Dominic Vance bukan sekadar CEO; dia adalah monster korporat yang menghancurkan perusahaan demi olahraga. Kejam, paranoid, dan tak tersentuh.
Hanya satu orang yang berani menatap matanya tanpa gemetar: Harper Sloane, sekretaris eksekutifnya yang berhati dingin. Harper membereskan kekacauan Dominic, memegang semua rahasia gelapnya, dan menjadi satu-satunya wanita yang tidak bisa dibeli dengan uang.
Namun, saat Harper mengajukan pengunduran diri untuk membalas dendam masa lalunya, Dominic tidak memecatnya. Dia mengunci pintu. Baginya, Harper bukan sekadar aset. Dia adalah obsesi.
"Kau bisa lari ke ujung dunia, Harper. Tapi aku akan membeli tanah tempatmu berpijak."
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Savana Liora, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 24: Si Dokter Hewan
"Kamu terlihat luar biasa, Harper. Gaun marun itu sangat cocok untukmu," puji Ryan sambil menarik kursi kayu berukir klasik untuk Harper.
"Terima kasih, Ryan. Maaf membuatmu menunggu lama. Bosku mendadak memberiku tumpukan laporan gila tepat sepuluh menit sebelum jam pulang," keluh Harper sambil duduk. Dia meletakkan tas kecilnya di meja berlapis taplak putih bersih.
Ryan tersenyum hangat. Dia duduk kembali di kursinya. Pria itu memakai kemeja biru muda berlengan pendek yang rapi namun santai. Wajahnya sangat ramah, jauh dari kesan intimidasi yang biasa Harper hadapi setiap hari.
"Tidak masalah. Aku baru saja memesan roti bawang putih dan pasta porsi besar. Bosmu itu kedengarannya seperti monster sungguhan," tanggap Ryan santai. Dia menuangkan air putih ke gelas Harper. "Tadi siang kamu bilang dia sering tantrum gara-gara apa? Suhu kopi?"
Harper menghela napas panjang. Beban kerjanya seolah menguap saat melihat senyum Ryan. "Sembilan puluh derajat celcius. Kalau kopinya kurang atau lebih dari angka itu, dia akan menceramahiku soal standar kualitas global selama satu jam penuh. Belum lagi urusan debu. Dia bersin dua kali lalu menyuruhku memanggil dokter spesialis bedah. Benar benar gila."
Ryan tertawa renyah hingga matanya menyipit. "Dokter bedah untuk hidung gatal? Kalau dia membawa kucing peliharaannya ke klinikku, mungkin kucing itu akan stres berat melihat kelakuan pemiliknya."
"Dia tidak punya hewan peliharaan. Dia punya pot bonsai seharga ratusan juta yang kemaren kusiram pakai kopi panas," cerita Harper tanpa rasa bersalah sedikit pun.
Mata Ryan membelalak takjub, lalu tawanya kembali meledak. "Kamu menyiram tanaman mahalnya? Harper, kamu punya nyali yang sangat besar. Pantas saja bosmu itu sering marah tidak jelas. Kalian berdua seperti bom waktu yang siap meledak kapan saja."
"Bukan bom waktu. Dia murni bayi raksasa berwujud CEO," ralat Harper cepat. "Setiap hari dia mencari-cari kesalahanku atau kesalahan kandidat karyawan lain. Dia sengaja menolak semua pelamar sekretaris baru dengan alasan yang sangat tidak masuk akal. Mulai dari karena terlalu cantik, sampai alasan suara napas yang dibilang terlalu berisik."
"Napas berisik?" tanya Ryan sambil menggelengkan kepalanya. Seorang pelayan restoran datang membawa dua piring pasta panas yang mengepulkan aroma tomat dan keju segar. "Terima kasih, Pak," ucap Ryan sangat ramah pada pelayan itu.
Harper mengangguk mantap. "Ya. Dia bilang suara hembusan napas kandidat itu merusak feng shui ruangannya. Padahal wanita itu kandidat paling cerdas dan rapi yang pernah kutemui sejauh ini."
"Itu artinya bosmu tidak mau kehilangan dirimu, Harper." Ryan memutar garpunya perlahan ke dalam tumpukan pasta. Tatapannya berubah sedikit lebih serius, namun tetap lembut dan penuh perhatian. "Pria seperti dia, yang punya segalanya dan bisa mengatur semua orang, pasti akan sangat ketakutan kalau kehilangan satu satunya orang yang berani melawan dan bisa menyeimbanginya."
Harper terdiam sejenak. Kalimat Ryan barusan mengingatkannya pada perdebatan panasnya dengan Dominic di kantor tadi sore. Tapi dia segera menepis pikiran mengganggu itu jauhjauh.
"Dia cuma takut kehilangan babu yang bisa disuruh-suruh kerja paksa tanpa ampun," kilah Harper sambil mulai menyuap pastanya. Rasa gurih dan asam segar langsung memanjakan lidahnya. "Abaikan saja bosku yang gila itu. Bagaimana dengan harimu? Berapa anak anjing yang kamu vaksin hari ini?"
Ryan langsung tersenyum lebar. Matanya berbinar cerah. "Oh, hari ini sangat sibuk. Ada anak anjing ras campuran yang terus menggonggong dan mencoba menggigit sepatuku. Lucu sekali. Lalu ada burung beo pasien langgananku yang bernyanyi seharian."
Obrolan mereka mengalir sangat lancar. Harper merasa sangat nyaman. Tidak ada ketegangan, tidak ada debat urat leher, tidak ada tuntutan pekerjaan miliaran rupiah. Hanya ada makanan enak, tawa ringan, dan pria ramah yang sangat menghargai kehadirannya. Ini adalah kehidupan normal yang sangat didambakan Harper.
Namun, Harper sama sekali tidak menyadari sepasang mata tajam yang terus mengawasi gerak geriknya dari seberang jalanan padat itu.
Di luar restoran La Bella Vita, tepat di seberang jalan raya yang terang benderang oleh lampu kota, sebuah mobil sedan Vancelo hitam milik Dominic terparkir secara ilegal di bahu jalan.
Kaca jendela penumpang bagian belakang terbuka separuh. Di dalamnya, Dominic duduk dengan postur tubuh kaku. Kemeja mahalnya sudah sangat kusut. Jasnya dilempar asal-asalan ke kursi samping.
Tatapannya terkunci rapat pada jendela kaca besar restoran Italia tersebut. Dari posisinya, Dominic bisa melihat dengan sangat jelas bagaimana Harper tertawa lepas bersama pria berkemeja biru murahan itu.
Senyum Harper terlihat begitu tulus dan manis. Sesuatu yang sangat jarang Dominic dapatkan.
Dominic menggeram pelan. Tangan kanannya mencengkeram sebuah burger isi daging ganda berukuran raksasa yang baru saja dibelinya dari restoran cepat saji lewat layanan tanpa turun.
Dengan gerakan penuh emosi dan sangat agresif, Dominic menggigit burger itu dalam potongan besar. Dia mengunyah daging itu dengan kasar, matanya terus menyala-nyala menatap pasangan di seberang sana. Saus tomat tebal menetes ke jari jarinya, tapi pria arogan itu sama sekali tidak peduli.
Ego dan rasa cemburunya meledak hebat menjadi satu kesatuan yang sangat mematikan. Dominic mengunyah burgernya layaknya sedang mengunyah tulang dokter hewan bernama Ryan tersebut.
Sopir pribadinya duduk kaku di kursi kemudi, mencengkeram setir dengan tangan berkeringat dingin, sama sekali tidak berani bersuara atau menoleh ke belakang. Dia tahu bosnya sedang berada dalam fase paling berbahaya.
"Pak, kita sudah parkir di zona larangan berhenti selama setengah jam. Kalau ada patroli polisi lalu lintas..." sopir itu akhirnya memberanikan diri berbisik pelan dengan suara gemetar.
"Diam! Biar saja mereka menilang mobil ini! Kalau perlu aku akan membeli jalan raya ini besok pagi!" bentak Dominic sangat kasar. Mulutnya kembali menggigit burger itu dengan buas. "Terus awasi pintu keluar restoran itu."
Sopir itu menelan ludah ketakutan. "Baik, Pak."
"Beraninya kau tertawa semanis itu di depan pria miskin, Harper," desis Dominic pelan penuh ancaman dengan mulut penuh makanan. Matanya menyipit tajam bagaikan predator yang siap menerkam. "Kita lihat seberapa lama kau bisa tersenyum malam ini."
cerita kk yg ini bnr2 bikin hipertensi ,,
perlu cek darah aq kak abis ini ,,
tkut drah tinggi ,, 🤭🤭🤭🤭🤣🤣🤣🤣
kak bisa gx ad scene si Dominic tenggelam di laut trus ilang bertahun2 sampai si Harper nikah sama dokter Ryan ,,
🤭🤭🤣🤣🤣
sebel aq tuh sama si domba ,, banyak tingkah gengsi segede bulan ,, /Smug//Smug//Smug/
Kalo emnk km tertarik dg Harper tggal ngomong baik2 gx perlu ngrendahin org lain ,,
Dominic kasih liburan dlu deh ,,
biar fresh jiwa dn raga ny ,,
gx usah jauh2 ,,
kirim k Amazon aj laa ,,
bikin rusuh trus soalny🤭🤭🤣🤣🤣