Setelah kecelakaan tragis empat tahun lalu, Lyodra Taylor terbangun dari koma panjang di Chicago dalam keadaan amnesia total. Keluarganya, yang menyimpan dendam dan mengira kecelakaan itu adalah sabotase bisnis, memilih memalsukan kematian Lyodra dan menghapus seluruh masa lalunya—termasuk rahasia bahwa ia sempat hamil dan keguguran saat kecelakaan terjadi.
Di sisi lain, Archello Dominic, sang kekasih yang hancur karena mengira Lyodra telah tiada, berubah menjadi pria yang dingin dan menutup diri. Di bawah tekanan ibunya, Archello terpaksa bertunangan dengan Oliver Bernardo, seorang gadis baik hati yang tidak tahu apa-apa tentang konspirasi besar di balik perjodohan mereka.
Tanpa mereka sadari, kecelakaan itu sebenarnya adalah skenario manipulatif kakek Oliver demi ambisi bisnis keluarga. Di tengah bayang-bayang masa lalu yang membeku dan kebohongan yang rapi tersusun, Archello mulai berjuang antara kesetiaannya pada memori Lyodra atau membuka hati bagi ketulusan Oliver.
🦋
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Daeena, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
#26
Atmosfer di dalam ruang kerja Silas Cavanaugh terasa seberat timah. Kabar mengenai kehamilan Lyodra Taylor—yang kini telah resmi menjadi Lyodra Dominic—menyebar di kalangan elite New York seperti api yang menyambar bensin. Bagi Silas, berita itu bukan sekadar kabar bahagia dari keluarga rival, melainkan sebuah tamparan keras yang mempermalukan harga diri dinasti Cavanaugh.
Silas berdiri di depan jendela besar yang menghadap ke arah Manhattan, namun matanya tidak melihat keindahan kota. Ia menggenggam tongkat peraknya begitu erat hingga buku-buku jarinya memutih. Di belakangnya, Oliver berdiri menunduk, tubuhnya yang kini tampak lebih kurus akibat diet ketat yang dipaksakan kakeknya tampak bergetar hebat.
"Kau..." suara Silas rendah, namun setiap kata yang keluar mengandung racun yang mematikan. Ia berbalik perlahan, menatap Oliver dengan pandangan yang lebih menghina daripada sebelumnya. "Kau benar-benar cucu yang tidak berguna!"
Oliver memejamkan mata, membiarkan air mata jatuh membasahi pipinya yang tirus. Ia tahu badai ini tidak akan bisa ia hindari.
"Lyodra Taylor... wanita yang pernah keguguran, wanita yang tubuhnya hancur karena kecelakaan, bahkan dia bisa hamil secepat ini!" Silas berteriak, suaranya menggelegar menghantam dinding-dinding kayu mahoni di ruangan itu. "Hanya dalam beberapa bulan setelah pernikahan terkutuk itu, dia sudah memberikan apa yang diinginkan keluarga Dominic! Sementara kau?"
Silas melangkah mendekat, menghentakkan tongkatnya ke lantai dengan keras. Tok!
"Andaikan saja kau sedikit lebih cerdas, Oliver. Andaikan saja kau bisa merayu Archello sialan itu dengan benar saat dia masih dalam genggamanmu! Hanya dalam beberapa minggu saja, kau harusnya sudah hamil. Kau punya waktu lima bulan untuk memastikan benih Dominic tertanam di rahimmu, tapi kau justru bersikap seperti biarawati suci yang menunggu keajaiban!"
"Kek, Archello tidak pernah menyentuhku... bagaimana mungkin aku—"
"Jangan membela diri dengan alasan moralitas yang sampah!" potong Silas kasar. "Dalam bisnis dan kekuasaan, moralitas adalah milik mereka yang kalah. Kau punya kesempatan untuk menjeratnya, untuk mengikatnya secara permanen sebelum 'hantu' itu muncul kembali. Tapi kau gagal. Kau membiarkan aset terbesar kita lepas dan sekarang dia justru memberikan pewaris pada musuh terbesarku!"
Silas berjalan mondar-mandir dengan napas yang memburu. Bayangan wajah Nenek Hera yang tersenyum kemenangan terus menghantui pikirannya. Ia bisa membayangkan betapa angkuhnya wanita tua itu sekarang, memamerkan calon cicitnya kepada seluruh kolega bisnis mereka.
"Oh, bagaimana rupanya Hera sekarang? Dia pasti sedang tertawa di atas penderitaanku," gumam Silas dengan nada penuh kebencian. "Dia bahagia setelah mengkhianati dan menghinaku. Dia menggunakan skandalmu untuk menarik Archello pulang, lalu membuangmu seperti sampah tepat setelah tujuannya tercapai. Dia menipuku, Oliver! Dan dia menang karena cucuku sendiri tidak memiliki otak untuk bertarung!"
Silas berhenti tepat di depan Oliver, menatapnya dengan mata yang menyipit. "Kau tahu apa yang mereka katakan di luar sana? Mereka menertawakan kita. Mereka bilang keluarga Cavanaugh bahkan tidak bisa mempertahankan seorang pria dingin seperti Archello. Kau telah membuat nama besar ini menjadi bahan lelucon di meja makan para petinggi Wall Street."
Oliver jatuh bersimpuh di lantai, menutupi wajahnya dengan kedua tangan. Isak tangisnya pecah, namun tidak ada sedikit pun rasa iba di mata Silas.
"Berhenti menangis! Air matamu tidak akan membuatmu hamil atau mengembalikan Archello!" Silas berteriak lagi. "Mulai hari ini, dietmu akan diganti dengan asupan nutrisi untuk kesuburan. Aku tidak peduli kau suka atau tidak. Jika kau tidak bisa mendapatkan Dominic, aku akan menjualmu pada seseorang yang jauh lebih tua namun memiliki kekuasaan yang setara. Dan kau harus memastikan rahimmu bekerja kali ini, atau kau tidak akan pernah melihat dunia luar lagi seumur hidupmu."
"Bunuh saja aku, Kek... kumohon," lirih Oliver di sela isaknya.
"Mati adalah kemewahan yang tidak akan kuberikan padamu, Oliver. Kau masih memiliki kegunaan sebagai pion, meski kau adalah pion yang cacat," Silas berbalik, mengabaikan cucunya yang hancur di atas lantai.
Ia menatap ke arah kejauhan, ke arah Mansion Dominic yang mungkin saat ini sedang merayakan kabar kehamilan itu. Di dalam benak Silas yang licik, sebuah rencana gelap mulai tersusun. Jika ia tidak bisa memiliki pewaris Dominic melalui darah Oliver, maka ia akan memastikan bahwa pewaris yang dikandung Lyodra tidak akan pernah melihat cahaya dunia.
"Hera... kau pikir kau sudah menang?" bisik Silas pada kegelapan. "Permainan ini baru saja dimulai. Aku akan memastikan senyummu berubah menjadi tangisan darah sebelum bayi itu lahir."
Malam itu, di bawah kemegahan Mansion Cavanaugh, Oliver menyadari bahwa nerakanya baru saja memasuki level yang lebih dalam. Dan di sisi lain kota, Lyodra dan Archello tidak menyadari bahwa kebahagiaan mereka sedang diincar oleh monster yang tidak akan berhenti sebelum semuanya hancur berkeping-keping.