Janu Manggala adalah seorang pemuda polos yang tak menyadari bahwa dirinya memiliki kesaktian Tiada Tanding... Segala jenis pusaka tunduk di hadapannya, ucapannya langsung menjadi kenyataan, dan orang orang yang menunjukan kesaktiannya di mata Janu mereka hanyalah orang gila...
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Abdul Rizqi, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Janu bertemu orang gila lagi
Teriakan Janu yang keras ini membuat semua penghuni danau kecil itu bergetar ketakutan..
"Lupakan, aku akan masuk ke dalam villa kecil ini saja." Ucap Janu yang langsung mengambil tas kecilnya dan berjalan menuju ke arah beranda pondok kecil itu.
"Hmm..." Janu bergumam sambil menganggukan kepalanya, dia terlihat puas dan terkesima dengan eksterior pondok kayu ini.
"Bagus juga ya.. tampak membaur dengan alam! Aku jadi penasaran siapa arsiteknya." Ucap Janu yang menganggumi hal ini.
"Tu... tunggu!" Ucap Janu dengan ekspresi bingung ketika ia mendapati ada hal yang janggal pada saat ini.
"Di mana para pegawai, staf, dan pelayan yang seharusnya bekerja di tempat ini?" Tanya Janu dengan ekspresi bingung.
Ia menggaruk kepalanya dan tolah toleh...
Dia tak melihat ada satu orang pun di sini selain dirinya. "Aneh." Ucap Janu sambil menyipitkan matanya. Dia kemudian mencoba menuju kesamping podok kayu ini, dia juga tak menemukan satu orang pun.
"Di mana semua orang?" Tanya Janu heran. Saat Janu tiba di tempat ini ia hanya menemukan satu orang saja, yaitu seorang kakek tua yang sedang bertapa di luar sana.
"Apakah para stafnya lupa? Atau ini justru bukan hari pembukaan?" Tebak Janu dengan ekspresi aneh.
"Ah... coba masuk ke dalam, siapa tahu ada resepsionisnya." Ucap Janu. Kemudian Janu membuka pintu pondok kayu itu.
"Wow! Bagus juga bagian dalamnya!" Ucap Janu yang terkesan dengan interior bagian dalam pondok kayu ini.
"Tu... tunggu! Ada orang gila?" Tanya Janu sambil memandangi seseorang yang tergeletak di pintu masuk..
Siapa lagi kalau bukan Tarjo.
Janu mencoba untuk membangunkan orang ini, namun Janu membangunkannya dengan menggunakan kaki untuk jaga jaga.
Perlahan Tarjo melebarkan matanya, memandangi sosok pemuda biasa saja namun dalam keadaan super sehat.
Tarjo termenung beberapa detik kemudian dia berteriak keras, "am.. ampun! Jangan bunuh aku!!!" Teriak Tarjo dengan panik, mengagap Janu adalah bagian dari Anomali penghuni pondok kayu ini.
"Waduh..." Janu terlihat menggaruk kepalanya dengan ekspresi sungkan ketika melihat orang gila ini berteriak di dalam pondok kayu..
"Kalau tempat bagus tidak di jaga ya begini, pasti akan ada orang gila yang masuk!" Janu kemudian melewati pintu untuk mengambil kayu.
Dia harus memberikan pelajaran kepada orang gila ini.
Namun saat ini Tarjo termenung kaget, meliha pintu keluar yang terbuka lebar.. menampilkan langit siang di dunia lain ini.
"Hah!" Tarjo sendiri kaget, ia teringat dia ambruk di lorong karena sudah tak kuat berlari. Mengapa dia tiba di pintu keluar.
Dan yang terpenting mengapa pintu keluarnya terbuka dengan sangat mudah?
"Pintu keluar ini adalah kesempatanku untuk keluar dari pondok kayu Anomali ini!" Teriak Tarjo dengan semangat.
Buru buru Tarjo mengangkat tangannya ke atas, kemudian ia berteriak penuh eforia, "hahaha! Akhirnya aku keluar juga!"
"Aku bebaaaa---"
Tung!
Sebuah tongkat kayu menghantam kepala Tarjo.
"A.. aduh! Aduh! Kepalaku.." ucap Tarjo yang memegangi kepalanya sambil merintih kesakitan.
Janu sedikit kaget melihat Tarjo yang masih bisa berdiri.
"Kuat juga ya?" Ucap Janu.
Janu tanpa basa basi lagi langsung menghantamkan kembali tongkat di tangannya ke kepala Tarjo.
Tung!
"Aduuuhhh!!!" Teriak Tarjo sekali lagi.
"Eh... masih belum cukup?" Tanya Janu keheranan melihat orang tua di depannya masih bisa berdiri..
Ketika Janu hendak menghantamkan kembali tongkat kayu yang ia pegang buru buru Tarjo berucap, "tu.. tunggu! Saya masih mau hidup, tolong jangan bunuh saya! Maaf, saya tadi masuk ke pondok kayu ini karena terdesak!" Ucap Tarjo dengan panik.
Sugeng tak jadi menghantamkan tongkatnya, matanya menyipit menatap ke arah Tarjo.
"Mengapa kedengarannya kamu tak seperti orang gila?" Tanya Janu yang menyipitkan matanya memandangi Tarjo.
Orang gila itu cukup sulit untuk mengucapkan kalimat panjang dan runtut. Kalaupun bisa biasanya kalimatnya terdengar aneh.
Namun orang yang ada di depannya ini sangat lancar mengatakan kalimat yang cukup panjang.
Mata Janu melebar, "jangan jangan, dia juga seorang pertapa?" Tebak Janu dalam hatinya dengan panik.
"Waduh, aku baru saja memukuli seorang pertapa." Batin Janu dengan panik.
Sementara itu Tarjo yang menyadari anomali itu tak lagi memukulinya, buru buru Tarjo memohon ampun, "Tuan, ampuni, ampuni saya! Jangan bunuh saya! Maafkan saya karena telah masuk ke dalam pondok kayu tanpa izin!" Ucap Tarjo dengan sangat ketakutan.
Tarjo masih menganggap Janu adalah salah satu anomali dari pondok kayu ini.
Janu merasa sungkan, ia menggaruk kepalanya dan melemparkan kayunya kesamping, "aduh pak, seharusnya aku yang minta maaf. Aku kira kamu adalah orang gila!" Ucap Janu.
"Loh?" Tarjo menjadi sangat kebingungan saat ini, mengapa bagian dari anomali pondok ini meminta maaf kepadanya?
Alhasil keheningan langsung menyelimuti tempat ini beberapa saat.
Tarjo masih kebingungan pada saat ini, memandangi Janu dari atas sampai ke bawah.
Kalau dia anomali.. mengapa dia meminta maaf? Apakah ini bagian dari permainan para Anomali?
Kalau dia manusia mengapa tampak sehat dan bugar? Padahal udara di tempat ini sangat pengap.
Tarjo benar benar kebingungan pada saat ini.
Melihat Tarjo yang hanya diam, membuat Janu merasa sedikit sungkan.
"Pak, siapa nama anda? Aku Janu salam kenal." Ucap Janu.
"Tarjo.." jawab Tarjo singkat, "loh.. kamu manusia beneran toh?" Tanya Tarjo.
Janu meringis aneh, mengapa pertanyaan Tarjo ini sangat tak berbobot?
"Apakah aku terlihat seperti hantu?" Tanya Janu.
Tarjo tersentak kaget ketika mendengar hal ini.
"Aku baru saja tiba di tempat ini Pak Tarjo, itu motorku." Ucap Janu yang menunjuk ke arah motor Anton terparkir.
Tarjo menoleh, melihat benda yang mirip seperti motor, namun sedikit berbeda dengan yang ada di ingatannya masa lalu.
Meskipun begitu Tarjo tahu, mustahil benda tersebut bisa ke tempat ini.
Buru buru Tarjo terhuyung huyung kebelakang dan ambruk ke lantai begitu saja. Dia kembali memasang wajah kebingungan.
Ada banyak sekali pertanyaan di benaknya seperti, siapakah pemuda ini? Mengapa dia bisa masuk ke tempat ini dengan membawa motor?
Dan masih banyak pertanyaan di otaknya.
Janu melihat Tarjo mulai frustasi, dia menjadi sedikit sungkan.
"Waduh, apakah karena aku memukulnya terlalu banyak?" Tanya Janu dalam hatinya.
"Pak Tarjo, anda pucat... sepertinya anda belum makan. Kebetulan aku membawa roti." Ucap Janu yang mengeluarkan sebuah roti dari dalam tasnya.
Tarjo menoleh, ia terkejut melihat roti yang berbau harum berada di depannya.
Seketika itu juga otaknya berhenti untuk berpikir, di gantikan keinginan untuk memakan roti itu.
Namun Tarjo memandangi Janu terlebih dahulu, mencoba untuk melihat ada kenahean dari Janu atau tidak.
Tiba tiba Tarjo menelan ludahnya dengan gugup...