Alek seorang remaja SMA nakal beragama kristen sering bertanya soal kebenaran tentang hidup ini hingga datang seorang yang menjadi jawaban bagi Alek, Masya Khansa azza Nabila menjadi awal perubahan kehidupan Alek cahaya di kegelapan,
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon abangku_ss, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
bab 15 perang tanpa suara
TERPISAH OLEH DINDING AGAMA
BAB 15: Perang Tanpa Suara
Udara Bandung pagi itu terasa lebih dingin dari biasanya, setidaknya bagi Alek. Meski mentari mulai merayap naik, menyinari aspal jalanan yang masih basah oleh sisa hujan semalam, ada kabut yang tidak terlihat sedang menyelimuti hatinya. Konfrontasi di tangga belakang sekolah dengan Kevin dan Bagas kemarin memang memberinya rasa puas sesaat—sebuah rasa bahwa ia telah berdiri sebagai pelindung bagi Khansa. Namun, jauh di lubuk hatinya yang paling dalam, naluri lamanya sebagai pemimpin Venom Crew berbisik pelan: Ini belum selesai.
Alek berjalan menyusuri koridor sekolah dengan langkah yang sengaja ia buat setenang mungkin. Tas ranselnya tersampir di satu bahu, dan pandangannya lurus ke depan. Ia tidak lagi menoleh ke kanan atau ke kiri untuk mencari gara-gara, namun indranya tetap tajam. Ia bisa merasakan mata-mata yang mengikuti gerakannya. Di pojok mading, di dekat lab kimia, dan di balik pilar kantin—ia tahu, sisa-sisa anggota geng yang masih setia pada "kejayaan masa lalu" sedang memperhatikannya dengan tatapan yang bervariasi antara benci dan penasaran.
Di kelas, Riki sudah menunggunya dengan wajah yang tidak kalah gelisah. "Lex, lo harus liat ini," bisik Riki bahkan sebelum Alek sempat duduk.
"Apa lagi?" tanya Alek, berusaha menjaga suaranya tetap rendah.
Riki menyodorkan ponselnya. Di layar, terpampang sebuah grup WhatsApp anonim yang berisi sebagian besar siswa "nakal" di sekolah mereka. Di sana, ada sebuah foto. Foto itu diambil dari jarak jauh, kualitasnya agak buram, namun subjeknya sangat jelas: Alek yang sedang berdiri di trotoar seberang jalan, menatap lurus ke arah gerbang Pesantren Al-Hikmah. Caption di bawahnya tertulis: “Si Mantan Monster sedang memuja 'Bidadari Surga' atau sedang merencanakan penyerangan baru? Pengecut tetaplah pengecut.”
Alek mengepalkan tangannya. Darahnya mulai mendidih. "Siapa yang sebar ini?"
"Akun bodong, Lex. Tapi gue yakin ini kerjaan Bagas. Dia nggak akan main kasar setelah lo kasih peringatan kemarin. Dia main kotor. Dia mau hancurin reputasi lo, dan yang lebih parah... dia mau seret nama pesantren itu ke dalam drama kita."
Alek terdiam. Inilah yang paling ia takutkan. Dirinya sendiri bisa menahan seribu pukulan, tapi ia tidak akan bisa menahan satu pun fitnah yang diarahkan kepada Khansa. Bagi Khansa, reputasi adalah segalanya. Satu noda di kerudung putihnya bisa menghancurkan masa depannya di pesantren.
"Gue harus gimana, Rik?"
Riki menghela napas, menyandarkan punggungnya di kursi. "Gue nggak tahu, Lex. Bagas itu licik. Kalau lo samperin dia lagi dan lo pukul dia, dia bakal punya alasan buat laporin lo ke kepolisian dengan tuduhan penganiayaan saat lo sedang dalam masa percobaan sekolah. Lo bakal dikeluarin. Dan kalau lo diemin... fitnah ini bakal makin liar."
Sementara itu, di sudut lain kota, di sebuah bangunan tua yang menjadi saksi bisu rencana-rencana gelap, Bagas duduk dengan tenang. Di depannya, Kevin tampak tidak sabar, kakinya terus menghentak-hentak lantai kayu yang lapuk.
"Cuma foto gitu doang?" tanya Kevin gusar. "Gue pengen liat dia berdarah, Gas. Gue pengen liat dia sujud di kaki kita gara-gara cewek itu."
Bagas menyesap kopi hitamnya yang pekat, memberikan senyum yang dingin. "Sabar, Kev. Luka fisik itu bisa sembuh dalam seminggu. Tapi luka sosial? Nama baik yang hancur? Itu bakal nempel selamanya. Alek pikir dia bisa keluar gitu aja dan jadi pahlawan? Nggak sesimpel itu."
Bagas mengeluarkan sebuah amplop cokelat dari dalam tasnya. Di dalamnya terdapat beberapa lembar foto yang lebih tajam. Foto-foto Khansa saat sedang membagikan nasi bungkus, foto saat Khansa keluar dari toilet dengan wajah pucat, dan foto Alek yang sedang menatap Khansa dengan tulus.
"Gue udah cari tahu," kata Bagas pelan, matanya berkilat jahat. "Minggu depan, pesantren itu ada acara besar. Milad atau apa lah. Banyak tamu penting, ustadz-ustadz besar, bahkan mungkin orang tua para santriwati. Bayangin apa yang bakal terjadi kalau foto-foto ini—ditambah dengan sedikit bumbu narasi tentang 'Preman Gereja yang Mencoba Merayu Santriwati Suci'—tersebar di tengah acara itu?"
Kevin terbelalak, lalu menyeringai lebar. "Anjir, lo gila, Gas. Lo mau hancurin cewek itu juga?"
"Cewek itu cuma korban sampingan," jawab Bagas tanpa empati. "Target utama kita adalah Alek. Kalau Alek liat cewek yang dia 'sembah' itu menderita gara-gara dia, dia bakal hancur secara mental. Dia bakal ngerasa bersalah seumur hidup. Dan saat itulah, dia bakal lemah. Lebih lemah dari saat dia pingsan di tangan Dimas."
"Lo bener-bener iblis, Gas," puji Kevin, kali ini dengan nada kagum yang murni.
"Bukan iblis, Kev. Gue cuma orang yang menjunjung tinggi konsekuensi. Alek harus bayar harganya."
Di Pesantren Al-Hikmah, Khansa merasakan perubahan atmosfer. Meski ustadzah dan teman-temannya tetap bersikap biasa, Khansa merasa ada mata-mata tersembunyi yang mengawasinya setiap kali ia mendekati gerbang. Ancaman Kevin tempo hari telah menanamkan benih paranoia di kepalanya.
Setelah shalat Istikharah semalam, Khansa merasa sedikit lebih tenang, namun ia tetap waspada. Pesan dari Alek yang disampaikan Maryam memang memberinya sedikit kelegaan, namun ia tahu bahwa selama ia masih berada di orbit kehidupan Alek, bahaya itu akan selalu mengintai.
"Khansa, kamu bengong lagi?" tegur Maryam lembut saat mereka sedang melipat mukena di mushalla.
"Eh, maaf, Mar. Aku cuma kepikiran acara minggu depan."
"Acara Milad? Tenang aja, semua sudah disiapkan. Kamu kan bagian penerima tamu. Pakai seragam baru kita, yang warnanya biru muda itu. Kamu pasti cantik."
Khansa tersenyum hambar. Penerima tamu. Itu artinya ia akan berdiri di barisan depan, terekspos oleh siapa pun yang datang masuk ke pesantren. Ia teringat ancaman Kevin: "Lo bakal tau akibatnya. Dan gue jamin... lo nggak akan suka."
"Mar... boleh aku tanya sesuatu?"
"Apa?"
"Apa menurutmu... aku harus berhenti ikut kegiatan sosial bareng SMA Immanuel?"
Maryam menghentikan aktivitasnya, menatap Khansa dalam-dalam. "Kenapa? Karena ancaman orang-orang itu? Atau karena kamu takut sama perasaanmu sendiri?"
Khansa menunduk, jemarinya memainkan ujung mukenanya. "Dua-duanya. Aku takut membawa masalah ke pesantren. Dan aku takut... aku mulai terlalu sering memikirkan Mas Alexander."
Maryam duduk mendekat, merangkul bahu sahabatnya. "Khansa, Mas Riki bilang ke aku kalau Mas Alexander itu sekarang lagi belajar banyak hal. Dia berubah demi kebaikan. Kalau kamu menjauh hanya karena takut diancam preman, bukannya itu berarti kamu membiarkan kejahatan menang?"
"Tapi fitnah, Mar..."
"Fitnah itu akan selalu ada, Khansa. Bahkan Nabi kita pun difitnah. Yang penting adalah kebenaran di hadapan Allah. Mas Alexander itu sedang mencari jalan. Mungkin, kamu adalah petunjuk yang Allah kirimkan buat dia. Jangan putus asa."
Khansa menarik napas panjang. Doa Istikharah-nya semalam memang belum memberikan jawaban berupa mimpi atau tanda besar, namun kehadiran Maryam yang selalu menguatkan adalah jawaban tersendiri baginya.
Malam harinya di rumah Alek, suasana berubah mencekam saat ia baru saja hendak membuka buku hadits saku yang ia beli diam-diam. Pintu kamarnya digebrak dengan keras.
Pendeta Daniel berdiri di ambang pintu dengan wajah memerah, tangannya memegang sebuah amplop yang entah didapat dari mana.
"Apa ini, Alexander?!" teriak ayahnya, melemparkan amplop itu ke atas tempat tidur.
Alek membukanya dengan tangan bergetar. Isinya adalah foto-foto dirinya di depan pesantren, foto dirinya yang sedang menatap Khansa, dan sebuah surat anonim yang ditulis dengan kata-kata kasar: “Anakmu sedang berkhianat pada agamanya sendiri demi seorang gadis bercadar. Apa ini hasil didikan seorang pendeta?”
"Siapa gadis ini?!" bentak Daniel. "Kenapa kamu terus-terusan di depan pesantren itu? Kamu mau pindah agama hanya karena perempuan?!"
Alek berdiri, mencoba tetap tenang meski jantungnya berdegup seolah ingin melompat keluar. "Pak, ini nggak seperti yang Bapak pikirkan. Gadis itu... dia orang baik. Dia yang bikin Alek sadar kalau hidup Alek selama ini salah."
"Banyak cara untuk sadar! Kamu bisa ke gereja! Kamu bisa ikut pelayanan pemuda! Kenapa harus lewat pesantren?!" Daniel mendekat, matanya berkaca-kaca karena marah dan kecewa. "Kamu sudah mempermalukan nama Bapak, Alek. Jemaat sudah mulai berbisik. Kalau Bapak sampai kehilangan kredibilitas di gereja karena tingkah lakumu, Bapak tidak akan memaafkanmu!"
"Jadi Bapak cuma peduli sama kredibilitas Bapak?!" Alek balas berteriak, amarah yang ia tahan sejak pagi akhirnya meledak. "Bapak nggak peduli kalau Alek sekarang sudah nggak berantem lagi? Bapak nggak peduli kalau nilai Alek sekarang bagus? Bapak cuma peduli apa kata jemaat?!"
PLAK!
Satu tamparan mendarat di pipi Alek. Kali ini terasa lebih sakit dari biasanya, bukan karena fisiknya, tapi karena Alek merasa ayahnya benar-benar tidak mengenalinya sama sekali.
"Masuk ke kamarmu. Jangan keluar sampai Bapak bilang boleh. Besok pagi, Bapak sendiri yang akan antar kamu ke sekolah, dan jangan pernah lagi ikut kegiatan sosial sampah itu!" Daniel keluar dan membanting pintu, menguncinya dari luar.
Alek terduduk di lantai kamarnya yang dingin. Ia memegang pipinya yang panas. Air mata amarah dan frustrasi jatuh menetes ke lantai. Ia merasa terkepung. Kevin dan Bagas menyerangnya dari luar, dan sekarang keluarganya sendiri menyerangnya dari dalam.
Ia mengambil hapenya yang tergeletak di kasur. Ia harus memberi tahu Riki. Ia harus melakukan sesuatu.
Namun, saat ia membuka WhatsApp, sebuah pesan dari nomor tidak dikenal masuk.
"Gimana rasanya dikurung di rumah sendiri, Lex? Itu baru permulaan. Tunggu sampai acara Milad pesantren minggu depan. Khansa bakal dapet kejutan yang nggak bakal dia lupain seumur hidup. Selamat menonton kehancuran 'cahaya' lo."
Alek melempar hapenya ke tembok. Ia berteriak frustrasi ke dalam bantalnya. Ia merasa tak berdaya. Ia bebas dari penjara geng, tapi sekarang ia masuk ke dalam penjara yang lebih mengerikan: penjara fitnah dan kebencian.
Di kegelapan kamarnya, Alek bersimpuh. Ia teringat doa yang ia baca kemarin.
"Bismillahillazi la yadurru ma'asmihi syai'un fil ardhi wa la fis sama'i wa huwas sami'ul 'alim..."
Ia membacanya berulang-ulang dengan isak tangis yang tertahan. Ia tidak tahu apakah ia punya hak untuk berdoa kepada Tuhan yang sedang ia pelajari melalui Khansa, tapi ia tidak punya siapa-siapa lagi sekarang.
"Tolong," bisiknya. "Tolong lindungi dia. Jangan biarkan mereka sakitin Khansa gara-gara gue. Tolong..."
Perang tanpa suara ini baru saja dimulai, dan Alek sadar, ia tidak bisa memenangkan perang ini dengan otot. Ia harus menemukan cara lain sebelum semuanya terlambat.
Bersambung ke Bab 16...
Jangan lupa like komen dan subscribe
Karena itu sangat berarti bagi author 👍 👍 👍 👍 👍 👍 👍 👍 👍 👍 👍 👍 👍
hehe semangat bangg
baguss bangett pliasss cerita nyaaa lanjutt dongg