Inara Zahra Putri seorang siswi SMA kelas XI, ia pandai dalam seni lukis dan memiliki bakat bernyanyi.
Namun ia selalu menyembunyikan kemampuannya karena takut tidak diterima atau di anggap tidak serius dalam akademik.
Karena, sang ayah ingin ia menjadi seorang dokter di masa depan dan mengambilan pelajaran tentang kedokteran.
ia merasa dilema!!!
Apakah ia tetap memenuhi harapan keluarga menjadi dokter...?
Atau memperdalam bakatnya dalam bidang seni...?
••《 Inara juga memiliki rahasia kecil yang selalu ia simpan dalam hatinya, ia menyukai seseorang secara diam-diam...!》••
☆☆Dalam cerita mengacu pada paduan budaya Minang kabau dan kehidupan perkotaan modern.
●● Cerita ini hanya fiktif belaka murni karangan author tidak sesuai dengan sejarah..!!!
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Jasmine Oke, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 24. Kembali sekolah
Kenzo sudah mengeluarkan barangnya lalu bertanya kepada nara dimana meletakkan barang tersebut.
"Nara, koper dan barangmu yang lain taruh dimana." Ucap Kenzo ia sudah membawa semuanya dihadapan inara.
"Terimakasih Bang ken, tolong dibawa masuk saja semuanya." Ucap Inara tidak sungkan- sungkan kepada Kenzo. Ayah Hendry membantu membawa sebagian barang kedalam.
Saat didalam Inara mengeluarkan oleh-oleh dari Uwo dan bibinya lalu memberikannya kepada Kenzo.
"Bang Ken terimakasih, sudah menjadi sopir ayahku malam ini, ini oleh-oleh dariku ini adalah makanan khas Pariaman." Ucap Inara sambil memberikan makanan dan camilan kepada Kenzo.
"seharus nya aku yang berterimakasih kepada Om Hendry karena sudah mengizinkan aku masuk kedalam mobilnya dan Terimakasih oleh-olehnya" Ucap kenzo sambil mengucapkan terimakasih kepada ayah Inara, lalu tanpa malu ia langsung mengambil oleh-oleh pemberian Inara.
"Kalau begitu aku pamit dulu." Ucapnya lalu ia keluar dari rumah inara setelah pamit kepada bunda dan ayah Inara.
Setelah peninggalan Kenzo inara mengeluar oleh-oleh dari uwo untuk Bunda ayah dan adiknya, setelah itu mereka istirahat, tetapi Varel ingin membukanya.
"simpan saja semua terlebih dahulu besok siang kita buka!." Ucap Bunda Dewi karena ia melihat Varel membuka salah satu oleh-oleh.
"Iya bun!" Lalu ia meletak kotak tersebut lalu ia naik keatas untuk tidur, sebenar ia mengantuk tetapi karena melihat makanan matanya kembali cerah dan setelah bunda Dewi melarang mata nya kembali mengantuk. Ia naik keatas dengan lesu.
Esok paginya setelah inara sholat shubuh ia keluar kamar karena mendengar suara berisik dari arah dapur.
Saat sampai di lantai bawah, ia terkejut melihat Varel sudah membuka beberapa oleh-oleh yang dibawa tadi malam.
"Apa kamu tidak tidur nyenyak tadi malam." Ucap Inara membuat varel yang sedang asyik makan yang terkejut.
"Uni mengagetkan aku saja,." Lalu ia lanjut makan,tanpa menghiraukan Inara.
"Apakah kamu sudah sholat! Aku yakin kamu belum sholat, kembali kekamarmu kalau tidak kamu tidak boleh mengambilnya." Ucap Inara ia mengumpul semua kotak-kotak makan itu.
"Iya iya! Kamu cerewet bangat sich aku sholat, jangan simpan taruh aja disini." Ucap Varel lalu ia berlari keatas untuk sholat shubuh.
Begitu pula dengan Inara ia kembali ke kamarnya untuk mandi, karena hari ini ia sekolah.
Kegiatannya begitu banyak hari ini yaitu, mengejar pelajaran yang tertinggal selama dua hari, saat ia pergi memberikan bantuan, ia izin dua hari.
Dan juga mempersiapkan diri untuk ujian semester, karena tahun ini ia ingin mendapatkan nilai terbaik, disekolah swasta ini bukan dia saja yang pintar masih banyak siswa-siswi yang lain yang lebih pintar darinya.
Karena sekolah mereka untuk penerimaan pendiddik baru memang diseleksi saat masuk terlebih dahulu dengan seleksi sangat ketat, harus memiliki nilai bagus dan memiliki bakat dll.
Inara bersiap berangkat kesekolah ia sudah pamit kepada kedua orang tuanya, seperti biasa dia angkot kesekolah.
Saat sampai halte ternyata Kenzo menunggu disana.
"Ayo naik,!" Ucap nya tanpa menunggu persetujuan dari Inara ia memasangkan helm di kepala Inara.
"Bang Ken, mengapa kamu ada disini." Ucap Inara lalu naik ke atas motor Kenzo, seperti biasa ia hanya berani memegang jaket Kenzo.
"Menunggumu! Pegangan yang erat motor siap melaju." Ucap Kenzo lagi. "Oh ya bagaimana keadaanmu selama dua hari ini?." Ucapnya lagi.
"Tidak apa, aku baik-baik saja, daerah saja tidak ada penyakit menular." Ucap Inara santai.
"Lalu apa rencanamu sekarang, karena waktu ujian semester 1 tinggal satu bulan lagi." Ucap Kenzo lagi.
"Aku mengejar pelajaran ku yang tertinggal, juga belajar dengan giat sebelum ujian dipastikan, karena persaingan ku sangat banyak di kelas XI ini." Ucap Inara lagi dengan sungguh-sungguh.
"Bang Ken, kamu berencana kuliah dimana? Apakah kamu sudah menemukan mimpimu?." Tanya Inara karena ia penasaran apa mimpi Ken, setahunya Kenzo ikut klub debat tetapi ia juga suka musik dan berbisnis.
"Aku berencana kuliah tempat kak Alya karena disana banyak universitas yang bagus, kalau mimpi.... !! aku belum ada jawabannya karena belum terpikirkan." Ucap Kenzo lagi.
"Mengapa jauh-jauh kuliah ketempat kak Alya, disini juga banyak Universitas bagus ." Ucap Inara lagi.
jika Kenzo kuliah dikota Jakarta tempat kakaknya mungkin ia tidak bisa bertemu Kenzo lagi.
"Aku ingin mengganti suasana, aku juga ingin mengembangkan bisnisku disana dan membuat cabang Cafe Kennara disana." Ucap Kenzo lagi.
"Bang Ken, semoga kamu sukses disana jangan lupakan aku jika kamu jauh." Ucap Inara dengan pelan
"Terimakasih doanya dan mana mungkin aku melupakan mu." Ucap Kenzo lagi, mempelankan laju maotornya.
"Siapa tahu aja bang Ken menemukan wanita yang cantik dan punya pacar disana, karena setahu ku dikota besar seperti jakarta banyak gadis-gadis cantik dan mungkin bag Ken melupakan ku?." Ucap Inara lagi dengan sesak di dadanya.
Tapi lama setelah itu mereka sampai diparkiran sekolah, Inara turun dari motornya tanpa mendengar jawaban dari kenzo.
"Bang Ken terimakasih tumpangannya aku kekelas dulu." Ucap Inara sambil memberikan Helm kepada Kenzo.
"Eh, tunggu dulu aku belum menjawab pertanyaanmu." Panggil Kenzo kepada Inara karena Inara langsung pergi.
"Ada apa dengannya, dan mana mungkin aku melupakannya." Gumam Kenzo dalam hati lalu ia membuka Helmnya juga masuk kekelasnya.
Sedangkan Inara ia berjalan dikoridor sekolah, sambil melamun ia memikirkan jika Kenzo berjauhan darinya dan mendapatkan pacar baru, apakah melupakan dirinya yang hanya teman masa kecil.
"Bang Ken, aku tidak mau mendengar jawaban darimu, mungkin saja jawaban itu menyakitkan buatku, lebih baik aku tidak tahu sama sekali." Gumam Inara dan masuk kedalam kelasnya.
Setelah sampai di kelas, ia duduk masih keadaan linglung, tidak menyadari teman-temannya sudah mengkerumuninya.
"Ada apa, mengapa pulang dari daerah bencana kamu seperti ini!, apakah kamu sakit?." Ucap Naura sedikit khawatir.
"Eh, aku tidak apa-apa, aku hanya memikirkan sesuatu apakah kalian menyukai oleh-oleh yang aku bawa." Ucap Inara sambil mengeluarkan oleh-oleh untuk teman-temannya.
"Asyiik apapun oleh-oleh yang kamu bawa kami pasti suka, iya gak Has." Ucap Aira lalu bertanya kepada Hasna.
"Tentu, cuma kamu yang datang membawa oleh-oleh saat berkunjung tempat bencana." Ucap Hasna lalu ia juga ikutan mengambil oleh-oleh yang diberikan Inara.
"Hey, kalian bagikan kepada tempat sekelas yang lainnya, dan ini untuk bu Siskawati selaku wali kelas kita." Ucap Inara lagi.
"Sorry!!." Jawab mereka serentak lalu membagikan beberapa oleh-oleh kepada teman-teman sekelas, semua teman-teman sekelas berterimakasih kepada Inara.
.
.
.
terima atau tidak masalah nanti?