Lily Rosamaria bukan siapa-siapa di rumah itu. Anak kandung yang diperlakukan seperti pembantu, sejak ibu tiri dan Nindi datang mengambil alih segalanya.
Tapi Lily punya Dimas Arya, kekasihnya yang membuatnya bahagia. Sampai malam sebelum pernikahan mereka, Lily memergoki Dimas dan Nindi di kamar belakang.
"Kami saling mencintai, Lily. Kamu yang seharusnya pergi."
Bukan Dimas yang bicara, tapi Nindi dengan perut yang mulai membesar.
Lily tidak menangis, dia berlari masuk ke gudang tua belakang rumah ketika ayahnya justru menginginkannya terkurung di sana.
Di balik dinding yang pengap itu, Lily menemukan pintu kecil berkarat. Dan di balik pintu itu, sebuah ruang yang tidak masuk akal. Ruang yang mendengarnya. Ruang yang menjawab amarahnya.
"Kamu mau apa?" bisik sesuatu dari sana.
Lily mengepalkan tangan. Dadanya penuh amarah, malu, trauma dan satu bara kecil yang belum padam.
"Aku mau mereka merasakan apa yang aku rasakan."
Ruang itu bersinar.
Dan Lily Rosamaria mulai bangkit.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Erchapram, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
BAB 24 - YANG TIDAK PERLU DIUCAPKAN
Malam itu Lily tidak masuk ke gudang.
Dia berbaring di kasurnya dengan mata terbuka dan nama itu berputar di kepalanya.
Wulan.
Nindi memberi nama bayinya Wulan. Ada kemungkinan itu kebetulan. Wulan bukan nama yang langka, tidak asing di telinga orang Indonesia, bisa saja Nindi memang menyukai nama itu tanpa tahu atau tanpa peduli bahwa itu nama ibu Lily.
Tapi Lily sudah cukup belajar selama tiga minggu terakhir ini bahwa kemungkinan kebetulan perlu diverifikasi sebelum dipercaya.
Dan ada kemungkinan lain yang lebih tidak nyaman, bahwa Nindi tahu. Nindi tahu nama itu nama ibu Lily dan memilihnya. Entah sebagai gerak bawah sadar dari rasa bersalah yang tidak pernah diakui, atau sebagai sesuatu yang lebih rumit dari itu.
Lily tidak tahu mana yang lebih mudah diterima.
Dia memejamkan mata dan mencoba tidur.
Tidak berhasil sampai hampir jam dua.
Jumat pagi datang dengan hujan ringan yang membuat langit abu-abu dari subuh.
Lily turun ke dapur lebih lambat dari biasanya. Kam lima lebih dua puluh, bukan jam lima kurang. Bibi Rah sudah ada tapi tidak berkomentar soal keterlambatan kecil itu. Mereka bekerja bersisian dalam diam yang sudah jadi bahasa tersendiri.
Jam delapan, pesan dari Hendra masuk:
Keberatan ke kantor pertanahan sudah diajukan pagi ini. Pak Syarif yang antar langsung. Prosesnya sekarang ditangguhkan sementara sampai ada klarifikasi dari kedua pihak.
Lily membaca di balik pintu dapur, jauh dari pandangan Tante Sari yang baru saja turun.
Berapa lama penangguhan itu berlaku?
Standarnya tiga puluh hari kerja juga. Tapi bisa diperpanjang kalau ada bukti tambahan yang perlu diperiksa. Artinya kita beli waktu.
Lily menyimpan ponsel dan kembali ke dapur dengan langkah yang tidak menunjukkan apa-apa.
Di dalam dadanya ada sesuatu yang bukan kegembiraan tapi lebih ringan dari hari-hari sebelumnya, seperti beban yang belum diangkat tapi setidaknya sudah bergeser sedikit dari posisinya.
Satu langkah. Satu langkah sudah cukup untuk hari ini.
Siang itu Nindi pulang dari rumah sakit.
Mobil masuk ke halaman jam satu lebih, dan dari jendela dapur Lily melihat Tante Sari turun lebih dulu dari pintu penumpang depan, kemudian berjalan ke pintu belakang untuk membantu Nindi. Nindi keluar perlahan. Tubuhnya masih hati-hati, jalannya belum sepenuhnya seperti biasanya.
Di tangannya ada bayi yang dibungkus kain tipis berwarna krem.
Dimas turun dari mobil terakhir dan langsung membawa tas-tas dari bagasi tanpa banyak gerakan ekstra.
Lily sudah ada di pintu belakang ketika mereka masuk. Bukan karena disiapkan, tapi karena memang tempatnya berada siang itu.
Nindi berjalan melewati Lily, lalu berhenti.
Mereka bertatapan.
Bukan tatapan yang berisi ancaman atau pertahanan seperti minggu-minggu lalu, ini tatapan yang berbeda. Nindi kelihatan lebih kecil dari biasanya, lebih tidak siap, dan di matanya ada sesuatu yang Lily belum pernah lihat di sana sebelumnya: kelelahan yang jujur.
"Kamu mau lihat?" kata Nindi akhirnya.
Bukan tawaran yang hangat. Lebih ke tawaran yang keluar karena dua perempuan ini berdiri di jarak satu meter dan ada bayi di antara mereka dan tidak mengatakan apa-apa terasa lebih aneh dari mengatakannya.
Lily menatap bayi itu.
Wajahnya kecil dan merah dan keriput dengan cara yang hanya bayi baru lahir yang bisa terlihat seperti itu, tidak ada yang cantik secara konvensional, tapi ada sesuatu yang sangat hidup di sana.
"Sehat," kata Lily.
"Iya."
"Bagus."
Nindi melanjutkan jalannya ke dalam.
Dimas lewat di belakangnya dengan tas di kedua tangan, matanya sebentar ke arah Lily, bukan minta apa-apa, hanya mengakui bahwa momen itu ada dan mereka berdua ada di dalamnya.
Lily kembali ke dapur.
Sabtu pagi, Lily bangun jam empat.
Bukan karena ada yang membangunkan, tapi ada sesuatu yang berbeda di cara udara kamarnya terasa, semacam kepadatan kecil yang membuat tidurnya tidak bisa dilanjutkan. Dia berbaring sebentar sambil mendengarkan bunyi rumah yang tidur.
Lalu dia turun ke gudang.
Di ruang rahasia, cermin malam ini berbeda lagi.. lebih aktif dari biasanya, seperti ada sesuatu yang ingin ditunjukkan tanpa perlu diminta.
Lily duduk.
Yang muncul di cermin bukan gambar orang, bukan dokumen, bukan potongan momen masa lalu. Yang muncul adalah sesuatu yang Lily butuhkan lebih dari itu malam ini atau pagi ini, tepatnya.
Gambaran dirinya sendiri. Tapi bukan pantulan statis. Lebih seperti gambar bergerak, sangat lambat, yang menunjukkan Lily berdiri di tempat yang berbeda dari sekarang. Di ruangan yang lebih terang, dengan orang-orang di sekitarnya yang tidak ada di hidupnya sekarang, dengan cara bergerak yang lebih punya ruang.
Masa depan yang mungkin. Atau masa depan yang bisa.
"Itu nyata?" tanya Lily.
Cermin tidak menjawab dengan kata. Hanya beriak pelan... jenis riak yang Lily sudah belajar artinya bukan ya dan bukan tidak. Lebih ke: tergantung pada apa yang kamu lakukan dengan yang kamu punya sekarang.
Lily menatap gambar itu sampai perlahan memudar.
Lalu di cermin, muncul satu kalimat yang pendek:
Kamu sudah tahu cara marah. Sekarang kamu perlu belajar cara sabar yang berbeda dari cara mengalah.
Lily mengerutkan dahinya.
"Beda di mana?"
Kalimat baru:
Mengalah artinya berhenti. Sabar artinya menunggu waktu yang tepat tanpa berhenti bergerak.
Lily duduk dengan itu selama beberapa menit.
Ada bedanya... dia tahu ada bedanya. Tapi menarik garis antara keduanya dalam praktik, dalam hari-hari konkret yang penuh tekanan dan godaan untuk bereaksi lebih cepat dari yang situasinya butuhkan, itu yang perlu dilatih.
"Aku mengerti," kata Lily akhirnya.
Cahaya di ruangan itu berubah, bukan lebih terang, bukan lebih redup. Lebih seperti menyesuaikan diri, seperti seseorang yang mengubah posisi duduknya menjadi lebih nyaman karena percakapannya masih panjang.
Jam tujuh pagi, Lily sudah kembali di dapur ketika Hendra mengirim pesan. [Siap jam delapan? Pak Syarif sudah di warung.]
[Siap,] balas Lily.
[Ada yang perlu kamu tahu sebelum kamu berangkat. Kasus lama yang aku cerita, aku sudah dapat lebih banyak. Ini lebih besar dari yang aku pikir, Lily. Bawa mental yang siap.]
Lily membaca pesan itu dua kali.
Lebih besar dari yang kamu pikir dari mulut Hendra, yang sudah dua minggu ini tidak pernah dramatis, yang selalu memilih kata yang paling tepat dan paling hemat. Bukan kalimat yang bisa diabaikan.
Dia menyimpan ponsel dan menyiapkan sarapan dengan tangan yang bergerak otomatis.
Di mejanya nanti ada Pak Syarif dengan informasi yang dia belum tahu. Ada kasus lama yang pernah dilaporkan tapi tidak sampai ke pengadilan. Ada nama yang disebut dalam rekaman yang Dimas simpan di tempat yang aman.
Dan ada satu baris kalimat dari cermin yang terus berputar di kepalanya:
Sabar artinya menunggu waktu yang tepat tanpa berhenti bergerak.
Lily menghidupkan kompor dan memanaskan minyak.
Hari ini dia akan mendengarkan semua yang Pak Syarif punya.
Dan setelah itu, dia akan memutuskan langkah berikutnya bukan dari rasa takut, bukan dari amarah yang terburu-buru, tapi dari tempat yang lebih dalam dari keduanya.
Dari tempat yang sudah dia temukan pelan-pelan di balik dinding batu gudang tua ini.
Di tengah semua suara yang mulai mengisi rumah pagi itu. Tante Sari yang turun, bayi Nindi yang mulai menangis dari lantai atas, langkah kaki ayahnya di kamar, Lily berdiri di depan kompor dengan punggung yang tegak dan tangan yang tidak gemetar.
Sekarang... dia siap.
Bersambung ke Bab 25...