Beberapa bulan setelah Leon lulus dari SMA, gurunya menawarkan Leon untuk bekerja di villa sang guru. Setahun setelah itu, Leon berhasil menembus tahap pemurnian qi level satu, dan secara resmi dijadikan murid oleh sang guru. Pada malam peresmian murid, gurunya memberikan sebuah bola hitam misterius kepada Leon. Keesokan harinya, kehidupan Leon mulai berubah secara drastis!
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Candra S, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Reruntuhan Kota Bardio 2
Ada dua cara efektif untuk membunuh zombie. Pertama adalah menghancurkan ataupun merusak kristal zombie yang berada di lokasi otak zombie, secara khusus kepala. Selanjutnya adalah dengan memutuskan aliran hubungan antara kristal zombie dengan kristal mana, mudahnya dengan memutus leher.
"Empat belas, lima belas, enam belas."
Di perempatan jalan, Leon mengintip dari balik bangunan dan melihat kerumunan belasan zombie.
Tap...
Tap...
Tap...
Graaaa.....
Melihat kedatangan Leon yang berlari menuju arah para zombie, mereka menolehkan kepala dan juga mulai berlari menuju Leon.
Splash!
"Satu..."
Leon menebas leher zombie pertama. Namun disaat bersamaan empat zombie menyerang dengan cakaran dan gigitan. Dia menghindari serangan dari tiga zombie, namun sebuah cakaran berhasil mendarat.
Buk...
Leon menyapu zombie itu dengan tendangan samping, membuat zombie terhempas membawa dua zombie lain sejauh lima meter.
Splash!
"Dua..."
Sebelum tiga zombie yang terjatuh bangkit, kelompok zombie lain sudah muncul di hadapannya.
Drassh!
"Empat..."
Leon menebas secara diagonal ke atas. Menebas leher zombie ketiga dengan mudah sekaligus memotong tengkorak zombie keempat menghancurkan kristal zombie.
Kemudian Leon melompat mundur menghindari serangan para zombie. Dia berlari menuju sebuah bangunan untuk menggunakan pintu sebagai pencegah para zombie menyerangnya dari segala arah.
Disaat Leon berlari, dia memperhatikan puing-puing di jalan dan menemukan sebuah ide. Namun untuk sekarang dia tidak dapat menjalankan eksperimennya.
Pada akhirnya, Leon berhasil mengalahkan semua zombie tersebut setelah bertarung selama beberapa menit.
"Untungnya berkat full body armor, aku tidak terluka sedikitpun."
Lalu mengapa dia tidak berdiri diam dan menebas para zombie saja? Jika Leon melakukan hal tersebut, itu akan menumpulkan naluri pertempurannya. Sejak awal, Leon sudah memutuskan bahwa full body armor hanyalah bentuk pertahanan terakhir. Dia tidak akan membiarkan zombie menyerangnya begitu saja dan menahannya dengan lapisan armor mana.
Sambil mengumpulkan kristal mana, Leon juga mengumpulkan semua puing-puing bebatuan sekitar.
Harga amunisi senjata cukup mahal. Satu buah peluru senjata OP-4 yang dimiliki Leon adalah 2,34 dollar. Kecuali dia dikerumuni oleh lebih dari 100 zombie, Leon tidak berniat menggunakannya.
Karena itulah dia mendapat ide dengan mencoba melemparkan puing-puing kecil tepat ke arah kepala zombie. Mengapa dia harus terpaku pada metode serangan zombie yang diajarkan pada situs forum serikat bebas? Dia memiliki inventory, metode pertempuran dapat lebih bervariasi!
"Ada empat. Cocok sebagai eksperimen."
Tidak jauh dari lokasi pertempuran sebelumnya, Leon mengintip dari sebuah gang dan melihat empat zombie di dekatnya. Leon membuka folder tumpukan puing dan batu dari inventory dan mengeluarkan salah satu penyimpanan di atas tanah di dekatnya.
Dari tumpukan tersebut, Leon memilih dan mengambil batu-batu kecil. Kemudian dia menarik tangan kanannya ke belakang.
Wooosh....
Pletak!
Namun lemparan itu hanya melukai kepala zombie.
"Sial, itu tidak menembus tengkorak!"
Eksperimen berjalan dengan kegagalan. Karena empat zombie itu mulai berlari ke arahnya, Leon menghunuskan pedang dan mengalahkan keempat zombie tersebut.
"Hah... Lebih baik aku bereksperimen tanpa zombie terlebih dahulu."
Memasuki gang kembali, Leon menerapkan full body armor dan mencoba meninju beton.
Bam!!!
Retakan kecil terlihat pada titik pusat tumbukan. Kekuatannya tentu meningkat secara drastis. Setelah merenung sejenak, Leon memikirkan sebuah rencana.
"Bagaimana jika aku melapisi batu dengan mana?"
Leon mengambil sebuah batu dan mengalirkan mana. Kemudian dia menarik tangannya ke belakang dan melempar baru itu sekuat tenaga.
Wooosh...
Namun hal itu hanya sedikit meningkatkan kekuatan tumbukan batu.
"Ada yang kurang. Aliran mana pada batu tidak terintegrasi dengan aliran mana milikku."
Itu seolah-olah sebuah pedang hanyalah alat, bukan merupakan perpanjangan dari tubuh pendekar pedang. Karena itu, Leon memutuskan berlatih untuk menjadikan "pedang" tersebut menjadi bagian dari tubuhnya.
Wooosh...
Crack!
Setelah berlatih selama beberapa saat, akhirnya Leon berhasil menanamkan batu ke dalam sebuah beton.
"Bagus! Kunamai teknik ini dengan nama boost."
Langit sudah mulai gelap. Karena itu, Leon memutuskan untuk menemukan tempat istirahat sebelum sore berubah menjadi malam.
"Sate ayam memang yang terbaik..."
Setelah makan malam, Leon memutuskan untuk mengisi baterai sistem melalui tubuhnya. Kemarin, ketika Leon membaca ulang halaman-halaman dokumen yang menjelaskan tentang sistem, Leon melihat sebuah kalimat pada salah satu halaman yang menarik minatnya.
Mengisi ulang energi baterai dapat dilakukan secara langsung melalui saldo koin bintang Leon. Namun gurunya menjelaskan melalui dokumen, jika Leon mengisi ulang energi baterai dengan mentransfer mana ke dalam bola hitam yang berada di jiwanya, Leon dapat melatih akar spiritual, titik meridian, dan saluran mananya.
Jika hal ini dilakukan secara terus menerus, ketiga hal tersebut dapat dikembangkan. Dan jika itu terjadi, Leon dapat berubah dari "tidak berbakat" menjadi "seorang jenius"!
"Aku sudah mengisi baterai sistem 40% dengan koin bintang sebagai antisipasi situasi berbahaya. Jadi tidak ada yang perlu dikhawatirkan."
Kemudian Leon mengeluarkan bongkahan 300 gram kristal merah. Mulai hari ini, dia akan lebih mengutamakan pelatihan dengan mengisi energi baterai sistem daripada meningkatkan tahapan kultivasinya!
*****
Pada hari ketujuh, Leon berdiri di atas gedung sepuluh lantai dan melihat puluhan zombie cukup jauh dari lokasinya.
"Jumlah yang tepat sebelum aku kembali ke kota Erulean."
Secara diam-diam, Leon mendekati kerumunan zombie dan berdiri di atas sebuah bangunan dua lantai.
"Hoooi..... Kemarilah anak-anak!"
Dengan teriakan Leon, kerumunan zombie itu mulai berlari ke arahnya. Setelah jarak zombie mencapai jarak 100 meter, Leon melempar sebuah batu ke arah salah satu kepala zombie.
"Ughhh, itu meleset."
Lemparan itu malah mengenai tulang kaki kiri salah satu zombie dan menghancurkan. Namun zombie itu masih hidup. Dia merangkak terseok-seok sambil diinjak dan dilangkahi zombie lain.
Wooosh....
Wooosh....
Wooosh....
Wooosh....
Lemparan demi lemparan batu mengenai kepala zombie. Ketika para zombie tak berotak berkerumun di bawah gedung, mereka hanya berusaha menggapai Leon dengan melompat. Tentu zombie-zombie bodoh ini hanya akan menjadi sasaran empuk bagi lemparan batu yang diimbuhi dengan boost.
Satu jam kemudian, Leon telah mengumpulkan kristal mana semua zombie yang baru saja dia bunuh. Perjalanan pertamanya ke reruntuhan Bardio berjalan dengan baik. Meskipun dia belum memasuki area pusat kota, setidaknya dia telah mengalahkan ratusan zombie bahkan tanpa menggunakan senjata api yang telah dia persiapkan sebelumnya.
"Sampai nanti Bardio. Aku akan mendirikan sebuah pangkalan di sini suatu saat nanti."
Sepanjang perjalanan pulang, Leon bertemu dengan satu atau dua zombie yang berkeliaran. Namun mengingat langit sudah mulai gelap, Leon mengabaikan mereka dan melanjutkan perjalanan.
Tidak jauh dari gerbang luar, Leon melihat sebuah sumber cahaya yang berasal dari dalam rumah di tepi jalan. Rupanya orang di dalam rumah juga menyadari keberadaan motor yang melintas. Ketika Leon melihat orang yang mengintip dari balik jendela, Leon terkejut dan menyapa orang itu.
"Paman Jerry!"
Melihat wajah bingung Jerry, Leon tersadar sebelum melepas helmnya.
"Oh, itu kamu Leon!"
Jerry membalikkan kepalanya ke belakang dan berteriak.
"Kalian bisa tenang. Dia adalah kenalanku dari kota."
Kemudian Jerry mengundang Leon untuk bergabung ke dalam kelompok.
Selain Jerry, terdapat lima orang lain di dalam kelompok tersebut, tiga pria dan dua wanita. Setelah Leon memperkenalkan namanya, semua dari mereka mulai memperkenalkan diri masing-masing.
"Halo Leon. Namaku Tom. Jika kamu adalah teman Jerry, maka kamu adalah temanku juga."
"Salam kenal, namaku Jarun."
"Gilang."
"Halo, aku Amy, dan ini adalah adikku Bella."
Di samping Amy, seorang gadis yang tampaknya pemalu mengangguk ke arah Leon.
"Apa kamu sendiri Leon?"
"Iya paman Tom."
"Hah, jangan sebut aku itu. Panggil saja aku Tom. Meskipun aku terlihat seumuran dengan Jerry, aku lebih muda darinya."
"Kamu hanya dua tahun lebih muda!"
Yang lain tersenyum melihat kebiasaan lelucon Jerry dan Tom. Lalu Tom lanjut bertanya kepada Leon.
"Selain itu, bukankah berbahaya pergi sendirian?"
"Aku sedang berpikir untuk membuat sebuah guild. Tujuan perjalananku saat ini juga hanya mengintai sebuah lokasi. Karena itulah aku hanya bergerak sendiri."
"Mengintai lokasi? Dimana?"
"Ohhh, aku sudah melakukannya sejak satu minggu yang lalu. Itu adalah reruntuhan kota Bardio."
"""Apa?"""