengkal gerak Laras adalah perpaduan antara kesucian tradisi dan kelembutan yang menghanyutkan. Ia adalah bidadari yang dikagumi banyak mata, namun hatinya tetap tulus, tak tersentuh oleh gemerlap dunia yang fana.​Di dunianya, Elang adalah hukum yang tak terbantahkan.​Sebagai pemilik nightclub terbesar di ibu kota, Elang terbiasa dengan kegelapan, dentum musik yang memekakkan, dan kepatuhan mutlak. Baginya, hidup adalah tentang kendali. Ia dingin, tegas, dan tak pernah membiarkan apa pun lepas dari genggamannya.​Dua dunia yang tak seharusnya bersinggungan itu bertabrakan saat Elang melihat Laras menari. Bagi orang lain, Laras adalah sebuah pertunjukan seni. Namun bagi Elang, Laras adalah kepemilikan.​Elang tidak hanya ingin melihat Laras menari; ia ingin mengurung sang penari dalam dunianya yang gelap. Ia ingin menjadi satu-satunya pria yang menyaksikan setiap lekuk gemulai dan kerlingan mata Laras yang mematikan.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon DearlyBoa, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Jarak dalam Tatapan Gila

Keheningan apartemen mewah itu mulai terasa seperti racun bagi Laras Maheswari. Setiap detik yang berlalu di bawah pengawasan kamera pengawas dan ajudan berseragam di depan pintu adalah siksaan bagi jiwanya yang terbiasa bebas meliuk. Laras merasa dirinya bukan lagi seorang manusia, melainkan sebuah artefak yang dipajang di museum pribadi milik Elang Dirgantara.

Ketulusannya mulai terkikis oleh rasa penasaran yang berbahaya. Selama ini, Elang selalu muncul di saat-saat terkecil ketika ia merasa "kepemilikannya" terancam. Sentuhan Bimo di pundaknya tempo hari telah memicu badai amarah Elang hanya dalam hitungan menit. Kini, sebuah ide nekat muncul di benak Laras. Sebuah eksperimen untuk menguji sejauh mana benang-benang tak kasat mata itu mengikatnya.

Apa yang akan terjadi jika aku benar-benar melanggar aturannya secara terang-terangan? pikir Laras sambil menatap pintu apartemennya.

Sore itu, Laras memutuskan untuk melakukan sesuatu yang dilarang keras oleh Elang: keluar dari apartemen tanpa izin dan tanpa pengawalan. Dengan kecerdikan yang muncul dari rasa frustrasi, Laras memanfaatkan waktu pergantian shift penjaga lobi bawah dan keluar melalui pintu darurat yang menuju ke arah dapur kafe di lantai dasar.

Ia berjalan cepat menyusuri trotoar Jakarta yang ramai. Untuk pertama kalinya dalam berminggu-minggu, ia menghirup udara yang tidak beraroma pewangi ruangan mahal. Ia pergi ke sebuah taman kota, duduk di bangku kayu, dan sengaja membiarkan dirinya berada di keramaian. Ia bahkan sengaja berbincang dengan seorang penjual bunga tua, membiarkan pria itu menyentuh tangannya saat memberikan kembalian.

Laras menunggu. Ia memperhatikan setiap mobil hitam yang melintas, setiap pria berjas yang mungkin adalah orang suruhan Elang. Ia berharap—atau mungkin lebih tepatnya, ia menantang—Elang untuk datang. Ia ingin pria itu muncul, menarik lengannya dengan kasar, dan meneriakinya karena telah melanggar aturan. Ia ingin melihat kilat posesif itu lagi, karena setidaknya, amarah Elang adalah bukti bahwa ia masih memiliki arti.

Namun, satu jam berlalu. Dua jam. Hingga senja berganti malam yang pekat, Elang tidak datang.

Tidak ada mobil mewah yang berhenti mendadak. Tidak ada ajudan yang menyeretnya pulang. Laras pulang ke apartemennya dengan langkah gulai yang gontai. Ada rasa kecewa yang menyelusup di sela-sela hatinya. Apakah dia sudah bosan? Apakah aku hanya mainan sesaat yang kini sudah tidak menarik lagi? Malam itu, Laras tidur dengan perasaan hampa yang menyesakkan. Ia mematikan semua lampu, membiarkan kegelapan menelan tubuhnya yang lelah. Ketulusannya terluka oleh ketidakpedulian yang baru saja ia rasakan. Dalam kantuknya yang mulai memberat, Laras membatin bahwa mungkin Elang memang sedingin es yang tidak memiliki hati.

***

Laras tidak tahu sudah berapa lama ia terlelap ketika ia merasakan sesuatu yang aneh. Kesadaran pertamanya bukan berasal dari suara, melainkan dari perubahan tekanan udara di sekitarnya. Aroma kayu cendana dan tembakau mahal yang sangat ia kenali tiba-tiba memenuhi indra penciumannya.

Sebelum ia sempat membuka mata, ia merasakan tubuhnya terangkat. Dua lengan yang sekeras baja dan sehangat bara api menyusup di bawah punggung dan lututnya. Laras tersentak, namun sebuah tangan besar dengan lembut menekan kepalanya ke dada yang bidang dan kokoh.

"Diam," sebuah suara rendah dan parau berbisik di dekat telinganya.

Laras tidak bisa melihat apa-apa dalam kegelapan yang pekat, namun ia tahu siapa pria ini. Elang. Getaran di dada pria itu saat berbisik mengirimkan gelombang kejut ke seluruh saraf Laras. Ia tidak melawan. Ia merasa seperti sedang dibawa terbang oleh seekor predator malam.

Elang bergerak dengan kecepatan dan ketangkasan yang luar biasa. Ia tidak melewati pintu depan. Laras merasa mereka melewati lorong-lorong privat yang hanya diketahui oleh pemilik gedung. Hembusan angin malam sesaat menerpa kulit Laras saat mereka berpindah gedung melalui jembatan penghubung tertutup di lantai atas.

Laras tetap memejamkan mata, membiarkan dirinya pasrah dalam gendongan Elang. Ia bisa merasakan detak jantung Elang yang berdegup kencang, tidak sinkron dengan napasnya yang diatur dengan sangat tenang. Ada ketegangan yang luar biasa terpancar dari tubuh pria itu.

Saat pintu unit tujuan mereka terbuka dan lampu temaram dinyalakan, Elang menurunkan Laras di atas sofa beludru hitam yang besar. Laras mengerjapkan mata, mencoba menyesuaikan penglihatan dengan cahaya yang ada.

Ia terpana. Tempat itu bukan apartemennya. Namun, ia merasa familiar. Ia melihat ke arah jendela kaca raksasa di hadapannya. Dari sudut ini, ia bisa melihat dengan jelas jendela unit apartemennya sendiri yang berada di gedung seberang.

"Jadi di sini..." bisik Laras, suaranya serak. "Di sini tempatmu mengawasiku setiap malam?"

Tatapan Sang Predator

Elang tidak langsung menjawab. Ia berjalan menuju meja bar kecil di sudut ruangan, menuangkan wiski ke dalam gelas kristal hingga hampir penuh. Ia tidak mengenakan jas, hanya kemeja hitam yang kancingnya terbuka hingga ke tengah dada, menampakkan kulitnya yang kecokelatan dan urat-urat di lehernya yang menegang.

Elang menyesap wiskinya dalam satu tegukan besar, lalu menoleh ke arah Laras. Raut wajahnya tak terdefinisikan. Ada kemarahan yang tertahan, namun ada juga gairah yang begitu gelap hingga membuat bulu kuduk Laras meremang. Matanya memerah, menunjukkan bahwa pria itu mungkin tidak tidur sama sekali atau telah mengonsumsi alkohol lebih banyak dari biasanya.

"Kamu pikir aku tidak tahu?" suara Elang memecah keheningan, dingin dan tajam seperti sembilu. "Kamu pikir aku tidak melihatmu keluar sore tadi? Kamu pikir aku tidak melihat pria tua itu menyentuh tanganmu di taman?"

Laras bangkit dari sofa, berdiri tegak meski kakinya gemetar. "Lalu kenapa Tuan tidak datang? Kenapa Tuan membiarkan saya?"

Elang berjalan mendekat, langkahnya pelan namun setiap pijakannya seolah menggetarkan lantai. Ia berhenti tepat di depan Laras, jarak mereka begitu dekat hingga Laras bisa mencium aroma wiski yang kuat dari napas Elang.

"Karena aku ingin melihat sejauh mana kamu akan bermain-main dengan nyawamu sendiri, Laras," bisik Elang. Ia menaruh gelas wiskinya di meja samping tanpa melepaskan pandangan dari Laras. "Aku ingin tahu apakah kamu memang sebodoh itu untuk menantang kesabaranku."

Elang mencengkeram rahang Laras dengan satu tangan, tidak kasar namun penuh penekanan. "Kamu ingin aku datang dan menyeretmu pulang seperti jalang? Kamu ingin aku menghajar setiap pria yang melihatmu? Kamu sengaja melakukannya hanya untuk menarik perhatianku, bukan?"

Laras menatap mata Elang yang tampak hampir gila. Posesifitas pria ini melampaui segala batas logika. Di balik kegilaan itu, Laras melihat sebuah ketakutan akan kehilangan yang sangat dalam—sesuatu yang Elang coba tutupi dengan kekuasaan.

"Saya hanya ingin tahu... apakah saya benar-benar berharga di mata Anda, atau hanya sekadar barang pajangan yang Anda beli untuk memuaskan mata Anda," balas Laras dengan ketulusan yang menusuk.

Tangan Elang yang mencengkeram rahang Laras gemetar. Ia melepaskan cengkeramannya dan berbalik, menghadap jendela yang menghadap ke apartemen Laras. "Berharga?" Elang tertawa pendek, tawa yang terdengar sangat menyakitkan. "Laras, aku telah menghabiskan jutaan dolar untuk memindahkanmu ke sini. Aku telah menempatkan orang-orang terbaikku untuk menjagamu. Aku bahkan tidak bisa bekerja dengan tenang karena aku terus-menerus ingin melihat apa yang sedang kamu lakukan melalui teropong di meja itu."

Elang menunjuk sebuah teropong besar yang berdiri di sudut ruangan, mengarah tepat ke arah balkon apartemen Laras.

"Jangan pernah bertanya apakah kamu berharga. Masalahnya adalah kamu terlalu berharga, hingga aku merasa aku kehilangan kendali atas diriku sendiri setiap kali kamu menghilang dari pandanganku," lanjut Elang, suaranya kini bergetar karena emosi yang meluap.

Laras terdiam. Ia merasakan sebuah kekuatan aneh yang mengalir di dalam dirinya. Pria kuat ini, pria yang bisa menghancurkan siapa pun dengan satu jentikan jari, ternyata begitu rapuh di hadapannya. Ketulusan Laras sebagai seorang wanita yang mencintai keindahan dan emosi kini bereaksi.

Ia melangkah maju, mendekati punggung Elang yang lebar. Laras adalah seorang penari; ia tahu bagaimana berkomunikasi tanpa kata-kata. Ia tahu bagaimana cara menggoda yang paling mematikan—bukan dengan kevulgaran, melainkan dengan kelembutan yang menantang.

Laras menyentuh lengan Elang, mengusapkan jemari lentiknya dari siku hingga ke pergelangan tangan pria itu. Gerakannya sangat lambat, sehalus sampur sutra yang jatuh di atas lantai panggung.

"Kalau begitu, kenapa Tuan diam saja?" bisik Laras di balik punggung Elang. "Bukankah saya sudah melanggar aturan? Bukankah saya sudah menjadi anak nakal malam ini?"

Elang berbalik dengan cepat, napasnya memburu. Ia menatap Laras dengan tatapan yang benar-benar hampir gila. Hasrat dan kemarahan berperang di dalam matanya yang gelap.

Laras tidak mundur. Ia justru mendekat, melingkarkan lengannya yang gemulai di leher Elang. Ia mendongak, menatap Elang dengan kerlingan mata yang hanya ia tunjukkan pada orang yang dicintainya—sebuah godaan halus yang tulus namun menantang.

"Hukum saya, Tuan Elang," bisik Laras, bibirnya hampir menyentuh rahang Elang yang keras. "Jika saya adalah milik Anda, tunjukkan pada saya bagaimana Anda memperlakukan milik Anda yang membangkang."

Laras menggerakkan tubuhnya dengan gemulai, sebuah gerakan tari kecil yang sangat provokatif di ruang yang sesempit itu. Ia seolah-olah sedang menari di atas bara api, menantang Elang untuk memadamkannya atau justru ikut terbakar bersamanya.

Mata Elang menggelap sepenuhnya. Wiski di dalam gelas yang tersisa di meja seolah tak ada artinya dibanding gairah yang meledak di dalam dadanya. Ia mencengkeram pinggang Laras dengan kedua tangannya, menarik tubuh mungil itu hingga menempel sempurna pada tubuhnya yang keras.

"Jangan menantangku, Laras Maheswari," geram Elang, suaranya kini terdengar seperti predator yang siap menerkam. "Karena jika aku mulai menghukummu, aku tidak akan pernah berhenti sampai kamu memohon ampun padaku."

Laras memberikan senyuman tipis yang sangat cantik, senyum bidadari yang baru saja menjatuhkan seorang raja ke dalam lubang dosa. Ia menyandarkan kepalanya di bahu Elang, membiarkan rambut hitamnya yang harum menutupi sebagian wajah pria itu.

"Saya tidak akan memohon ampun, Elang," bisik Laras tulus, menyebut nama depan pria itu untuk pertama kalinya. "Karena saya tahu, di balik kemarahan ini, Anda hanya takut saya akan meninggalkan Anda."

1
falea sezi
laras tak ubah nya jalang. bego bgt qm. laras mau. ma. laki celup. sana sini
Indryana Imaniar
woou awal yang keren
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!