Yussallia Tsaverra Callisto selalu memimpikan kehidupan pernikahan yang indah di masa depan. Yussallia masih berharap bahwa kehidupan pernikahannya bersama Rionegro akan berjalan semulus yang ia harapkan, meskipun pernikahan mereka didasari oleh sebuah kesalahan satu malam yang mereka lakukan pada di masa lalu.
Rionegro Raymond Kalendra tidak pernah menyangka bahwa menolong seorang gadis yang terjebak dalam badai hujan akan berujung pada pernikahan yang tidak pernah ia inginkan. Rionegro tahu ia tak bisa menghindar dari kewajibannya untuk menikahi Yussallia, gadis yang pernah ia bantu, meskipun mereka memiliki seorang anak bersama akibat kesalahan satu malam yang mereka buat di masa lalu.
Dan dengan segala harapan dan keraguan yang menggantung di atas pernikahan mereka, apakah Yussallia mampu mewujudkan mimpinya tentang pernikahan yang bahagia? Atau akankah pernikahan itu berakhir dengan kegagalan, seperti yang ditakuti Rionegro?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon RaeathaZ, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Chapter 20
Waktu terasa berjalan lebih cepat dari yang disadari siapa pun di dalam ruang VIP itu.
Lampu hangat yang sejak awal terasa nyaman kini justru membuat suasana semakin terasa larut. Musik dari luar masih terdengar, tapi tidak lagi sekuat beberapa jam lalu. Percakapan yang tadi ramai kini mulai melambat, sebagian sudah berubah menjadi obrolan setengah serius, setengah bercanda, dengan jeda yang lebih panjang di antara kalimat-kalimat yang diucapkan.
Yusallia duduk sedikit bersandar di sofa empuk, tangannya memegang gelas yang sudah hampir kosong.
Ia sebenarnya sudah tidak benar-benar memperhatikan percakapan di sekitarnya.
Suara teman-temannya masih terdengar, tawa masih muncul sesekali, tapi semuanya terasa seperti bergerak sedikit lebih lambat dari biasanya.
Pandangannya sempat turun ke meja, mencoba menenangkan kepalanya yang terasa sedikit berat.
Ia tidak terbiasa minum sebanyak ini.
Biasanya ia hanya menyesap sedikit demi sopan santun sosial, itu pun jarang. Malam ini berbeda.
Ia tidak tahu kenapa ia terus memilih minum setiap kali pertanyaan permainan tadi jatuh kepadanya.
Mungkin karena beberapa pertanyaan terasa terlalu dekat dengan bagian hidup yang tidak ingin ia bahas secara santai di tempat seperti ini.
Atau mungkin… ia hanya tidak ingin menjelaskan sesuatu yang bahkan untuk dirinya sendiri masih terasa rumit.
Bryan yang duduk tidak jauh darinya sempat memperhatikan perubahan kecil itu sejak beberapa waktu lalu.
Awalnya Yusallia masih merespon percakapan.
Sekarang ia lebih sering diam.
Sesekali tersenyum kecil.
Sesekali mengangguk pelan.
Gerakannya juga terlihat sedikit lebih lambat.
“Lo gapapa?” tanya Bryan pelan, sedikit mencondongkan badan agar suaranya tidak terlalu terdengar oleh yang lain.
Yusallia menoleh, butuh satu detik lebih lama untuk fokus pada wajah di depannya.
“Iya… gapapa,” jawabnya pelan.
Nada bicaranya masih lembut seperti biasa.
Hanya sedikit lebih pelan.
Bryan mengamati wajahnya beberapa detik.
“Udah mulai kerasa ya?”
Yusallia tertawa kecil, meskipun tawanya terdengar lebih ringan dari biasanya.
“Kayaknya…”
Salah satu teman mereka masih sibuk menceritakan pengalaman kerjanya di luar negeri, sementara yang lain menanggapi dengan komentar spontan yang membuat suasana tetap terasa santai.
Jam di dinding menunjukkan waktu yang sudah melewati tengah malam.
Yusallia menatap jam itu beberapa detik.
Kesadarannya mengatakan ia seharusnya sudah pulang.
Tubuhnya juga mulai memberi sinyal yang sama.
Ia menghela napas pelan, lalu menoleh ke arah Bryan.
“Gue kayaknya mau pulang dulu deh.”
Bryan langsung menoleh.
“Sekarang?”
“Iya… udah lumayan malem juga.”
Bryan melihat ekspresinya dengan lebih serius.
“Lo bisa jalan?”
Yusallia mencoba berdiri.
Butuh waktu satu detik lebih lama untuk menstabilkan keseimbangan.
Ia tertawa kecil, sedikit malu pada dirinya sendiri.
“Bisa kok…”
Langkah pertamanya sedikit goyah, meskipun tidak terlalu terlihat bagi orang yang tidak memperhatikan.
Bryan langsung berdiri juga.
“Yaudah gue anterin.”
Namun salah satu teman mereka langsung menarik lengan Bryan.
“Woi, bentar. Ini belum kelar.”
“Iya bentar aja,” kata Bryan santai.
“Sebentar doang kok.”
“Lo dari tadi kalah terus, bro. Sekarang giliran lo.”
Beberapa dari mereka tertawa.
Bryan menghela napas kecil.
“Serius bentar aja.”
“Ga bisa,” sahut yang lain sambil tertawa.
“Lo yang ngajak dia ikut minum tadi.”
Yusallia yang sudah sedikit tidak fokus malah tersenyum kecil.
“Udah… gapapa,” katanya pelan sambil menepuk pelan bahu Bryan.
“Lo stay aja… gue pulang sendiri.”
Bryan menatapnya ragu.
“Lo yakin?”
“Iya… gue bisa kok.”
“Gue panggilin staff aja.”
Yusallia menggeleng pelan.
“Ga usah… gue cuma naik taksi.”
Nada bicaranya terdengar santai, meskipun langkahnya masih sedikit tidak stabil.
Bryan masih terlihat ragu.
Namun teman-temannya kembali menarik perhatiannya ke arah permainan yang belum selesai.
“Udah aman, bro. Tenang aja.”
Yusallia melambaikan tangan kecil.
“Bye dulu ya…”
“Chat gue kalo udah sampe,” kata Bryan.
Yusallia mengangguk pelan.
“Iya…”
Ia berjalan keluar ruangan dengan langkah pelan, mencoba menjaga keseimbangan tanpa terlihat terlalu kesulitan.
Pintu tertutup pelan di belakangnya.
Lorong VIP terasa jauh lebih sepi dibanding ruangan tadi.
Lampu-lampu di sepanjang koridor memancarkan cahaya redup yang terasa tenang.
Namun bagi Yusallia, lantai terasa sedikit terlalu bergerak.
Ia berhenti sejenak, menahan pusing yang datang perlahan.
Tangannya sempat menyentuh dinding di sampingnya.
Menarik napas pelan.
Berusaha fokus.
____________________________________________
Di waktu yang hampir bersamaan, di ruangan lain di lorong yang sama, suasana sudah jauh berubah.
Beberapa gelas kosong terlihat di atas meja.
Axel sudah tertidur setengah bersandar di sofa.
Revano bahkan sudah tidak merespon candaan apa pun.
Alexander juga terlihat memejamkan mata, meskipun masih setengah sadar.
Jevano duduk di ujung sofa, masih cukup sadar meskipun terlihat sedikit lelah.
Rionegro berdiri dari duduknya dengan gerakan tenang.
Ia tidak benar-benar banyak minum.
Tiga gelas wine selama beberapa jam tidak terlalu berpengaruh pada toleransi tubuhnya.
Pikirannya masih cukup jernih.
“Gue pulang duluan,” katanya pada Jevano.
Jevano mengangguk.
“Kelas pagi?”
“Iya.”
“Drive safe.”
Rionegro mengangguk kecil.
Ia meraih jasnya.
Melihat sekilas ke arah Alexander yang sudah hampir tertidur.
Lalu berjalan keluar ruangan.
____________________________________________
Lorong VIP terasa tenang.
Langkahnya terdengar pelan di lantai karpet.
Namun tidak jauh dari pintu ruangan, ia melihat seseorang berdiri dengan satu tangan menempel di dinding.
Gerakan kecil yang tampak seperti berusaha menjaga keseimbangan.
Ia mengenali sosok itu hanya dalam satu detik.
Yusallia.
Rionegro berhenti sejenak.
Memastikan penglihatannya tidak salah.
Yusallia tampak sedikit menunduk.
Rambutnya yang panjang jatuh lembut menutupi sebagian wajahnya.
Ia terlihat mencoba berjalan, namun langkahnya tidak stabil.
Rionegro mendekat tanpa membuat suara berlebihan.
“Yusallia?”
Yusallia menoleh pelan.
Butuh satu detik lebih lama baginya untuk fokus.
Matanya terlihat sedikit sayu.
“Oh…”
Ia tampak sedikit terkejut.
“Kamu…”
Nada bicaranya lembut, sedikit melambat.
“Kamu baik-baik saja?” tanya Rionegro tenang.
Yusallia mengangguk kecil.
“Iya… aku mau pulang…”
Langkahnya sedikit goyah saat mencoba berjalan lagi.
Refleks, Rionegro menahan lengannya dengan hati-hati.
“Hati-hati.”
Yusallia menatap tangannya yang menahan lengannya beberapa detik.
Namun ia tidak menolak.
Mungkin karena terlalu lelah untuk berpikir.
Atau terlalu pusing untuk mempertanyakan.
“Aku bisa jalan…” katanya pelan.
“Saya tahu,” jawab Rionegro tenang.
“Tapi lantainya licin.”
Yusallia tidak membantah.
Ia membiarkan Rionegro membantunya berjalan perlahan menuju tangga.
Suasana di dalam lift sunyi.
Suasana di tangga terasa hening.
Sesekali Yusallia memejamkan mata sebentar, lalu membukanya lagi.
Seperti berusaha menjaga kesadaran dan langkahnya.
Ketika sudah sampai bawah tangga, suara musik dari area utama club terdengar lebih jelas.
Lampu lebih terang.
Namun langkah Yusallia tetap pelan.
Begitu mereka sampai di pintu keluar, suara hujan langsung terdengar cukup jelas.
Rintik air turun cukup deras di luar.
Pantulan lampu jalan terlihat di permukaan aspal yang sudah basah.
Yusallia menatap keluar sebentar.
“Hujan…”
Rionegro membuka tas kecil yang tadi ia bawa.
Ia memang sudah menyiapkan payung besar dan dua jas hujan sejak tadi.
Tanpa banyak bicara, ia melihat kembali kondisi Yusallia yang tampak semakin sulit fokus.
“Apartemen saya dekat dari sini,” katanya pelan.
“Kamu bisa istirahat dulu di sana sampai kondisimu lebih baik.”
Yusallia menatapnya beberapa detik.
Mungkin mencoba memahami kalimat itu.
Mungkin terlalu lelah untuk mempertimbangkan banyak hal.
“Iya…” jawabnya pelan tanpa banyak berpikir.
Rionegro mengangguk kecil.
“Tunggu di sini sebentar.”
Ia berlari cepat menuju area parkir.
Hujan yang turun cukup deras membuat beberapa bagian jasnya sedikit basah.
Ia membuka bagasi mobilnya.
Mengambil payung besar berwarna hitam dan dua jas hujan yang tadi sempat ia beli.
Ia kembali ke arah pintu masuk.
Yusallia masih berdiri di tempat yang sama, bersandar ringan di dinding dekat pintu.
Rionegro membuka salah satu jas hujan dengan gerakan hati-hati.
“Boleh saya bantu?”
Yusallia mengangguk kecil.
Ia tidak banyak bicara.
Rionegro memakaikan jas hujan itu dengan hati-hati, memastikan rambut panjang Yusallia tidak terjepit di bagian kerah.
Gerakannya tenang.
Tidak tergesa.
Tidak canggung.
Payung besar terbuka di atas mereka.
Suara hujan terdengar lebih keras ketika mereka melangkah keluar.
Udara malam terasa lebih dingin karena hujan.
Yusallia berjalan pelan di samping Rionegro.
Jarak mereka cukup dekat di bawah payung yang sama.
Beberapa tetes air sempat mengenai bagian bawah sepatu mereka.
Lampu parkiran memantulkan cahaya di permukaan jalan yang basah.
Langkah mereka terdengar pelan.
Mobil Rionegro tidak terlalu jauh dari pintu keluar.
Begitu sampai, Rionegro membukakan pintu penumpang untuk Yusallia.
“Hati-hati.”
Yusallia masuk perlahan.
Rionegro menutup pintu dengan hati-hati.
Ia berjalan memutar ke sisi pengemudi.
Suara hujan terdengar lembut di atap mobil.
Interior mobil terasa hangat.
Yusallia menyandarkan kepala pelan di kursi.
Matanya sempat terpejam beberapa detik.
Rionegro menyalakan mesin mobil.
Wiper bergerak perlahan menyapu air hujan di kaca depan.
Mobil bergerak meninggalkan area parkir.
Jalanan malam terlihat cukup lengang.
Lampu-lampu kota memantul lembut di jalan basah.
Yusallia tampak semakin diam.
Sesekali matanya terbuka setengah.
Lalu menutup lagi.
Perjalanan tidak terlalu lama.
Apartemen Rionegro memang tidak jauh dari lokasi club.
Ketika mobil berhenti di area parkir apartemen, hujan masih turun dengan ritme yang sama.
Malam terasa sunyi.
Seperti memberi ruang bagi sesuatu yang baru saja dimulai tanpa direncanakan.
Dan tanpa mereka sadari, langkah kecil malam itu akan menjadi titik yang mengubah jauh lebih banyak hal dibanding yang mereka bayangkan.