NovelToon NovelToon
Cinta Diruang Trauma

Cinta Diruang Trauma

Status: sedang berlangsung
Genre:Cintapertama / Single Mom
Popularitas:155
Nilai: 5
Nama Author: Anjelisitinjak

Bagaimana rasanya dihancurkan oleh orang-orang yang seharusnya melindungimu? Dari orang tua yang egois hingga 'cinta' yang berujung pada tindak kriminal dan hilangnya kehormatan. Novel ini adalah perjalananku menghadapi kenyataan bahwa dunia tidak pernah adil. Tentang bagaimana berdiri di antara pengkhianatan keluarga dan trauma masa remaja yang merusak harga diri. Saat pintu-pintu baru mulai terbuka, justru ingin lari. Karena tahu, tidak semua yang datang berniat menyembuhkan beberapa mungkin hanya ingin mematahkan apa yang sudah retak.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Anjelisitinjak, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Bagian 24

Keheningan pukul tiga dini hari adalah musuh terbesarku. Suasana kamar yang gelap hanya diterangi lampu tidur yang temaram.

Mama sudah tidak ada di sampingku, mungkin beliau baru saja pindah ke kamarnya sendiri setelah memastikan aku terlelap.

Aku terduduk di atas tempat tidur, memeluk lututku erat-halu.

Rasa sesak itu kembali menghantam, lebih hebat dari tadi malam.

"Nggak, Ma... Mama nggak ngerti," bisikku parau ke arah kegelapan.

Nasihat Mama yang lembut tadi terdengar sangat indah di telinga, tapi pikiranku menolaknya mentah-mentah Logikaku sudah diracuni oleh rasa benci pada diriku sendiri. Di mataku, aku bukan perempuan hebat yang berhasil bangkit.

Aku hanyalah seonggok raga yang sudah cacat.

Bagaimana mungkin aku bisa merasa berguna? Tujuh tahun lalu aku memberikan segalanya pada pria yang akhirnya membuangku. Aku melahirkan dalam kesunyian, menanggung malu sendirian, dan kehilangan anakku tanpa sempat melihatnya tumbuh.

"Aku rusak, Tom... Aku benar-benar rusak," isakku pelan, membenamkan wajah di antara kedua lutut.

Setiap kali bayangan wajah Tomi yang tulus muncul, aku merasa seperti pencuri yang sedang mencoba mencuri kebahagiaan yang bukan hakku.

Pria seperti Tomi pantas mendapatkan wanita yang utuh, yang masa lalunya seputih salju, bukan wanita yang penuh bercak hitam sepertiku.

Aku merasa tidak berharga sama sekali. Gelar manajer, kesuksesan bisnis Papa, pujian dari kolega, semua itu terasa seperti kostum plastik yang murah. Di baliknya, aku hanyalah Hana yang hancur.

Aku meraih ponselku yang tergeletak di nakas. Ada 42 panggilan tak terjawab dari Tomi dan satu pesan terakhir yang dikirim satu jam yang lalu

Tomi: [Han, aku nggak tahu apa yang salah, tapi tolong jangan hukum aku dengan diam. Aku akan nunggu di depan rumah kamu besok pagi. Kita bicara, ya?]

Melihat pesan itu, hatiku makin perih. Dia begitu setia, sementara aku begitu pengecut. Aku ingin sekali berlari memeluknya dan menceritakan semuanya, tapi ketakutan akan penolakan jauh lebih besar daripada keinginanku untuk dicintai.

Aku berjalan lunglai menuju cermin besar di sudut kamar. Dalam remang cahaya, aku menatap diriku sendiri. Wajah sembab, mata merah, dan jiwa yang seolah sudah mati.

"Kamu nggak pantas buat dia, Hana. Berhenti bermimpi," bisikku pada bayanganku sendiri.

Rasa sesak yang membuncah setelah pertemuan dengan Tomi di restoran tadi malam belum juga reda, kini justru ditambah dengan rasa penasaran yang menyakitkan.

Ponsel di tanganku terasa dingin.

Ada belasan notifikasi panggilan tak terjawab dan pesan dari Tomi yang sengaja kuabaikan. Aku mencintainya, aku bersumpah aku mulai menyayanginya dengan cara yang paling tulus yang bisa kuberikan.

Tapi bayang-bayang masa laluku statusku yang pernah melahirkan, tubuhku yang kurasa sudah rusak, dan rahasia besar yang kupendam terasa seperti jeruji besi yang memisahkan kami.

Aku merasa tidak pantas untuk pria sebersih dan sebaik Tomi.

Entah dorongan dari mana, mungkin rasa masokis yang tiba-tiba muncul, jariku bergerak membuka aplikasi biru yang sudah berbulan-bulan tidak kusentuh.

Tempat di mana ribuan kenangan masa kuliahku tersimpan, tempat di mana aku dulu sering mengunggah tawa sebelum badai itu datang.

Tangan ini gemetar saat mengetikkan sebuah nama di kolom pencarian. Nama yang dulu aku puja melebihi logikaku sendiri. Nama yang membuatku rela menentang orang tuaku, mengorbankan masa depanku, dan berakhir dengan kehancuran yang tak bersisa.

Wira.

Hanya butuh beberapa detik sampai profilnya muncul. Foto profilnya sudah berubah. Bukan lagi foto pemandangan atau kutipan bijak yang samar. Di sana, wajahnya terlihat lebih dewasa, namun tetap dengan guratan wajah yang dulu sangat kukenali.

Jantungku berdegup kencang, seolah-olah dia sedang berdiri di depanku sekarang.

Aku menelan ludah, tenggorokanku terasa kering. Dengan sisa keberanian yang kupaksakan, aku mulai menelusuri dinding profilnya. Scroll pertama, scroll kedua... dan tiba-tiba duniaku seolah berhenti berputar.

DEG!

Jantungku rasanya hampir copot. Oksigen di sekitarku mendadak hilang, meninggalkan ruang hampa yang menyesakkan paru-paru. Di sana, terpampang sebuah foto yang diunggah belum lama ini.

Foto Wira yang sedang merangkul mesra seorang wanita cantik. Wanita itu tersenyum lebar, menyandarkan kepalanya di bahu Wira dengan gestur yang sangat intim. Mereka terlihat begitu bahagia, begitu serasi, seolah-olah dunia hanya milik mereka berdua.

Dan caption-nya... caption itu yang benar-benar menghantamku telak tepat di ulu hati.

"Kesayanganku ❤️"

Aku terdiam kaku. Ponsel di tanganku hampir saja jatuh ke lantai.

Sakit! Entahlah, aku tidak bisa menggambarkan rasanya saat ini. Ada rasa panas yang menjalar dari dada hingga ke mata, membuat penglihatanku kabur oleh air mata yang mendadak tumpah.

Rasanya ada sesuatu yang menghantam dadaku lebih keras dari apa pun yang pernah kurasakan sebelumnya. Hancur. Aku merasa duniaku yang baru saja kususun selama enam bulan ini kembali luluh lantak hanya karena satu unggahan foto.

"Enam bulan..."

bisikku parau, suaraku pecah di keheningan kamar.

"Hanya enam bulan, Wira?"

Aku teringat kembali saat kami berdebat ditelfon dan dia mengatakan rindu padaku dia mengatakan begitu mencintaiku .

Dan sekarang? Di foto itu, dia terlihat seolah-olah aku tidak pernah ada dalam sejarah hidupnya. Dia terlihat seolah-olah dia tidak pernah menghancurkan masa muda seorang gadis, tidak pernah membuat seorang ibu kehilangan anaknya dalam kesunyian rumah sakit, dan tidak pernah membiarkanku berjuang sendirian melawan maut saat melahirkan darah dagingnya.

"Kamu pembohong, Wira... kamu bajingan!" tangisku pecah, aku membekap mulutku dengan bantal agar suaraku tidak terdengar oleh Mama ataupun papa.

Betapa tidak adilnya dunia ini. Sementara aku di sini masih bergelut dengan rasa trauma, masih merasa diri ini 'kotor' dan 'rusak' sehingga tidak berani menerima cinta pria sebaik Tomi, Wira justru sudah melangkah pergi dengan ringannya. Dia sudah punya 'kesayangan' baru.

Dia sudah bisa tertawa lepas tanpa beban dosa di pundaknya.

Apakah dia tidak ingat? Apakah dia tidak pernah sedikit pun terbayang wajah bayi kami yang tak sempat menghirup udara dunia? Apakah dia tidak pernah merasa bersalah karena telah merampas kehormatanku dan kemudian membuangku seperti sampah?

Rasa sakit ini bercampur dengan amarah yang meluap-luap.

Aku merasa sangat bodoh karena sempat merasa kasihan padanya enam bulan lalu. Aku merasa sangat naif karena berpikir bahwa setidaknya dia membawa luka yang sama denganku. Ternyata tidak. Baginya, aku hanyalah sebuah bab yang sudah selesai dan dia sudah memulai buku baru yang jauh lebih indah.

Aku kembali menatap foto itu. Wanita itu terlihat sangat 'utuh'. Dia cantik, ceria, dan pastinya tidak punya beban masa lalu sepertiku. Itulah kenapa Wira memilihnya. Itulah kenapa semua pria ingin wanita seperti itu.

Pikiranku kembali melayang pada Tomi. Jika Wira yang pernah menghancurkanku saja bisa dengan mudah menemukan pengganti yang lebih baik, maka Tomi yang sempurna itu juga berhak mendapatkan yang jauh lebih baik dariku. Melihat Wira bahagia dengan wanita lain justru semakin mengukuhkan keyakinanku bahwa aku memang tidak pantas untuk siapa pun.

"Kenapa aku yang harus menanggung semua kerusakannya, Tuhan?"

isakku semakin menjadi.

"Kenapa dia yang bersalah, tapi aku yang dipenjara oleh rasa malu?"

Aku merasa sangat kecil, sangat rendah, dan sangat tidak berguna.

Kesuksesanku sebagai manajer selama enam bulan ini terasa palsu. Itu semua hanya topeng untuk menutupi kenyataan bahwa aku adalah wanita yang sudah hancur. Foto itu adalah bukti nyata bahwa pengorbananku, rasa sakitku, dan kehancuranku tidak berarti apa-apa bagi pria yang pernah kucintai itu.

Malam itu, di pukul tiga dini hari yang dingin, aku tidak hanya menangisi pengkhianatan Wira yang berulang, tapi aku menangisi diriku sendiri yang seolah tidak pernah diizinkan untuk bernapas lega.

Luka tujuh tahun lalu kembali menganga, mengeluarkan darah yang sama perihnya, dan kali ini aku merasa tidak akan pernah bisa sembuh lagi.

Aku mematikan ponselku, melemparnya ke sudut tempat tidur, dan meringkuk dalam kegelapan. Aku merasa sendirian di dunia ini, terjebak di antara masa lalu yang kejam dan masa depan yang terasa mustahil untuk kugapai.

...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...

1
li l
next part thor up jam berapa 🤭
Anjeli: hehe ditunggu ya jangan lupa like dan vote nya🫶😍
total 1 replies
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!