melda, seorang wanita muda yang di hantui kematian tragis kakak nya bernama wulan. dan bertekad membalas dendam kepada agung perdana Kusuma putra konglomerat dan pewaris Kusuma grup yang telah menghamili dan menolak bertanggung jawab hingga membuat wulan depresi dan mengakhiri hidupnya. namun ditengah rencana balas dendam yang matang. melda justru terjebak dalam pusaran perasaan yang menguji batas antara cinta dan dendam
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon ches$¥, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
amplop tanpa nama
Amplop itu terasa ringan di tangan Agung, namun entah mengapa beratnya seperti menekan dada.
Ia menatap foto USG hitam putih itu lama sekali.
Bentuknya samar, hanya bayangan kecil di tengah ruang gelap. Bagi orang awam mungkin tak berarti apa-apa. Tapi tulisan di sudut foto itu membuat jantungnya berdetak aneh.
“Tiga bulan lalu.”
Agung mengerutkan kening.
Tiga bulan lalu…
Pikirannya langsung menelusuri waktu ke belakang seperti mesin yang menghitung data. Festival kuliner itu. Malam hujan setelah semua selesai. Percakapan yang berubah menjadi keheningan panjang. Dan satu kesalahan yang sejak saat itu berusaha ia kubur di bawah tumpukan kontrak dan laporan keuangan.
Tangannya mengepal sedikit.
“Siapa yang mengirim ini?” gumamnya pelan.
Tidak ada nama pengirim.
Tidak ada penjelasan.
Hanya foto itu.
Dan kalimat yang terasa seperti tuduhan.
“Tidak semua warisan berbentuk perusahaan.”
Agung berdiri dari kursinya. Ia berjalan ke jendela kantornya yang menghadap kota. Gedung-gedung tinggi menjulang, lampu jalan membentuk garis panjang seperti aliran listrik.
Semua ini adalah dunia yang ia bangun.
Dunia yang tidak punya ruang untuk kesalahan.
Namun bayangan kecil di foto itu terasa seperti retakan pertama pada dinding yang ia bangun dengan begitu rapi.
Ponselnya bergetar.
Sekretarisnya mengirim jadwal rapat besok pagi.
Rapat dengan Wulan.
Agung menatap foto itu sekali lagi sebelum memasukkannya kembali ke dalam amplop.
Jika ini permainan seseorang, ia akan segera mengetahuinya.
Namun jauh di dalam pikirannya, sebuah kemungkinan yang tidak ingin ia akui mulai tumbuh pelan.
Keesokan harinya rapat berlangsung seperti biasa.
Ruangan meeting kedai cabang utama kini jauh lebih modern daripada dulu. Meja kayu panjang, layar presentasi besar, kursi kulit yang rapi berjajar.
Agung duduk di ujung meja.
Wulan duduk di seberangnya.
Ia terlihat sama seperti biasa.
Ramping. Tenang. Profesional.
Namun Agung memperhatikan sesuatu yang berbeda.
Wajahnya sedikit lebih pucat.
Dan gerakannya… lebih hati-hati.
“Laporan keuangan bulan ini stabil,” kata Wulan sambil menunjuk grafik di layar. “Cabang kedua diprediksi mencapai titik impas dalam empat bulan.”
Agung mengangguk tanpa banyak bicara.
Matanya beberapa kali berpindah dari layar ke wajah Wulan.
Tiga bulan lalu.
Kalimat itu terus berputar di kepalanya.
Rapat selesai setengah jam kemudian.
Semua staf keluar ruangan.
Tinggal mereka berdua.
Wulan mulai mengumpulkan berkas-berkasnya seperti biasa.
“Wulan.”
Suara Agung menghentikan gerakannya.
Ia menatap lelaki itu.
“Ada yang ingin kamu katakan?” tanya Agung.
Nada suaranya datar. Tidak marah. Tidak lembut.
Hanya… dingin.
Wulan terdiam sejenak.
Entah mengapa, ia merasa Agung sudah tahu sesuatu.
“Tidak ada,” jawabnya singkat.
Agung membuka laci mejanya.
Ia mengeluarkan amplop putih itu dan meletakkannya di atas meja.
Ruangan tiba-tiba terasa jauh lebih sunyi.
Wulan menatap amplop itu.
Tubuhnya langsung kaku.
Perlahan ia mengambilnya.
Tangannya sedikit gemetar saat membuka kertas di dalamnya.
Foto USG itu muncul.
Napasnya tertahan.
Beberapa detik berlalu tanpa suara.
Akhirnya Agung berkata, “Kamu mau menjelaskan?”
Wulan masih menatap foto itu.
Ia tidak pernah mengirimkannya.
Berarti seseorang tahu.
Siapa?
Melda?
Atau dokter?
Namun sekarang bukan itu yang penting.
Kebenaran sudah ada di depan mereka.
Wulan mengangkat wajahnya.
Matanya tenang.
“Ya,” katanya pelan.
Agung menunggu.
Kalimat berikutnya keluar tanpa ragu.
“Aku hamil.”
Tidak ada dramatisasi.
Tidak ada tangisan.
Hanya fakta sederhana.
Agung tidak terlihat kaget.
Namun rahangnya mengeras sedikit.
“Berapa lama?” tanyanya.
“Tiga bulan lebih sedikit.”
Sunyi kembali turun di ruangan itu.
Agung menatap foto USG di tangan Wulan.
“Dan kamu yakin itu…?” kalimatnya berhenti setengah.
Wulan langsung memahami maksudnya.
“Anakmu.”
Jawabannya cepat.
Tegas.
Seperti palu yang memukul meja.
Agung bersandar di kursinya.
Beberapa detik ia tidak berbicara.
Kemudian ia tertawa kecil.
Tawa yang tidak hangat.
Lebih mirip napas dingin.
“Menarik.”
Wulan menatapnya.
“Menarik?” ulangnya pelan.
Agung berdiri.
Ia berjalan ke jendela seperti malam sebelumnya.
“Bisnis kita sedang berkembang. Nama keluargaku sedang naik. Media memperhatikan setiap langkahku.”
Ia menoleh.
“Dan sekarang kamu datang dengan berita seperti ini?”
“Aku tidak datang,” kata Wulan tenang. “Kamu yang memanggilku setelah menemukan amplop itu.”
Agung menatapnya tajam.
Wulan melanjutkan.
“Aku bahkan tidak berniat memberitahumu sekarang.”
Kalimat itu membuat Agung sedikit terkejut.
“Lalu kenapa sekarang kamu mengakuinya?”
“Karena kamu sudah melihatnya.”
Sunyi lagi.
Angin dari pendingin ruangan terasa terlalu dingin.
Agung berjalan kembali ke meja.
“Baik,” katanya akhirnya. “Mari kita bicara sebagai orang dewasa.”
Nada suaranya berubah menjadi nada bisnis yang familiar.
Wulan tahu nada itu.
Nada ketika ia sedang menutup kesepakatan.
“Kehamilan ini… tidak perlu menjadi masalah besar,” kata Agung.
Wulan tidak menjawab.
Agung melanjutkan.
“Aku bisa mengatur semuanya.”
“Bagaimana maksudmu?”
Agung membuka map lain.
“Jika kamu ingin menjaga kehamilan itu, aku akan memberikan kompensasi.”
Kata itu terasa seperti pisau tipis.
“Kompensasi?” ulang Wulan.
“Rumah. Biaya hidup. Pendidikan anak.”
Agung menatapnya lurus.
“Tapi semuanya harus tetap… terpisah dari hidupku.”
Ruangan itu terasa seperti membeku.
Wulan menatap lelaki yang dulu pernah ia cintai.
Ia mencari sedikit saja jejak kehangatan yang dulu ada.
Namun yang ia temukan hanyalah tembok.
“Jadi itu keputusanmu?” tanyanya pelan.
Agung menghela napas pendek.
“Ini keputusan paling rasional.”
“Rasional.”
Wulan mengulang kata itu seperti sedang mencicipi rasa pahit.
“Anak itu tetap akan mendapatkan hidup yang layak,” lanjut Agung. “Lebih dari cukup.”
“Dan kamu?”
“Apa maksudmu?”
“Kamu tidak ingin menjadi ayahnya?”
Agung tidak menjawab beberapa detik.
Kemudian ia berkata dengan suara datar.
“Tidak.”
Satu kata.
Pendek.
Dingin.
Wulan menutup mata sejenak.
Ada sesuatu di dadanya yang retak.
Bukan karena ia tidak menduga jawaban itu.
Tapi karena mendengarnya tetap terasa menyakitkan.
Ia membuka mata kembali.
Namun tidak ada air mata.
“Hidupmu terlalu berharga untuk kesalahan seperti ini, ya?” katanya pelan.
Agung tidak menanggapi sindiran itu.
“Aku hanya tidak akan membiarkan satu keputusan emosional menghancurkan semua yang sudah kubangun.”
Wulan berdiri dari kursinya.
Ia memegang foto USG itu sebentar.
Kemudian memasukkannya kembali ke dalam amplop.
“Baik,” katanya.
Agung mengerutkan kening.
“Baik?”
Wulan mengangguk.
“Aku tidak datang untuk meminta apa pun.”
“Termasuk tanggung jawab?”
Wulan menatapnya lama sekali.
“Terutama itu.”
Agung terlihat sedikit bingung.
Namun ia tidak menunjukkan emosi lebih jauh.
Wulan mengambil tasnya.
“Satu hal saja yang perlu kamu tahu.”
Agung menunggu.
Wulan menyentuh perutnya pelan.
“Anak ini tetap akan lahir.”
Agung tidak berkata apa-apa.
“Dan suatu hari nanti,” lanjut Wulan, “ketika dia bertanya tentang ayahnya…”
Ia berhenti sebentar.
Matanya tetap tenang.
“Aku tidak akan berbohong.”
Agung menatapnya tanpa ekspresi.
Wulan berjalan menuju pintu.
Tangannya hampir membuka gagang ketika Agung berkata,
“Wulan.”
Ia berhenti.
Namun tidak berbalik.
“Jika kamu berubah pikiran tentang pengaturan itu… tawaranku masih berlaku.”
Wulan tersenyum kecil.
Senyum yang tidak pernah sampai ke matanya.
“Kamu masih mengira semuanya bisa dibeli.”
Lalu ia membuka pintu.
Dan pergi.
Suara pintu yang tertutup terdengar sangat pelan.
Namun di ruangan itu, rasanya seperti sesuatu yang runtuh.
Agung berdiri sendirian di sana.
Amplop putih masih ada di meja.
Ia mengambil foto USG itu lagi.
Bayangan kecil itu terlihat sama seperti sebelumnya.
Tidak berubah.
Namun entah mengapa…
untuk pertama kalinya sejak lama,
Agung merasa dunia yang ia bangun dengan begitu hati-hati
tidak lagi sepenuhnya berada di bawah kendalinya.
Suka aku sama kaliamat nya kk kaya puisi apalagi kalo bacanya pake Nada.