NovelToon NovelToon
Kamu Selingkuh Kunikahi Abang Angkatmu

Kamu Selingkuh Kunikahi Abang Angkatmu

Status: sedang berlangsung
Genre:Balas Dendam / Selingkuh / Orang Disabilitas
Popularitas:3k
Nilai: 5
Nama Author: Mila julia

Di hari pernikahannya, Vaelora Morwene ditinggalkan Elvino Morrix tanpa penjelasan. Hancur, malu, dan dipermalukan, ia membuat keputusan nekat—menikah dengan Devon Ashakar, mantan kekasihnya… yang ternyata adalah abang angkat Elvino.
Namun Devon bukan lagi pria yang dulu. Sebuah kecelakaan membuatnya hidup dalam tubuh pria dewasa dengan jiwa anak kecil. Tanpa Vaelora sadari, pernikahan ini justru menyeretnya ke dalam keluarga penuh rahasia dan perjanjian gelap.
Apakah Vaelora akan menemukan cinta… atau justru neraka?
Bisakah Devon sembuh?
Dan rahasia apa yang sebenarnya disembunyikan keluarga Morrix?

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Mila julia, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Bab 11.Misi Devon

Namun kepala pelayan belum selesai.

“Tapi status anak angkat dan pewaris yang didapatkan Tuan Devon bukanlah tanpa syarat.”

Lora langsung mengerutkan kening.

“Ada perjanjian rahasia antara Tuan Devon dan almarhum pimpinan. Perjanjian tersebut dibuat secara tertulis dan disimpan oleh notaris keluarga.”

Suasana meja mendadak terasa lebih berat.

“Perjanjian itu berisi kewajiban yang harus dipenuhi Tuan Devon sebagai imbal balik atas status dan warisan tersebut.”

Lora menelan ludah.

“Dan karena Tuan Devon dalam keadaan seperti ini sekarang,” lanjut kepala pelayan dengan hati-hati, “maka secara hukum kewajiban itu dapat dialihkan kepada istrinya sebagai pendamping sah dan kuasa hukum keluarga.”

Tatapan Lora menajam.

“Jika Nona sebagai istri tidak bersedia menjalankan isi perjanjian tersebut, maka sesuai klausul yang telah disepakati, seluruh harta pribadi yang diwariskan dapat dialihkan menjadi dana hibah dan didonasikan melalui yayasan yang telah ditentukan almarhum.”

Seketika mata Lora langsung membulat sempurna ketika mendengar bahwa tanggung jawab perjanjian itu kini berada di pundaknya.

“Aku?….” ucap Lora, menunjuk dirinya sendiri, suaranya nyaris tercekat.

Kepala pelayan menunduk hormat sebelum kembali berbicara dengan tenang namun tegas.

“Pimpinan memberikan waktu hanya satu tahun kepada Tuan Devon setelah kematiannya. Dan ini sudah menginjak enam bulan sejak kepergian pimpinan, tetapi belum ada kemajuan sama sekali pada kondisi Tuan Devon. Itu artinya, jika Nona masih ingin memiliki semua harta yang diwariskan itu menjadi mutlak milik Nona dan Tuan Devon, maka Nona harus menyelesaikan misi yang telah disetujui oleh Tuan Devon dan pimpinan.”

Lora menggeleng pelan, napasnya memburu.

“Nggak… nggak boleh. Aku harus tetap kaya untuk membalaskan dendamku kepada Vino dan Vely.” Suaranya terdengar bergetar, antara panik dan tamak yang tak bisa ia pungkiri. “Katakan, perjanjian rahasia apa yang disepakati Devon dan pimpinan? Dan misi apa yang harus aku lakukan?” tanyanya, menatap kepala pelayan itu dengan sorot mata tajam.

Kepala pelayan membuka lembar terakhir dari map hitamnya.

“Dalam perjanjian rahasia antara Tuan Devon dan pimpinan, pimpinan mengangkat Devon sebagai anaknya dengan syarat Devon harus bisa mengungkap kematian anak kandungnya yang diduga dibunuh oleh Nona Sinta dan Tuan Donni di New York saat ia menempuh pendidikan seni di sana.”

Lora terdiam. Jantungnya berdetak lebih cepat.

“Bukankah anak kandung Tuan Martanus dikabarkan meninggal bunuh diri di sana?” tanyanya pelan. Ia pernah membaca artikel tentang kematian putri kandung pimpinan yang ditemukan overdosis di apartemennya di New York, dengan dugaan kuat bunuh diri.

Kepala pelayan mengeluarkan sebuah foto dan menyerahkannya kepada Lora.

Di dalam foto itu terlihat Donni dan Sinta berdiri tidak jauh dari apartemen mendiang putri Martanus pada malam kejadian.

“Awalnya pimpinan mencoba menerima fakta tersebut,” jelas kepala pelayan. “Namun setelah beberapa bulan kepergian mendiang putrinya, beliau mengirim orang kepercayaan untuk menyelidiki kembali. Orang itu mendapatkan potret dua orang ini berada di lokasi pada malam kematian putri pimpinan.Padahal saat itu harusnya mereka berdua berada di Tiongkok untuk mengurus cabang perusahaan di sana .”

Lora menatap foto itu lama.

“Tapi apa tujuan mereka melakukan itu?” tanyanya, suaranya lebih rendah.

“Agar seluruh harta pimpinan nantinya jatuh ke tangan mereka. Karena jika mendiang putri pimpinan hidup, kepemilikan harta Martanus akan sepenuhnya berada di tangan anak kandungnya. Mereka berdua hanyalah anak tiri Tuan Martanus. Mereka merasa terancam, maka mereka melakukan itu kepada mendiang.”

Udara di sekeliling Lora terasa menekan.

"Jika mereka berani membunuh anak kandung Martanus… berarti sangat mungkin kecelakaan Devon juga ada kaitannya dengan mereka."

“Aku juga merasa seperti itu,” lanjut kepala pelayan pelan. “Mengingat kecelakaan Tuan Devon terjadi beberapa bulan setelah kematian pimpinan Martanus dan setelah diumumkan bahwa Devon adalah pewaris resmi yang ditunjuk dalam wasiat untuk menjadi ahli waris seluruh harta, aset, serta sahamnya.”

Lora mengepalkan tangannya kuat-kuat.

“Ternyata mereka benar-benar parasit. Pantas saja pimpinan tidak memberikan sepeser hartanya kepada mereka.”

Di tengah ketegangan itu, suara polos tiba-tiba memecah suasana.

“Queen, aaaa….”

Devon menyodorkan sepotong paha ayam panggang ke arah mulut Lora, wajahnya berseri-seri tanpa sedikit pun mengerti betapa gelap percakapan yang baru saja terjadi.

Lora menatapnya. Matanya mulai berkaca-kaca.

Ia membuka mulutnya perlahan, menerima suapan itu.

“Enak kan, Queen? Epon nggak pernah makan ini di rumah. Makasih ya, Queen udah bawa Epon ke sini. Epon seneng banget.”

Devon tertawa kecil, lalu kembali menyantap makanannya dengan lahap.

Hati Lora runtuh seketika.

Enam bulan.

Enam bulan laki-laki yang memiliki puluhan triliun rupiah itu memakan nasi basi dan lauk sisa seperti hewan. Padahal dengan kekayaan yang ia miliki, ia bahkan bisa membeli restoran ini. Bahkan mungkin seluruh jaringan restorannya.

Air mata Lora jatuh tanpa ia sadari.

Kepala pelayan kembali berbicara, suaranya kali ini terdengar lebih serius.

“Mau atau tidaknya Nona menerima misi ini, tidak menutup kemungkinan Nona akan celaka. Bahkan mungkin lebih parah dari yang Nona bayangkan. Mengingat sekarang Nona juga merupakan ancaman bagi mereka.”

Suara kepala pelayan itu rendah namun tegas, penuh peringatan. Udara di ruangan terasa menekan, seolah setiap kata yang diucapkannya membawa bayangan bahaya yang nyata.

Lora mengangkat wajahnya perlahan. Sorot matanya yang semula redup kini mengeras. Ia menarik napas kasar, menenangkan gejolak di dalam dadanya, lalu menatap kepala pelayan itu tanpa ragu.

“Aku akan melakukannya,” ucap Lora mantap. “Mulai besok aku akan bergabung ke perusahaan sebagai staf keuangan seperti keinginan Donni dan Vino, tapi bukan untuk bekerja sama dengan mereka, melainkan untuk menyelidiki keuangan perusahaan. Selama enam bulan ini aku yakin Donni melakukan sesuatu pada perusahaan selama kondisi Devon seperti ini,” ucap Lora.

“Dengan aku bergabung di sana aku jadi lebih leluasa menyelidiki Donni dan Vino terkait kecelakaan Devon dan juga kematian putri pimpinan,” jelas Lora lagi.

Kepala pelayan itu terdiam sesaat, menatap wanita muda di hadapannya dengan campuran khawatir dan kagum.

“Tapi mereka pasti akan menghalangi tujuanmu, Nona, dan tentunya akan menyulitkanmu.”

“Aku pasti bisa menghadapinya. Jangan meremehkanku hanya karena aku adalah karyawan bank rendahan. Aku adalah lulusan akuntansi UI terbaik,” ucap Lora.

Ada harga diri yang terangkat dalam ucapannya. Selama ini ia memilih merendah, menyembunyikan kemampuannya, membiarkan orang lain menganggapnya lemah. Tapi kali ini berbeda. Kali ini ia sedang melangkah ke medan perang.

“Baiklah, Nona. Katakan apa pun saat kamu perlu bantuanku,” ucap kepala pelayan tersebut, akhirnya mengalah pada keteguhan Lora.

“Tentu saja aku punya tugas untukmu untuk membalas para parasit itu sebelum aku bergabung ke perusahaan.”

Sorot mata Lora berubah licik, penuh perhitungan.

“Apa itu, Nona?” tanya kepala pelayan tersebut.

Lora mendekat, lalu membisikkan sesuatu ke telinganya. Kata-kata yang keluar begitu pelan, namun sarat rencana dan jebakan.

Wajah kepala pelayan itu sempat menegang, lalu perlahan ia mengangguk, menyetujui rencana Lora tanpa banyak tanya.

Lora tersenyum sinis, membayangkan langkah pertamanya membalas orang-orang parasit yang selama ini berani berlagak di mansion Devon.

"Kalian mencoba berlagak di hadapanku maka aku tidak akan kalah."batin lora mendekatkan tangannya di dada sembari menerima setiap suapan dari Devon yang terus-terusan memberikan semua makanan yang ia coba ke mulut Lora .

.

.

.

💐💐💐Bersambung💐💐💐

Nggak sabar Nunggu Lora Gabung keperusahaan dan liat Donni dan Vino ketar ketir🤣

Lanjut Next Bab ya guys😊

Lope lope jangan lupa ya❤❤

Terima kasih sudah membaca bab ini hingga akhir semua ya. jangan lupa tinggalkan jejak yaa, like👍🏿 komen😍 and subscribe ❤kalian sangat berarti untukku❤

1
Allea
mo balas dendam tapi kewaspadaan kurang piye toh thor 🤭
Mila Julia: mo bikin kesel duluuu mbak eee
total 2 replies
Allea
👍👍👍👍👍
Allea
heyyyy Epon kamu ga lelah pura2 terus 🤭
Wulan Azka
dealer beras ? baru kali ini dengar istilah dealer beras 🤔..dealer itu cuma buat kendaraan..kalau beras mah distributor
Mila Julia: tapi makasih sarannya KK ntar di oerbaiki🫶🫶😅
total 2 replies
Allea
Devon kamu pura2 kembali ke usia anak2 kan 😁
Mila Julia: aduhhh bener ngk yaaa🤭🤭
total 1 replies
Allea
jgn2 Devon pergi ninggalin Lora krn Devon kecelakaan y
Mila Julia: iyaa ngk yaaa🤭😅
total 1 replies
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!