NovelToon NovelToon
A Feeling Rising In Chaos

A Feeling Rising In Chaos

Status: sedang berlangsung
Genre:Sci-Fi / Misteri / Hari Kiamat / Fantasi / Romansa / Action
Popularitas:51
Nilai: 5
Nama Author: Aurora Veganadia

Dunia runtuh bukan karena virus itu sendiri—melainkan karena vaksin yang dijanjikan sebagai penyelamat. Saat wabah menyebar dan ketakutan menguasai setiap sudut kota, pemerintah memerintahkan seluruh rakyat untuk menerima vaksin demi mencegah penularan. Mereka percaya itu adalah harapan terakhir umat manusia. Namun harapan itu berubah menjadi bencana.

Vaksin yang seharusnya melindungi justru memicu mutasi tak terduga. Tubuh manusia berubah, naluri mereka terdistorsi, dan kemanusiaan perlahan terkikis. Dalam hitungan waktu, peradaban yang dibangun selama ratusan tahun runtuh—bukan oleh penyakit, tetapi oleh “obat” yang diciptakan untuk menghentikannya.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Aurora Veganadia, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Bab Dua Puluh Lima — Tempat Persinggahan Aman

Selamat membaca semoga suka sama jalan ceritanya yaa

Pagi datang perlahan. Cahaya matahari menyelinap di antara celah dedaunan, jatuh hangat di atas batu dan tanah kering tempat mereka bermalam. Udara terasa segar berbeda jauh dari hawa berat di bawah sana.

Kicau burung terdengar jelas, nyata. Bukan gema kosong seperti di hutan tercemar di bawah sana. Seekor tupai melintas cepat di batang pohon. Rusa kecil terlihat dari kejauhan, berhenti sebentar sebelum kembali masuk ke semak.

Lyno yang baru bangun tersenyum tipis. “Rasanya… normal.” Arsya mengusap rambut adiknya pelan. “Karena memang seharusnya begini.”

Namun tidak satu pun dari mereka benar-benar lengah. Suara alam tidak lagi menakutkan. Yang mereka takutkan adalah sesuatu yang tidak bersuara alami. Langkah berat yang tidak selaras dengan tanah. Nafas patah yang bukan milik makhluk hidup sepenuhnya.

Atau keheningan mendadak, yang menandakan sesuatu yang salah. Jay berdiri di titik tertinggi kecil di antara batu, mengamati lereng bawah dengan mata tajam. Sinar pagi membuat pandangannya lebih jelas.

Tidak ada pergerakan besar. Tidak ada asap, belum ada patroli. Niki mendekat sambil membawa botol air yang sudah diisi ulang dari embun dan sumber kecil yang mereka temukan semalam. “Kalau semua pagi seperti ini, mungkin kita bisa lupa dunia sedang runtuh,” gumamnya.

Jay tidak tersenyum, “justru pagi seperti ini yang berbahaya.” Niki meliriknya, “kenapa?”

“Karena kita bisa merasa aman.”

Di bawah sana, dunia sedang berubah menjadi eksperimen terbuka. Di atas sini, alam masih bertahan. Kontras itu terlihat sangat jelas.

Mereka tidak membuang waktu. Setelah pembagian tugas disepakati, rombongan bergerak menyusuri jalur tinggi perbukitan. Mereka memilih sisi yang dipenuhi batu besar dan pohon tua, cukup rapat untuk berlindung, namun masih memberi pandangan luas ke lereng bawah.

Jay berjalan paling depan, Arsya di belakangnya, lalu Lyno dan Asa menutup barisan kecil itu.

Di sisi lain, Niki membawa kelompoknya menyusuri jalur memutar, lebih rendah sedikit, untuk mencari sudut pandang berbeda.

Dua kelompok.

Dua peran.

Satu tujuan.

Menemukan tempat yang bisa disebut ‘pulang’.

🍂

Sekitar satu jam berjalan, Jay berhenti.

Di hadapan mereka ada cekungan alami di antara tebing batu yang melengkung setengah lingkaran. Tidak terlalu dalam seperti gua, tapi cukup terlindung dari angin dan pandangan langsung dari bawah.

Di sampingnya mengalir aliran air kecil, tidak besar tapi cukup jernih. Jay berlutut, menyentuh air itu.

Dingin.

Mengalir alami, “ini bagus,” gumamnya. Arsya memeriksa sekeliling. “Batu di atasnya bisa jadi penahan kalau hujan. Dan jalurnya cuma satu arah utama.” Asa mengangguk, “kalau ada yang naik, kita bisa lihat duluan.”

Lyno terlihat sedikit lebih lega. Tempat itu terasa… aman.

Sementara itu, di sisi lain, Niki dan kelompoknya menemukan jalur observasi lebih tinggi lagi. Dari sana, Kota Abadi terlihat samar di kejauhan. Bangunan besar menjulang dengan kilatan cahaya logam sesekali memantul sinar matahari.

Regan menyipitkan mata, “itu pasti pusat distribusi.” Domi menelan ludah, “terlihat terlalu bersih.”

Niki tersenyum tipis, “yang paling bersih biasanya menyimpan yang paling kotor.” Vano yang sejak tadi diam, akhirnya berbicara. “Kalau kita tinggal di cekungan batu tadi, jalur ini bisa jadi titik pengintaian tetap.”

Niki mengangguk, “berarti kita punya dua lapisan. Tempat tinggal dan mata.”

🍂

Menjelang siang, kedua kelompok itu kembali bertemu di cekungan batu. Jay dan Niki saling bertukar informasi. “Kita punya sumber air.” lapor Jay. Niki mengangguk, “kita punya pandangan langsung ke Kota Abadi,” balas Niki.

Keputusan dibuat tanpa banyak perdebatan. Cekungan batu itu menjadi titik pulang sementara, dna jalur tinggi di atasnya menjadi pso pengintai. Pembagian jadwal pun ditetapkan:

Saat tim Jay berjaga di sekitar tempat tinggal, tim Niki bergerak mengintai jalur menuju perbatasan Kota Abadi. Dan sebaliknya.

Mereka kini tidak lagi berjalan tanpa arah melainkan mereka sekarang mulai membangun sistem.

Sore, ketika giliran tim Niki mengintai, Jay duduk di atas batu datar sambil menajamkan pisau kecilnya. Arsya duduk di sampingnya. “Kita benar-benar jadi seperti pahlawan yang siap memberantas.” Jay tersenyum tipis. “Kita cuma tidak mau dijadikan eksperimen.”

Lyno mengamati dari samping, wajahnya lebih serius dari biasanya.. “Kalau suatu saat mereka naik ke sini??”

Jay menatap lereng bawah yang kini tampak jauh. “Kalau mereka naik.. Berarti mereka sudah tahu kita ada.” Arsya menggenggam tongkat baseballnya lebih erat.

Angin berhembus lembut, namun di bawah sana, tepatnya di lereng bawah. Terdengar samar suara logam beradu. Seperti sesuatu yang buatan atau sedang bertempur. Jay langsung menajamkan pendengarannya, suara itu jauh tapi ada.

Bukan suara hewan, bukan juga suara angin.

Arsya menatap Jay, “kedengaran?” Jay mengangguk pelan, “dunia di bawah belum selesai mencari.”

Jauh disana asap tipis terlihat dari arah Kota Abadi, bukan kebakaran liar. Terlalu teratur, terlalu terkendali, namun sangat bahaya.

Jay kembali berpikir tentang orang tuanya yang mungkin sudah terjebak di Kota Abadi. Pria itu menghembuskan nafasnya mencoba menghilangkan rasa tidak nyaman dalam dadanya.

Di sisi lain.

Jauh dari perbukitan yang masih dipenuhi suara burung dan angin alami, sebuah gedung beton berdiri dingin dan lembab.

Lampu-lampu putih menggantung rendah, sebagian berkedip pelan. Bau besi dan cairan antiseptik bercampur dengan aroma keringat manusia yang terkurung terlalu lama.

Di dalam aula besar itu, berjejer kerangka-kerangka besi. Seperti kandang, namun terisi manusia. Mereka yang dijanjikan “Zona Aman.”

Salah satu kandang dipenuhi pria dan wanita berusia di atas empat puluh tahun. Wajah-wajah letih, pakaian masih berdebu perjalanan. Ada yang berdiri memegangi jeruji, menatap kosong ke luar. Ada yang duduk di lantai semen dingin, bersandar satu sama lain.

Beberapa berjongkok, mengistirahatkan kaki yang pegal, tak ada teriakan lagi. Hanya suara nafas berat. Seorang wanita berambut memutih lebih cepat dari usianya berbisik lirih, “kapan vaksin itu diberikan?”

Seorang pria di sampingnya menjawab pelan, “mereka bilang setelah pemeriksaan tahap dua.”

“Lalu, kenapa kita harus dikurung dulu kalau ini tempat aman?”

Tak ada yang menjawab.

Di sudut ruangan, dua petugas berseragam putih berdiri di depan layar transparan yang menampilkan data detak jantung, tekanan darah, grafik aktivitas saraf.

Salah satu petugas berkata datar, “subjek kelompok usia menengah menunjukan respon stabil terhadap fase awal.”

“Stabil bukan berarti terkendali,” balas yang lain.

Pintu besi terbuka. Dua tentara menyeret seorang pria keluar dari kandang berbeda. Pria itu tidak melawan, tatapannya kosong. Namun langkahnya terlalu teratur dan terlalu sinkron. Salah satu wanita di kandang berbisik gemetar, “itu suami saya…”

Tak ada respon dari pria itu. Matanya tidak lagi fokus pada manusia. Seperti melihat sesuatu yang tidak terlihat oleh orang lain.

Diantara kerangka-kerangka besi itu, sepasang suami istri berdiri berdampingan. Jari mereka saling menggenggam erat, seolah jika satu melepas, yang lain akan hilang. Wajah keduanya terlihat tenang. Terlalu tenang. Namun di balik ketenangan itu, dada mereka penuh gelisah.

Sang wanita menunduk sedikit, berbisik hampir tak terdengar, “semoga dia tidak kembali ke rumah…” pria di sampingnya mengerti tanpa perlu menyebut nama.

Jay.

Putra mereka.

“Kalau dia pintar,” gumam sang ayah pelan, “dia tidak akan percaya pada tentara.”

Mereka beruntung atau mungkin dianggap tidak berguna. Usia di atas empat puluh, riwayat penyakit keturunan, tekanan darah tidak stabil. Langsung dicoret dari daftar uji coba utama. “Tidak kompatibel.”

Itu istilah yang mereka dengar dari balik pintu ruang pemeriksaan. Bukan karena mereka diselamatkan melainkan karena mereka tidak memenuhi standar untuk dijadikan sesuatu yang baru. Wanita itu memejamkan mata sejenak.

“Aku melihat bagaimana mereka menyuntik pria tadi,” bisik nya gemetar. “Matanya berubah…tapi bukan seperti kanihu liar.” suaminya mengangguk tipis. “Yang liar itu gagal. Yang ini…” ia terdiam, menelan ludah. “Yang ini dikendalikan.”

Di luar kandang, dua petugas berjalan lewat sambil membawa tablet data. “Kelompok eliminasi dipindahkan ke sektor C malam ini.”

“Eliminasi?”

“Relokasi,” koreksi yang lain dingin.

Suami istri itu saling berpandangan, mereka tahu arti kata yang dipoles menjadi lebih halus. Relokasi berarti dipisahkan. Berarti dipindahkan dari pandangan, yang berarti juga tidak kembali.

Sang wanita mengeratkan genggaman tangannya. “Kalau dia datang mencariku..”

“Kita harus berharap dia tidak tahu kita di sini, dalam sini.” potong suaminya lembut tapi tegas. Air mata menggenang di mata wanita itu, namun ia tidak membiarkannya jatuh. Mereka tidak takut pada suntikan.

Mereka hanya takut pada kemungkinan putra mereka cukup nekat untuk mencoba menyelamatkan mereka. Karena mereka sudah melihat cukup. Gedung lembab itu bukan tempat aman.

Itu adalah saringan manusia. Yang kuat dijadikan senjata, dan yang tidak sesuai disingkirkan. Dan jauh di atas perbukitan. Tanpa tahu bahwa kedua orang tuanya masih hidup, Jay sedang menyusun langkah menuju Kota Abadi. Menuju pusat dari segala ambisi.

Menuju tempat di mana nama keluarganya mungkin sudah tercatat… di dalam daftar yang berbeda.

Terima kasih sudah membaca jangan lupa beri like dan vote yaa.. kita lanjut nantii

1
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!