NovelToon NovelToon
PENYESALAN SANG PENGUASA

PENYESALAN SANG PENGUASA

Status: sedang berlangsung
Genre:Cinta Seiring Waktu / Romansa / Kaya Raya
Popularitas:2.3k
Nilai: 5
Nama Author: Khusus Game

Sinopsis: Penyesalan Sang Penguasa

Aku terbangun di masa mudaku yang miskin tepat setelah Seeula pergi selamanya dalam penyesalan. Berbekal memori masa depan, aku bertekad membangun kembali kekaisaran bisnisku dari titik nol. Bukan sekadar harta, tujuanku adalah menjadi pria paling layak untuk melindungi istri yang dulu kusia-siakan. Sebelum menjemput cintaku, aku harus memenangkan perang bisnis yang kejam dan menghancurkan para musuh lama. Perjalanan penebusan dosaku dimulai sekarang.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Khusus Game, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Bab 26: Takhta di Atas Bara Pengkhianatan

Aku segera menarik tubuh Seeula ke dalam dekapanku. Aku membiarkan punggungku menjadi tameng tunggal saat angka digital itu menyentuh titik nol. Tidak ada ledakan yang menghancurkan tulang atau api yang melahap kulit. Aku hanya mendengar suara klik yang hampa dari dalam kotak besi yang seharusnya menjadi akhir dari hidup kami.

Keheningan yang menyusul kemudian terasa jauh lebih menyesakkan daripada bunyi ledakan itu sendiri. Aku melepaskan pelukanku perlahan, mendapati Seeula masih memejamkan mata dengan sisa air mata yang membasahi pipinya. Tanganku bergerak menyentuh layar bom yang kini menampilkan satu baris teks singkat berisi kalimat ejekan.

Darah lebih kental dari mesiu. Kalimat itu terpampang jelas, terasa seperti ludah Gautama yang mendarat tepat di wajahku.

"Yansya? Kita masih hidup?" tanyanya dengan nada yang terdengar sangat rapuh.

Aku membantunya berdiri, menuntun langkahnya keluar dari kontainer dengan kewaspadaan yang masih tertanam di kepalaku. Rian berlari mendekat dengan wajah menunjukkan sisa ketakutan yang belum hilang sepenuhnya. Dia memegang tablet yang kini sudah menunjukkan sinyal stabil.

"Gautama sedang menguji mentalmu, Bos. Bom itu hanya gertakan untuk melihat apakah kau benar-benar bersedia mati demi Seeula," lapor Rian sambil memeriksa area sekitar dengan cepat.

Aku tidak membalas ucapannya karena amarah yang membakar dadaku sudah mencapai titik puncak. Gautama menganggap hidup Seeula sebagai mainan untuk eksperimen psikologis yang busuk. Dia ingin membuktikan bahwa aku memiliki kegilaan yang sama dengannya.

"Bawa Seeula ke lokasi aman di sektor selatan. Jangan biarkan dia lepas dari pengawasanmu walau sedetik," perintahku pada Rian dengan nada yang tidak menerima protes.

"Kau mau ke mana lagi? Ini sudah cukup, Yansya!" Seeula menarik lengan jasku, menatapku dengan sorot mata yang dipenuhi kecemasan.

Aku memegang kedua bahunya, berusaha menanamkan keyakinan melalui tatapanku yang tajam. "Aku harus menyelesaikan pengkhianatan ini sampai ke akarnya, Seeula. Jika aku berhenti sekarang, kita hanya akan pindah dari satu sangkar ke sangkar yang lain."

Aku memperhatikan mobil yang membawa Seeula pergi sampai lampu belakangnya menghilang di tikungan jalan. Fokusku kini beralih pada informasi pengkhianat di dalam tim logistik. Pak Gunawan hanyalah bidak yang dikorbankan, namun sosok yang membukakan jalan untuknya adalah ancaman yang jauh lebih nyata di dalam Widowati Group.

Aku memacu mobil menuju kantor pusat di tengah kesunyian malam yang mencekam. Gedung pencakar langit itu berdiri seperti monumen kesombongan di bawah langit gelap. Aku menggunakan lift rahasia yang terhubung langsung ke ruang server utama di lantai tiga puluh dua. Aku tahu ada satu orang yang memiliki akses tanpa batas untuk menghapus jejak digital perusahaan.

Pintu server terbuka. Aku memergoki sosok yang sedang sibuk mengetik barisan perintah di depan monitor besar. Dia tersentak kecil saat merasakan dinginnya ujung senjataku menekan tengkuknya.

"Kau datang lebih cepat dari kalkulasi saya, Yansya," sapa pria itu sambil mengangkat tangan dari keyboard.

Pak Haris, penasihat hukum senior yang selama ini aku posisikan sebagai mentor legalitas, memutar kursinya perlahan. Dia menatapku dengan senyum tipis yang sarat akan cemoohan.

"Jadi kau adalah tikus yang memberikan jalur masuk bagi Gautama?" desisku dengan nada rendah yang menekan.

"Tikus adalah istilah yang sangat dangkal. Saya lebih suka menyebut diri saya sebagai penyeimbang ekosistem. Gautama adalah sejarah, dan kau hanyalah anomali yang mencoba merobohkan struktur yang sudah mapan," sahut Haris dengan nada yang sangat tenang.

"Struktur yang dibangun di atas darah orang tuaku?" aku melangkah maju, memangkas jarak di antara kami.

"Kematian mereka adalah konsekuensi dari idealisme yang tidak realistis. Gautama menawarkan kemitraan, tapi mereka memilih menjadi pahlawan yang tidak berguna. Sekarang, kau punya pilihan yang sama," Haris menjelaskan dengan logika yang sangat dingin.

Aku merasakan dorongan kuat untuk menarik pelatuk itu sekarang juga, namun aku butuh satu informasi terakhir darinya. Haris tidak akan melakukan penghapusan data secepat ini jika tidak memiliki jaminan keselamatan untuk pelarian.

"Beri aku satu alasan kuat kenapa aku tidak boleh mengakhiri hidupmu detik ini juga," tuntutku sembari menekan ujung senjata ke dahinya.

Haris meletakkan sebuah flashdisk di atas meja dengan gerakan yang sangat halus. "Karena di dalam sini ada koordinat pelarian Gautama yang tidak tercatat di radar mana pun. Dia akan meninggalkan kota ini menggunakan jalur udara privat dalam waktu kurang dari satu jam."

Aku memindai isi data itu melalui perangkat milik Rian tanpa mengendurkan kewaspadaan sedikit pun. Daftar bandara swasta di pinggiran kota terpampang jelas di sana. Gautama sedang bersiap untuk melakukan eliminasi jejak sebelum aku sempat melakukan penetrasi lebih dalam ke jaringannya.

"Kau pikir pengkhianatan ini akan menyelamatkan posisimu di perusahaan ini?" tanyaku dengan senyuman yang sangat sinis.

"Kau butuh orang yang mengerti cara membersihkan jejak kotor, Yansya. Kau tidak bisa memerintah dari puncak takhta dengan tangan yang terlalu suci," jawab Haris dengan rasa percaya diri yang meluap.

Aku tidak memberikan kompromi. Aku memberikan isyarat pada tim keamanan yang sudah mengepung ruangan melalui alat komunikasi di telingaku. Dua petugas masuk dan segera melumpuhkan Haris tanpa banyak suara.

"Bawa dia ke sel isolasi. Pastikan dia tidak memiliki kontak dengan dunia luar sampai urusanku selesai," perintahku tegas kepada anak buahku.

Aku segera menghubungi Rian, memerintahkannya untuk mengunci seluruh izin penerbangan di koordinat yang baru saja aku dapatkan. Perburuan ini harus diakhiri sebelum matahari menyentuh ufuk timur.

"Rian, sabotase radar bandara itu sekarang. Jangan biarkan satu mesin pun menyala di landasan pacu," seruku sambil berlari kembali menuju mobil.

"Sistem sudah berada dalam kendali saya, Bos. Jet pribadinya sedang tertahan di apron," lapor Rian dengan nada yang sangat puas.

Aku memacu mobil menembus batas kecepatan menuju bandara swasta di pinggiran kota. Cahaya lampu landasan mulai terlihat dari kejauhan. Sebuah jet pribadi dengan logo singa emas tampak sedang berusaha melakukan manuver, namun mobil-mobil keamananku sudah menutup jalur pergerakannya.

Aku turun dari mobil tepat saat pintu jet itu terbuka. Gautama melangkah keluar dengan wajah yang menyiratkan murka yang luar biasa. Dia menatapku dari atas tangga pesawat sementara pengawalnya bersiap dengan senjata otomatis.

"Kau benar-benar anak yang keras kepala, Yansya! Aku memberimu kesempatan untuk membangun kekaisaran ini bersamaku!" teriak Gautama dengan suara yang memenuhi area landasan.

"Aku lebih memilih menghancurkan kekaisaranmu daripada harus bernapas di bawah bayang-bayang pembunuh orang tuaku!" sahutku sembari mengarahkan senjataku tepat ke arah dadanya.

Gautama tertawa dengan nada yang sangat gila. Dia merogoh saku pakaiannya dan mengeluarkan sebuah remote kecil yang terlihat sangat familiar.

"Kau pikir aku hanya bermain-main dengan kontainer itu? Setiap fondasi Widowati Group sudah saya pasangi peledak. Jika saya jatuh, maka seluruh pencapaianmu akan terkubur bersama saya!" ancam Gautama dengan ibu jari yang sudah menempel di atas tombol.

Aku terdiam, memindai situasi dengan kalkulasi cepat. Jika dia menekan tombol itu, ribuan nyawa di kantor pusat akan melayang dalam sekejap.

"Letakkan benda itu, Gautama. Mari kita bicara tentang bagaimana kau bisa keluar dari sini tanpa harus meledakkan diri," tawarku sembari menurunkan posisi senjataku sedikit untuk memancing egonya.

Gautama menyeringai, merasa sudah memenangkan posisi tawar yang menguntungkan. "Berlututlah sekarang juga. Akui otoritas saya di depan semua orang ini jika kau masih ingin melihat gedung itu berdiri besok pagi!"

Aku menatapnya dengan pandangan yang sangat tenang. Di saat yang sama, tanganku menekan sandi rahasia pada jam tangan untuk mengaktifkan gangguan frekuensi tingkat tinggi dari perangkat milik Rian.

"Aku tidak pernah tunduk pada monster," desisku tepat saat Rian meluncurkan serangan gelombang frekuensi yang membuat remote di tangan Gautama mengeluarkan letupan kecil dan mati total.

Gautama terperangah melihat alat itu tidak berfungsi lagi. Aku tidak memberikan celah sedikit pun. Aku melepaskan tembakan yang menghantam bahu kanannya, membuatnya terjatuh dari tangga pesawat dengan teriakan yang penuh kehinaan. Pasukan keamananku segera merangsek maju dan melumpuhkan sisa pengawalnya dalam waktu singkat.

Aku melangkah mendekati Gautama yang kini tergeletak di aspal, memegangi bahunya yang bersimbah darah. Aku menatapnya dari atas dengan sorot mata yang dingin dan tanpa belas kasihan sedikit pun.

"Sejarahmu sudah selesai, Gautama. Takhta yang kau banggakan itu sekarang berada di bawah kakiku," ucapku dengan otoritas yang mutlak.

Aku menyerahkan penanganan selanjutnya kepada unit kepolisian khusus yang sudah aku koordinasikan sejak awal. Aku berdiri sendirian di tengah landasan pacu, menyaksikan matahari pagi yang mulai muncul membawa babak baru dalam hidupku. Kemenangan ini terasa sangat berat, namun beban di pundakku terasa jauh lebih ringan karena Seeula kini benar-benar aman.

Ponselku bergetar hebat. Sebuah panggilan dari Seeula segera aku jawab dengan napas yang mulai teratur.

"Yansya? Kau selamat? Aku mendengar kabar tentang penangkapan di bandara," tanya Seeula dengan nada yang dipenuhi kelegaan.

"Semuanya sudah beres, Seeula. Aku sedang dalam perjalanan pulang. Siapkan kopi untukku, karena hari ini Widowati Group memiliki pemimpin baru yang tidak akan pernah goyah lagi," jawabku dengan senyuman yang paling tulus.

Aku masuk ke dalam mobil, memutar kemudi menuju arah rumah di mana Seeula sedang menungguku. Namun, saat aku baru saja keluar dari gerbang bandara, sebuah mobil sedan hitam mewah mendadak berhenti tepat di depanku.

Seorang pria dengan setelan jas abu-abu keluar dari mobil itu dan memberikan salam hormat yang sangat formal. Aku belum pernah melihatnya, namun aura otoritas yang dipancarkannya terasa sangat dominan.

"Tuan Yansya, selamat atas eliminasi Gautama. Saya adalah perwakilan dari pihak yang mengawasi stabilitas ekonomi di kota ini," sapa pria itu dengan nada bicara yang sangat terukur.

"Siapa kau? Aku tidak merasa memiliki janji dengan siapa pun pagi ini," jawabku dengan sikap waspada yang tetap terjaga.

"Gautama hanyalah operator lapangan yang gagal menjaga keseimbangan. Anda baru saja menunjukkan kapasitas yang jauh lebih besar. Kami ingin menawarkan kemitraan strategis untuk memperluas jangkauan Widowati Group ke pasar internasional," tawarnya sembari menyodorkan sebuah kartu nama dengan logo perak yang mewah.

Aku menatap kartu nama itu dengan dahi berkerut. Aku sadar bahwa kemenangan atas Gautama hanyalah tiket masuk menuju dunia persaingan yang jauh lebih luas dan berbahaya dari dugaanku.

"Aku tidak butuh mitra untuk mengatur perusahaanku sendiri," balasku tegas.

Pria itu tersenyum tipis, seolah sudah memprediksi reaksiku dengan sangat akurat. "Kami akan menunggu sampai Anda menyadari bahwa memimpin sebuah kota membutuhkan dukungan yang lebih besar daripada sekadar keberuntungan. Sampai jumpa di puncak konstelasi bisnis yang baru, Tuan Yansya."

Aku hanya memperhatikan mobil itu melaju pergi tanpa mengucapkan sepatah kata pun. Aku menarik napas panjang, menyadari bahwa takhta yang baru saja aku daki ini berdiri di atas bara pengkhianatan yang bisa menyala kapan saja. Namun, selama Seeula berada di sisiku, aku siap membakar siapa pun yang mencoba merusak kedamaian kami.

1
ZasNov
Tidak mungkin Yansya datang tanpa persiapan.. 😄
ZasNov
Bagus Yansya, jangan sampai kecolongan lagi. Mereka bisa menggunakan Seeula untuk mengalahkanmu..
ZasNov
Semoga Yansya bisa menepati janjinya..
ZasNov
Seeula pasti lega banget Yansya datang..
ZasNov
Seeula bisa menjadi kelemahan sekaligus kekuatan Yansya. Tapi karena semua lawannya sudah tau kelemahan Yansya adalah Seeula, maka Yansya harus berusaha lebih keras lagi melindungi Seeula..
ZasNov
Yansya ga ada rasa takut sama sekali.. 😄👍
ZasNov
Seeula pasti semakin yakin dan percaya, kalau Yansya memang sedang melindunginya dengan berbagai cara..
ZasNov
Wah berarti kekuasaan Tuan Gautama layak diperhitungkan.. Jangan lengah Yansya, lawanmu kali ini tidak bisa dianggap remeh..
ZasNov
Menghadapi manusia yang jauh lebih berkuasa pun, Yansya sama sekali tidak gentar.. Kereeeenn... 👍
ZasNov
Yansya beneran ga ada takut2nya.. 😖
ZasNov
Seeula pasti merasa sangat dilindungi & di-Ratu-kan sama Yansya.. 😊
ZasNov
Pak Hermawan tidak ada pilihan lain, selain memenuhi permintaan Yansya..
ZasNov
Semangat Yansya, kalahkan mereka semua.. 💪😎
ZasNov
Semoga kali ini Yansya bisa benar2 melindungi Seeula..
ZasNov
Ga bisa nolak tuh kalau udah diancam begitu..
ZasNov
Madam Widowati udah kayak dijatuhkan dari gedung tinggi.. 🤭
ZasNov
Wah keren Yansya, dia datang menyerang dengan senjata rahasia yang tidak terduga.. 😂👍
ZasNov
Madam Widowati salah target ternyata 😂
ZasNov
Ayo tunjukan siapa dirimu Yansya, beri Madam Widowati pelajaran & selamatkan Seeula..
ZasNov
Nah lho, keadaan beneran berbalik. Bukan Pak Hermawan & Adrian lagi yang mengancam Yansya, sekarang Yansya yang menekan Pak Hermawan.. 😎👍
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!