Di Benua Awan Gelap, yang kuat dihormati bagai dewa, dan yang lemah diinjak bagai semut. Shen Yuan, seorang pemuda dengan pembuluh nadi bawaan yang cacat, hidup dalam kehinaan di sudut kota terpencil. Namun, takdirnya berubah ketika kepingan darah dari masa purbakala menyatu dengan jantungnya, memberikannya warisan "Jalan Iblis Penelan Surga".
Dari seorang buangan, ia melangkah di atas lautan darah dan gunung tulang. Ia akan menantang keangkuhan para putra langit, menghancurkan sekte-sekte berusia ribuan tahun, dan menguak tabir kebohongan para dewa yang bertahta di Sembilan Cakrawala. Ini adalah kisah tentang fana yang menggugat takdir, selangkah demi selangkah menuju keabadian.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Baldy, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Rahasia Lautan Kabut
Angin menderu kencang membawa aroma anyir darah yang menggenang di pelataran batu Keluarga Shen. Langit di atas Kota Debu Merah seolah ikut merasakan kejatuhan seorang raksasa; awan kelabu berarak rendah, menutupi sinar matahari pagi yang baru saja mengintip.
Tetua Agung Shen Cangqiu, keberadaan mutlak yang selama puluhan tahun memegang kendali atas hidup dan mati ribuan pendekar di kota ini, kini terbaring tak berdaya. Jubah emasnya robek dan kotor oleh lumpur. Dari pusarnya, hawa murni terus-menerus bocor ke udara, menandakan kehancuran total dari pusaran Lautan Qi yang menjadi kebanggaannya.
Shen Yuan melangkah perlahan mendekati pria tua yang sedang meregang nyawa itu. Ujung sepatu jeraminya menginjak dada Shen Cangqiu, menekan patahan tulang rusuknya hingga Tetua Agung itu memekik tertahan.
"Sepuluh tahun," suara Shen Yuan sedingin angin dari kutub utara. "Selama sepuluh tahun aku hidup memakan sisa makanan anjing, dipukuli, dan dihina sebagai sampah. Kau melihat semuanya dari singgasana emasmu, namun kau menutup mata karena bagimu, garis keturunan ayahku adalah duri dalam daging kubumu."
Shen Cangqiu memuntahkan darah hitam. Matanya yang dulu tajam bak elang kini dipenuhi oleh kekeruhan dan keputusasaan yang dalam. "B-Bunuh aku... Iblis kecil... Keluarga Shen akan hancur di tanganmu..."
"Keluarga ini sudah hancur sejak kalian mengkhianati pilar terkuatnya," Shen Yuan menunduk, matanya menatap tajam ke dalam pupil Shen Cangqiu yang bergetar. "Katakan padaku, rubah tua. Sepuluh tahun yang lalu, ayahku, Shen Jian, adalah pendekar terkuat di Kota Debu Merah. Bahkan dengan bakat kejeniusannya, mustahil ia mati begitu saja di batas luar Lautan Kabut Kematian. Apa yang sebenarnya terjadi padanya?"
Mendengar nama Shen Jian disebut, wajah keriput Shen Cangqiu tiba-tiba menegang. Sebuah tawa serak dan putus asa keluar dari tenggorokannya yang penuh darah.
"He... hehehe... Kau ingin tahu? Kau ingin tahu bagaimana pahlawan kebanggaanmu itu menemui ajalnya?" Shen Cangqiu menyeringai, menampakkan gigi-giginya yang bernoda merah. "Dia terlalu polos! Dia terlalu sombong! Di Lautan Kabut Kematian, dia secara kebetulan menemukan sebuah peta kuno... Peta menuju Makam Tuan Tanah Hantu!"
Alis Shen Yuan berkerut saat mendengar nama makam tersebut. Ia belum pernah mendengarnya, namun dari raut wajah Shen Cangqiu, tempat itu pasti menyimpan pusaka yang mengguncang langit.
"Makam Tuan Tanah Hantu adalah peninggalan dari seorang ahli Ranah Peleburan Jiwa dari ribuan tahun yang lalu!" napas Shen Cangqiu semakin tersengal, namun ia memaksakan diri untuk berbicara demi melihat keputusasaan di mata Shen Yuan. "Ayahmu berniat menyerahkan peta itu kepada sekte besar di alam tengah untuk ditukar dengan pil pusaka yang bisa menyembuhkan pembuluh nadimu yang cacat! Dia rela membuang harta karun sebesar itu hanya demi seekor anak anjing cacat sepertimu!"
Tangan Shen Yuan mengepal erat hingga kuku-kukunya menancap ke telapak tangannya sendiri. Nadi Iblis Penelan Surga di dalam tubuhnya bergejolak menanggapi amarah tuannya. Jadi, ayahnya mempertaruhkan nyawa dan menemukan pusaka legendaris... semuanya murni untuk menyembuhkan kecacatannya?
"Lalu kau membunuhnya untuk merebut peta itu?" desis Shen Yuan, niat membunuh meledak dari tubuhnya.
"Aku? Hahaha! Aku bahkan tidak layak untuk mengangkat sepatu lawan ayahmu saat itu!" Shen Cangqiu batuk dengan keras. "Ayahmu dilacak oleh utusan dari Balai Lelang Bintang Jatuh dan seorang ahli misterius berbaju zirah perak dari kota pusat! Aku... aku hanya bertindak sebagai penunjuk jalan mereka. Aku memancing ayahmu ke dalam Susunan Aksara Pemecah Jiwa! Di sanalah dia dikepung dan dihancurkan hingga jiwanya pun tidak tersisa!"
Sebagai imbalan atas pengkhianatannya, lanjut Shen Cangqiu, ahli berbaju perak itu meningkatkan tingkat kultivasinya ke Ranah Pengumpulan Lautan Qi dan memberikannya sebagian kecil kekayaan untuk menguasai Keluarga Shen. Sementara itu, peta makam tersebut dibawa pergi, dan hanya satu sobekan kecil yang ditinggalkan untuk Shen Cangqiu sebagai hadiah hiburan.
"Bocah, tenangkan pikiranmu! Jangan biarkan amarah menghancurkan akal sehatmu!" tegur Leluhur Darah dengan keras dari dalam jantungnya, merasakan bahwa hawa iblis di tubuh Shen Yuan mulai lepas kendali akibat kebenaran yang menyakitkan ini.
Shen Yuan menarik napas panjang. Matanya yang menyala merah perlahan meredup kembali menjadi jurang kegelapan yang tenang. "Di mana sobekan peta itu sekarang?"
"Di neraka! Dan kau akan segera menyusulku ke sana!"
Tiba-tiba, wajah Shen Cangqiu berubah menjadi sangat ganas. Dengan sisa-sisa tenaga terakhir dari nyawanya yang membakar, tangan keriputnya merogoh ke balik jubahnya dan mengeluarkan sebuah lempengan giok berwarna merah darah yang dipenuhi ukiran aksara terlarang.
"Kau pikir kubu Tetua Agung hanya mengandalkanku?! Kau pikir aku adalah langit tertinggi di keluarga ini?!" raung Shen Cangqiu dengan gila. "Keluarga Shen telah berdiri selama tiga ratus tahun! Kami memiliki fondasi yang tidak bisa disentuh oleh anjing liar sepertimu!"
Krak!
Shen Cangqiu meremukkan lempengan giok darah itu di telapak tangannya.
"LELUHUR! KETURUNANMU MEMOHON, BANGKITLAH DARI PENGASINGAN!"
Jeritan terakhir Shen Cangqiu menguras habis seluruh sisa esensi kehidupannya. Setelah kata-kata itu terucap, kepalanya terkulai ke samping. Sang Tetua Agung akhirnya menghembuskan napas terakhirnya, mati dengan mata yang terbuka lebar penuh kebencian.
Shen Yuan mengerutkan keningnya. Belum sempat ia menelan esensi darah dari mayat tersebut, bumi di bawah kakinya tiba-tiba bergetar hebat.
Gemuruh! Bummm!
Guncangan itu bukan berasal dari permukaan, melainkan dari kedalaman puluhan tombak di bawah tanah kediaman Keluarga Shen. Pelataran batu pualam yang tadinya sudah retak akibat pertarungan, kini terbelah membentuk jurang-jurang kecil. Bangunan-bangunan paviliun yang tersisa di sekitar aula utama mulai runtuh satu per satu.
Langit Kota Debu Merah mendadak berubah menjadi sangat gelap. Udara di sekitar kediaman menjadi sedingin es, membekukan genangan darah di pelataran.
Sebuah aura yang begitu kuno, lapuk, namun sangat mengerikan, meledak dari bawah tanah! Aura ini puluhan kali lipat lebih tebal, lebih murni, dan lebih menekan daripada Lautan Qi milik Shen Cangqiu.
Sisa belasan Tetua Dalam yang tadinya berlutut menyerah kini langsung bersujud rata dengan tanah. Wajah mereka pucat pasi, namun air mata kebahagiaan mengalir deras dari mata mereka.
"Leluhur Tua! Itu aura Leluhur Tua!" teriak salah satu Tetua Dalam sambil bersujud. "Beliau belum mati! Beliau benar-benar masih hidup!"
Mata Shen Yuan menyipit tajam. Tubuh Emas Gelap-nya dengan sendirinya menegang, merasakan bahaya yang sangat mematikan mendekat.
"Sialan!" Leluhur Darah mengumpat keras di dalam batin Shen Yuan. "Ini adalah aura seseorang di Puncak Ranah Pengumpulan Lautan Qi, setengah langkah menuju Ranah Pembentukan Inti Emas! Pria ini telah mengubur dirinya di bawah tanah selama puluhan tahun untuk mengumpulkan hawa murni bumi agar usianya yang hampir habis bisa diperpanjang!"
"Setengah langkah menuju Inti Emas?" gumam Shen Yuan. Tangannya mencengkeram erat. Perbedaan kekuatannya kini terlalu besar. Dari Penempaan Raga Lapisan Ketujuh menuju Puncak Lautan Qi adalah jarak yang membentang setidaknya sebelas lapisan kecil dan satu ranah besar!
Bledaaar!
Sebuah pilar cahaya berwarna abu-abu pekat meledak menghancurkan lantai aula utama Keluarga Shen hingga berkeping-keping. Dari dalam pilar cahaya tersebut, sesosok manusia melayang naik ke udara.
Sosok itu tampak seperti mayat hidup. Tubuhnya sangat kurus hingga hanya tersisa kulit yang membungkus tulang belulang. Rambutnya putih panjang menyapu pergelangan kakinya, dan jubah hitam kunonya dipenuhi oleh debu waktu. Namun, mata yang terbuka dari kelopak yang keriput itu memancarkan dua berkas cahaya abu-abu yang sanggup merobek ruang.
Ini adalah Shen Wuji, pendiri kubu terkuat Keluarga Shen, sosok yang dianggap sudah mati lima puluh tahun yang lalu!
"Siapa..." suara Shen Wuji terdengar sangat serak dan pelan, seperti gesekan dua batu nisan tua, namun suaranya bergema jelas di telinga setiap makhluk hidup di Kota Debu Merah. "...siapa yang berani mengganggu tidur panjangku, dan membantai keturunanku?"
Tatapan Shen Wuji perlahan turun, menyapu lautan mayat para penjaga, mayat Tetua Dalam, dan akhirnya terpaku pada mayat Shen Cangqiu yang tergeletak di dekat kaki seorang pemuda berjubah hitam.
Saat tatapan Leluhur Tua itu bertumpu pada Shen Yuan, ruang di sekitar pemuda itu terasa membeku. Udara seolah ditarik keluar dari paru-parunya. Tulang-tulang Tubuh Emas Gelap Shen Yuan berderit keras, menahan tekanan yang mencoba memaksanya untuk berlutut.
"Tubuh yang kuat... Namun, aura iblis di darahmu sangat menjijikkan," ucap Shen Wuji, perlahan mengangkat satu jarinya yang kurus kering dan mengarahkannya pada Shen Yuan. "Untuk kematian Cangqiu, aku akan menggunakan sumsum tulangmu sebagai ramuan perpanjangan umurku."
Sebuah pusaran hawa murni abu-abu sebesar bukit kecil mulai terbentuk di ujung jari sang Leluhur Tua. Pusaran itu tidak liar seperti serangan Shen Cangqiu, melainkan sangat tenang, padat, dan terpusat. Inilah kekuatan seseorang yang telah menyentuh batas pemahaman Inti Emas; kendali mutlak atas hawa murni!
"Bocah! Lari sekarang juga!" raung Leluhur Darah. "Tubuh Emas Gelapmu tidak akan bisa menahan satu sentuhan pun dari kekuatan Setengah Langkah Inti Emas! Jika kau tidak lari, kita berdua akan benar-benar lenyap hari ini!"
Shen Yuan menggigit bibirnya hingga berdarah. Harga dirinya meronta, benci untuk melarikan diri, namun akal sehatnya, yang ditempa melalui penderitaan di Jurang Ratapan, tahu bahwa mati konyol bukanlah balas dendam.
"Kau menginginkan tulangku, fosil tua?" Shen Yuan tertawa buas menentang tekanan mutlak tersebut. "Aku berjanji, di masa depan, aku akan mencabut pusara tanahmu dan menjadikan tulangmu sebagai pakan anjing!"
Tanpa ragu sedetik pun, Shen Yuan kembali menggigit ujung lidahnya. Tiga tetes intisari darahnya kembali dikorbankan!
"Jurus Pelarian Darah Iblis!"
Kabut darah merah pekat langsung meledak menyelimuti tubuh Shen Yuan. Diiringi oleh suara dentuman keras yang menghancurkan batu di bawahnya, ia menggunakan Langkah Bayangan Hantu dan Jurus Pelarian Darah Iblis secara bersamaan!
Sembilan bayangan merah darah melesat ke sembilan arah yang berbeda, menembus dinding kediaman Keluarga Shen dengan kecepatan yang nyaris merobek kehampaan!
"Berani melarikan diri di hadapanku? Bodoh."
Shen Wuji mendengus pelan. Jarinya yang kurus dijentikkan ke depan. Pusaran hawa murni abu-abu itu langsung pecah menjadi sembilan bilah cahaya yang melesat mengejar kesembilan bayangan Shen Yuan dengan kecepatan yang jauh melampaui kedipan mata.
Sraat!
Delapan bayangan palsu hancur seketika saat tersentuh oleh bilah cahaya abu-abu tersebut. Bilah kesembilan mengejar bayangan asli Shen Yuan yang baru saja melompati tembok kota menuju Pegunungan Kabut Beracun.
Jleb!
"Aaarrrghhh!"
Shen Yuan mengaum kesakitan. Bilah cahaya abu-abu itu berhasil menggores punggungnya, merobek Tubuh Emas Gelap yang kebal terhadap pedang fana, dan meninggalkan luka yang sangat dalam hingga menampakkan tulang punggungnya. Darah segar menyembur ke udara. Hawa murni kematian dari bilah itu menyusup masuk, berusaha membekukan aliran nadinya.
Namun, ledakan rasa sakit itu justru mendorong kecepatan Jurus Pelarian Darah Iblis hingga ke ambang batas. Bagaikan bintang jatuh berwarna merah, tubuh Shen Yuan melesat menembus cakrawala, menghilang ke dalam lebatnya hutan purba di kejauhan, meninggalkan Kota Debu Merah yang kini diselimuti oleh kemarahan seorang Leluhur kuno.
"Dibiarkan lolos..." Shen Wuji menurunkan tangannya, sedikit terkejut melihat serangannya gagal mencabut nyawa seekor semut di Ranah Penempaan Raga. Namun, wajah tuanya kembali tenang dan dingin. "Dia terkena 'Aura Kematian Tulang Layu' milikku. Tanpa obat penawar tingkat Inti Emas, ia akan membusuk dari dalam dalam waktu tiga hari. Biarkan anjing liar itu mati di hutan sendirian."
Sang Leluhur berbalik, melayang turun ke arah puing-puing keluarganya, bersiap untuk membangun kembali Keluarga Shen dari abu kehancuran, tanpa menyadari bahwa iblis yang baru saja ia gores punggungnya kelak akan menjadi mimpi buruk tergelap bagi seluruh Sembilan Cakrawala.