Tio Wirawan, seorang solo climber arogan, tersesat dan terluka parah di Gunung Slamet.
Terisolasi tanpa bantuan, ia berjuang melawan lapar, infeksi, dan dingin yang perlahan merenggut hidupnya.
Namun saat kematian semakin dekat, ia menemukan sesuatu yang mustahil: sebuah desa misterius yang tidak ada di dunia manusia.
Di sana, Tio dihadapkan pada sebuah kebenaran—ia tidak hanya tersesat di gunung, tetapi di antara dua alam.
Ketika ia akhirnya kembali, secara tak masuk akal muncul di kaki Gunung Ciremai, Arya sadar ia telah diberi kesempatan kedua. Tapi sebagian dari dirinya tertinggal di tempat itu—di Pasham, tempat di mana manusia harus tersesat untuk benar-benar menemukan jalan pulang.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Bp. Juenk, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Puncak Malang
Pukul sepuluh lewat sepuluh menit, Tio menarik ritsleting tenda bivaknya untuk terakhir kalinya. Ransel hijau army dengan beban 18 kilogram sudah terpasang sempurna di punggung—tali bahu dikencangkan, tali dada dikait, tali pinggang dijepit rapat. Ia melompat kecil, merasakan beban itu menyatu dengan tubuhnya. Sudah seperti bagian dari dirinya sendiri.
Dari Pos 3 menuju Pos 4, jalurnya relatif lebih bersahabat dibanding kemarin. Tanjakan masih ada, tapi gradiennya lebih landai. Tio memutuskan untuk menikmati perjalanan hari ini. Tidak perlu terburu-buru. Targetnya hanya mencapai Puncak Malang sebelum gelap, dan itu masih sangat mungkin dengan waktu yang ada.
Langkah pertama terasa ringan. Mungkin karena sarapan bergizi. Mungkin karena tidur yang cukup. Atau mungkin karena udara pagi yang masih segar membuat seluruh sistem dalam tubuhnya bekerja optimal. Tio berjalan perlahan, sesekali berhenti untuk memotret bunga-bunga liar di tepi jalur. Ada bunga edelweis yang mulai bermunculan di ketinggian ini—bunga abadi yang dilindungi, pertanda bahwa ia semakin dekat dengan zona subalpin.
Dua jam pertama berlalu tanpa terasa. Tio berhenti di sebuah batu besar yang menjorok, menawarkan pemandangan lepas ke lembah di bawah. Ia melepas ransel, duduk bersila, dan hanya memandang. Hamparan hutan hijau membentang sejauh mata memandang, sesekali diselingi tebing-tebing terjal yang menjulang. Di kejauhan, ia bisa melihat garis tipis yang mungkin adalah jalan aspal di bawah sana, dengan titik-titik kecil yang mungkin adalah rumah-rumah penduduk.
Gila, pikirnya. Gue ada di sini, mereka di sana. Dunia yang sama, tapi rasanya beda banget.
Ia mengeluarkan kamera, merekam pemandangan dalam diam, lalu kembali memasang ransel dan melanjutkan perjalanan.
---
Sekitar pukul setengah satu siang, Tio mencapai Pos 4. Ini area yang lebih terbuka, dengan pepohonan yang mulai jarang. Rumput-rumput khas pegunungan mendominasi, dengan batuan-batuan besar berserakan seperti mainan raksasa yang ditinggalkan pemiliknya. Dari sini, Puncak Malang sudah mulai terlihat—sebuah tonjolan tanah dan bebatuan di ujung punggungan, masih sekitar dua hingga tiga jam perjalanan.
Tio duduk di salah satu batu, membuka bekal makan siangnya: roti isi selai kacang dan segenggam kacang almond. Sambil mengunyah, ia memandangi puncak yang menjadi targetnya hari ini. Di balik Puncak Malang, menjulang jauh lebih tinggi, tampak Puncak Slamet yang sesungguhnya. Dari sini, jaraknya masih terlihat sangat jauh—mungkin masih 4 hingga 5 jam perjalanan lagi melewati medan yang lebih terbuka dan lebih terjal.
Kalau besok subuh berangkat dari sini, mungkin sampai puncak sekitar jam 10-11 pagi. Lalu turun lagi ke sini, lanjut turun ke Pos 3 atau bahkan Pos 2 sebelum gelap... Tio mengkalkulasi dalam kepala. Bisa. Asal disiplin.
Tapi hari ini, targetnya hanya Puncak Malang. Sampai di sana, nikmati pemandangan, lalu turun sedikit untuk mencari lokasi tenda yang aman dari angin malam. Rencana sederhana.
---
Perjalanan dari Pos 4 ke Puncak Malang ternyata lebih berat dari perkiraannya. Bukan karena tanjakan ekstrem, tapi karena medannya yang mulai didominasi bebatuan lepas. Setiap langkah harus dipikirkan—batu mana yang stabil, mana yang goyang. Satu kesalahan bisa berakibat terkilir atau jatuh.
Tio berjalan hati-hati, kadang menggunakan tongkat bambu pemberian Pak Giman untuk menguji kestabilan pijakan. Di beberapa titik, ia harus merangkak melewati celah-celah batu besar yang hanya muat untuk satu orang. Tapi justru di sinilah ia merasa paling hidup. Tantangan. Adrenalin. Kepuasan instan saat berhasil melewati bagian sulit.
Sekitar pukul setengah empat sore, Tio akhirnya tiba di Puncak Malang.
---
Puncak Malang bukanlah puncak dalam arti sebenarnya—lebih tepatnya adalah sebuah plato luas di ketinggian sekitar 2.800 meter, dengan pemandangan 360 derajat yang spektakuler. Di satu sisi, terbentang lereng Slamet yang terus naik menuju puncak utama. Di sisi lain, jurang terjal jatuh bebas ribuan meter ke lembah di bawah. Di kejauhan, jika langit cerah, konon Gunung Sindoro dan Sumbing bisa terlihat. Tapi sore ini, awan tipis masih menyelimuti, memberi kesan dramatis pada pemandangan.
Tio melepas ransel, meletakkannya di atas batu datar, lalu duduk bersandar. Untuk beberapa saat ia hanya diam, mengatur napas, merasakan keringat di pelipisnya mengering ditiup angin.
Lalu ia berdiri, berjalan ke tepi plato, dan memandang ke arah Puncak Slamet. Di sana, menjulang perkasa, puncak tertinggi di Jawa Tengah itu masih enggan menunjukkan diri sepenuhnya. Kabut tebal menyelimuti bagian atasnya, hanya sesekali tersingkap sebentar, memperlihatkan tebing-tebing curam yang tampak mengintimidasi.
Gue akan ke sana besok, Tio berjanji pada dirinya sendiri. Gue akan berdiri di titik tertinggi itu.
Tapi untuk sekarang, ia memilih menikmati momen di Puncak Malang. Ia mengeluarkan kamera, merekam pemandangan dari berbagai sudut. Lalu duduk lagi, membuka bekal camilan, dan hanya memandangi langit yang perlahan berubah warna.
---
Tanpa sadar, waktu berlalu. Awan mulai berubah warna—dari putih ke oranye keemasan, lalu perlahan ke ungu kemerahan. Matahari sore menyapa untuk terakhir kalinya sebelum tenggelam di balik cakrawala barat. Tio terpukau. Ia sudah ratusan kali melihat matahari terbenam, tapi setiap kali di gunung, rasanya selalu berbeda. Lebih dramatis. Lebih personal. Seolah alam sedang mementaskan pertunjukan khusus hanya untuknya.
Ia duduk di sana, memandang, tak bergerak. Kamera sudah mati—baterainya habis. Tapi ia tak peduli. Beberapa momen memang tidak perlu didokumentasikan. Cukup disimpan dalam ingatan.
Ia memikirkan banyak hal. Tentang hidupnya di Jakarta, tentang kantor yang ia tinggalkan, tentang orang-orang yang mungkin masih menungguhnya pulang. Tentang keputusan-keputusannya yang kadang membuat orang lain geleng-geleng kepala. Tentang alasan mengapa ia lebih memilih sendiri daripada bersama.
Dan di sanalah, di ketinggian 2.800 meter dengan matahari terbenam di hadapannya, Tio merasa mendapatkan jawaban: Karena di sini, gue nggak perlu jadi siapa-siapa. Gue cuma perlu jadi diri gue sendiri.
---
Cahaya mulai meredup. Langit barat masih menyisakan semburat jingga, tapi timur sudah gelap pekat. Tio tersentak—ia baru sadar sudah terlalu lama duduk di sini.
Sial, udah hampir gelap.
Ia bergegas bangkit, memasang kembali ransel. Turun dari Puncak Malang dalam kondisi gelap adalah ide buruk. Medan bebatuan lepas yang tadi ia lalui akan berbahaya jika tidak terlihat. Ia harus segera mencari lokasi tenda sebelum benar-benar gelap.
Tio bergerak cepat, tapi tetap hati-hati. Jalur turun yang sama, kali ini dalam cahaya senja yang semakin redup. Ia mengandalkan insting dan ingatan visual tentang rute yang tadi ia lalui. Setiap langkah diuji dengan tongkat. Jangan sampai terpeleset. Jangan sampai jatuh.
Sekitar 20 menit berjalan, ia menemukan sebuah cekungan kecil di antara dua batu besar, terlindung dari angin. Tanahnya relatif datar, cukup untuk satu tenda bivak. Di depan cekungan itu, ada pemandangan lepas ke lembah—tapi sekarang hanya gelap yang terlihat.
Ini dia tempatnya.
---
Dengan cahaya headlamp yang mulai redup—baterainya juga perlu diganti—Tio mendirikan tenda dalam waktu singkat. Gerakannya otomatis, sudah ribuan kali ia lakukan. Pasang flysheet, pasang tiang, kaitkan ke tanah dengan patok. Dalam 15 menit, tenda sudah berdiri kokoh.
Ia memasukkan ransel ke dalam, lalu duduk di mulut tenda, mengatur napas. Detak jantungnya sedikit lebih cepat—akibat buru-buru tadi, tapi juga akibat adrenalin karena hampir kehabisan cahaya.
Tio mengeluarkan kompor, memasak mi instan dengan sosis sisa. Makan malam sederhana dalam cahaya headlamp yang ia gantung di atap tenda. Sambil menunggu mi matang, ia menulis di jurnal:
"Hari 2. Puncak Malang tercapai. Tapi terlalu lama nikmatin sunset, hampir kecelek. Untung nemu tempat tenda yang oke. Besok rencana tektok ke puncak Slamet. Semoga cuaca bersahabat. PS: Hari ini nggak liat bayangan aneh. Mungkin kemaren cuma capek."
Setelah makan, ia membersihkan peralatan, menyimpan semua makanan dalam kantong kedap bau—tidak mau menarik perhatian binatang liar. Lalu ia masuk ke tenda, mematikan headlamp, dan berbaring dalam gelap.
Suara angin malam menderu di luar. Tapi di dalam tenda, Tio merasa aman. Kantung tidurnya hangat, matrasnya empuk, tubuhnya lelah. Dalam hitungan menit, ia tertidur.
---
Di luar tenda, angin bertiup kencang membawa kabut dingin. Bulan belum muncul, langit gelap pekat tanpa bintang. Hanya suara angin dan kadang-kadang dahan kering yang patah.
Di kejauhan, di arah Puncak Malang yang baru saja ia tinggalkan, sesosok bayangan berdiri di tepi plato. Menatap ke arah tenda kecil di cekungan bebatuan. Diam. Tak bergerak.
Lalu, perlahan, bayangan itu melangkah maju. Satu langkah. Dua langkah. Menuruni jalur yang tadi dilalui Tio.
Tapi ketika mencapai area bebatuan lepas, bayangan itu berhenti. Berdiri di sana, di tengah jalur, menatap tenda yang mulai diselimuti kabut malam.
Menunggu sesuatu.
Tio tak tahu. Ia tidur nyenyak, memimpikan puncak Slamet yang akan ia taklukkan besok pagi.