Tagline:
"Ketika Pahlawan jatuh ke Neraka, dia tidak berdoa untuk diselamatkan. Dia bersiap untuk mengambil alih Tahta."
Sinopsis Cerita:
Ye Chen, sang penyelamat Alam Roh Sejati, telah membayar harga termahal demi menyelamatkan dunia dari kehancuran. Akibat memaksakan kekuatan Lima Kunci dan menahan jatuhnya Pulau Langit,
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon hakim2501, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 30: Hujan Meteorit dan Pembantaian Harimau Salju
Suara tamparan itu masih terngiang di udara, mengalahkan riuhnya pelabuhan Kota Bintang Jatuh.
Hu Lei, jenius kebanggaan Klan Harimau Salju yang berada di Dewa Fana Tingkat 5, terkapar di tanah dengan wajah membengkak sebesar labu. Darah segar menetes dari sudut bibirnya yang robek. Dia mencoba bangkit, tapi pandangannya berputar. Otaknya serasa baru saja dihantam godam besi.
Para pengikut Klan Harimau Salju akhirnya tersadar dari keterkejutan mereka.
"T-Tuan Muda!" Mereka berlari mengerumuni Hu Lei, mengangkatnya dengan panik. Beberapa dari mereka menatap Ye Chen dengan tatapan membunuh, namun kaki mereka gemetar.
Mereka tahu betul seberapa kuat fisik Hu Lei yang berlatih Teknik Tubuh Harimau Es. Tapi pemuda berjubah hitam itu menghancurkan pertahanannya hanya dengan ayunan punggung tangan biasa? Tanpa Qi Dewa sedikit pun?
"K-Kau... Keparat..." Hu Lei meludah darah, menunjuk Ye Chen dengan tangan gemetar. "Beraninya kau... menyerangku dari belakang! Ini belum selesai! Di arena nanti, aku akan mencabik-cabikmu!"
Ye Chen bahkan tidak menoleh ke arahnya. Dia sedang melihat kuku tangannya dengan ekspresi bosan.
"Bawa anjing kalian pergi sebelum aku memutuskan untuk mematahkan kakinya juga," kata Ye Chen datar.
Para pengikut itu menggertakkan gigi, tapi mereka tidak berani mengambil risiko. Mereka menggotong Hu Lei dan bergegas menjauh menuju area medis, meninggalkan tatapan ribuan peserta yang kini beralih pada Ye Chen dan rombongan Klan Pedang Perak.
Yin Yue menghela napas panjang, mencoba menenangkan jantungnya yang berdegup kencang. "Tuan Ye... Anda benar-benar tidak suka membuang waktu, ya?"
"Jika kau membiarkan serangga berdengung di telingamu terlalu lama, mereka akan berpikir bahwa mereka adalah elang," jawab Ye Chen. "Ayo daftar. Aku tidak ingin membuang waktu."
Mereka berjalan ke meja pendaftaran. Petugas dari Sekte Bintang Jatuh menatap Ye Chen dengan pandangan baru. Dia mencatat kultivasi Ye Chen sebagai Dewa Fana Tingkat 4 Puncak, tapi dia memberi tanda bintang merah di samping nama Ye Chen—tanda bahwa peserta ini sangat berbahaya.
Satu Jam Kemudian. Kawah Pusat Kota Bintang Jatuh.
Turnamen ini tidak diadakan di arena buatan, melainkan langsung di dasar kawah meteorit raksasa yang menjadi jantung kota. Di sekeliling kawah, tribun batu hitam dipenuhi oleh jutaan penonton. Di udara, melayang pulau-pulau kecil tempat para Tetua dari Sekte Bintang Jatuh duduk mengawasi.
Di tengah kawah, seratus ribu peserta dari berbagai klan dan kota di wilayah utara telah berkumpul.
Seorang pria tua dengan jubah hitam yang disulam dengan pola rasi bintang melayang turun dari pulau tertinggi. Auranya begitu menindas hingga membuat langit di atas kawah menjadi gelap.
Tetua Xing Kuang (Bintang Gila). Tingkat Kultivasi: Dewa Sejati (True God) Tingkat 1!
Ini adalah pertama kalinya Ye Chen merasakan langsung aura seorang Dewa Sejati di Alam Dewa Kuno. Berbeda dengan Dewa Fana, seorang Dewa Sejati telah menguasai satu hukum alam secara utuh. Napas Tetua Xing Kuang seolah terhubung dengan bintang-bintang di angkasa.
"Dengar baik-baik, anak-anak anjing!" suara Tetua Xing Kuang menggelegar, memekakkan telinga. "Turnamen Pertarungan Bintang bukan tempat untuk pengecut. Dari seratus ribu peserta di sini, hanya Seribu Orang yang akan lolos ke babak selanjutnya!"
Kerumunan langsung berdengung. Mengeliminasi sembilan puluh sembilan ribu orang di babak pertama?
"Babak Pertama: Hujan Bintang Patah (Broken Star Rain)!"
Tetua Xing Kuang mengangkat tangannya tinggi-tinggi ke angkasa.
WUUUUUNG!
Langit siang tiba-tiba menjadi segelap malam. Formasi raksasa di atas kota aktif. Dan dari dalam formasi itu, bongkahan-bongkahan batu meteorit yang terbakar api biru mulai bermunculan.
"Kalian memiliki waktu satu batang dupa! Bertahanlah di dalam kawah ini! Siapapun yang keluar dari batas kawah, menggunakan jimat pelindung, atau hancur menjadi daging cincang... akan tereliminasi!"
"MULAI!"
Tetua Xing Kuang menurunkan tangannya.
SWUSH! SWUSH! SWUSH!
Ribuan meteorit api biru seukuran kereta kuda jatuh menghujani kawah seperti kiamat.
"Bertahan!" teriak para peserta. Berbagai warna Qi Dewa meledak di seluruh arena saat seratus ribu kultivator mati-matian membentuk perisai energi.
BLARR! BLARR! BLARR!
Ledakan beruntun terjadi di mana-mana. Meteor-meteor itu tidak hanya berat, tapi mengandung Api Bintang yang bisa melelehkan pertahanan Dewa Fana Tingkat 3 ke bawah dalam sekejap.
Terdengar jeritan pilu saat ratusan peserta langsung hangus terbakar atau tertimpa batu pada detik pertama. Banyak yang langsung melarikan diri ke luar batas kawah untuk menyelamatkan nyawa.
Di tengah kekacauan itu, Yin Yue dan Yin Xue berdiri saling membelakangi. Mereka menyalurkan Qi Es mereka untuk membentuk kubah kristal salju.
Namun, meteor api biru yang jatuh terlalu banyak. Kubah mereka mulai retak di bawah suhu ekstrem.
"Kakak, aku tidak bisa menahannya lagi!" Yin Xue pucat pasi.
Tepat saat sebuah meteor raksasa hendak menghantam tepat di atas kepala mereka...
Sebuah sosok berjubah hitam melesat ke atas, berdiri di atas kubah es mereka.
Ye Chen.
Dia tidak repot-repot membuat perisai Qi. Dia hanya mendongak, menatap meteor yang jatuh, dan menarik tangan kanannya ke belakang.
Tubuh Guntur Asura: Tinju Penghancur Bintang!
BOOOOOM!
Tinju Ye Chen menghantam meteor yang sedang jatuh itu.
Batu angkasa seberat puluhan ton yang terbakar api biru itu... meledak hancur menjadi debu halus di udara.
Yin Yue dan Yin Xue ternganga melihat hujan debu batu yang jatuh dengan aman di sekitar mereka. Ye Chen tidak hanya menahannya, dia menghancurkannya murni dengan kekuatan otot!
"Fokuskan Qi kalian untuk memulihkan diri," suara Ye Chen terdengar tenang dari atas. "Biar aku yang menjadi payung kalian."
Ye Chen bergerak seperti dewa iblis di atas mereka. Setiap meteor yang mendekat dalam radius sepuluh meter dihancurkannya dengan pukulan, tendangan, atau bahkan tamparan kasual. Tulang Emas Gelap-nya sama sekali tidak tergores oleh api bintang tersebut.
Bagi orang lain ini adalah bencana, tapi bagi Ye Chen, ini adalah latihan peregangan.
Namun, kedamaian kecil mereka menarik perhatian yang tidak diinginkan.
Dari balik kepulan asap dan ledakan di sisi kanan, sekelompok orang menerobos masuk.
Hu Lei, yang wajahnya telah disembuhkan secara paksa menggunakan pil tingkat dewa, memimpin dua puluh elit Klan Harimau Salju. Matanya merah menyala penuh dendam.
Mereka menggunakan formasi perisai gabungan berbentuk harimau raksasa untuk menahan meteor, sambil bergerak langsung menuju posisi Klan Pedang Perak.
"Ye Chen! Kau pikir kau bisa bersembunyi menjadi pahlawan di sini?!" raung Hu Lei. "Di tengah kekacauan ini, jika kalian mati tertimpa batu, tidak ada yang akan menyalahkan Klan Harimau Salju!"
Hu Lei memberi isyarat. "Hancurkan kubah es mereka! Biarkan meteor membakar para pelacur itu, dan aku yang akan memenggal kepalanya!"
Dua puluh elit Dewa Fana Tingkat 4 dan 5 menyerang serentak, melepaskan cakar-cakar es ke arah Yin Yue dan Yin Xue.
Ye Chen menendang hancur satu meteor lagi, lalu mendarat di tanah di depan kedua gadis itu.
Dia menatap Hu Lei dan pasukannya yang menerjang.
"Aku mengampunimu di pelabuhan karena aku tidak ingin mengotori tanganku sebelum mendaftar," kata Ye Chen, suaranya sedingin dasar neraka. "Tapi sepertinya, anjing tidak akan mengerti bahasa manusia jika belum dipukul kepalanya."
Ye Chen mencabut pedang besar dari punggungnya. Kali ini, dia tidak menggunakan ilusi untuk menyembunyikannya.
Pedang Naga Langit terekspos dalam wujud aslinya yang berwarna abu-abu metalik berat.
"Kalian mencari mati? Aku akan mengantarkannya."
Teknik Pedang Asura: Sapuan Kematian Absolut!
Ye Chen tidak menggunakan pedangnya untuk menangkis. Dia menebas secara horizontal dengan kekuatan penuh, membiarkan beban ribuan kilogram dan Niat Pedang yang ganas meledak keluar.
SHIIIIING!
Gelombang energi pedang hitam-perak melesat, membelah debu dan api di kawah itu.
Formasi perisai harimau milik musuh? Terbelah seperti kertas basah.
Senjata elit Klan Harimau Salju? Hancur menjadi serpihan logam.
Gelombang itu terus melaju tanpa ampun.
CRASS! CRASS! CRASS!
Dua puluh elit Klan Harimau Salju terpotong menjadi dua bagian dari pinggang. Tubuh mereka bahkan tidak sempat jatuh ke tanah sebelum meteor-meteor dari atas menghanguskan sisa-sisa mereka menjadi abu.
Hanya Hu Lei yang tersisa berdiri di belakang, matanya membelalak lebar, otaknya gagal memproses apa yang baru saja dia lihat.
Dua puluh elit klannya... dimusnahkan dalam satu detik?
Ye Chen tidak berhenti. Langkah Naga Awan membawanya muncul tepat di depan Hu Lei.
"K-Kau... Setan..." Hu Lei gemetar, menjatuhkan kapaknya.
"Di kehidupan selanjutnya, jangan menggonggong pada Asura," bisik Ye Chen.
Ye Chen mengayunkan pedangnya ke atas.
SPLAT!
Tubuh Hu Lei terbelah vertikal. Darahnya menyembur ke udara.
Ye Chen mengibaskan pedangnya, membersihkan sisa darah, lalu menyarungkannya kembali ke punggungnya. Dia berdiri tegak di tengah hujan meteorit, tidak tersentuh oleh api maupun kematian.
Di atas pulau terapung, Tetua Xing Kuang yang sedang mengawasi jalannya ujian tiba-tiba mencondongkan tubuhnya ke depan. Matanya yang tua dan tajam terpaku pada sosok Ye Chen.
"Fisik yang melampaui batas Dewa Fana... Niat Pedang yang mengandung hukum kehancuran... Siapa anak ini?" Tetua Xing Kuang bergumam, senyum antusias mulai terbentuk di wajahnya. "Sepertinya turnamen kali ini akhirnya menemukan monster yang sesungguhnya."
Waktu satu batang dupa akhirnya habis.
Hujan meteor berhenti. Langit kembali cerah.
Dari seratus ribu peserta, hanya tersisa seribu orang yang berdiri terengah-engah, berlumuran debu dan darah. Dan di antara mereka, Ye Chen berdiri tegak tanpa segores luka pun, seperti dewa perang yang turun ke dunia fana.
Turnamen baru saja dimulai.
(Akhir Bab 30)