Adelia, asisten produksi yang gigih, harus menghadapi Arlan, sutradara perfeksionis berjuluk "Naga dari Selatan" yang gemar mengamuk. Di balik kopi 80 derajat dan caci maki di lokasi syuting, Adelia menemukan luka masa lalu Arlan yang mendalam. Saat konspirasi keluarga dan sabotase mengancam karier mereka, keduanya bersatu melawan manipulasi sang ayah. Melalui keberanian dan kejujuran, mereka membuktikan bahwa di balik layar kemarahan, terdapat cinta yang mampu mengubah ambisi menjadi mahakarya sejati.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Mila Dunka, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 10: Ledakan Perasaan
Puncak dari ketegangan yang telah menumpuk, di mana topeng si "Tukang Marah" benar-benar hancur dan menyisakan kejujuran yang murni.
Pukul sepuluh malam. Studio 4 tampak seperti raksasa yang sedang tertidur, gelap dan sunyi. Hanya ada satu lampu neon kecil yang berkedip-kedip di lorong, memberikan kesan mencekam. Adelia melangkah masuk dengan jantung yang berdegup kencang. Ia mengira akan bertemu dengan pengirim pesan misterius itu, namun yang ia temukan justru Arlan.
Pria itu sedang berdiri di tengah set yang sudah berantakan, memegang botol air mineral yang sudah kosong, menatap kursi sutradaranya seolah-olah itu adalah musuh bebuyutannya.
"Arlan? Kamu yang mengirim pesan itu?" tanya Adelia lirih.
Arlan berbalik. Matanya merah, dan ia terlihat jauh lebih berantakan daripada saat badai tempo hari. "Pesan apa? Saya di sini karena saya tidak bisa pulang. Setiap kali saya menutup mata, saya hanya melihat wajahmu yang menatap saya dengan benci tadi sore."
Adelia tertegun. Jadi pesan itu bukan dari Arlan? Sebelum ia sempat berpikir lebih jauh, Arlan sudah melangkah mendekat, langkahnya berat dan penuh intimidasi.
"Kenapa, Adelia? Kenapa kamu membiarkan dia menyentuhmu? Kenapa kamu membiarkan dia memberimu jaket seolah-olah saya tidak ada di sana?"
"Dia hanya aktor, Arlan! Itu bagian dari pekerjaan!" balas Adelia, suaranya naik. "Dan pesan tadi... ada seseorang yang ingin menjebak kita. Kita harus pergi dari sini!"
"SAYA TIDAK PEDULI SOAL JEBAKAN!" Arlan berteriak, suaranya mengguncang keheningan studio. Ia memukul tiang lampu di sampingnya hingga berdentang keras.
"Saya tidak peduli jika karier saya hancur, saya tidak peduli jika Papa saya menang! Yang saya pedulikan adalah melihatmu tersenyum pada pria lain saat saya sedang berjuang setengah mati untuk tidak menarikmu ke pelukan saya di depan semua orang!"
Adelia terdiam, napasnya tertahan. Ini bukan lagi kemarahan seorang sutradara perfeksionis. Ini adalah ledakan dari seorang pria yang sudah mencapai batas kesabarannya.
"Kamu pikir saya pemarah karena saya jahat?" Arlan melanjutkan, suaranya kini bergetar, nyaris pecah. "Saya marah karena saya takut! Saya takut jika saya melembut sedikit saja, dunia akan mengambil apa yang saya cintai lagi, seperti mereka mengambil Mama. Dan sekarang, dunia mencoba mengambil kamu melalui gosip itu, melalui Reihan, melalui semua kekacauan ini!"
Adelia melangkah maju, keberaniannya kembali. Ia tidak lagi takut pada teriakan itu. "Lalu kenapa kamu tidak bilang saja? Kenapa harus berteriak? Kenapa harus membuat saya merasa seperti asisten yang tidak berguna?"
"Karena saya tidak tahu cara melakukannya!"
Arlan mencengkeram bahu Adelia, menunduk hingga dahi mereka bersentuhan. Napasnya yang panas terasa di bibir Adelia. "Saya hanya tahu cara mengarahkan kamera, bukan mengarahkan perasaan saya sendiri. Saya mencintaimu, Adelia. Dan itu membuat saya menjadi orang bodoh yang paling pemarah di dunia ini."
Hening yang luar biasa menyelimuti mereka. Pengakuan itu menggantung di udara, lebih berat daripada lampu kristal yang hampir jatuh tempo hari.
Adelia menatap mata Arlan, mencari sisa-sisa kebohongan, namun yang ia temukan hanyalah kejujuran yang menyakitkan. Perlahan, Adelia mengangkat tangannya, mengusap pipi Arlan yang kasar karena belum dicukur.
"Kamu memang bodoh, Arlan," bisik Adelia.
"Sangat bodoh. Karena kamu tidak sadar bahwa sejak kamu menyuruh saya menyeduh kopi 80 derajat itu, saya sudah memutuskan untuk tidak akan pernah membiarkan kamu minum kopi sendirian lagi."
Arlan membeku. "Apa maksudmu?"
"Maksud saya... saya juga mencintaimu, Si Tukang Marah."
Tanpa menunggu lebih lama, Arlan menyatukan bibir mereka dalam sebuah ciuman yang menuntut, penuh dengan rasa frustrasi, kerinduan, dan janji yang tak terucap. Di bawah lampu studio yang redup, di tengah set yang berantakan, mereka seolah menciptakan dunia mereka sendiri—dunia di mana tidak ada sutradara atau asisten, hanya ada dua jiwa yang akhirnya menemukan rumah.
Namun, di kegelapan lantai dua, sebuah kilatan cahaya kamera ponsel kembali menyala. Sosok bayangan yang mengamati mereka tersenyum licik.
Arlan melepaskan ciumannya, menyandarkan keningnya di kening Adelia. "Mulai besok, semuanya akan menjadi sangat sulit, Adel. Skandal ini akan membesar."
Adelia tersenyum, tangannya menggenggam tangan Arlan dengan erat. "Biarkan saja. Selama kita ada di balik layar yang sama, tidak ada cerita yang tidak bisa kita selesaikan."
Arlan menarik Adelia ke dalam pelukan erat, bersumpah dalam hati bahwa kali ini, ia tidak akan membiarkan siapa pun mencoret wajah wanita yang ia cintai dari hidupnya.