Tujuh tahun cinta, dibalas dengan kematian di tengah api. Di hari pernikahanku, aku baru tahu bahwa tunanganku, Aiden, telah memiliki anak dengan kakak tiriku.
Saat aku membuka mata, aku kembali ke masa lalu. Berdiri di depan pria yang paling ditakuti, Jerome Renfred. Dia adalah paman kandung Aiden—pria dingin yang diam-diam menangisi kerangkaku di kehidupan sebelumnya.
"Jadikan aku istrimu, Tuan Renfred. Mari kita hancurkan mereka bersama."
Aku hanya menginginkan pernikahan kontrak demi dendam. Namun, kenapa setiap kali aku terluka, pria dingin ini yang merintih kesakitan?
"Valerie, jangan pernah berpikir untuk pergi. Di mata dunia kita adalah kontrak, tapi di tempat tidurku, kamu adalah selamanya."
Aiden, bersiaplah memanggilku "Bibi". Karena sekarang, aku adalah milik pria yang paling kamu takuti!
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Ariska Kamisa, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 3: Sumpah di Depan Altar yang Hancur
Napas Valerie tersengal hebat. Rasa panas api yang menjilat kulitnya di gudang tua itu masih terasa begitu nyata, hingga ia terbangun dengan sentakan yang membuat sekujur tubuhnya menegang. Dengan panik, ia meraba leher, bahu, dan wajahnya.
Utuh. Tidak ada kulit yang melepuh. Tidak ada bau daging terbakar.
Hanya ada aroma bunga lili yang menyengat dan wangi bedak mahal. Valerie mendongak, menatap pantulan dirinya di cermin besar bermotif emas. Ia mengenakan gaun putih gading yang sangat ia kenal—gaun yang ia pilih dengan penuh sukacita setahun yang lalu.
"Valerie? Sayang, kenapa melamun? Cepat, pendeta sudah menunggu di depan. Tamu-tamu penting dari keluarga Renfred sudah datang."
Suara lembut namun berbisa itu seketika membekukan darah Valerie. Ia menoleh perlahan. Serena, kakak tirinya, berdiri di sana dengan gaun bridesmaid merah muda pucat yang tampak begitu kontras dengan hatinya yang hitam. Di belakangnya, sang ayah berdiri dengan setelan jas rapi, menatap Valerie dengan pandangan menuntut.
"Ayo, Val. Jangan buat keluarga kita malu. Ini hari pertunanganmu dengan pewaris utama keluarga pusat," ujar ayahnya dengan nada memerintah.
Jantung Valerie berdegup kencang hingga terasa menyakitkan. Aku kembali. Tuhan, aku benar-benar kembali ke hari terkutuk ini! batinnya. Ia mengepalkan tangan hingga kuku-kukunya memutih. Bayangan Aiden yang menghantam kepalanya dan tawa iblis mereka di balik kobaran api muncul silih berganti. Tidak. Tidak akan pernah lagi.
"Valerie, kau dengar tidak?" Serena mendekat, hendak membenarkan kerudung pengantin Valerie. "Aiden sudah menunggumu di altar. Dia terlihat sangat tampan hari ini."
Valerie menepis tangan itu dengan kasar, membuat Serena tersentak. "Jangan sentuh aku."
"Val? Kau kenapa? Apa kau gugup?" Serena memasang topeng keprihatinan yang palsu.
Valerie tidak menjawab. Ia berdiri, mengangkat gaun beratnya, dan melangkah keluar menuju aula utama gedung mewah itu. Pintu besar terbuka, menampakkan ratusan tamu undangan dan Aiden yang berdiri di depan altar dengan senyum kemenangan yang memuakkan.
Setiap hentakan sepatu Valerie di atas karpet merah adalah janji balas dendam. Begitu sampai di depan Aiden, pria itu mengulurkan tangan, mencoba meraih jemari Valerie.
"Valerie, kamu cantik sekali—"
"Hentikan sandiwara ini, Aiden," potong Valerie tajam. Suaranya menggema, seketika membungkam seluruh ruangan.
Aiden mengerutkan kening, senyumnya memudar. "Apa maksudmu? Pendeta baru saja akan memulai—"
"Pertunangan ini batal," ujar Valerie lantang. Ia melepas cincin berlian di jarinya dan melemparkannya tepat ke wajah Aiden.
Ting! Cincin itu berdenting di lantai marmer, diikuti teriakan murka ayahnya dari barisan depan.
"AKU TIDAK SUDI BERTUNANGAN DENGAN PRIA YANG TIDAK LEBIH DARI SEORANG PENGKHIANAT!" Valerie berteriak, menunjuk ke arah Serena yang mulai pucat pasi. "Silakan ambil sampah ini, Serena. Aku tidak butuh pria bekasmu!"
Aula itu meledak dalam bisik-bisik riuh. Tanpa menunggu reaksi lebih lanjut, Valerie berbalik, menyambar ekor gaunnya, dan berlari keluar gedung melewati para tamu yang terpaku. Ia harus pergi. Ia harus menemukan Jerome—satu-satunya pria yang menangis untuknya saat dunia menginginkannya mati.
Sementara itu, di dalam mobil Rolls-Royce yang terparkir cukup jauh dari pintu masuk gedung, Jerome Renfred duduk terdiam. Di tangannya, kartu undangan emas itu sudah agak lecek karena terus ia cengkeram sejak pagi.
Valerie & Aiden.
Dua nama itu seperti sembilu yang mengiris jantungnya. Jerome menarik napas panjang, menatap jam tangan Patek Philippe di pergelangan tangannya dengan tatapan kosong.
"Tuan Jerome... acara pertukaran cincin sudah dimulai lima menit yang lalu," asistennya, Raka, berujar pelan. "Apakah... kita tidak akan masuk?"
"Aku tidak yakin bisa mengatakan 'selamat' padanya, Raka," bisik Jerome serak. "Melihatnya bersanding dengan keponakanku... itu adalah hukuman mati bagiku."
Sepuluh tahun Jerome mencintai Valerie dalam diam. Sepuluh tahun ia membiarkan sisi pengecut dalam dirinya menang karena merasa dunianya terlalu gelap untuk gadis seceria Valerie.
"Jalan, Raka. Kita pulang," perintahnya dengan suara bergetar.
"Tapi Tuan—"
"Jalan sekarang!" bentak Jerome, emosinya meledak.
Mobil mulai melaju pelan, bertepatan dengan hujan deras yang tiba-tiba mengguyur kota. Namun, baru beberapa meter, Raka menginjak rem mendadak. Ciiittt!
"Tuan! Itu... bukankah itu Nona Valerie?!"
Jerome tersentak dan menatap ke luar jendela. Di tengah hujan badai, seorang wanita dengan gaun putih yang compang-camping berlari dengan kaki telanjang. Rambutnya basah kuyup, wajahnya hancur oleh air mata dan hujan.
"Buka pintunya! Ambilkan payung!" teriak Jerome, kehilangan seluruh ketenangannya.
Ia keluar dari mobil tanpa peduli pada jas mahalnya yang langsung basah kuyup. Jerome berlari menembus hujan, membuka payung besar, dan menghadang langkah wanita itu.
"Valerie? Apa yang terjadi? Di mana Aiden?!" teriak Jerome di antara deru badai.
Begitu melihat sosok di depannya, Valerie tidak menjawab. Ia justru menerjang masuk ke dalam pelukan Jerome, menyembunyikan wajahnya di dada pria itu yang basah. Tubuhnya gemetar hebat, tangisnya pecah mengalahkan suara guntur.
"Bawa aku pergi, Jerome... Tolong, bawa aku pergi ke tempat yang tidak bisa mereka jangkau," rintihnya di balik isak tangis.
Jerome terpaku. Tangannya yang gemetar perlahan melingkar di bahu Valerie yang dingin. Ia segera melepaskan jasku, menyampirkannya ke tubuh wanita itu, lalu menggendongnya masuk ke dalam mobil.
"Ke apartemen, Raka! Cepat!"
Jerome tidak tahu apa yang terjadi di altar tadi. Namun, satu hal yang pasti: jika kali ini takdir menyerahkan Valerie padanya, ia tidak akan pernah membiarkan siapa pun mengambilnya kembali.
...****************...