Nadine, seorang gadis belia harus menikah muda karena sebuah insiden, kehidupan yang sederhana dengan sang suami membuatnya bahagia , Nadine tidak mau tahu tentang kehidupan suaminya, yang ternyata seorang CEO yang kabur dari keluarga nya karena akan di jodohkan. namun kejadian tragis menimpanya, pasangan suami istri itu kecelakaan, sang suami di bawa pergi oleh mata-mata dari keluarga nya, lalu Amnesia, sedangkan Nadine koma saat melahirkan putra pertama mereka sampai usia putranya empat tahun,
Assalamualaikum....
Yuh... ikuti kisah selanjutnya....
Nadine yang sudah sadar dan berusaha mencari sang suami yang ternyata Amnesia
mohon dukungannya para pembaca...
terimakasih 🥰🥰🥰🙏
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Siti Marina, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
bab 18
Hari Minggu adalah hari libur tapi tidak bagi Aditya... biasanya ia menyempatkan waktu untuk bertemu dengan klien di hari Minggu, ia tidak suka bermalas-malasan di rumah... walaupun jam kantor libur, ia tetap bekerja dari rumah... namun... entah bagaimana, hari ini ia malas untuk pergi ke mana-mana... padahal siang ini ia ada janji bertemu dengan klien... namun ia meminta Agus untuk menemui kliennya...
___
Setelah pekerjaan pelayan selesai, Nadine berniat untuk memasak untuk dirinya sendiri... karena makanan yang dimasak khusus untuk para pekerja disini tidak sesuai dengan lidahnya...
Setelah mendapatkan izin dari koki dapur ia bisa membuka kulkas besar yang berisi bahan makanan...Siang itu, aroma yang sangat asing namun menenangkan mulai memenuhi lorong-lorong Mansion Pratama yang biasanya hanya berbau antiseptik dan pengharum ruangan mahal. Di dapur utama, Nadine sedang berdiri di depan kompor, tangannya dengan terampil mengulek bumbu tradisional, bawang merah, bawang putih, sedikit kemiri, kunyit yang dibakar, kluwek, jahe, ketumbar dll.
Ia sedang memasak Rawon, makanan khas Jawa Timur... masakan favorit Aditya saat mereka masih hidup sederhana di desa. Ia tahu, lidah tidak pernah bisa dipaksa amnesia.
"Apa-apaan ini?! Bau apa yang menyengat sekali ini?!" Bu Tina masuk ke dapur dengan wajah merah padam, menutup hidungnya dengan sapu tangan sutra.
Nadine menunduk, tangannya tetap memegang sodet. "Saya sedang memasak makan siang untuk Saya sendiri Bu, maaf tapi saya tidak cocok dengan makanan yang berada di sini" kilah Nadine, padahal Ia sedang memasak kesukaan suaminya untuk menarik perhatian Aditya.
"Astaghfirullah"lagi-lagi Nadine beristighfar dalam hati karena ia harus berbohong kembali.
Bu Tina berjalan mendekat, melihat panci berisi kuah hitam, diatasnya ada taburan daun bawang serta daun jeruk. Ia tertawa meremehkan. "Makanan kampung seperti ini?! Kamu pikir ini warteg pinggir jalan?, tapi yang namanya kampungan... ya tetap kampungan, lidah kampungan mu itu tidak cocok dengan makanan sini, "
"Benar Bu, ya kali saja tuan muda juga mau..." jawab Nadine pelan.
"Diam!" bentak Bu Tina. Ia meraih gagang panci itu dengan kasar. "Wajahmu sudah jelek, jangan buat selera makan Tuan Muda jadi jelek juga! Masakan ini hanya akan membuat perutnya sakit. Aku akan membuangnya ke tempat sampah sebelum Tuan Muda turun!"
Tepat saat Bu Tina hendak mengangkat panci itu untuk menumpahkannya ke tempat cuci piring, sebuah suara bariton yang dingin menghentikan segalanya.
"Hentikan."
Aditya berdiri di ambang pintu dapur. Ia mengenakan kemeja putih yang kancing atasnya terbuka, terlihat sangat letih. Matanya langsung tertuju pada panci yang dipegang Bu Tina, lalu beralih ke sosok pelayan barunya yang berdiri gemetar di pojok dapur.
"T-tuan Muda... maafkan saya," gagap Bu Tina, wajahnya mendadak pucat. "Pelayan kusam ini berani memasak makanan kampung yang bau di dapur Tuan Muda. Saya baru saja mau membuangnya agar tidak merusak aroma rumah."
Aditya tidak menjawab. Ia berjalan mendekat. Aroma uap masakan itu masuk ke indra penciumannya. Sesuatu di dalam kepalanya berdenyut, bukan denyut sakit kepala yang biasanya, melainkan denyut yang terasa seperti detak jantung yang kembali hidup.
Aditya mengambil sebuah sendok kecil dari meja. "Biarkan aku mencicipinya."
"Tapi Tuan, ini tidak higienis...."
"Aku bilang, biarkan aku mencicipinya!" bentak Aditya.
Dengan pelan...Aditya menyendok sedikit kuah hitam itu. Saat cairan hangat itu menyentuh lidahnya, Aditya mematung. Rasa gurihnya rempahnya sangat pas... itu adalah rasa yang selama empat tahun ini ia cari di restoran bintang lima manapun namun tak pernah ia temukan.
Tanpa sepatah kata pun, Aditya menarik kursi di meja dapur, sebuah hal yang tidak pernah ia lakukan sebelumnya karena ia selalu makan di meja makan mewah.
"Bawakan aku nasi. Sekarang," perintah Aditya.
"Baik tuan "sahut Nadine dengan sopan..., ia meletakkan nasi tersebut tepat di depan Aditya...., lalu mengambilkan piring, menyendokkan nasi hangat, dan menyiramkan kuah rawon tersebut. Ia melayani suaminya dengan penuh kasih sayang yang ia sembunyikan di balik tatapan menunduk... dalam hati... Nadine ingin menjerit karena ia sangat bahagia bisa melayani suaminya seperti dulu meski dengan status yang berbeda.
"silakan tuan.."ucap Nadine dengan ramah.
Aditya mulai makan. Suapan pertama, suapan kedua... hingga suapan ketiga, Aditya makan dengan sangat lahap, seolah-olah ia sedang kelaparan selama bertahun-tahun. Para pelayan lain yang mengintip dari balik pintu hanya bisa ternganga. Bu Tina mematung, harga dirinya runtuh seketika.
"Tuan Muda... apa rasanya tidak terlalu aneh?" tanya Bu Tina ragu.
Aditya berhenti menyuap sebentar, ia menatap nasi di piringnya dengan mata yang berkaca-kaca, namun ia segera menahan emosinya. "Ini... adalah makanan paling jujur yang pernah aku makan sejak aku bangun dari kecelakaan itu," ucapnya lirih.
Ia menoleh ke arah Nadine "Siapa namamu lagi? Nona?"
"I-iya, Tuan Muda."
Aditya menatap wajah kusam Nadine cukup lama, membuat Nadine merasa penyamarannya terancam. "Kenapa setiap hal yang kamu buat, kopi, masakan, bahkan suaramu, terasa seperti sesuatu yang seharusnya aku miliki, tapi aku lupa di mana aku menaruhnya?"
Nadine hanya bisa membisu, hatinya menjerit ingin memeluk suaminya. "Mungkin itu hanya perasaan Tuan saja. Makanan kampung memang sering membuat orang rindu rumah."
Aditya menyelesaikan makannya sampai bersih, hal yang jarang sekali terjadi. Ia bangkit, menatap Bu Tina dengan tajam. "Mulai sekarang, jangan ada yang menyentuh masakan Mona. Dan Bu Tina... kalau aku melihatmu mencoba membuang makananku lagi, kamu yang akan keluar dari rumah ini.. dan untukmu Mona... mulai nanti malam, dan seterusnya kamu yang bertugas untuk memasak makanan untukku ." ucap Aditya dengan suara dinginnya.
Aditya berlalu pergi. Namun, di anak tangga pertama, ia berhenti dan memegang dadanya yang sesak. Di sisi lain, di dapur, Nadine menyandarkan tubuhnya ke dinding, menangis dalam diam.
“Mas... pelan-pelan ya. Lidahmu sudah ingat, sebentar lagi hatimu juga akan ingat,” bisik Nadine dalam hati.
Noah di kontrakan kecil membisikkan sesuatu untuk menguatkan ibunya" sabar bu... ibu pasti kuat... kita akan berkumpul kembali dengan ayah, ibu harus hati-hati dengan para pelayan di situ... semuanya bermuka dua"
Nadine mengangguk , lalu ia, membereskan piring bekas makan suaminya dengan semangat, mencucinya dengan penuh ketulusan... ia membisikkan ayat-ayat suci Alquran dalam pekerjaannya... membuat hati yang tadi resah kini mulai nyaman....
"Terima kasih putraku... atas dukungan yang kau berikan... untuk sementara kita berpisah, insya Allah... tidak lama lagi kita akan berkumpul kembali" gumamnya dalam hati penuh dengan tekat yang kuat demi merebut hati suaminya kembali.