Putri Duke dari Kerajaan Aurelius, Elara Ravens, dikenal sebagai pewaris pedang keluarga. Namun sejak kecil ia selalu kalah dari kembarannya, dan selalu dibandingkan dan dicemooh sebagai kegagalan.
Tanpa menyadari bahwa tubuh Elara menyimpan sihir besar yang pernah meledak saat ia berusia tiga tahun dan kemudian disegel.
Sampai sebuah undangan datang dari Kerajaan sihir, Elara memilih pergi ke akademi sihir dan ingin menaklukkan kekuatan dalam dirinya.
Di sana ia bertemu kembali dengan Aaron Oberyn, Rank 1 akademi dan teman masa kecilnya. Di tengah sistem ranking yang kejam dan tatapan meremehkan, Elara harus membuktikan bahwa ia bukanlah kegagalan atau aib keluarga.
Apakah Elara akan menjadi kesatria pedang atau memilih menjadi penyihir kelak?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Archiemorarty, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
BAB 26. SORAK SORAI
Beberapa hari telah berlalu sejak malam ketika mimpi buruk itu mengguncang tidur Elara Ravens.
Selama beberapa hari itu, Elara beristirahat di kediaman Duke Arram Oberyn. Tubuhnya perlahan pulih dari kelelahan akibat pertempuran melawan monster, sementara Aaron beberapa kali memastikan energi sihir Elara kembali stabil dengan sihir penyembuhan.
Mimpi buruk itu masih kadang terlintas di pikirannya.
Namun Aaron, Daria, dan bahkan Duke Arram memastikan Elara tidak sendirian.
Hari ini akhirnya tiba saatnya kembali ke Akademi Sihir Oberyn.
Kereta keluarga Oberyn berhenti di gerbang akademi yang besar dan megah.
Ketika Elara turun dari kereta bersama Aaron Oberyn, gadis itu langsung terdiam.
Matanya melebar ketika memasuki halaman akademi.
Akademi yang beberapa hari lalu porak-poranda akibat serangan monster, kini terlihat sempurna seperti biasa.
Menara batu berdiri utuh.
Taman-taman kembali rapi.
Bangunan sudah kembali seperti semula.
Jalanan batu bersih tanpa bekas pertempuran.
Seolah tidak pernah terjadi kehancuran sama sekali.
Elara menatap sekeliling dengan tak percaya.
"Ini akademi yang sama yang hancur karena monster kemaren?" tanya Elara.
Aaron berdiri di sampingnya dengan santai. "Ya. Tentu saja. Para profesor menggunakan sihir pemulihan skala besar. Termasuk rekonstruksi struktur."
Elara menatap bangunan itu lagi. "Cepat sekali padahal baru beberapa hari saja."
Aaron tersenyum tipis. "Ini Akademi sihir Oberyn, Lala." Nada suaranya tenang namun penuh kebanggaan. "Salah satu pusat sihir terbaik di kerajaan. Memperbaiki bangunan hancur bukan hal sulit, itulah gunanya sihir."
Elara masih kagum. "Tukang bangunan tidak laku di sini."
Aaron tertawa mendengar celetukan Elara. "Tidak seperti itu juga, Lala. Oberyn tetap membutuhkan tenaga manusia dalam pembangunan. Sihir tidak bisa menangani semua hal."
Tiba-tiba sebuah suara keras memanggil.
"ELARAAAAA?!"
Elara terkejut. Ia menoleh ke arah suara itu.
Dan melihat seorang gadis berambut cokelat berlari ke arahnya dengan wajah hampir menangis.
Evangeline.
"ELARA?!"
Gadis itu langsung berlari dan memeluk Elara erat.
"Syukurlah kau hidup!"
Elara hampir kehilangan keseimbangan karena pelukan mendadak itu.
"E-Eva!"
Evangeline menatapnya dengan mata berkaca-kaca dan berkata, "Aku dengar kau melawan monster! Aku pikir kau terluka parah!"
Elara tersenyum canggung. "Aku baik-baik saja." Ia menepuk punggung temannya. "Student Council datang membantu saat itu."
Evangeline menarik napas lega. "Syukurlah."
Namun kemudian Evangeline mengangkat kepala. Dan melihat seseorang berdiri di samping Elara.
Evangeline langsung membeku melihat orang tersebut.
Itu adalah Aaron Oberyn. Ketua Student Council. Salah satu murid paling dihormati di akademi.
Evangeline menatap Elara.
Lalu Aaron.
Lalu Elara lagi.
"B-bagaimana ..." Evangeline menunjuk Aaron dengan gemetar. "... kau bersama Ketua Student Council?"
Aaron tersenyum ramah. "Halo. Senang bertemu denganmu."
Namun Evangeline justru memeluk Elara lebih erat. Seolah melindungi gadis itu. Tatapannya sedikit waspada.
Aaron mengangkat alis. Ia langsung mengerti. Dan entah kenapa Aaron merasa sedikit kesal.
Karena jelas ... Evangeline bersikap seperti orang yang memiliki Elara.
Aaron tersenyum. Namun di balik senyum itu ada sedikit nada menantang.
"Kau teman Elara?" tanya Aaron.
Evangeline mengangguk. Ia membalas dengan senyum yang sama sopannya. "Ya. Tentu saja. Teman dekatnya."
Nada suara Evangeline sedikit menekankan kata 'teman dekat'.
Aaron menyipitkan mata sedikit. "Begitu. Kalau begitu terima kasih sudah menjaga Elara selama ini."
Evangeline mengangkat dagu sedikit. "Sudah tugas teman. Tentu saja. Apalagi ketika seseorang terlalu sibuk dengan urusan Student Council. Dan tiba-tiba dekat dengan temanku. Mencurigakan."
Aaron tersenyum tipis. "Aku selalu punya waktu untuk orang penting."
Evangeline langsung membalas. "Oh, begitu? Kupikir Ketua Student Council terlalu sibuk untuk urusan pribadi."
Aaron menatap Evangeline. "Tidak untuk Lala. Aku selalu punya waktu untuk dia."
Percakapan itu terdengar sopan. Namun sebenarnya penuh sindiran.
Elara yang berada di tengah mereka hanya berkedip bingung. Ia menatap keduanya bergantian.
"Uh, Eva, ini Aaron. Aku tinggal di kediaman orang tuanya selama di Oberyn."
"Dengar, dia tinggal di rumahku," pamer Aaron, tersenyum menang.
Evangeline menatap tajam Aaron tak terima.
Elara tertawa kecil. "Evangeline ini teman baikku di akademi. Dia banyak membantuku terutama tentang sihirku."
Aaron mengangguk. "Begitu." Ia mengulurkan tangan. "Senang berkenalan."
Evangeline menatap tangan itu sebentar. Lalu menjabatnya.
"Senang berkenalan," sahut Evangeline.
Namun aura di antara mereka jelas ... seperti dua orang saingan. Seolah keduanya ingin menjadi orang yang paling dekat dengan Elara.
Tiba-tiba sebuah suara terdengar dari kejauhan.
"Aaron?!"
Semua menoleh.
Seorang gadis berambut perak berdiri tidak jauh dari sana.
Lunaris Avard. Salah satu anggota Student Council.
"Ketua. Kita punya urusan kesiswaan. Sebentar lagi pengumuman akan diadakan!" beritahu Luna.
Aaron menghela napas pelan dan menjawab, "Baik."
Aaron menoleh ke Elara. Tangannya menepuk pelan kepala gadis itu.
"Sampai nanti. Jangan nakal ya," ucap Aaron. Lalu ia menatap Evangeline. Dan mendengus pelan.
Evangeline langsung membalas dengan tatapan yang sama.
Begitu Aaron pergi Evangeline langsung menarik tangan Elara.
"Ayo!" Evangeline menariknya ke dalam akademi. "Ada pengumuman hari ini!"
Mereka berjalan menuju aula besar akademi.
Hari ini seluruh murid berkumpul di sana.
Begitu Elara masuk ia langsung merasa aneh.
Semua mata tertuju padanya.
Senior.
Junior.
Teman sedivisi.
Semua orang menatapnya.
Elara langsung salah tingkah. "Ada apa?"
Elara menatap Evangeline. Namun sebelum Evangeline menjawab beberapa murid langsung mendekat.
"Itu dia!"
"Elara Ravens!"
"Dia yang melawan monster!"
Elara berkedip. "Eh?"
Tiba-tiba.banyak murid mengerubungi Elara.
Seorang junior berkata dengan mata berbinar. "Kak Elara yang menyelamatkan kami waktu itu!"
Senior lain berkata, "Kami dengar kau melawan banyak monster bersama Student Council!"
"Bagaimana kau tidak takut?!”/"
"Monster itu besar sekali!"
"Berapa banyak monster yang kau kalahkan?!"
Pertanyaan datang bertubi-tubi.
Elara langsung kewalahan. "T-tunggu ..."
Gadis itu bahkan tidak sempat menjawab namun para murid terus bertanya.
"Kau bertarung dengan Troll?"
"Dan Wyvern juga?!"
"Kau hebat sekali!
Elara tertawa gugup. "B-bukan ..."
Namun sebelum ia bisa menjelaskan, tiba-tiba terdengar suara dentingan tongkat di podium.
Semua orang langsung diam.
Di atas panggung berdiri Profesor Garrick berseru, "Semua murid. Silakan duduk!"
Ruangan langsung tenang.
Para murid kembali ke tempat duduk mereka.
Beberapa saat kemudian seorang pria tua dengan jubah panjang berjalan ke podium.
Itu adalah Kepala Akademi Magnus Alderion.
Semua murid langsung berdiri memberi hormat.
Magnus mengangkat tangan. "Duduklah."
Suara kursi bergeser memenuhi aula.
Magnus menatap semua murid dengan serius.
"Pertama-tama," Magnus mulai bicara, "saya dan seluruh profesor Akademi Oberyn ingin menyampaikan permintaan maaf. Penyerangan monster beberapa hari lalu adalah sesuatu yang tidak kami duga. Kami telah menyelidiki kejadian tersebut. Dan kami menemukan bahwa monster-monster itu datang melalui sihir teleportasi massal."
Bisikan langsung terdengar di seluruh aula.
Magnus mengangkat tangan. "Namun kalian tidak perlu khawatir. Sihir perlindungan akademi telah diperkuat. Mulai sekarang tidak ada sihir dari luar yang bisa masuk ke dalam akademi."
Para murid tampak lega.
Magnus kemudian tersenyum sedikit. "Sebagai bentuk apresiasi atas keberanian kalian semua dan permintaan maaf, Akademi akan memberikan poin ekstra untuk seluruh murid."
Aula langsung bersorak kecil.
Namun Magnus belum selesai, ia melanjutkan, "Terutama kepada mereka yang berani melawan monster dan membantu menyelamatkan murid lain."
Magnus menoleh ke arah Student Council yang berdiri di sisi aula. "Para anggota Student Council yang sudah berusaha keras dalam penyerangan itu."
Kemudian Magnus menatap kerumunan murid. "Dan beberapa murid lainnya," tambahnya.
Magnus berhenti sejenak. Lalu berkata dengan suara jelas. "Saya secara khusus ingin berterima kasih kepada dua orang yang membantai monster paling banyak dan menyelamatkan banyak nyawa."
Aula menjadi sunyi.
Magnus melanjutkan, "Leonhart Draven dari Student Council."
Beberapa murid langsung bersorak.
Magnus menatap kerumunan murid.
"Dan... Elara Ravens," ujar Magnus penuh senyum.
Semua orang langsung menoleh ke arah Elara berada.
Elara membeku.
Wajahnya langsung merah padam seketika.
"Eh?!" gadis itu terkejut.
Magnus tersenyum tipis. "Para profesor mengucapkan terima kasih kepada Leonhart Draven dan Elara Ravens karena sudah membantu membantai banyak monster dan menyelamatkan murid dari bahaya. Akademi akan memberikan hadiah terpisah kepada mereka berdua. Dan tambahan poin ekstra untuk Divisi Vanguard."
Divisi Vanguard langsung bersorak keras.
"WOOOO!"
Beberapa murid berdiri sambil bertepuk tangan.
Tepuk tangan memenuhi aula.
Semua orang bersorak untuk Leonhart dan Elara.
Elara menutup wajahnya dengan malu. "Aku ingin menghilang ..."
Namun ketika ia menoleh ia melihat seseorang di sisi aula.
Aaron.
Pria itu berdiri bersama Student Council.
Dan ia sedang menatap Elara.
Dengan senyum hangat.
Senyum yang jelas menunjukkan Aaron bangga pada Elara.
Elara merasakan pipinya semakin panas.
Dan semakin merah ketika mendapati Leonhart tersenyum lebar dan mengacungkan jempol untuk Elara.
Namun sebelum ia sempat berpikir lebih jauh, teman-teman Divisi Vanguard langsung menyerbunya.
"Elara! Kau hebat sekali! Kau menyelamatkan kami!"
Beberapa senior mengacak rambut Elara, yang lain menepuk pundaknya.
"Terima kasih!"
"Kau luar biasa!"
Elara tertawa.
Suasana itu hangat.
Penuh kegembiraan.
Sejak masuk akademi, Elara merasa benar-benar bahagia kali ini dan merasa kalau dirinya memang bagian dari akademi ini.
tapi lucu banget, kebayang Lala ngejar" temen temennya
bukan nya takut malah tambah makin gemes 😜🤣🤣
𝐦𝐚𝐥𝐚𝐡 𝐧𝐲𝐚𝐧𝐲𝐢 𝐥𝐚𝐠𝐮𝐧𝐲𝐚 𝐝𝐩 🤪🤪
menjadi dewasa,dengan beban dan kewajiban yg mengikuti.
bahkan kita sudah lupa kapan terakhir kita bisa tertawa lepas 🥹
panik donk😜🤣🤣
hyper nya 🤣🤣😜
ya anda coba aja rasakan😜