Shanum gadis desa yang harus bekerja keras untuk kebutuhan hidupnya dan juga keluarganya. Di tengah kesulitan ekonominya, ia terus menjadi perbincangan orang-orang disekitarnya karena di usianya yang akan menginjak 30 tahun, ia belum saja menikah.
Karena merasa malu, Ibunya meminta tolong salah satu orang yang dikenal sebagai mak comblang di desanya agar mencarikan laki-laki untuk Shanum, hingga akhirnya mak comblang tersebut memperkenalkan Shanum dengan seorang pria yang merupakan cucu dari salah satu warga desa yang terpandang di desa.
Bagaimana kelanjutannya? Apakah Shanum akan menerima pria tersebut? Siapakah pria itu?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon elaretaa, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Masih Ada Satu Lagi
Napas Shanum menderu halus, terasa hangat di permukaan kulit wajah Abi yang masih mengurungnya dalam jarak yang begitu intim. Di dalam kabin mobil yang kedap suara itu, detak jantung Shanum terasa seperti tabuhan genderang yang bersahutan dengan milik Abi. Aroma parfum woody maskulin milik suaminya bercampur dengan sisa aroma sabun bayi yang lembut dari kulit Shanum, menciptakan suasana yang memabukkan bagi keduanya.
"Mas... sudah," bisik Shanum hampir tak terdengar, jemarinya yang lemas masih tertahan dalam genggaman erat tangan Abi.
Abi menjauhkan wajahnya hanya beberapa sentimeter dan membiarkan ujung hidung mereka bersentuhan, ia menatap lekat-lekat mata Shanum yang berkaca-kaca karena rasa malu yang membuncah, senyum nakal yang jarang terlihat kini terpatri jelas di wajah tegas Abi.
"Kenapa? Tadi kamu yang bersemangat meledekku, sekarang kenapa nyerah?" goda Abi dengan suara rendah yang menggetarkan.
Shanum menggeleng cepat, wajahnya yang merah padam disembunyikan dengan cara menunduk, "Aku nggak meledek, Mas. Aku cuma... kaget saja Mas Abi bisa selucu itu," ucap Shanum.
Abi terkekeh, suara tawa yang berat dan renyah. Ia melepaskan kuncian pada tangan Shanum, namun beralih mengusap pipi istrinya dengan ibu jari, menelusuri tekstur kulit yang kini terasa panas.
"Lucu, ya? Baiklah. Tapi mulai sekarang, tidak ada lagi panggilan saya, kamu panggil aku Mas dan aku panggil kamu sayang atau namamu, setuju?" tanya Abi.
Mendengar panggilan sayang keluar dari bibir Abi, membuat pertahanan Shanum runtuh dan ia hanya bisa mengangguk pasrah, terlalu malu untuk membalas dengan kata-kata.
Beberapa saat kemudian, mereka pun sampai di apartemen dan sesampainya di apartemen, Abi langsung mengajari Shanum bagaimana cara menggunakan ponsel.
Lampu ruang tengah apartemen yang temaram memberikan kesan hangat saat Abi duduk di sofa, tepat di samping Shanum. Di tangan mereka, ponsel berwarna rose gold yang menyala terang dan menampilkan deretan aplikasi yang masih terasa asing bagi Shanum.
"Nah, sekarang coba kamu buka aplikasi yang logonya hijau ini," instruksi Abi lembut.
Tangannya melingkar di sandaran sofa, sementara jari telunjuknya menunjuk ke arah ikon aplikasi. Shanum menarik napas panjang, konsentrasinya penuh seolah sedang menghadapi ujian negara dan dengan gerakan sangat hati-hati, ia menyentuh layar itu. Begitu aplikasi terbuka, layar menampilkan daftar kontak yang masih kosong, kecuali satu nama, Suami dengan stiker hati.
"Mas... ini kok ada gambar hati?" tanya Shanum polos dan menunjuk emoji hati merah di samping nama Abi.
Abi berdeham dan berusaha menyembunyikan rasa bangga sekaligus sedikit malu karena ia sendiri yang menyimpannya tadi, "Itu agar kamu tahu, kalau itu nomor suami kamu. Sekarang, coba kirim pesan le aku, apa aja terserah," ucap Abi.
Shanum mulai mengetik, jemarinya yang biasanya lincah memotong sayuran kini tampak kaku saat menari di atas papan ketik dan berkali-kali menghapus huruf yang salah ketik karena jarinya yang gemetar.
[Assalamualaikum Mas Abi ini shanum]
"Sudah, Mas?" tanya Shanum ragu.
"Tekan tanda panah di pojok kanan itu, sayang," ucap Abi.
Ponsel Abi yang terletak di atas meja bergetar dan berbunyi nyaring, Abi pun meraihnya dan menunjukkan layar ponselnya kepada Shanum.
"Lihat, pesannya sudah terkirim. Sekarang, aku akan kirim sesuatu ke kamu," ucap Abi.
Detik berikutnya, ponsel baru di tangan Shanum berbunyi. Sebuah notifikasi muncul, saat Shanum membukanya, matanya membulat. Itu adalah foto yang diambil Abi di gerai ponsel tadi, foto di mana Shanum sedang melongo heran sementara Abi tertawa lebar di sampingnya.
"Mas! Foto ini... hapus aja, Mas. Aku kelihatan jelek loh, mulutku sampai kebuka gitu," protes Shanum dengan wajah memerah dan mencoba meraih ponsel Abi, namun pria itu dengan cepat mengangkat tangannya tinggi-tinggi.
"Tidak akan, ini foto favoritku mulai sekarang," goda Abi.
Abi kemudian menggeser layar ponsel Shanum dan menetapkan foto itu sebagai wallpaper, "Supaya orang-orang tahu kalau aku udah nikah dan aku sangat bahagia," ucap Abi.
Telinga Shanum terasa panas, kata-kata Abi malam ini terasa seperti madu yang tumpah, manis dan lengket, menjerat hatinya hingga ia tak bisa berpaling.
"Masih ada satu lagi," ucap Abi.
Abi menekan ikon kamera di dalam aplikasi pesan lalu memilih opsi video call, ponsel di tangan Shanum bergetar hebat. Layarnya menampilkan wajah Abi yang sedang menatapnya dari jarak hanya beberapa jengkal, Shanum melihat wajahnya sendiri di kotak kecil di sudut layar lalu melihat wajah Abi di layar yang besar dan secara bersamaan ia melihat wajah asli Abi di depannya.
"Ini video call, jadi kalau nanti aku sedang di kampus dan aku merindukanmu, kita bisa bicara seperti ini. Aku bisa melihat apa yang sedang kamu masak atau melihat apakah kamu sudah tidur atau belum," ucap Abi.
Shanum terpaku menatap layar itu, teknologi ini terasa seperti sihir baginya. "Berarti... kalau aku di kampung pun, Mas Abi bisa lihat aku?" tanya Shanum.
"Tentu saja. Sejauh apa pun kamu, selama ada sinyal, aku bisa menemukanmu," jawab Abi sungguh-sungguh.
Abi mematikan sambungan telepon itu, lalu meletakkan kedua ponsel di meja. Keheningan kembali menyelimuti ruangan, namun kali ini bukan keheningan yang canggung lalu Abi menarik tubuh Shanum agar bersandar di dadanya. Shanum sempat tegang, namun aroma maskulin Abi yang menenangkan membuatnya perlahan rileks.
Malam semakin larut, Abi melirik jam dinding di ruang tamu yang sudah menunjukkan pukul sepuluh malam, ia menunduk dan menatap Shanum yang masih bersandar padanya.
"Sudah malam, ayo kita istirahat. Besok aku harus ke kampus" ucap Abi lembut, suaranya yang rendah terasa menggetarkan dada Shanum.
Shanum mengangguk patuh, ia bangkit dari sofa dan merapikan gamisnya. Abi meraih jemari Shanum, menautkan jemarinya di sela-sela jari kecil istrinya lalu menuntunnya berjalan menuju kamar utama.
Begitu pintu jati besar itu tertutup, suasana kamar yang dingin karena AC seketika terasa memanas oleh kecanggungan yang manis. Lampu tidur berwarna kekuningan memberikan efek dramatis, menonjolkan bayangan mereka yang menyatu di dinding. Abi tidak melepaskan tangan Shanum, ia justru menariknya perlahan hingga punggung Shanum menyentuh tepian ranjang yang empuk.
Shanum terdiam, saat melihat Abi membuka kausnya dengan gerakan perlahan, matanya tidak sedetik pun lepas dari wajah Shanum yang kini kembali merona, ketegangan yang intim mulai menyergap ruangan itu.
Saat kaus Abi sudah terlepas, ia membawa Shanum dalam dekapannya di atas ranjang king size yang sangat nyaman. Abi merebahkan tubuhnya di samping Shanum dan menyangga kepalanya dengan satu tangan sambil membelai lembut rambut Shanum yang tergerai indah setelah hijabnya ditanggalkan.
.
.
.
Bersambung.....
pasti keduanya akan merasa kecanduan setelah merasakan nikmatnya Sorga Dunia😊