Bagaimana jika orang yang kamu cintai malah dijodohkan dengan kakakmu sendiri?
Lalu cinta itu tumbuh di tempat yang salah dan harus disembunyikan dari semua orang.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Lunes_, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
15 - Can't Stop
Setelah acara peluncuran produk baru kemarin berjalan sukses, hari ini aku kembali bekerja seperti biasa.
Begitu memasuki area parkir, aku tidak melihat Caca, tapi motornya sudah terparkir di tempat biasa.
Mungkin dia sudah di atas.
Setelah memarkirkan motor, aku berjalan menuju lift.
Baru beberapa langkah, seseorang memanggilku.
“Mbak! Mbak!”
Langkahku terhenti. Aku menoleh dan melihat seorang pria muda sedang berlari kecil ke arahku.
Dia tampak rapi dengan kemeja biru muda, rambut disisir ke samping, dan wajah yang… hmm, cukup tampan. Tapi aku tidak mengenalinya.
“Halo, Mbak.” ucapnya sambil tersenyum ramah.
“Hai. Kamu siapa? Aku belum pernah lihat kamu.” balasku.
“Kenalin, aku Arvin. Anak baru, bagian R&D. Hari ini hari pertamaku kerja.” katanya sambil mengulurkan tangan.
Aku menyambut tangannya sekilas.
“Ah, aku Lilia. Panggil aja Lia. Aku dari bagian marketing.”
“Oh, senang kenalan sama Mbak Lia.” ucapnya sopan.
“Kamu umur berapa? Kayaknya masih muda deh.” tanyaku sambil tersenyum kecil.
“Dua puluh empat. Kalau Mbak?”
“Dua puluh delapan,” jawabku. “Aduh, kayaknya kita harus segera naik lift nih.”
“Oh iya, iya.” sahutnya buru-buru.
Kami berjalan berdampingan menuju lift. Begitu pintu terbuka, aku sedikit terkejut.
Di dalam sudah berdiri Om Haris, sang komisaris perusahaan.
“Oh? Pak Haris? Kenapa Bapak ke sini?” tanyaku kaget.
“Henry lagi sakit, jadi saya menggantikannya hari ini.” jawab beliau tenang.
“Apa? Pak Henry sakit? Sakit apa, Pak?” tanyaku refleks.
“Katanya cuma tidak enak badan. Saya juga belum sempat melihatnya. Dari rumah langsung ke sini.”
“Ah, begitu…” ucapku sambil mengangguk pelan.
Om Haris menatap kami bergantian.
“Kalian tidak masuk?”
“Ah iya, iya, maaf, Pak.” jawabku cepat lalu masuk ke lift bersama Arvin.
“Oh iya, Arvin,” kataku sambil menoleh padanya. “Ini Pak Haris, komisaris perusahaan ini. Dan Pak Henry itu CEO perusahaan kami.”
“Selamat pagi, Pak. Saya Arvin, anak baru di R&D.” ucap Arvin sopan.
“Selamat pagi.” balas Om Haris dengan anggukan ringan.
Lift terus bergerak naik ke lantai satu. Begitu pintu terbuka, beberapa karyawan di depan lift tampak terkejut melihat Om Haris di dalam.
“Selamat pagi, Pak!”
“Pagi, Pak Haris!”
Satu per satu mereka masuk ke lift, dan di antara mereka ada Fera.
Setelah lift berhenti di lantai dua, aku, Fera, dan beberapa orang keluar. Begitu pintu tertutup, Fera langsung berbisik.
“Kenapa Pak Haris datang ke sini?”
“Katanya Pak Henry sakit.” jawabku singkat.
“Apa? Sakit apa?” tanyanya terkejut.
“Nggak tahu, katanya cuma bilang nggak enak badan.”
“Oh gitu…” Fera mengangguk pelan, lalu pandangannya beralih ke arah belakangku.
“Eh, cowok yang tadi di samping kamu siapa? Kok aku belum pernah lihat?”
“Oh, itu Arvin. Anak baru, bagian R&D.” jawabku.
“Wah, ganteng juga. Tapi keliatannya masih muda.”
“Iya, dua puluh empat katanya.”
“Wah… brondong, dong.” celetuk Fera sambil tertawa kecil.
Aku hanya tersenyum samar. Pikiranku tidak sepenuhnya di situ.
Sejak mendengar kabar Henry sakit, dadaku terasa sesak.
Dia sakit apa, ya?
Padahal kemarin saat di acara peluncuran produk, dia tampak sehat-sehat saja.
Begitu sampai di ruanganku, aku langsung duduk dan menyalakan komputer.
Suara Fera yang tengah menceritakan kedatangan Pak Haris, kabar Henry, dan anak baru bernama Arvin kepada rekan-rekan lainnya terdengar samar di belakangku.
Aku membuka ponsel, membuka aplikasi pesan, dan menatap lama layar kosong di kolom chat Henry.
Aku ingin bertanya, “Kakak baik-baik aja?” tapi jariku berhenti di tengah jalan.
Aku sadar posisiku sekarang. Henry bukan siapa-siapaku. Dalam waktu dekat dia akan menjadi kakak iparku.
Aku tidak seharusnya mengkhawatirkannya seperti ini.
Bukan hakku— meskipun perasaanku menolak untuk percaya.
Aku menarik napas panjang dan meletakkan ponsel itu di meja.
Fokus, Lia. Fokus kerja.
Kucoba menenangkan diri, tapi jantungku tetap berdetak lebih cepat dari biasanya.
Entah kenapa, firasatku tidak enak.
Setengah hari ini aku mencoba fokus bekerja, berusaha melupakan Henry, tapi percuma. Wajah dan suaranya terus terbayang di kepalaku.
Apakah dia sudah makan?
Apakah dia sudah minum obat?
Bagaimana keadaannya sekarang?
Pertanyaan-pertanyaan itu berputar tanpa henti di pikiranku.
“Ayo makan siang.” ajak Riki memecah lamunanku.
Aku pun berdiri, mengikuti langkahnya bersama Fera dan lainnya menuju kantin kantor.
Kantin di kantor pusat ini besar dan cukup nyaman—seperti food court mini dengan deretan gerai makanan di sisi kanan dan kiri. Kami memesan makanan masing-masing, lalu duduk di satu meja. Fera duduk di hadapanku, Riki di sebelahnya. Di meja sebelah, seperti biasa, Merry, Dina, dan Beni sudah lebih dulu duduk.
Baru saja kami menunggu pesanan datang, Caca muncul bersama Arvin.
“Lia…” panggilnya sambil melambaikan tangan.
Aku mengangkat tangan membalas sapanya. Mereka berdua mendekat ke meja kami.
“Kamu anak baru, ya?” tanya Fera sambil menatap Arvin dari ujung kepala sampai kaki.
“Iya. Kenalin, aku Arvin.” ucapnya ramah sambil mengulurkan tangan.
Fera langsung menyambutnya, diikuti Riki.
“Ra, kok kamu tahu dia anak baru?” tanya Caca heran.
“Kata Lia.” jawab Fera santai.
“Eh?” Caca langsung menatapku.
“Tadi pagi kami sempat ketemu di parkiran.” jelasku.
“Oh begitu…” Caca mengangguk, lalu menoleh pada Arvin. “Oh iya, Arvin ini suka Korea juga lho. Bahkan bisa bahasa Korea sedikit.”
“Ah, cuma tahu dasar-dasarnya aja. Aku masih belajar.” ucap Arvin merendah.
“Tapi kamu bisa baca-tulis hangul, itu udah hebat, tahu!” puji Caca.
“Wah, asyik dong. Di divisi kamu ada teman sefrekuensi, Ca. Dulu kan kamu pengennya kita satu divisi.” ucapku.
“Ya begitulah.” sahut Caca sambil tersenyum.
“Mbak Lia juga suka Korea?” tanya Arvin sopan.
“Iya, gara-gara Caca nih.” jawabku sambil melirik sahabatku itu.
“Biar kamu nggak galau karena—”
“Caca!” potongku cepat. Aku tahu persis apa yang akan ia katakan.
Aku dan Caca sudah berteman sejak SMA. Waktu itu belum lama Henry berangkat kuliah ke luar negeri. Karena tahu aku sering murung, Caca mengenalkanku pada dunia Korea—drama, lagu, dan segala hal tentang oppa-oppa tampan. Aneh tapi nyata, itu benar-benar berhasil mengalihkan pikiranku waktu itu.
“Karena apa, Ca?” tanya Fera penasaran.
“Nggak apa-apa kok.” jawab Caca cepat.
Tak lama, seorang pegawai kantin datang membawa nampan.
“Permisi, ini pesanannya.”
Kami mengucapkan terima kasih, lalu mulai menata makanan masing-masing di meja.
“Arvin, aku mau duduk di sini, ya. Soalnya kursinya cuma empat. Kamu duduk di sana aja.” kata Caca sambil menunjuk kursi kosong di meja Merry.
“Oh iya, Mbak.” ucap Arvin sopan, lalu berpindah.
“Ca, asyik juga ya? Ada cowok cakep di divisi kamu sekarang.” celetuk Fera sambil terkikik.
“Hahaha… bisa aja kamu.” balas Caca tertawa.
“Tapi dia kelihatannya masih muda. Sayang banget.” goda Fera lagi.
“Terus kenapa? Kalau soal cinta, umur bukan penghalang.” sahut Riki santai.
“Aigoo… aigoo… Riki…” ucap Caca, menirukan gaya orang Korea.
“Kamu bisa-bisanya ngomong kayak gitu.” balas Fera geli.
Aku hanya tersenyum tipis, memandangi sendok di tanganku yang belum juga menyentuh makanan. Rasanya perutku benar-benar tidak berselera.
“Lia, kamu kenapa? Kok kayak nggak nafsu makan gitu?” tanya Riki.
“Hah? Nggak apa-apa kok.” jawabku cepat.
“Oh iya, katanya Pak Henry sakit, ya?” ucap Caca tiba-tiba.
“Iya, katanya begitu.” sahut Fera.
Caca menatapku dengan senyum penuh arti. “리아야… 혹시…. 니가 사장님 생각있니? (Lia… jangan-jangan kamu lagi mikirin Pak Henry?)”
Deg!
“아니야! 왜 내가 사장님 생각할까? (Nggak! Kenapa aku mikirin Pak Henry?)” elakku cepat, hampir memekik.
“니가 사장님 좋아하니까. (Karena kamu suka sama dia.)” balas Caca dengan nada menggoda.
“야! (Hei!)” seruku pelan tapi panik.
“Ada apa?” tanya Fera heran.
Untung saja Fera dan Riki tidak mengerti bahasa Korea. Kalau mereka tahu arti pembicaraan kami, bisa gawat.
“Iya nih, bisa nggak sih kalian ngomongnya pakai bahasa yang kami ngerti?” protes Riki.
“Ah, nggak ada apa-apa.” kataku cepat.
“Masa? Kamu sampai kayak gitu reaksinya.” ucap Fera curiga.
“Nggak apa-apa, udah makan aja.” sela Caca cepat sebelum aku sempat menjawab.
Akhirnya kami bertiga melanjutkan makan dalam diam sementara Caca masih menunggu pesanannya datang. Aku berusaha menenangkan diri, tapi pikiranku terus kembali pada Henry. Sejak pagi, bayangan wajahnya tidak mau pergi dari kepalaku. Aku tahu aku tidak seharusnya secemas ini… tapi bagaimana bisa tenang kalau dia sedang sakit?
Setelah makan siang pun pikiranku masih terus melayang pada Henry. Entah sudah berapa kali aku membuka dokumen di layar komputerku tanpa benar-benar membaca isinya. Waktu seolah berjalan lambat, setiap detik terasa begitu panjang.
Begitu jam kerja usai, aku tidak langsung pulang. Aku malah berbelok menuju toko bubur di dekat kantor. Kupesan satu porsi bubur ayam hangat lengkap dengan potongan telur rebus dan irisan daun bawang. Aku tak tahu apakah Henry sudah makan atau belum, tapi entah kenapa hatiku memaksaku untuk tetap membelikannya.
Setelah itu aku langsung menuju apartemennya.
Begitu lift berhenti di lantainya, jantungku berdetak semakin cepat. Aku bahkan sempat ragu di depan pintu, tapi akhirnya kukumpulkan keberanian dan menekan bel.
Ding-dong.
“Siapa?” terdengar suara Henry dari dalam.
“Lia, Kak.” jawabku pelan.
Tak lama kemudian, pintu terbuka. Henry berdiri di hadapanku dengan wajah pucat dan rambut yang tampak berantakan. Ia hanya mengenakan kaus longgar dan celana santai.
“Lili?” ucapnya pelan, tampak heran.
“Ada apa kamu ke sini?” tanyanya lagi, suaranya terdengar serak.
“Katanya Kakak sakit, jadi aku mau jenguk. Aku… khawatir.” ucapku, sedikit gugup.
Alis Henry terangkat. “Kamu khawatir sama aku? Kenapa? Bukannya kamu nggak suka sama aku?”
Aku mendengus pelan. “Emang kalau khawatir harus suka dulu?”
Henry menatapku lama sebelum akhirnya tersenyum tipis. “Ya… nggak juga sih.”
“Ya udah… aku boleh masuk?” tanyaku pelan.
Ia mengangguk dan membuka pintu lebih lebar. Aku masuk, tapi langkahku terhenti saat mataku menangkap meja makan. Di sana sudah ada semangkuk bubur yang tinggal separuh dan beberapa bungkus obat.
“Oh? Itu…” ucapku lirih.
“Tadi siang Ana ke sini,” jawab Henry santai. “Bawa bubur dan obat. Katanya disuruh Mamanya.”
“Kak Ana?” aku mengulang dengan nada datar, meski dadaku terasa sesak.
“Iya.” jawab Henry tanpa curiga.
Disuruh Mama?
Tentu saja. Itu pasti ide Mama agar Ana dan Henry semakin dekat.
“Kalau begitu, aku pulang aja,” ucapku pelan sambil menunduk. “Toh Kakak udah makan bubur. Bubur yang kubawa pasti nggak akan termakan juga.”
Aku berbalik, bergegas menuju pintu.
Baru saja aku menunduk untuk mengenakan sepatu, ketika tiba-tiba sesuatu menahan gerakanku — sepasang lengan melingkar di pinggangku dari belakang.
“Jangan pergi.”
Aku terhenti.
Plastik berisi bubur di tanganku nyaris terlepas karena kaget.
Tubuhku menegang, mataku memandangi pintu apartemen di depan yang kini terasa begitu dekat, sementara dari belakang, kehangatan tubuh Henry menyalip udara dingin yang mengisi ruangan.
Cahaya sore dari arah jendela tinggal menyisakan bayangan samar di lantai; di sudut ini, semuanya tampak redup dan hening.
Yang terdengar hanya napasku yang tak teratur dan detak jantung yang tak mau tenang.
Aku ingin bicara, tapi tak ada kata yang keluar.
Satu-satunya hal yang bisa kulakukan hanyalah berdiri diam, membiarkan waktu berhenti di antara kami.
Bersama debar yang entah milikku… atau miliknya.