NovelToon NovelToon
PEMBALASAN ISTRI Yang DITINGGALKAN

PEMBALASAN ISTRI Yang DITINGGALKAN

Status: sedang berlangsung
Genre:Balas Dendam / Single Mom / Penyesalan Suami
Popularitas:8k
Nilai: 5
Nama Author: Arjunasatria

Elena bukan perempuan biasa meskipun hidupnya tampak biasa. Lahir dari keluarga berada, ia rela meninggalkan segalanya demi menikahi Adrian, lelaki sederhana yang ia cintai sepenuh hati.

Mereka hidup miskin tapi bahagia. Hingga suatu hari Adrian merantau ke kota mencari kerja dan perlahan menghilang. Tidak ada kabar, tidak ada lagi kiriman uang. Tapi Elena tetap setia menunggu, banting tulang sendirian, membesarkan kedua buah hatinya dengan keyakinan bahwa suaminya pasti punya alasan dan suatu saat pasti kembali.

Hingga pada akhirnya kabar itu datang padanya. Bahwa Adrian ternyata hidup mewah di kota bersama wanita lain.

Elena memutuskan datang ke kota menyusul suaminya dan ia mendapati pengkhianatan yang telah dirancang sejak lama. Elena diam-diam mulai menyusun rencana untuk membalaskan rasa sakit hatinya.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Arjunasatria, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Bab 19

Elena berdiri di balkon ballroom sendirian menatap kota yang masih bercahaya. Lalu, ia mendengar langkah kaki yang berhenti di sampingnya.

"Tidak minum wine?"

Elena melirik ke samping.

Leon berdiri di sampingnya, wajah nya terlihat sangat tampan malam itu. Ia mendekat ke arah Elena segelas wine di tangannya. Ia menatap kota di bawah dengan cara orang yang memang sedang melihatnya.

"Tidak suka." Elena menjawab singkat. "Kamu mungkin sudah terbiasa."

"Tidak juga."

Mereka berdiri diam sebentar. Tidak canggung, hanya diam dua orang yang tidak merasa perlu mengisi keheningan dengan kata-kata yang tidak perlu.

Di bawah sana lampu kota berpendar sampai ke ujung cakrawala.

"Ramai sekali malam ini." Leon berkata akhirnya.ñ

"Iya." Elena menatap kota di bawah. "Kamu tidak suka keramaian?"

"Tidak masalah." Leon mengambil seteguk air mineralnya. "Tapi lebih suka kalau ada tujuannya."

Elena meliriknya sebentar. "Bukannya tujuan malam ini sudah jelas?"

"Tujuan acaranya jelas." Leon menatap ruangan di belakang mereka melalui pantulan kaca jendela. "Tapi kebanyakan orang di sini tidak datang untuk tujuan itu."

Elena hampir tersenyum. "Lalu mereka datang untuk apa?"

"Untuk dilihat." Leon menjawab singkat. "Untuk memastikan orang lain tahu mereka ada."

Elena tidak menjawab sebentar. Ia menatap pantulan ruangan di belakangnya. Orang-orang dengan gelas di tangan, tawa yang terdengar sedikit lebih keras dari yang seharusnya, senyum yang dipasang dengan sangat hati-hati.

"Kamu tidak salah." Elena berkata akhirnya.

"Kamu sendiri kenapa berdiri di sini?" Leon bertanya.

"Sama seperti kamu." Elena menjawab. "Butuh tempat yang lebih tenang."

Leon menatapnya sebentar dari sudut matanya. Lalu kembali menatap kota di bawah.

Elena balik menatapnya sebentar. Ada sesuatu yang aneh dari pria di sampingnya. Tapi sebelum Elena sempat memikirkannya lebih jauh.

Clara berjalan ke arah mereka dari kejauhan. Elena melihatnya datang saat ia menoleh sebentar ke arah dalam ruangan.

Clara tiba dengan senyum yang sudah siap, senyum yang lebih besar dari biasanya.

"Elena." Clara datang dengan senyumnya yang sempurna dan suaranya yang lembut. "Kamu cantik sekali malam ini."

"Clara." Elena membalas dengan senyum yang sama tipisnya. "Terima kasih atas pujiannya, gaun yang kamu palai juga sangat bagus."

"Makasih." Clara berdiri di depan Elena, lalu menoleh ke samping Leon. "Pak Leon. Senang busa bertemu secara langsung dengan anda." sapa nya pada Leon.

Leon hanya mengangguk kecil, sebagai respon atas sapaan Clara.

"Acaranya meriah ya. Om Hendra memang selalu tahu cara membuat sesuatu yang berkesan." ucap Clara lagi.

"Iya." Elena merespon ucapan Clara. "Ayah memang begitu."

Clara menatapnya sebentar. Ada sesuatu di balik matanya yang sedang menghitung, Elena bisa melihat itu, tapi memilih untuk tidak menunjukkannya.

Clara mengangguk dengan nada yang terdengar hangat. "Elena ini luar biasa, Pak Leon. Baru mulai di dunia bisnis sudah langsung pegang proyek besar Wirawan." Ia memiringkan kepalanya sedikit ke arah Elena. "Berani sekali. Salut."

"Terima kasih." Elena mengambil seteguk air mineralnya.

"Tapi memang ya..." Clara melanjutkan dengan nada yang terdengar seperti kagum tapi tidak sampai ke matanya, "kalau nama keluarganya sudah sebesar Wirawan masuk ke dunia bisnis pasti lebih mudah. Tidak perlu mulai dari nol seperti kebanyakan orang." Ia tersenyum ke arah Leon. "Betul tidak Pak Leon? Privilege itu memang nyata."

Leon menatap Clara sebentar. Tidak menjawab.

Clara mengisi keheningan itu dengan tawa kecilnya. "Maksud saya tentu dengan cara yang baik. Saya sendiri mulai PT. Claresta dari nol, tidak ada yang bantu, tidak ada nama besar di belakang saya." Ia mengangkat bahunya sedikit. "Jadi saya sangat menghargai kerja keras."

"Wah." Elena mengangguk pelan. "Mulai dari nol." Ia menatap Clara dengan senyum yang tipis. "Luar biasa memang. Apalagi kalau nolnya itu termasuk menggunakan sumber daya yang bukan sepenuhnya milik sendiri."

Clara berkedip. "Maksudnya?"

"Tidak ada." Elena menjawab ringan. "Hanya salut. Membangun bisnis itu tidak mudah. Apalagi kalau caranya kreatif."

"Kreatif." Clara mengulang kata itu. Senyumnya tidak berubah tapi ada sesuatu di bawahnya yang mulai bergerak. "Iya dunia bisnis memang butuh kreativitas." Ia menatap Elena langsung. "Tapi juga butuh pengalaman. Dan pengalaman itu tidak datang dari nama keluarga, Elena. Itu datang dari jam terbang." Ia memiringkan kepalanya dengan cara yang terlihat seperti perhatian tapi terasa seperti serangan. "Kamu sendiri, selama beberapa tahun terakhir apa yang kamu kerjakan? Sebelum kembali ke sini maksudnya."

Beberapa tamu di sekitar mereka yang lewat mulai memeperhatikan.

Leon tidak bergerak di sampingnya. Elena menatap Clara dengan tenang.

"Selama beberapa tahun terakhir?" Elena mengulangi pertanyaan itu pelan. "Aku membesarkan dua anak sendirian. Tanpa bantuan siapapun." Ia berhenti sebentar. "Sementara suamiku tinggal di rumah orang lain." Matanya tidak bergerak dari wajah Clara. "Di rumah orang yang malam ini berdiri di depanku dan bicara soal membangun sesuatu dari nol."

Ruangan itu tidak hening, musik masih mengalun, tamu lain masih bercakap-cakap. Tapi di titik kecil ini di dekat jendela besar itu ada sesuatu yang berhenti.

Clara tidak langsung menjawab. Senyumnya masih ada tapi sudah tidak sampai ke matanya.

"Elena..." suaranya masih lembut tapi ada sesuatu yang retak di tepinya, "ini bukan tempat yang tepat untuk bicara soal hal-hal pribadi."

"Kamu yang mulai, Clara." Elena memotong dengan nada yang sama ringannya. "Kamu yang tanya apa yang aku kerjakan selama beberapa tahun terakhir." Ia mengangkat bahunya sedikit. "Aku hanya menjawab pertanyaanmu."

Clara menarik napas kecil yang hampir tidak terdengar. Lalu senyumnya kembali dipasang dengan cara yang terlatih, dengan cara orang yang sudah melakukan ini terlalu sering agar tidak terlihat gugup.

"Tentu." Suaranya kembali lembut. "Maaf kalau pertanyaanku tidak pada tempatnya." Ia mengangguk sopan ke arah Leon, mengangguk dengan senyum yang tetap sempurna meski matanya menyimpan sesuatu yang sangat berbeda. "Pak Leon senang bertemu dengan anda. Semoga bisa berkolaborasi suatu saat."

Lalu ke arah Elena. "Nikmati malamnya ya, Elena."

Clara berjalan pergi. Punggungnya tetap tegak. Langkah masih terukur. Senyum yang kembali sempurna sebelum ia sampai di kelompok tamu berikutnya.

Tapi tangannya menggenggam gelasnya terlalu erat. Elena menatap punggungnya sampai Clara menghilang ke kerumunan. Lalu ia mengambil seteguk air mineralnya dan menatap kota lagi. Seperti tidak terjadi apa-apa.

Leon berdiri diam di sampingnya. Beberapa detik berlalu.

"Kamu tahu dari awal kalau dia akan mencoba sesuatu malam ini." Suara Leon. Bukan pertanyaan.

Elena tidak menjawab, hanya melempar senyuman pada Leon. Dan Leon mengangguk singkat mengerti kalau Elena tidak mau membahasnya.

Mereka kembali berdiri dalam diam lagi. Menatap kota yang sama di balkon yang sama.

1
Lili Inggrid
lanjut
Ovha Selvia
Pasti si clara lah pelakunya, klo si adrian mah ngikut2 aja..
Ovha Selvia
Waaah gak nyangka ternyata clara juga pintar, dia bahkan tau niatnya elena.. Elena, kamu harus selangkah lebih maju daripada pelakor.. Buktikan klo kamu seorang Elena Wirawan 💪
As Tini
yg kyk gini br AQ suka, hrs tegas berwibawa dan TDK menye"😄
As Tini
knp GK minta bantuan ke kluarga sndiri, pdhl kaya raya, demi anak hilangkan ego dan malu. pasti bklan di bantu kok, kasian ara
Sasikarin Sasikarin
lanjuuuuut 💪
Dessy C: siap kak 🫰
total 1 replies
arniya
mampir kak
Dessy C: makasih kak🫰
total 1 replies
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!