Karena terus diteror ibunya supaya tidak lama-lama menganggur, Aditi nekad terima tawaran tetangganya, Baskara, untuk jadi guru ABK. Padahal ilmunya, NOL besar.
Baskara adalah cinta monyet Aditi, seorang duda beranak satu bernama Malini. Dari awal, naksir tipis-tipis sama Aditi, tapi jadi baper berat setelah Malini nempel seperti perangko pada Aditi. Pokoknya Aditi harus jadi ibu sambung Malini, pikir Baskara.
Murid pertama dan satu-satunya Aditi bernama Kavi. Penyandang autis yang cuma responsif pada Aditi. Membuat ayahnya, Sagara, bucin berat. Bagi Sagara, Aditi adalah kunci harapan untuk hidup Kavi dan dirinya.
Jadilah Baskara dan Sagara bersaing untuk mendapatkan perhatian dan cinta Aditi.
Masalahnya, Baskara dan Sagara bersahabat.
Apakah Aditi berhasil menjadi guru ABK?
Bagaimana nasib persahabatan Baskara dan Sagara?
Siapa yang Aditi pilih, sang duda cerai, Baskara atau sang duda mati, Sagara?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Inna Kurnia, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Makan Siang Bersama
Sagara melirik gadis di sampingnya. Wajah cemberut masih terpajang. Sangat kontras dibandingkan ketika ada Baskara. Jika bersama Baskara, ia akan tersenyum atau berkelakar.
Sagara curiga Baskara menaruh hati pada Aditi. Terlihat dari cara sahabatnya itu memandang dan bertutur pada si gadis ceroboh. Namun untuk sang gadis sendiri, Sagara belum bisa memastikan apa perasaan yang dimiliki oleh Aditi.
Cepat juga Baskara bisa menyembuhkan diri dari luka perceraian. Sagara paham, rumah tangga Baskara dan Almira memang sudah tak sehat sejak lama.
Baskara mungkin sudah kehilangan rasa sejak lama pada sang mantan istri. Jadi tak mengherankan gadis ceroboh ajaib ini bisa mengisi hati Baskara.
Hanya Sagara heran, gadis semengganggu Aditi bisa menarik hati lelaki setenang Baskara. Apa Baskara tidak sakit kepala menghadapinya?
Yang lebih mengherankan adalah kejadian serupa yang terjadi pada sang anak, Kavi. Mengapa Kavi memilih Aditi di antara seluruh terapis yang menanganinya?
Sebegitu efektifnya ritme yang dibuat Aditi sampai Kavi begitu tunduk, tenang. Ritme itu bagai menyihir Kavi.
Aditi menoleh ke arah Kavi. Ia tersenyum melihat Kavi tertidur. Sagara melihat itu.
Aditi mengeluarkan headset dari dalam tasnya kemudian menancapkannya ke ponsel. Ia selipkan kepala headset ke dalam kerudungnya. Belum sempat ia memutar aplikasi musik, suara Sagara terdengar.
"Segitunya kamu menghindar ngobrol sama saya? Ampe pasang headset segala."
"Hah? Saya cuma mau denger musik, Pak. Saya ngantuk. Kalau saya tidur nanti jangan-jangan saya diturunin di tengah jalan."
Sagara menahan senyumnya. Heran pada pemikiran absurd Aditi.
"Nah itu tau. Makanya jangan tidur. Tapi jangan gitu juga. Pake headset segala." Wajah Sagara kecut seperti cuka pempek.
"Terus saya ngapain Pak, biar nggak ngantuk? Bapak nyanyi deh kalo saya nggak boleh denger lagu."
"Kamu berani nyuruh saya?"
Aditi terdiam. Teringat siapa sebenarnya Sagara. Dih someone lo, investor!
Aditi menoleh ke arah jendela. Berharap kantuknya teralihkan dengan menatap jalan raya.
"Kalo sama Baskara kayaknya banyak omong banget."
"Mas Bas orangnya enak. Tektok kalo diajak ngomong."
Sagara mencebikkan bibirnya. "Saya lebih tua ya keliatannya dari si Baskara?"
"Saya nggak tau umur Bapak, jadi mana saya tau Pak," jawab Aditi.
"Ya, saya seumur sama Baskara. Baskara kamu panggil mas. Saya kamu panggil Pak."
"Saya pikir cewek doang yang ribet urusan panggilan. Ternyata bapak-bapak recok juga, hahaha..."
Sagara menarik bibir tipis mendengar tawa Aditi. Ia melirik Aditi sekilas.
"Rumah kamu di Lebak Bulus kan?"
"Ih, kok Bapak bisa tau?"
"Kan Baskara ngenalin kamu itu tetangga dia. Kamu lupa? Saya juga baca CV kamu. Saya tau kantor lama kamu, nomor hape kamu.
Saya perlu tau lah profil calon terapis anak saya. Kali aja kurang bener."
Aditi memanyunkan bibir mendengar ucapan Sagara. Enak aja lo, gue kurang bener!
"Kurang bener gimana sih Pak? Kalo saya nggak bener Mas Bas nggak akan lah ngajak saya gabung di AIC."
"Orang bener mana yang ngunci diri dia sama laki-laki di toilet?" Sagara menyeringai tipis.
Gusti Allah, diungkit dong, tolooong, huhuhu...
Aditi menutup wajahnya dengan tangan kiri. Ia yakin wajahnya memerah.
"Nggak nyangka aja ada orang, Pak. Pintunya kan kebuka. Kalo dipake kan ketutup. Terus saya kebelet."
"Untung saya nggak jahat, nggak kepancing ngapa-ngapain kamu."
Aditi menipiskan bibirnya. "Iya sih.... Terima kasih ya Pak. Ganti topik Pak. Ntar saya kebelet lagi kalo diungkit terus."
Sagara melipat bibirnya. Menahan senyum yang nyaris keluar.
"Ibunya Kavi belum sempet ikut terapi ya, Pak?"
Bibir Sagara menipis mendengar pertanyaan dari Aditi. Ia kembali memasang wajah datar.
"Baskara nggak cerita sama kamu?" tanya Sagara.
Aditi menggelengkan kepala. "Kita sih nggak gibah, Pak. Lagian Mas Bas tau saya males sama Bapak. Eh!" Aditi menutup mulutnya. Sagara menggelengkan kepala.
"Maaf Pak, saya kalo ngantuk suka kurang kesadaran diri. Sekarang udah nggak males kok." Aditi meringis.
Nggak males tapi sebel!
Sagara kembali terdiam. Aditi menggigit bibir.
Duh, kenapa gue tadi kepo nanya ibunya Kavi? Jadi diem tuh si sombong. Asem banget lagi mukanya.
Aditi mengeluarkan permen di dalam tasnya. "Mau Pak?" Aditi menggoyangkan permen itu.
Sagara menggeleng. Matanya kembali menatap tajam ke arah jalan.
Duh ni orang bikin hati nggak enak aja. Kesinggung apa ya, ditanya istrinya?
"Mobilnya bagus, Pak."
Sagara menoleh ke arah gadis yang sudah tak terlihat cemberut itu. "Kenapa tiba-tiba bahas mobil?"
"Biar muka Bapak nggak asem lagi. Lumayan berhasil tuh kayaknya. Asem pait sekarang." Sagara mengulum senyum. Aditi melihatnya.
Aman gue. Masih bisa senyum dia. Nggak jadi nggak enak gue.
Tak lama mereka tiba di restoran yang dituju. Aditi langsung berniat turun.
"Eh Diti, kita harus nunggu dulu bentar. Jangan langsung turun." Sagara membuka jendela belakang. Membiarkan udara segar masuk ke dalam mobil.
Aditi meringis. "Aduh maaf Pak, ilmu saya belum nyampe sana."
Setelah sekitar 5 menit, Sagara turun dan membuka perlahan kunci car seat yang diduduki Kavi. Kavi terlihat mengerjapkan mata. Sagara menggendong anaknya, juga perlahan.
"Diti, tolong bawain tasnya Kavi."
Aditi yang posisinya di belakang Sagara segera mengambil tas yang dimaksud. Ia menutup pintu.
Sagara mengunci mobilnya secara otomatis. Mereka melangkah ke dalam restoran bak keluarga kecil bahagia.
Restoran yang dipilih Sagara adalah tempat makan bernuansa alam. Musiknya hanya berupa instrumen.
Tempat duduk yang mereka tuju terletak di luar, terlindung dari panas oleh kanopi. Terdengar gemericik air, menenangkan.
Aditi kembali memuji ketelatenan Sagara. Bapak satu anak itu benar-benar memahami bahwa mereka harus menghindari tempat yang ramai, agar Kavi tidak mengalami stimulasi berlebihan.
Kavi mulai tersadar penuh. Ia memandang sekeliling. Sagara mendudukkan Kavi di kursi.
Sagara mengeluarkan mainan anaknya dari tas yang dibawa Aditi. Ia sebar di atas meja makan. Satu mobil-mobilan ia berikan pada Kavi. Sagara melepas penutup telinga Kavi.
Kavi menggulir ban mobil-mobilan di tangannya. Ia menatap Aditi yang duduk di sebelahnya. Sagara berjongkok di sisi satunya. Aditi mencoba berkomunikasi dengan Kavi.
"Hai... Ka-vi... ma-kan... sa-ma... Kak-ti... ya." Kavi terus menatap Aditi. Aditi dan Sagara sama-sama tersenyum. Sagara duduk di hadapan Kavi.
"Kamu mau order apa, Diti?"
"Hhhmm, baso boleh Pak."
"Baso mulu! Benjol ntar usus kamu. Yang laen aja."
Dih, si somse ngatur banget. Suka-suka gue lah!
"Ya udah bebek goreng deh Pak. Padahal enak sih Pak, siang-siang gini ngebaso." Aditi memiringkan bibir.
Sagara menahan senyumnya. Ia senang si ceroboh menurut padanya, walau terpaksa. Ternyata tipe yang penurut.
Sagara memanggil pelayan. Seorang wanita muda menghampiri, Sagara menyebutkan pesanan mereka.
"Nasi tim itu makanan favorit Kavi ya Pak?" tanya Aditi.
"Iya. Selain itu dia kan baru bangun jadi biasanya males ngunyah. Makanya tadi saya minta ayamnya dicincang halus," jawab Sagara.
Aditi menganggukkan kepala. "Kalau alesannya jus alpuket nggak pake susu coklat sama gula, saya tau Pak." Sagara menahan senyum melihat ekspresi Aditi.
"Apaan emang?"
"Gula sama coklat tuh bisa bikin sugar rush jadi bikin Kavi kelebihan energi, jadi hiperaktif. Bener kan?" Mata Aditi menyipit. Sagara mengangguk sambil melipat bibirnya.
"Belajar yang bener ya, Diti. Tolong bantu saya." Sagara menatap dalam Aditi. Aditi sesaat terpana melihat mata yang kelam dan tajam itu. Ia refleks menunduk.
"Iya Pak. Sabar-sabar ya kalau saya masih banyak salah. Kalau saya nggak bener, marahin aja Mas Bas."
"Lah, kok si Baskara? Kan kamu yang salah."
"Salahin dia soalnya maksa saya jadi guru ABK, hehehe..."
Sagara tersenyum. Akhirnya senyum itu keluar, tak tertahankan, karena sesungguhnya Sagara ingin tertawa.
Pesanan mereka datang. Sagara bersiap untuk menyuapi Kavi. Tak diduga Kavi mencengkram ujung kerudung Aditi yang menjuntai. Ia ambil sendok dan menyerahkannya pada Aditi.
Sagara dan Aditi saling berpandangan. Sagara tersenyum.
"Ka-vi... ma-u... di-su-a-pin... Kak-Ti?" Kavi kembali menatap Aditi. Aditi langsung mengangkat piring nasi tim itu.
Aditi mulai mengaduk nasi tim itu. Mengeluarkan uap panas yang terperangkap di dalamnya.
Tak ada seledri atau daun bawang di atas nasi tim. Makanan dengan aroma mencolok memang dihindari Kavi.
Satu persatu suapan masuk ke dalam mulut Kavi. Ia tampak lahap. Ia sesekali menggulir mobil-mobilannya. Sesekali menatap Aditi.
Sagara terhenyak menatap pemandangan di hadapannya. Ia merasakan hangat di dadanya.
"Makan Pak. Keburu dingin tuh soto." Sagara terkesiap. Ia mengangguk, lalu mulai menyeruput kuah sotonya.
Kavi menunjuk jus alpukatnya, Aditi segera memberikannya. Aditi menekan halus pundak Kavi sambil memuji.
"Ka-vi... pin-ter... ma-kan... dan... mi-num-nya."
Aditi mengelap ujung bibir Kavi yang belepotan oleh jus alpukat dengan ujung jarinya. Kavi minum dengan menyeruputnya tadi. Kavi tak menolak wajahnya disentuh Aditi, padahal biasanya akan menolak jika wajahnya dipegang. Semua terpindai oleh Sagara.
Aditi kembali menyuapi Kavi hingga akhirnya isi di piring itu tandas. Aditi tersenyum. Aditi kemudian mendekatkan robot dan mobil-mobilan lain.
"Ka-vi... ma-in... du-lu... Kak-Ti... ma-kan." Kavi kembali mengangguk.
Aditi kemudian terlihat memakan nasi dan bebek gorengnya. Sebelumnya ia mengelap tangannya dengan tisu basah. Ia terlihat lahap. Makan sambil menunduk.
Sagara tak henti memandangi Aditi. Ia mulai memahami kenapa Baskara menyukai gadis ini. Aditi adalah wanita yang menarik dan menyenangkan.
Aditi mengangkat wajahnya. Tatapan Sagara dan Aditi bersirobok. Aditi langsung menunduk. Sagara memilih untuk terus menatapnya.