Suami Ishani telah pergi, meninggalkan satu janji yang tidak pernah sepenuhnya ia pahami.
Kini Ishani berada di bawah satu atap dengan Langit, pria yang memiliki wajah yang sama seperti mendiang suaminya, tetapi tidak dengan hatinya.
Tatapan Langit selalu dingin.
Sikapnya penuh jarak.
Seolah kehadiran Ishani dan bayi di rahimnya adalah pengingat akan sesuatu yang ingin ia lupakan.
Ishani hanya ingin melahirkan dengan tenang.
Namun semakin lama ia tinggal di rumah itu, semakin ia menyadari bahwa yang sedang ia hadapi bukan sekadar hubungan ipar.
Ada luka lama.
Ada pengorbanan yang tak pernah benar-benar diterima.
Dan ada kecemburuan yang tumbuh diam-diam sejak mereka masih kecil.
Di antara bayi yang tak bersalah dan masa lalu yang belum selesai…
Ishani terjebak di tengah dua saudara yang dipisahkan oleh takdir.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Shalema, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 15: Jarak yang Tidak Terlihat
Langit sudah duduk di depan laptopnya sejak pagi. Ruang kerja itu dulunya kamar kecil di sisi belakang rumah. Jendelanya menghadap halaman yang dipenuhi cahaya matahari siang.
Layar laptop menampilkan dokumen yang seharusnya ia selesaikan sejak tadi. Namun selama hampir dua puluh menit terakhir, tidak ada satu kalimat pun yang bertambah.
Langit membaca paragraf yang sama berkali-kali. Pikirannya tidak benar-benar berada di ruangan itu. Mimpi semalam masih meninggalkan bayangan yang tidak mau pergi.
Ketukan pelan terdengar di pintu. Langit mengangkat kepala.Ishani berdiri di sana.
Tangannya memegang sisi pintu, seolah ia sendiri ragu apakah harus masuk atau tidak.
“Kak… makan siang.” Suara Ishani pelan, hati-hati.
Langit menoleh ke jam di layar laptop.
Sudah lewat jam satu. “Aku belum lapar.”
Ishani tidak langsung pergi. “Supnya sudah dingin.”
“Aku bisa hangatkan nanti.”
Beberapa detik mereka hanya saling memandang tanpa kata. Ada sesuatu yang tidak terlihat di antara mereka. Sesuatu yang sebelumnya tidak pernah terasa sejelas ini.
Ishani akhirnya berkata lagi, “Kakak sejak pagi belum keluar kamar.”
Langit menutup laptopnya perlahan.
Gerakannya tenang, tapi ada kelelahan yang samar di wajahnya. “Baik. Aku keluar.”
Ia berdiri dan berjalan melewati Ishani menuju dapur. Ishani mengikutinya beberapa langkah di belakang.
Langit duduk di meja makan dan mulai makan tanpa banyak bicara. Ishani duduk di kursi seberangnya, sementara Bu Rina menyibukkan diri di ruang tengah.
Ia memperhatikan Langit beberapa detik sebelum akhirnya menyentuh sendoknya sendiri. “Kak…”
Langit mengangkat kepala sedikit.
“Kerjaan Kakak lagi banyak, ya?”
“Lumayan.”
Jawaban singkat.
Ishani mengangguk kecil. “Apa nggak apa-apa, Kakak sering WFH?”
Langit menaruh sendoknya sebentar. “Nggak ada masalah. Lagipula sekarang lebih mudah kalau aku di rumah.”
“Karena aku?”
Pertanyaan itu keluar tanpa rencana. Begitu kata-kata itu terucap, Ishani langsung menunduk. “Maaf. Aku cuma tanya.”
Langit tidak langsung menjawab. Tatapannya sempat berhenti pada wajah Ishani, lalu kembali ke mangkuknya. “Tidak apa.”
Suara sendok kembali terdengar. Ishani akhirnya mulai makan juga, tapi gerakannya lambat. Seolah ia sedang memikirkan sesuatu yang tidak tahu bagaimana mengatakannya.
“Kak.”
Langit kembali menoleh.
“Semalam Kakak tidur?”
Pertanyaan itu membuat Langit berhenti sebentar. Hanya satu detik. Tapi cukup untuk disadari.
“Tidur.”
“Sebentar?”
Langit menatapnya. “Kenapa kamu tanya begitu?”
Ishani ragu sebelum menjawab. “Aku sempat bangun.”
Langit tidak berkata apa-apa.
“Kakak lewat depan kamar.”
Beberapa saat tidak ada suara yang terdengar.
“Aku cuma mau ambil air,” kata Langit akhirnya.
Ishani mengangguk pelan. “Hmm.”
Ia tidak melanjutkan. Namun sesuatu di dalam hatinya terasa tidak sepenuhnya yakin.
Langit kembali makan.
“Kak… kalau aku ganggu pekerjaan Kakak, bilang saja.”
Langit mengerutkan kening. “Kamu tidak mengganggu.”
“Tapi Kakak seperti menghindar.” Kalimat itu hampir seperti bisikan.
Langit tidak langsung menjawab. Ia menatap meja makan beberapa detik sebelum berkata, “Aku tidak menghindar.”
Ishani tersenyum tipis.
“Tapi Kakak hampir tidak bicara sejak pagi.”
Langit menaruh sendoknya. “Aku sedang banyak pikiran.”
Ishani mengangguk kecil. “Karena keputusan kemarin?”
Langit mengangkat kepala. Tatapan mereka bertemu.
Ishani segera menambahkan, “Kalau Kakak tidak nyaman… kita bisa bicarakan lagi dengan keluarga.”
“Tidak perlu.”
“Benarkah?”
Langit menatapnya beberapa detik. “Kamu menyesal?”
Ishani terdiam. Ia tidak langsung menjawab. Bukan karena tidak ingin, tapi karena ia sendiri tidak benar-benar tahu jawabannya.
“Aku… tidak tahu.” Suara Ishani lebih pelan dari sebelumnya. “Semua terjadi sangat cepat.”
Langit mengangguk. Ia mengerti maksud kalimat itu lebih dari yang Ishani sadari.
“Kemarin semua orang bicara seolah itu keputusan terbaik,” lanjut Ishani.
“Itu memang keputusan terbaik.”
Ishani menatapnya. “Untuk siapa?”
Langit tidak menjawab. Beberapa detik berlalu sebelum ia berkata pelan, “Untuk kamu dan bayimu.”
Ishani menunduk. Tangannya bergerak pelan di atas meja, seolah mencari sesuatu untuk dipegang. “Tapi bagaimana dengan Kakak?”
Langit menghela napas pendek. “Aku baik-baik saja.”
“Kak--”
“Aku sudah memikirkan semuanya.” Nada suaranya tenang. Terlalu tenang. Seolah kalimat itu sudah ia ulang berkali-kali di dalam kepalanya sendiri.
Ishani terdiam. Beberapa saat kemudian ia berkata lagi, “Aku tidak ingin Kakak merasa… terpaksa.”
Langit menatapnya. “Aku tidak pernah terpaksa melakukan sesuatu yang aku pilih sendiri.”
“Kalau begitu…”
Ishani berhenti.
“Kakak kenapa berubah?”
Langit terdiam. Pertanyaan itu sederhana.
Namun ia tidak tahu bagaimana menjawabnya tanpa membuka sesuatu yang bahkan ia sendiri belum siap menghadapinya. Ia berdiri dari kursinya dan membawa mangkuknya ke wastafel.
“Supnya enak.Tolong bilang terima kasih sama Bu Rina.”
Ishani menatap punggungnya. “Kak.”
Langit berhenti.
“Kalau Mas Biru masih ada…” Kalimat itu terpotong sendiri.
Ishani langsung menutup mulutnya. Ia menyesal begitu kata-kata itu keluar. “Aku tidak seharusnya bilang begitu.”
Langit tetap berdiri membelakangi meja makan. “Kamu tidak salah.”
“Tapi--”
“Kamu tidak perlu menahan diri.”
Ishani menatap lantai. “Aku masih sering memikirkan dia.”
Langit akhirnya berbalik. “Itu wajar.”
“Aku takut Kakak salah paham.”
“Aku tidak akan salah paham.”
Ishani menghela napas kecil. “Kadang aku merasa bersalah.”
“Untuk apa?”
“Karena semua orang seperti… mendorongku melangkah lagi.”
Langit tidak menjawab.
“Aku bahkan belum benar-benar mengerti perasaanku sendiri.”
Langit mengambil gelasnya. “Kamu tidak harus mengerti sekarang.”
Ishani menatapnya. “Lalu kapan?”
Langit meminum airnya sebelum menjawab. “Pelan-pelan saja.”
Ishani mengangguk. Namun setelah beberapa detik ia berkata lagi, “Kak.”
Langit menoleh.
“Kalau suatu hari Kakak berubah pikiran…”
Langit mengerutkan kening.
“Kamu boleh bilang.”
“Kamu ingin aku berubah pikiran?”
“Bukan begitu.”
“Lalu?”
Ishani menunduk lagi. “Aku hanya tidak ingin Kakak merasa terikat karena janji pada Mas Biru.”
Langit diam. Beberapa detik ia hanya memandang meja makan di antara mereka. “Aku tahu apa yang aku lakukan.”
Jawabannya tenang. Namun kali ini ada sesuatu yang lebih berat di dalamnya.
Ishani tidak melanjutkan.
Beberapa saat kemudian Langit mengambil piringnya. “Aku kembali kerja.”
Ia berjalan menuju ruang kerja.
Sebelum masuk, ia berhenti sebentar. “Kamu harus istirahat.”
“Iya.”
Di dalam ruangan itu Langit berdiri lama di dekat pintu. Percakapan di dapur masih terngiang di kepalanya.
Kalau Mas Biru masih ada…
Ia mengusap wajahnya. Ia tahu Ishani tidak bermaksud menyakiti. Namun kalimat itu tetap terasa seperti membuka sesuatu yang belum ia selesaikan di dalam dirinya sendiri.
Langit duduk di belakang meja kerjanya. Melalui celah pintu, ia bisa melihat
Ishani masih duduk di meja makan sendirian. Ia tidak makan lagi. Ia hanya duduk diam sambil memegang gelas.
Langit menatapnya untuk beberapa detik.
Laptopnya masih terbuka. Namun pikirannya tetap berada di luar ruangan itu.
Untuk pertama kalinya sejak Ishani pindah ke rumah itu… Langit mulai menyadari sesuatu yang membuatnya tidak tenang.
Keputusan yang mereka ambil kemarin mungkin memang yang paling masuk akal.
Namun masuk akal tidak selalu berarti mudah. Dan jarak yang tiba-tiba muncul di antara mereka hari ini… mungkin baru permulaan.
walaupun keras, langit orangnya bertanggung jawab, dan kayaknya dia beneran sayang sama kamu dan baby kamu ishanii /Slight/
Semangat!