Satu tahun yang lalu, sebuah rahasia besar diletakkan di depan pagar rumah Arsenio Wijaya dalam sebuah keranjang bayi di bawah guyuran hujan badai. Tanpa identitas, bayi itu menjadi bagian dari hidup Arsen dan istrinya, Rosa, yang mereka rawat dengan penuh kasih sayang dan diberi nama Arlo.
Namun, kebahagiaan mereka terusik ketika Hadi Pramono, seorang pengusaha kejam dan berkuasa, muncul mengklaim Arlo sebagai hak biologisnya. Keadaan semakin keruh saat terungkap bahwa ibu kandung bayi itu adalah Laras, mantan kekasih Arsen yang dulu menghilang secara misterius dan meninggalkannya dalam depresi berat.
Fitnah keji mulai disebar. Hadi menuduh Arlo adalah hasil perselingkuhan gelap antara Arsen dan Laras. Di tengah tekanan publik dan ancaman fisik, Rosa yang sedang hamil muda harus berjuang antara kepercayaan pada sang suami atau kenyataan pahit masa lalu.
Dibantu oleh Dana, kakaknya yang merupakan perwira militer tegas, dan Rendy, pengacara jenius, Arsen berdiri di garis depan.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Dinna Wullan, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
SAKSI BISU DI BAWAH HUJAN
Suasana ruang tamu yang tadinya tegang dan kaku seketika mencair saat pintu samping terbuka. Salsa, adik bungsu Arsen, masuk dengan tas ransel yang masih tersampir di satu bahunya. Ia tampak lelah setelah seharian di kampus, namun wajahnya langsung ceria saat melihat Arlo yang berjalan tertatih-tatih ke arahnya dengan tangan terentang.
"Halo, Jagoan! Kangen ya sama Tante?" seru Salsa sambil melempar tasnya ke sofa dan segera menggendong Arlo. Ia menciumi pipi gembul Arlo sampai bocah itu tertawa kegirangan, memecah kesunyian rumah yang mencekam.
Salsa kemudian menyadari kehadiran Dana yang masih berseragam lengkap, juga Dito dan Rendy yang wajahnya terlihat sangat serius. Ia menghentikan tawanya dan menatap Arsen dengan bingung.
"Kenapa nih? Tumben Mas Dana pulang jam segini pakai seragam lengkap? Mas Dito sama Mas Rendy juga ada di sini. Kayak lagi rapat kabinet aja," ucap Salsa sambil menimang Arlo. "Terus Mbak Rosa mana? Kok sepi banget?"
Arsen menghela napas, mencoba mengatur nada suaranya agar tidak menakuti adik bungsunya. "Mbak Rosa lagi istirahat di kamar, Sa. Dia lagi kurang sehat."
Salsa mengernyitkan kening, instingnya sebagai perempuan langsung menangkap ada yang tidak beres. "Mbak Rosa sakit? Sakit apa? Tadi aku lihat di depan banyak banget penjagaan, nggak kayak biasanya. Ada masalah ya?"
Dana berdehem, memberikan kode pada Arsen untuk tidak menceritakan semuanya sekaligus agar Salsa tidak ikut panik. Namun, Salsa bukan anak kecil lagi. Melihat raut wajah kakak-kakaknya, ia tahu ini urusan besar.
"Sa, untuk beberapa hari ke depan, Mbak Rosa sama Arlo bakal tinggal di sini dulu," ucap Arsen tenang. "Tolong temani Mbak Rosa ya kalau Mas nggak ada. Dia lagi hamil, jadi nggak boleh stres sama sekali."
Mata Salsa membulat sempurna. "Hamil?! Serius Mas? Wah, Arlo mau punya adek!" Salsa hampir saja berteriak kegirangan kalau tidak melihat tatapan tajam Dana. Ia menurunkan suaranya, "Tapi... kenapa harus dijaga ketat banget? Siapa yang cari masalah sama kita?"
Salsa mendekap Arlo lebih erat, seolah merasakan ketegangan yang menyelimuti rumah itu. Ia menatap kakak-kakaknya bergantian, menunggu jawaban jujur.
Arsen menghela napas panjang, menatap Salsa dengan serius. "Sa, dengar baik-baik. Ada pria namanya Hadi Pramono. Dia merasa punya hak atas Arlo dan sekarang dia lagi teror keluarga kita. Mbak Rosa pingsan tadi karena dia datang ke rumah. Jadi, Mas minta tolong banget, jangan biarkan Mbak Rosa pegang HP atau dengar berita apa pun. Jaga dia di dalam kamar saja."
Salsa yang tadinya ceria langsung terdiam. Ia mengeratkan pelukannya pada Arlo, wajahnya berubah tegang. "Jadi pria itu yang bikin Mbak Rosa drop? Oke, Mas. Salsa nggak akan lepasin Mbak Rosa sama Arlo."
Baru saja Arsen selesai bicara, Dito yang sedang memegang remote TV tiba-tiba mengeraskan volume suara. "Sen! Lihat ini! Bajingan itu beneran main kotor!"
Layar televisi di ruang tamu itu menampilkan tayangan berita mendadak. Di sana, Hadi Pramono berdiri di balik podium dengan wajah yang dibuat seolah-olah sangat sedih dan terzalimi, dikelilingi oleh banyak wartawan.
"Saya hanya seorang ayah yang sedang mencari keadilan," ucap Hadi di depan kamera. "Anak kandung saya telah dibawa dan disembunyikan oleh seorang oknum pengacara bernama Arsenio Wijaya. Saya punya bukti dokumen kelahiran yang sah. Saya sudah mencoba datang baik-baik ke rumahnya, namun saya justru diusir dan diancam. Saya memohon kepada pihak berwajib untuk membantu saya menjemput darah daging saya sendiri yang selama ini dipisahkan dari saya."
Dana yang melihat itu langsung berdiri, tangannya mengepal hingga buku-buku jarinya memutih. "Dia menggunakan media untuk menggiring opini publik? Dia mau bikin karakter kamu hancur, Sen!"
Rendy segera mengeluarkan ponselnya, jemarinya bergerak cepat. "Ini bahaya. Dia memutarbalikkan fakta. Dia nggak nyebutin kalau istrinya sendiri yang membuang bayi itu karena takut sama dia. Dia cuma mau terlihat jadi korban di mata masyarakat."
Salsa menutup mulutnya dengan tangan, matanya berkaca-kaca melihat berita itu. "Mas, kalau Mbak Rosa lihat ini, dia pasti bakal makin drop..."
Dana berdiri membelakangi mereka semua, menatap tajam ke arah TV yang masih menampilkan wajah munafik Hadi Pramono. Ia langsung menempelkan ponsel ke telinganya, menghubungi tim humas dan intelijen di satuannya.
"Halo? Iya, saya Dana. Saya mau kalian amankan ruang publik sekarang," suara Dana terdengar rendah namun penuh otoritas militer yang tidak bisa dibantah. "Hadi Pramono baru saja menyebarkan kebohongan di TV. Kami punya bukti CCTV asli saat anak itu dibuang di depan pintu rumah Arsenio Wijaya setahun yang lalu. Di situ jelas terlihat kondisi hujan deras dan bagaimana anak itu ditinggalkan begitu saja tanpa perlindungan."
Dana terdiam sejenak mendengarkan jawaban di seberang telepon, matanya melirik ke arah Arlo yang sedang bermain dengan kancing seragam Salsa.
"Saya mau bukti itu diverifikasi secara resmi dan segera siapkan rilis tandingan. Jangan biarkan opini publik hanya dipegang satu pihak. Serang balik dengan fakta penelantaran anak. Jika dia bilang dia ayah yang mencari keadilan, tanyakan ke mana dia saat anaknya hampir mati kedinginan di depan pagar rumah orang lain," tegas Dana sebelum mematikan telepon.
Arsen menatap kakaknya dengan rasa terima kasih yang dalam. "Mas, CCTV itu... aku hampir lupa kalau kita masih simpan rekaman malam itu."
"Gue selalu minta lo simpan setiap bukti, Sen. Gue tahu orang sejenis Hadi nggak akan main bersih," jawab Dana sambil berbalik. "Rendy, lo siapkan pasal penelantaran anak dan pasal perbuatan tidak menyenangkan. Gue akan pastikan media yang tadi dukung Hadi mulai mikir dua kali kalau nggak mau kena masalah hukum karena menyebarkan fitnah."
Salsa yang melihat ketegasan kakak-kakaknya langsung membawa Arlo menjauh dari ruang TV. "Aku bawa Arlo ke kamar Mbak Rosa ya. TV di sana udah aku cabut kabelnya biar Mbak Rosa nggak nggak sengaja lihat."
Namun, di tengah rencana serangan balik itu, ponsel Arsen kembali bergetar. Sebuah pesan masuk dari nomor yang tidak dikenal:
"Sembunyikan mereka sesukamu di komplek militer, Arsen. Tapi ingat, pengadilan publik dan hukum tetap ada di tanganku. Serahkan anak itu atau istrimu yang sedang hamil tidak akan pernah merasa tenang."
Arsen meremas ponselnya hingga layarnya retak. Hadi sudah tahu tentang kehamilan Rosa.
Di dalam kamar yang luas dan tenang, suasana terasa begitu kontras dengan ketegangan yang terjadi di ruang tamu. Rosa berbaring di tempat tidur dengan bantal yang ditumpuk tinggi, sementara Ibu Arsen duduk di sampingnya sambil mengusap lembut punggung tangan menantunya itu.
Ayah Arsen berdiri di dekat jendela yang gordennya tertutup rapat, sesekali melirik keluar untuk memastikan keamanan, namun raut wajahnya berubah lembut saat menoleh ke arah Rosa.
"Sudah, Ros. Jangan dipikirkan lagi. Kamu sekarang tidak sendiri, ada nyawa kecil yang harus kamu jaga," ucap Ibu Arsen dengan suara keibuan yang sangat menenangkan. "Di rumah ini, tidak ada satu orang pun yang bisa menyentuh kamu atau Arlo. Ayah dan Mas Dana sudah mengatur semuanya."
Salsa masuk dengan perlahan sambil menggendong Arlo yang sudah tampak mengantuk. Ia duduk di pinggir tempat tidur, membiarkan Arlo merangkak kecil menuju pelukan Rosa.
"Mbak, lihat nih Arlo kangen," ucap Salsa sambil tersenyum manis, berusaha sekuat tenaga menutupi kecemasannya setelah melihat berita di TV tadi. "Tadi di luar Arlo pinter banget, nggak rewel. Kayaknya dia tahu kalau mau jadi Kakak ya, Arlo?"
Rosa tersenyum tipis, meski matanya masih terlihat sembab. Ia mendekap Arlo erat-erat, menghirup aroma bayi yang selalu menjadi obat penenang baginya. "Terima kasih ya, Yah, Bu, Salsa... Aku nggak tahu harus gimana kalau nggak ada kalian."
"Tugas kita sebagai keluarga adalah saling melindungi, Rosa," sahut Ayah Arsen dengan nada tegas namun penuh kasih. "Arlo itu cucu Ayah. Siapa pun yang berani mengaku-ngaku tapi dulu menelantarkannya, harus berhadapan dengan Ayah dulu."
Salsa diam-diam mematikan ponsel Rosa yang tergeletak di nakas dan menyimpannya di dalam laci, memastikan tidak ada satu pun notifikasi atau berita dari luar yang bisa masuk dan merusak ketenangan Mbak iparnya itu.