NovelToon NovelToon
Sajadah Di Empat Benua

Sajadah Di Empat Benua

Status: tamat
Genre:Cinta Seiring Waktu / Mengubah Takdir / CEO / Tamat
Popularitas:6.6k
Nilai: 5
Nama Author: Alvaraby

Adam Al-Fatih (40) adalah potret kesempurnaan: CEO miliarder yang gagah, karismatik, dan taat beribadah. Di Jakarta, ia memiliki Khadijah, istri saleha yang menjadi pilar kekuatannya sejak masa sulit. Namun, takdir membawa langkah Adam melintasi benua, dari romantisme Paris, kemegahan Istanbul, hingga hiruk-pikuk New York. Di setiap kota tersebut, Adam bertemu dengan wanita-wanita luar biasa yang tengah terhimpit badai kehidupan.
Demi sebuah wasiat rahasia sang kakek dan misi kemanusiaan yang mendalam, Adam akhirnya menikahi Isabelle, Aisha, dan Sarah. Publik mencibirnya sebagai lelaki yang mabuk poligami di puncak dunia. Namun, sebuah rahasia medis yang pedih tersimpan rapat di balik pintu kamarnya: Adam menderita impotensi akibat kecelakaan masa lalu.
Ketiga pernikahan di luar negeri itu hanyalah "sajadah perlindungan". Adam mengorbankan reputasi dan perasaannya demi menyelamatkan sesuatu yang lebih berharga!

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Alvaraby, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Ujian di Balik Kemenangan

Baru saja napas lega dihembuskan setelah kejatuhan Sirius Jhon, sebuah awan mendung kembali menggelayut di atas kediaman Menteng. Kemenangan besar di lantai bursa dan kembalinya stabilitas perusahaan ternyata menuntut harga yang sangat mahal dari segi fisik dan mental, terutama bagi Isabelle.

Selama berminggu-minggu, wanita Prancis itu telah menjadi mesin penggerak di samping Adam. Ia kurang tidur, mengabaikan pola makan demi memantau pergerakan saham dari New York hingga Paris, serta menjadi perisai diplomatik saat Adam terjun ke lumpur longsor di Bandung. Isabelle, yang terbiasa dengan iklim Eropa yang stabil, nampaknya tak kuat menahan beban stres yang bertubi-tubi ditambah cuaca ekstrem Jakarta.

Pagi itu, saat matahari baru saja menyelinap masuk melalui celah gorden kamar utama, Isabelle mencoba bangkit dari tempat tidur. Namun, dunianya mendadak berputar hebat. Rasa mual yang luar biasa menghantam ulu hatinya, dan tubuhnya yang biasanya ramping dan tegap kini terasa seberat timah.

"Mas... Adam..." lirihnya.

Adam, yang baru saja selesai melakukan rutinitas olahraga paginya—tubuhnya masih berkeringat, menonjolkan otot-otot dadanya yang bidang—langsung menghampiri istrinya. Ia terkejut melihat wajah Isabelle yang biasanya bercahaya kini sepucat salju yang menutupi Paris di musim dingin.

"Isabelle? Ada apa, Sayang?" Adam meletakkan tangannya di kening Isabelle. Panasnya sangat tinggi. "Tubuhmu membara!"

Belum sempat Isabelle menjawab, ia pingsan di pelukan Adam. Kejadian ini seolah dejavu yang mengerikan bagi Adam. Baru saja Khadijah menunjukkan tanda-tanda pemulihan, kini istri keduanya yang jatuh tumbang.

Rumah sakit yang sama, lorong yang sama, namun kali ini Adam membawa beban yang berbeda. Jika Khadijah sakit karena beban menahun yang disembunyikan, Isabelle sakit karena kelelahan akut dan syok pasca-trauma akibat insiden penculikan di Paris serta serangan bertubi-tubi Sirius Jhon yang menguras seluruh energinya.

Dokter pribadi keluarga Al-Fatih segera melakukan pemeriksaan menyeluruh. Adam menunggu di luar dengan kegelisahan yang luar biasa. Ia mondar-mandir di koridor, langkah kakinya yang berat mencerminkan kecemasan yang mendalam. Tak lama kemudian, Khadijah datang dengan kursi rodanya, didorong oleh Reza.

"Mas... bagaimana kondisi Isabelle?" tanya Khadijah dengan nada penuh kekhawatiran. Tidak ada sedikit pun gurat kecemburuan; yang ada hanyalah rasa kasih sayang seorang kakak kepada adiknya.

Adam berlutut di depan Khadijah. "Dia kelelahan, Dijah. Dia memaksakan diri melindungiku saat aku di Bandung. Aku merasa sangat bersalah. Aku membiarkan dia memikul beban yang seharusnya aku tanggung sendiri."

Khadijah mengelus rambut Adam yang berantakan. "Isabelle melakukannya karena cinta, Mas. Sama seperti aku. Dia ingin menjadi pilar yang kuat untukmu. Jangan menyalahkan dirimu."

Vonis dokter keluar tak lama kemudian. Isabelle didiagnosis mengalami kelelahan saraf akut dan infeksi lambung yang parah akibat stres yang tidak terkendali. Ia harus menjalani perawatan intensif dan tidak diperbolehkan menyentuh pekerjaan apa pun selama minimal satu bulan.

Melihat Isabelle yang terbaring lemah dengan berbagai selang medis, hati Adam terasa hancur. Ia melihat dua wanita paling berharga dalam hidupnya kini harus berjuang melawan sakit. Di titik inilah, Adam menyadari bahwa meskipun ia adalah "Raksasa Baja" yang atletis dan perkasa, ia tetaplah manusia yang butuh sandaran.

Saat Isabelle tersadar di tengah malam, ia melihat Adam duduk di sampingnya, masih mengenakan kemeja yang sama sejak pagi. Isabelle tersenyum lemah, matanya nampak sayu.

"Maafkan aku, Mas... aku malah merepotkanmu di saat perusahaan sedang bangkit," bisik Isabelle parau.

Adam mengecup tangan Isabelle dengan sangat lembut. "Jangan bicara soal perusahaan. Sekarang fokusmu hanya satu: sembuh. Khadijah sudah mulai pulih, sekarang giliranmu. Aku tidak ingin memenangkan dunia tapi kehilangan kalian berdua."

Di tengah situasi ini, kejutan datang dari Bandung. Zahra, yang mendengar kabar sakitnya Isabelle dari Reza, memutuskan untuk turun ke Jakarta. Ia membawa ramuan herbal tradisional dari pesantrennya dan air doa dari Kiai Hasan.

Kehadiran Zahra di rumah sakit membawa suasana yang menyejukkan. Untuk pertama kalinya, tiga wanita yang ada dalam pusaran hidup Adam Al-Fatih berada di bawah satu atap dalam keadaan yang paling manusiawi: saling menguatkan di tengah kerapuhan.

Zahra membantu Khadijah merawat Isabelle. Ia menyuapi Isabelle dengan penuh kesabaran, membisikkan ayat-ayat suci yang menenangkan jiwa. Isabelle, yang awalnya merasa sungkan, perlahan mulai merasa sangat dekat dengan Zahra.

"Terima kasih, Zahra... kau jauh-jauh dari Bandung hanya untukku," ujar Isabelle.

Zahra tersenyum manis, senyum yang dulu membuat Adam tertegun. "Kita adalah keluarga, Mbak Isabelle. Pak Adam sudah menyelamatkan pesantren kami, sekarang giliran kami memberikan dukungan doa untuk keluarga ini."

Pemandangan itu membuat Adam terenyuh. Ia melihat harmoni yang luar biasa terbentuk tanpa ia duga. Khadijah yang bijak, Isabelle yang cerdas namun kini rapuh, dan Zahra yang tulus dan menyejukkan. Ketiganya seolah menjadi kepingan puzzle yang saling melengkapi.

Sakitnya Isabelle ternyata menjadi berkah terselubung. Hal ini memaksa Adam untuk lebih mendelegasikan urusan kantor kepada tim profesionalnya dan lebih banyak menghabiskan waktu bersama keluarganya. Karisma Adam kini bukan lagi terpancar dari meja direksi, melainkan dari cara ia memimpin rumah tangganya dengan kelembutan di tengah badai kesehatan.

Beberapa hari kemudian, kondisi Isabelle mulai stabil. Ia sudah bisa duduk dan bercanda dengan anak-anak Adam. Namun, ada satu hal yang ia sampaikan kepada Adam saat mereka hanya berdua.

"Mas... selama aku sakit, aku banyak berpikir. Aku menyadari bahwa aku tidak bisa selamanya menjadi 'perisai' di lapangan. Aku butuh seseorang yang bisa menjaga 'rumah' saat aku dan kau sedang berjuang di luar. Dan aku melihat itu pada Zahra."

Adam terdiam. Ia tahu arah pembicaraan ini.

"Khadijah benar, Mas," lanjut Isabelle. "Zahra adalah permata. Kehadirannya di sini memberikan kedamaian yang tidak aku miliki. Jika kau memang ingin memenuhi keinginan Khadijah untuk meminang Zahra, aku memberikan restuku dengan sepenuh hati. Kita butuh dia, Mas. Keluarga Al-Fatih butuh sentuhan kedamaian dari Pasir Angin agar kita tetap seimbang."

Adam menatap langit-langit kamar rumah sakit dengan perasaan campur aduk. Ia adalah pria yang kuat, namun menghadapi ketulusan dua istrinya yang justru memintanya untuk menambah beban tanggung jawab (dan cinta), membuatnya merasa sangat kerdil di hadapan keagungan jiwa mereka.

Ujian kesehatan Isabelle ini akhirnya membuka babak baru yang lebih serius. Adam menyadari bahwa petualangan "Sajadah di Empat Benua" ini akan segera mencapai puncaknya di tanah kelahirannya sendiri, melalui penyatuan yang didasari oleh rasa sakit, kesembuhan, dan keikhlasan yang luar biasa.

1
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!