NovelToon NovelToon
Cincin Brondong Dosen Killer

Cincin Brondong Dosen Killer

Status: sedang berlangsung
Genre:Dosen / Diam-Diam Cinta
Popularitas:1.3k
Nilai: 5
Nama Author: Ddie

Hidup Dewa sudah cukup runyam diputusin Sasha, keuangannya hampir kolaps, dan menjadi bulan-bulanan takdir. Tapi takdir memutuskan untuk bercanda lebih kejam

Paket cincin untuk pacarnya Sasha nyasar ke apartemen Dian, dosen killer yang bikin satu kampus bergidik.

Dian mulai curiga Dewa adalah penguntit rahasia, merekrutnya mejadi asisten pribadi—dengan ancaman nilai. Dewa malah terjebak dalam permainan dekan genit yang suka dengan Dian.

Tapi kenapa ada perasaan aneh yang muncul di antara interogasi dan kopi panas?

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Ddie, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Siapa?

Jam 10 pagi, kelas Statistik Lanjut.

Dewa masuk dengan mata sembab — tidur tidak nyenyak, pikiran ke Sasha — dan berhenti di depan pintu.

Ibu dosen sudah di sana berdiri di depan kelas dengan postur tegak sama persis seperti biasa tidak ada senyum aneh, kilatan berbeda. Hanya... sesuatu yang Dewa kira melihat sarung tangan hitam, panjang menutupi kedua tangan hingga pergelangan.

Dewa pernah melihat Ibu dosen memakai sarung tangan? Tidak yakin mungkin pernah, saat cuaca dingin. Tapi hari ini? Jakarta panas seperti biasa. AC di ruang kelas juga tidak terlalu dingin — dia tahu persis, karena selama ini duduk di pojok belakang, sering berkeringat meski hanya memegang pulpen.

"Alergi?" pikirnya. "Atau tangan Ibu Dian... luka?"

Dian menoleh ke arahnya mata mereka bertemu — sekilas, biasa saja — dan Dewa merasa tidak ada yang berbeda, senyum rahasia hanya tatapan dosen pada mahasiswa yang datang tepat waktu (untuk pertama kali minggu ini). Tapi kenapa matanya tampak lebih sayu dari biasanya? Atau itu hanya efek kurang tidur Dewa sendiri?

"Selamat pagi, mahasiswa" katanya datar, profesional, sedikit mengancam..

Dewa duduk di bangku favoritnya — deret ketiga dari belakang, dekat jendela — tanpa memikirkan apa-apa lagi. Sarung tangan itu mungkin memang untuk alergi atau luka. Ponsel dalam saku celananya terasa berat, diam, seperti batu.

Dia membuka buku catatan, tapi matanya kosong menatap papan tulis. Perempuan itu mulai menerangkan tentang distribusi probabilitas, tapi suara itu hanya menjadi latar belakang. Dewa malah menghitung ulang hari: sudah empat hari sejak paket dikirim. Dua hari seharusnya sampai. Sasha tidak pernah lama membalas, tapi kali ini... mungkin dia sibuk. Mungkin paketnya tertahan di kantor pos. Mungkin—

"Ada pertanyaan, Dewa?"

Dia tersentak, Ibu dosen menatapnya dari depan kelas, satu alis terangkat beberapa mahasiswa menoleh.

"Eh, nggak, Bu. Cuma... konsentrasi."

Ia mengangguk datar, lalu kembali ke materi. Tapi sekilas, Dewa melihat gerakan aneh: tangan bersarung hitam itu merapikan ujung blazer, seperti sedang menyembunyikan sesuatu. Atau hanya imajinasinya?

 

Setelah kelas, Roby menyerbu dengan ekspresi aneh.

"Bro, lo lihat Ibu Dian? memakai sarung tangan?"

Dewa mengangguk tidak peduli, sambil memasukkan buku ke dalam tas. "Mungkin alergi atau kena luka bakar. Dosen juga bisa kena minyak goreng."

"Gue denger dari anak kelas lain, Ibu dosen agak aneh minggu ini, datang lebih awal, pulang lebih lambat. Jarang ngobrol sama dosen lain. Bahkan waktu rapat prodi, katanya Ibu cuma diam sambil mainin pulpen."

Dewa mengangkat bahu, berusaha terlihat acuh. "Apa urusannya dengan kita? Itu memang karakternya ibu, sibuk, nggak suka basa-basi."

"Lo nggak notice apa-apa?" Roby menatapnya tajam. "Lo kan yang paling sering nongkrong di perpustakaan dekat ruang dosen. Lo nggak lihat ibu Dian keluar masuk dengan ekspresi aneh?"

Dewa berhenti, memang beberapa hari terakhir dia sering ke perpustakaan hanya untuk mengisi waktu luang sambil menunggu kabar dari Sasha. Tapi dia tidak pernah benar-benar memperhatikannya, bisa jadi lewat, atau tidak, semua dosen terlihat sama di matanya.

"Gue cuma... fokus sama urusan gue sendiri, By."

Laki laki itu menatapnya dengan rasa iba dan sedikit frustrasi. "Lo masih mikirin Sasha? udah empat hari, bro, apa mungkin paketnya ilang?"

"Itu bukan paket biasa!" potong Dewa, lebih keras dari yang dia inginkan. Beberapa mahasiswa yang lewat menoleh. Dia menurunkan suara pelan. "Itu cincin, Rob. Cincin yang gue beli dari uang tabungan tiga bulan. Cincin yang... yang gue pikir bakal menjadi jawaban."

Roby diam sebentar meletakkan tangan di bahunya "Lo udah cek resi? Cek ke kantor pos?"

"Besok. Gue janji besok." Tapi nadanya tidak yakin. Dia takut. Takut konfirmasi bahwa paketnya hilang, takut harus mengakui pada diri sendiri bahwa semua usahanya sia-sia.

Mereka berjalan menuju kantin. Di sepanjang koridor, Dewa melihat beberapa mahasiswa tahun ketiga berbisik-bisik. Satu dua menunjuk ke arah ruang dosen. Roby benar — ada sesuatu yang mengambang di kampus, semacam desas-desus tentang Ibu Dian yang tidak bisa dijelaskan.

Tapi Dewa terlalu lelah untuk peduli. Pikirannya hanya pada satu nomor: nomor resi yang tersimpan rapi di dompet, ditemani foto Sasha yang sudah luntur karena sering diraba.

 

Malam itu, Dewa tidak tidur karena cincin yang belum diakui, ketakutan akan kerja kerasnya terasa sia-sia

Dia duduk di balkon kos-kosan, memandang lampu jalan yang berkedip-kedip. Ponsel di genggaman terasa dingin, layarnya gelap. Tidak ada notifikasi. Tidak ada pesan masuk. Sudah jam 2 pagi, dan Sasha — yang biasanya aktif di Instagram Stories hingga larut — hari ini hanya mengunggah foto kopi pukul 7 malam, tanpa caption.

Dia mengirim pesan ke Roby: "Sasha belum telepon. Gimana kalau paketnya ilang?"

Dua menit kemudian, Roby balas: "Lo cek resi. Cek ke kantor pos besok. Jangan malas. Gue temenin kalo perlu."

Dewa menatap nomor resi di dompetnya. Kertas kecil yang dia simpan seperti tiket lotre. Tapi sekarang, tiket itu terasa seperti bukti kegagalan. Dia ingat hari itu: antre setengah jam di kantor pos, memastikan paket dibungkus rapi, menulis alamat Sasha dengan hati-hati — Jalan Mawar No. 14, belakang gereja. Dia bahkan menyelipkan surat kecil.

Tapi sekarang cincin itu entah di mana. Mungkin tertahan di gudang sortir. Mungkin salah alamat. Mungkin Sasha sudah menerima tapi memilih diam — itu yang paling menakutkan.

Di luar, suara jangkrik memekakkan telinga. Atau itu hanya imajinasinya? Dewa memejamkan mata, mencoba tidur, tapi otaknya terus berputar. Dan di antara semua pikiran kacau itu, muncul bayangan Dian dengan sarung tangan hitam. Kenapa dia memakainya? Kenapa hari ini? Apa hubungannya?

Tidak ada. Dewa menggeleng. Dia terlalu banyak nonton film misteri.

 

Di Apartemen Anggrek A-12B, Dian duduk di meja kerja dengan lampu yang sengaja diredupkan.

Cincin itu ada di depannya tidak dipakai diamati dengan mata yang tidak berkedip selama satu jam terakhir.

Dia tidak tahu harus berbuat apa.

Memakainya? Terlalu berlebihan. Mengembalikan? Tidak tahu ke mana. Membuang? Tidak bisa. Ada sesuatu di cincin murah ini — mungkin batu safir sintetisnya, mungkin pesan luntur hampir tidak terbaca —membuatnya tidak bisa bergerak.

"Siapa?" gumamnya pada kegelapan. "Siapa yang kirim ini? Dan kenapa ke saya?"

Dia memiliki teori. Banyak teori. Tapi tidak ada bukti. CCTV kantor pos kabur karena hujan. Kurir tidak ingat wajah pengirim dengan jelas. Alamat A-12B hampir tidak ada yang tahu — dia sangat menjaga privasi. Hanya segelintir kolega dan beberapa mahasiswa yang tahu persis di mana dia tinggal. Itu pun tidak mungkin — mahasiswa tidak akan berani, apalagi seperti ini.

Tapi ada satu kemungkinan: seseorang di luar sana tahu alamatnya, memperhatikan berani mengirim sesuatu yang personal, bahkan mungkin berani menyatakan sesuatu.

Dan Dian — selalu menghitung probabilitas, menganalisis risiko, punya rencana cadangan untuk setiap skenario — menemukan dirinya tidak bisa memprediksi apa pun.

Dia mengambil cincin itu, memutarnya di bawah cahaya lampu. Sisi dalamnya bertuliskan: "Untuk yang tak terduga." Tulisan itu sangat kecil, hampir tidak terbaca, tapi Dian sudah menghafalnya mencari artinya di internet — mungkin ini kutipan puisi, pesan pribadi. Tapi tidak ada yang cocok.

"Tak terduga," bisiknya. "Apa aku tak terduga?

Dia menyimpan cincin itu di laci meja. Terkunci. Ditutup rapat-rapat. mematikan lampu, berbaring, dan memejamkan mata. Tapi otaknya tetap bekerja, menghitung kemungkinan: siapa yang punya akses ke alamatnya, siapa yang cukup berani, siapa yang cukup... aneh.

Dia memikirkan wajah-wajah di kelas. Mahasiswa baru yang antusias. Mahasiswa lama yang apatis. Ada satu-dua yang sering bertanya setelah kelas, yang matanya agak lama menatap. Tapi semua itu biasa tidak ada yang mencolok.

Kecuali... tidak. Dian menggeleng. Dia tidak boleh terjebak dalam konspirasi.

Tapi sebelum tidur, dia membuka laci lagi. Sekali. Hanya untuk memastikan cincin itu masih ada. Masih nyata. Bukan mimpi.

 

Keesokan paginya, Dewa bangun dengan kepala berat bersiap siap mengikuti kelas statistik lanjut. Ruang kelas masih kosong. Hanya ada Ibu Dian yang duduk di meja dosen, sedang membaca sesuatu tanpa sarung tangan, tidak ada luka, tidak ada bekas apa pun hanya tangan pucat dengan urat biru yang samar.

Dian mendongak tapan mereka bertemu.

"Pagi, Dewa. Datang awal."

Ia mengangguk canggung. "Iya, Bu. Ada perlu."

Ia menutup bukunya untuk sesaat, Dewa melihat sesuatu di matanya — kelelahan? Atau... kegelisahan? Tapi kemudian Dian tersenyum tipis — sangat tipis, hampir tidak terlihat — dan berkata, "Duduklah, Dewa masih ada waktu sepuluh menit sebelum bel."

Dewa duduk di tempat biasanya tapi kali ini, dia tidak bisa tidak memperhatikan. Apakah kemarin hanya halusinasinya? Atau memang Ibu Dian memakai sarung tangan hanya sehari?

"Bu ..." Dewa membuka mulut, tanpa tahu mau bertanya apa.

Ia menoleh. "Ya?"

"Eh, nggak... nggak jadi. Maaf, Bu."

Dian menatapnya sebentar, lalu kembali ke bukunya. Tapi Dewa bisa merasakan ada sesuatu di udara tidak bisa dia jelaskan.

Bel berbunyi. Mahasiswa mulai berdatangan. Roby masuk dengan terburu-buru, duduk di sampingnya

"Lo siap?" bisik Roby.

"Siap."

"Kita ke kantor pos abis ini. Jangan lari."

Dewa mengangguk. Tapi matanya masih tertuju padanya menerangkan. Dan di sela-sela rumus dan angka, Dewa bertanya-tanya: apa yang disembunyikan dosennya? Atau apa yang disembunyikan pada semua orang?

1
anggita
salah kirim antara shasa dan dian..? 🤔
Ddie: ya mba...seharusnya untuk Sasha jatuh ke Dian...dosen killer
total 1 replies
anggita
like👍, 2iklan☝☝
Ddie: yeee ...thanks mba Anggi ....ciaat...yea...tunggu aku, Purnama !! aku ikut

Kalau mba anggi nulis keren
total 1 replies
Ddie
cinta salah kirim, lucu, koplak dan membuat hati meringis🤣🤣
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!