Sasha difitnah hamil oleh adik seorang konglomerat, dan hidupnya hancur dalam semalam. Untuk menutup skandal keluarga, Gio Artha Wijaya dipaksa menikahinya.
Di mata publik, Sasha adalah istri sah pewaris Wijaya. Di dalam rumah itu, ia hanyalah perempuan yang dibeli untuk menjaga reputasi. Gio membencinya. Menganggapnya jebakan.
Sasha membencinya karena telah menjadikan hidupnya alat tawar-menawar. Namun semakin lama mereka terikat dalam pernikahan tanpa cinta itu, Sasha mulai menyadari satu hal yang lebih menakutkan dari kebencian Gio.
Ia mungkin tidak pernah difitnah secara kebetulan. Seseorang telah merencanakan semua ini dan Sasha hanyalah bidak pertama.
Akankah Sasha mengetahui siapa dalang dari kejadian yang menimpanya selama ini?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Herlina, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Sebuah Kebenaran yang Tersimpan
Hening seketika menyergap. Namun, itu bukan hening yang membawa damai. Itu adalah jenis keheningan yang memekakkan telinga, seperti kesunyian sesaat sebelum sebuah bom meledak. Sasha mematung, ponselnya masih menempel di telinga yang kini terasa panas. Ia perlahan menurunkan tangannya, lalu memutar tubuh untuk menatap Gio.
Gio, pria yang selama beberapa bulan ini menjadi pelindungnya. Pria yang aroma tubuhnya selalu menenangkannya saat mimpi buruk datang. Kini, di mata Sasha, sosok itu tampak asing. Tatapan Sasha yang biasanya penuh binar kehangatan kini meredup, digantikan oleh kabut ketakutan yang bercampur dengan kecurigaan yang tajam.
“Gio…” suara Sasha nyaris tidak terdengar. Begitu rapuh, seolah jika ada angin berembus sedikit saja, suara itu akan hancur. “Apa maksud Dimas?”
Gio berdiri kaku di tengah ruangan. Rahangnya mengeras, membentuk garis tegas yang menandakan ketegangan luar biasa. Cahaya lampu chandelier di atas mereka memantul di matanya yang kini tampak gelap. Tangan yang memegang ponsel itu sedikit bergetar, sebuah pemandangan langka bagi pria setenang Gio.
“Aku bisa jelaskan, Sasha,” ucapnya akhirnya. Suaranya rendah, sarat dengan beban yang tampaknya sudah ia pikul terlalu lama.
“Tapi itu berarti…” Sasha memotong cepat, napasnya mulai pendek dan tidak teratur. “Apa yang dia bilang tidak sepenuhnya bohong? Ada bagian dari kebenaran di dalam fitnah itu?”
Gio menutup matanya sebentar. Hanya satu detik, tapi bagi Sasha, itu terasa seperti keabadian. Penutupan mata itu adalah konfirmasi. Sebuah pengakuan bisu yang membuat benteng pertahanan di hati Sasha runtuh seketika.
“Gio, jawab aku! Jangan diam seperti ini!” teriak Sasha, suaranya pecah oleh tangis yang mulai menyeruak.
“Bukan seperti yang kamu pikirkan!” Gio mencoba mendekat, tangannya terulur ingin menggapai bahu Sasha. Namun, Sasha justru mundur satu langkah besar, seolah sentuhan Gio adalah api yang akan menghanguskannya.
Untuk pertama kalinya sejak janji suci mereka diucapkan, Sasha tidak melihat Gio sebagai tempat bersandar. Ia melihat seorang pria yang menyimpan rahasia besar di balik punggungnya. Rahasia yang berkaitan dengan luka terdalam dalam hidup Sasha.
“Kecelakaan orang tuaku sepuluh tahun lalu…” bisik Sasha dengan bibir gemetar. “Kamu ada di sana? Di jalanan gelap itu? Di malam yang menghancurkan hidupku?”
Gio terdiam. Satu detik. Dua detik. Dan diam itu lebih menyakitkan daripada tamparan fisik manapun.
Air mata Sasha jatuh tanpa suara, membasahi pipinya yang pucat. “Kamu tahu segalanya selama ini? Kamu tahu siapa pelakunya?”
“Aku ada di jalan itu malam itu,” jawab Gio akhirnya. Suaranya berat, penuh penyesalan yang selama ini terkubur di balik jas mahalnya. “Tapi aku bukan orang yang menabrak mobil orang tuamu, Sasha. Demi Tuhan, aku tidak akan pernah menyakitimu seperti itu. Aku datang terlambat. Aku hanya seorang saksi... saksi yang dipaksa untuk diam.”
Sasha menggelengkan kepala, mencoba mengusir bayangan mengerikan yang menari-nari di benaknya. “Dipaksa siapa, Gio? Siapa yang punya kuasa untuk membungkammu?”
Gio menatapnya dalam-dalam. Ada kesedihan yang tulus di sana, tapi juga ketakutan akan kehilangan. “Dimas. Dia yang mengemudi malam itu dalam keadaan mabuk. Keluarganya menggunakan segala cara untuk menutupi jejak. Dan aku… saat itu aku hanyalah pemuda yang tidak punya kekuatan. Aku pengecut. Aku memilih diam untuk menyelamatkan masa depanku sendiri.”
Kata-kata itu menghujam jantung Sasha. “Jadi selama ini kamu tahu pelakunya adalah orang yang selama ini memfitnahku? Dan kamu tidak pernah bilang apa-apa? Kamu membiarkan aku hidup dalam ketidaktahuan selama bertahun-tahun?”
“Aku ingin melindungimu!” ucap Gio putus asa, langkahnya kali ini lebih mantap mendekati Sasha.
“Aku pikir semakin sedikit kamu tahu tentang kegelapan itu, semakin aman kamu berada di sisiku. Aku ingin menghapus masa lalumu dengan kebahagiaan baru.”
Sasha tertawa kecil. Tawa yang getir dan hancur. “Aman? Hidupku hancur sejak malam itu, Gio. Aku difitnah, aku kehilangan segalanya, bahkan aku dipaksa menikah denganmu karena situasi yang kacau. Dan sekarang aku baru tahu kalau suami yang kupikir adalah penyelamatku ternyata adalah orang yang memegang kunci kebenaran tapi memilih untuk membuangnya?”
Ketukan pintu tiba-tiba memutus ketegangan yang nyaris meledak itu.
Tok. Tok.
Seorang pelayan hotel berdiri di sana membawa nampan berisi dua gelas jus segar. “Complimentary drink dari manajemen, Pak. Mohon maaf mengganggu waktunya.”
Gio menerimanya dengan gerakan mekanis, pikirannya masih tertuju pada Sasha yang tergugu di dekat sofa. Setelah pelayan pergi, Gio menyerahkan satu gelas pada Sasha. “Minum dulu. Wajahmu sangat pucat, aku takut kamu pingsan.”
Sasha menerimanya tanpa banyak bicara. Ia butuh sesuatu untuk membasahi tenggorokannya yang kering karena emosi. Ia meneguk minuman itu hingga separuh.
Beberapa menit berlalu dalam keheningan yang berbeda. Kini, ada rasa panas yang aneh mulai menjalar di tubuh Sasha. Bukan hanya karena marah, tapi sesuatu yang lebih fisik. Jantungnya berdetak kencang, dan tiba-tiba saja, kemarahan yang tadi meluap terasa jauh. Yang tersisa hanyalah rasa lelah yang luar biasa dan kebutuhan mendalam untuk disentuh, untuk diyakinkan bahwa ia tidak sendirian di dunia yang kejam ini.
“Gio…” bisiknya. Pandangannya mulai sedikit berkabut.
Sasha tidak tahu apakah itu efek emosi yang terkuras atau minuman tadi, tapi ia merasa dinding pertahanannya runtuh sepenuhnya. Ia tidak ingin lagi berdebat. Ia hanya ingin rasa sakit ini hilang. Tanpa berpikir panjang, ia melangkah maju dan menjatuhkan tubuhnya ke pelukan Gio.
Gio tertegun, tangannya menggantung di udara sebelum akhirnya melingkar erat di pinggang Sasha. “Sasha?”
“Jangan bicara lagi tentang Dimas… jangan bicara tentang masa lalu untuk malam ini saja,” bisik Sasha di dada pria itu. “Aku cuma ingin merasa… kalau kamu benar-benar di sini. Bahwa kamu milikku, bukan milik rahasia-rahasia itu.”
Momen itu berubah. Ketegangan pahit berubah menjadi keintiman yang mendesak. Gio mengangkat wajah Sasha, menatap mata wanita itu yang kemerahan karena tangis. Di bawah cahaya lampu yang temaram, mereka saling mencari kejujuran.
Ciuman yang menyusul kemudian bukan karena nafsu semata, melainkan sebuah pelarian. Sebuah janji tanpa kata bahwa meski dunia di luar sana hancur, di dalam ruangan ini, mereka akan saling menjaga. Gio membawa Sasha ke tempat tidur dengan kelembutan yang luar biasa, memperlakukannya seolah ia adalah barang pecah belah yang paling berharga.
Malam itu, mereka tidak lagi bicara sebagai korban dan saksi.
Mereka bicara sebagai dua jiwa yang luka, yang mencari kesembuhan dalam dekapan satu sama lain. Segala sentuhan dilakukan dengan penuh rasa hormat, sebuah tarian emosi yang menyatukan mereka lebih dalam daripada sekadar fisik.
Beberapa jam kemudian, cahaya bulan menyelinap masuk melalui celah gorden, menyinari wajah keduanya yang tampak tenang. Sasha terbangun kecil, merasakan beban hangat dari lengan Gio yang masih melingkar protektif di perutnya.
Ponsel di nakas bergetar. Gio rupanya juga terbangun. Ia meraih ponsel itu, matanya menyipit melihat pesan dari nomor tak dikenal. Sebuah foto pelayan tadi, dengan pesan singkat: “Minumannya sudah bekerja, kan? Nikmati hadiahku, Gio.”
Gio mematikan layar ponselnya dengan kasar. Ia tidak akan membiarkan Dimas menang lagi. Ia menoleh ke arah Sasha yang ternyata sedang memperhatikannya.
“Siapa?” tanya Sasha pelan, suaranya serak.
Gio meletakkan ponselnya jauh-jauh, lalu kembali berbaring menghadap Sasha, merapikan anak rambut yang menutupi mata istrinya.
“Bukan siapa-siapa,” jawab Gio tenang. “Hanya sampah yang mencoba masuk ke rumah kita.”
Sasha menghela napas panjang, ia menyandarkan kepalanya di bahu Gio.
“Gio, apakah besok semuanya akan tetap sama? Apakah kita akan kembali ke kenyataan yang pahit itu?”
Gio mengecup kening Sasha lama sekali. “Kenyataannya adalah, aku mencintaimu. Itu satu-satunya hal yang tidak akan berubah, meski dunia ingin kita berpisah.”
Sasha memejamkan mata, merasakan detak jantung Gio yang stabil di telinganya. “Aku masih marah padamu karena diam begitu lama.”