Selama ini Nana selalu mengalah pada tunangannya, dia bagaikan gadis bodoh yang tidak ingin kehilangan cinta Tris. Sampai Tris mempermalukan Nana di depan orang banyak, karena kejadian itu Nana dihujat di internet. Lalu Nana mulai berubah usai mendapatkan uluran tangan acuh tak acuh dari abangnya Tris, yaitu Aska.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Rinnaya, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
26. Pengecualian.
"Gambaran yang sempurna," bisik Nana pada diri sendiri. Kata-kata Aska itu terasa lebih tajam daripada silet. Namun, di balik rasa sesak itu, ada satu hal yang terus berputar di otak Nana: Aska memilih untuk menunggu. Pria sedingin dan seefisien Aska rela menunda perjodohan yang menguntungkan secara bisnis demi sebuah janji satu tahun dengan seorang gadis yang dulunya adalah "mantan calon adik ipar".
Sementara itu, di dalam ruangan kantornya, Aska masih berdiri di dekat jendela, menatap punggung Nana yang perlahan menghilang di kerumunan orang di bawah sana. Vanya, yang belum sepenuhnya pergi, berdiri bersandar di pintu kayu jati yang kokoh, mengamati ekspresi Aska dengan tatapan yang sangat cerdik.
"Kau terlalu banyak membuang waktu untuknya, Aska," suara Vanya memecah keheningan. Nadanya tetap ramah, namun ada nada selidik di sana.
Aska tidak menoleh. "Aku hanya memastikan investasiku aman. Hak cipta karyanya adalah aset Stellar Komik sekarang."
Vanya tertawa kecil, melangkah mendekat hingga ia berdiri di samping Aska. "Sejak kapan pengacara papan atas sepertimu, yang biasanya menangani merger bernilai triliunan, turun tangan langsung hanya untuk mengurus kontrak distribusi dan hak cipta komik? Kau bahkan meninjau drafnya satu per satu. Jangan bilang ini hanya karena rasa bersalahmu atas apa yang dilakukan Tris padanya dulu."
Aska terdiam sejenak. Rahangnya mengeras. "Tris menghancurkan martabat keluarga kami lewat gadis itu. Aku hanya mengembalikannya ke posisi semula."
"Dengan cara menurunkan egomu dan memantau setiap langkah hukumnya?" Vanya menaikkan alisnya. Sebagai wanita yang tumbuh di lingkungan yang sama, ia tahu Aska tidak pernah memberikan perhatian sedalam ini pada siapa pun. "Kau tahu, Aska ... Nana bukan gadis yang bisa diremehkan. Aku melihat cara dia menatapmu. Dan yang lebih mengkhawatirkan, aku melihat cara kau menjaganya. Itu bukan tatapan seorang pelindung terhadap korban. Itu tatapan seorang pria yang sedang membangun sebuah mahakarya."
Vanya merapikan kerah jas Aska dengan gerakan yang sangat akrab, namun matanya menatap tajam ke mata elang pria itu. "Aku setuju dengan perjodohan kita karena kau adalah satu-satunya pria yang sepadan denganku. Tapi jika satu tahun ini kau gunakan untuk benar-benar 'menciptakan' saingan untukku ... aku tidak akan tinggal diam."
Aska hanya memberikan senyum tipis yang dingin. "Lakukan sesukamu, Vanya. Tapi jangan pernah menyentuh proses kreatifnya. Itu wilayah kerjaku."
Dua hari kemudian, tekanan itu berpindah ke lokasi syuting. Richard, sang investor, meminta pertemuan mendadak untuk membahas penyesuaian naskah. Vanya hadir di sana, bukan lagi sebagai teman, melainkan sebagai penasihat hukum yang sangat profesional.
"Nona Nana, Pak Richard merasa ada beberapa adegan yang terlalu berisiko secara hukum jika kita menggunakan referensi institusi asli," ujar Vanya sambil memberikan dokumen perbandingan.
Nana menatap naskah itu. "Tapi Kak Vanya, jika kita menyamarkannya terlalu jauh, urgensi pesannya akan hilang. Karakter utama saya harus menghadapi institusi yang kuat agar konfliknya terasa nyata."
Vanya menatap Nana, kali ini dengan pandangan yang lebih intens. Ia menyadari bahwa Nana tidak hanya bicara soal naskah; gadis ini sedang mempertahankan jati dirinya. "Dunia perfilman tidak seideal komikmu, Nana. Ada batasan-batasan yang harus kau patuhi jika ingin proyek ini tetap berjalan."
"Batasan itu bisa disiasati dengan argumen hukum yang tepat, bukan?" potong sebuah suara bariton dari arah belakang.
Aska melangkah masuk ke area set syuting. Kehadirannya langsung mengubah atmosfer. Richard dan kru lainnya tampak lebih siaga. Aska berdiri di samping Nana, memberikan dukungan visual yang sangat kuat tanpa perlu banyak bicara.
"Vanya benar soal risiko," ujar Aska, menatap dokumen itu sekilas. "Tapi Nana juga benar soal integritas cerita. Aku sudah menyiapkan draf perlindungan hukum cadangan jika ada pihak institusi yang merasa keberatan. Kita akan menggunakan jalur 'kebebasan artistik' yang didukung oleh yurisprudensi terbaru. Aku sendiri yang akan maju jika ada tuntutan."
Vanya tertegun. Ia menatap Aska dengan tidak percaya. "Kau akan maju sendiri ke pengadilan hanya untuk membela naskah fiksi?"
"Bukan naskah fiksi," jawab Aska tegas. "Tapi integritas dari karya yang berada di bawah naunganku. Lanjutkan sesuai rencana awal, Nana. Aku yang akan membereskan celahnya."
Nana menatap Aska dengan binar mata yang sulit disembunyikan. Ia merasa seolah-olah memiliki perisai paling kokoh di dunia. Namun, ia juga menangkap raut wajah Vanya yang mendadak dingin. Vanya menyadari satu hal: Aska tidak lagi hanya sekadar membantu; pria ini sedang melakukan pengecualian besar dalam hidupnya demi Nana.
***
Malam harinya, di acara gala firma hukum besar, Aska hadir bersama Vanya. Di sana, Tedi dan Tusi juga hadir, tampak sangat bangga bersanding dengan keluarga Leksana.
"Aska, Vanya adalah pasangan yang paling cocok untukmu," bisik Tusi di tengah acara. "Lihat betapa anggunnya dia. Ibu tak dapat Nana, dapat Vanya bakal lebih bagus."
Aska menyesap wine-nya, matanya menatap ke arah kerumunan tanpa ekspresi. "Ibu, jangan pernah membandingkan Nana dengan siapa pun. Mereka berada di kelas yang berbeda dengan cara yang berbeda pula."
"Tentu saja berbeda. Vanya adalah kelas atas, dan Nana adalah gadis penurut yang ceria." sahut Tusi.
Entah kenapa Aska merasa Tusi sedang merendahkan, walaupun niat wanita itu tidak seperti itu.
"Nana adalah orang yang membangun kelasnya sendiri dari nol. Itu yang membuatnya unik," jawab Aska singkat, meninggalkan ibunya yang ternganga.
Di sela-sela acara, Vanya menarik Aska ke balkon yang sepi. "Kau sangat keterlaluan tadi di lokasi syuting, Aska. Kau membuatku terlihat seperti orang asing di depan kreatormu."
"Kau memang orang asing dalam proyek ini, Vanya. Kau hanya penasihat. Jangan mencampurkan urusan perjodohan dengan urusan pekerjaanku," tegas Aska.
"Urusan pekerjaan atau urusan hati?" tantang Vanya. "Aku tahu kau mematikan ponselmu semalaman saat Nana lembur naskah minggu lalu hanya untuk memastikan tidak ada yang mengganggunya. Kau bahkan mengirimkan makanan ke kantornya secara anonim. Kau pikir aku tidak tahu?"
Aska menatap Vanya dengan mata yang menyipit berbahaya. "Kau mulai melewati batas, Vanya."
"Karena kau yang memulai pengecualian ini, Aska! Gadis itu ... dia punya sesuatu yang tidak aku miliki, kan? Sesuatu yang membuatmu merasa harus menjadi 'pahlawan'?" suara Vanya merendah, penuh kecemburuan yang terpendam di balik keanggunannya.
"Dia punya kejujuran yang tidak kau miliki," jawab Aska sebelum berbalik pergi.
***
Pukul satu dini hari, Aska berhenti di depan apartemen Nana. Ia melihat lampu di salah satu jendela masih menyala. Ia tahu Nana sedang berjuang dengan naskahnya, berjuang untuk membuktikan bahwa ia layak mendapatkan waktu satu tahun itu.
Aska tidak turun. Ia hanya duduk di dalam mobil, menatap jendela itu dari kejauhan. Ia menyadari bahwa tembok yang ia bangun bukan hanya untuk menghalangi Nana, tapi juga untuk melindungi dirinya sendiri dari perasaan yang mulai tidak masuk akal.
"Satu tahun, Nana," bisiknya pada kegelapan malam. "Jangan buat aku menyesal karena telah memberimu kesempatan ini."
Di dalam apartemen, Nana yang sedang menggambar tiba-tiba merasa bulu kuduknya berdiri. Ia menatap ke arah jendela, melihat sebuah mobil hitam yang sangat ia kenal perlahan melaju pergi. Ia tersenyum tipis, memegang dadanya yang berdegup kencang. Ia tahu, meskipun jalannya masih panjang dan Vanya adalah lawan yang tangguh, ia tidak lagi berjuang sendirian.
Bersambung....