"Aku membencimu saat kau menyentuhku!"
"Benarkah? Tapi aku melihat bagaimana respon tubuhmu."
"Hentikan! Jangan sentuh aku!"
"Jika aku tak mau?"
"Kau tidak waras!"
Rodriguez De La Vega Navarro, CEO paling berkuasa di London, kehilangan satu hal yang tak bisa dibeli dengan uang Valeria De Luca.
Dua tahun setelah perpisahan tanpa penjelasan, takdir mempertemukan mereka kembali di toko kue milik Valeria. Satu tatapan cukup untuk membuka luka lama dan membangkitkan perasaan yang seharusnya telah mati.
Cinta berubah menjadi obsesi. Akankah Valeria bertahan.....
atau Rodrigo menghancurkan segalanya demi memilikinya kembali?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Lily Quinza, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 15 Kau mengenalnya?
Bel pintu berdenting.
Anne melangkah masuk sambil melepas syal wolnya. Namun, langkahnya terhenti begitu melihat seorang pria tinggi berdiri di balik meja etalase, wajahnya sedikit pucat, kemejanya sedikit terbuka di bagian perut, memperlihatkan perban yang masih tebal.
Mata Anne membulat.
“Val..... ada apa dia di sini?”
Rodrigo menoleh pelan. Tatapannya tajam, tapi ada lelah yang tidak bisa disembunyikan. Valeria yang sedang menyusun kotak pastry langsung panik.
“A-ane..... dia—tunggu, aku akan menjelaskan kepadamu.”
Tanpa memberi kesempatan Anne bereaksi lebih jauh, Valeria menarik tangan sahabatnya ke kursi kayu di sudut ruangan. Tangannya gemetar.
“Dia membantuku dua hari yang lalu,” bisik Valeria cepat. “Ada pria tidak dikenal mencoba menggangguku saat aku membeli makan. Rodrigo tiba-tiba muncul… dan—”
“Dan apa?” Suara Anne meninggi.
“Dia ditusuk.”
Sunyi. Seolah waktu berhenti berdetak di antara wangi croissant dan suara oven yang berdengung pelan.
“Apa?” Anne berdiri lagi, kursinya berdecit keras. “Kau bilang ditusuk!”
Valeria mengangguk. Air mukanya pucat. “Aku tidak mengenal pria itu. Rodrigo terluka karena melindungiku.” tubuh Valeria gemetar halus.
Anne menoleh ke arah Rodrigo yang kini duduk perlahan, satu tangannya menahan perutnya. Darah mungkin sudah berhenti mengalir, tapi bahaya itu masih terasa dekat.
“Val....” suara Anne bergetar, “kau sadar ini bukan kebetulan, kan?”
Valeria terdiam.
Di luar, sirene polisi meraung samar di kejauhan. Bukan untuk mereka, setidaknya belum. Namun firasat buruk menggantung di udara.
Karena pria yang menusuk Rodrigo tidak sekadar preman jalanan.
Dan Anne baru saja menyadari sesuatu yang membuat napasnya tercekat,
Ia pernah melihat seseorang wajahnya tertutup balacava sebelumnya.
Anne mencengkeram tangan Valeria erat.
“Val aku pernah melihat pria itu.”
Valeria menegang. “Apa maksudmu?”
Anne menelan ludah, menoleh sekilas ke arah Rodrigo yang pura-pura tidak mendengar, padahal rahangnya mengeras. “Dua hari lalu. Di ujung gang dekat halte bus. Dia berdiri menatap ke arah toko ini. Lama sekali. Aku pikir hanya orang lewat.”
Jantung Valeria seperti jatuh.
“Menatap.... tokoku?”
Anne mengangguk. “Bukan seperti pelanggan. Seperti seseorang yang sedang memastikan sesuatu.”
Suasana di dalam toko mendadak terasa sempit. Aroma manis gula berubah menyesakkan.
Rodrigo bangkit perlahan dari kursinya meski wajahnya menahan nyeri.“Apa kau melihat wajahnya?” tanyanya rendah.
Anne menggambarkan tinggi badan, jaket hitam lusuh, tapi wajahnya tidak terlihat karena ia memakai balacava.
Rodrigo membeku.
“Itu bukan preman biasa,” gumamnya.
Valeria berdiri. “Kau mengenalnya?”
Hening beberapa detik. Lalu Rodrigo menghembuskan napas panjang.
“Kemungkinan besar dia pernah bekerja untuk seseorang yang mengenalku.”
“Siapa?” suara Anne hampir berbisik.
Tatapan Rodrigo beralih ke jendela, ke jalanan kelabu di luar pusat London yang terlihat tenang, terlalu tenang.
“Orang-orang yang tidak suka jika aku kembali.”
Valeria merasakan dingin menjalar di punggungnya. “Kembali dari mana?”
Rodrigo tidak langsung menjawab. Sebaliknya, ia meraih ponselnya yang tergeletak di meja. Layar menyala puluhan panggilan tak terjawab.
Satu pesan baru masuk. Wajahnya langsung pucat.
“Apa itu?” Anne mendesak.
Rodrigo memutar layar ponselnya ke arah mereka. Hanya satu kalimat singkat.
Ini baru peringatan.
Jauhkan dirimu dari gadis itu.
Valeria merasa lututnya melemas.
“Aku?” suaranya hampir tak terdengar.
Di luar, bel pintu kembali berdenting. Ketiganya menoleh bersamaan. Seorang pria berdiri di ambang pintu. Jaket hitam. Bekas luka di dekat alisnya. Dan senyum tipis yang membuat darah Anne terasa membeku. Dia sangat aneh dan mengerikan.
Bel pintu masih bergetar pelan ketika pria itu melangkah masuk. Langkahnya tenang. Terlalu tenang. Valeria refleks mundur satu langkah. Anne berdiri di depannya, seolah bisa melindungi sahabatnya dengan tubuhnya sendiri.
Rodrigo sudah tegak sepenuhnya meski wajahnya menahan nyeri, satu tangan tanpa sadar berada di depan perutnya yang masih terluka.
Pria berjaket hitam itu tersenyum tipis.
“Pagi yang indah untuk membeli pastry,” ucapnya ringan, seakan tidak ada apa pun yang terjadi dua hari lalu.
Tak ada yang menjawab.
Suasana toko mendadak hening, hanya suara mesin kopi yang masih mendesis.
Rodrigo melangkah maju setengah langkah. “Apa maumu?”
Pria itu menoleh santai. “Aku hanya ingin memastikan kau menerima pesannya.”
Anne merasakan jantungnya berdetak keras. Jadi benar pesan itu bukan ancaman kosong.
Valeria berusaha menguatkan suara. “Jika kau ingin membuat masalah, keluarlah dari tokoku!”
Tatapan pria itu beralih padanya. Untuk pertama kalinya, senyumnya memudar.
“Kau tidak tahu dengan siapa kau terlibat, nona.”
Rodrigo mengepalkan rahang. “Dia tidak terlibat apa-apa. Ini urusanku.”
“Dulu mungkin,” balas pria itu pelan.
“Tapi sekarang? Semua yang dekat denganmu menjadi bagian dari permainan.”
Permainan. Kata itu membuat udara terasa semakin berat. Anne memberanikan diri berbicara. “Jika kau pikir kami akan diam, kau salah. Kami bisa melapor.”
Pria itu terkekeh pendek. “Silakan. Tapi pastikan kau siap dengan konsekuensinya.”
Tiba-tiba ia melangkah mendekat ke etalase kaca, menatap kue-kue yang tersusun rapi. “Toko yang manis. Sayang sekali kalau sesuatu terjadi padanya.”
Valeria membeku. Rodrigo bergerak cepat, berdiri tepat di antara pria itu dan Valeria. “Sentuh dia atau toko kue ini, dan kau akan menyesal.”
Tatapan mereka bertemu. Dingin. Penuh sejarah yang tidak terucap. Beberapa detik terasa seperti menit. Lalu pria itu tersenyum lagi, kali ini lebih tipis. “Sampaikan salamku pada orang yang kau tinggalkan. Dia sangat merindukanmu.”
Rodrigo memucat. Tanpa berkata lagi, pria itu berbalik dan keluar. Bel pintu kembali berdenting, kali ini terasa seperti bunyi ancaman.
Hening. Valeria menatap Rodrigo. “Orang yang kau tinggalkan siapa?”
Rodrigo tidak langsung menjawab. Tatapannya kosong beberapa saat, lalu ia berkata pelan. “Jika aku tidak pernah masuk ke toko ini malam itu hidupmu tidak akan berada dalam bahaya.”
Anne langsung memotong,“Jangan mulai menyalahkan diri sendiri. Sekarang yang penting siapa sebenarnya musuhmu?”
Rodrigo mengangkat wajahnya perlahan.
“Bukan hanya musuhku,” katanya pelan. “Tapi orang yang dulu kuanggap keluarga.”
Dan untuk pertama kalinya, Valeria menyadari. Luka di perut Rodrigo mungkin bisa sembuh. Tapi masa lalunya baru saja datang menagih sesuatu yang jauh lebih berbahaya.
Valeria merasa napasnya tercekat.
“Keluarga?” suaranya lirih, hampir tak terdengar.
Rodrigo berdiri membelakangi mereka, menatap jalanan luar toko yang kembali tampak biasa orang-orang berlalu-lalang tanpa tahu bahwa ancaman baru saja berdiri di dalam ruangan ini.
“Dulu aku bekerja untuk perusahaan keluargaku,” katanya pelan. “Bisnis besar. Terlalu besar.”
Anne menyilangkan tangan. “Bisnis apa sampai ada orang seperti itu?”
Rodrigo terdiam beberapa detik. “Investasi. Properti. Dan hal-hal yang tidak selalu bersih.”
Valeria merasakan dingin menjalar di tengkuknya.
“Kau pergi dari mereka?” tanyanya.
Rodrigo mengangguk. “Aku menolak satu kesepakatan besar. Aku tahu itu salah. Sejak saat itu aku dianggap pengkhianat.”
Anne membulatkan mata. “Jadi pria tadi—”
“Hanya kaki tangan,” potong Rodrigo.
“Orang suruhan.”
Valeria memegang meja untuk menopang tubuhnya. “Lalu kenapa aku?”
Rodrigo berbalik, tatapannya melembut namun penuh rasa bersalah. “Karena mereka tahu aku akan melindungimu.”
Kalimat itu menggantung di udara.
Anne menghela napas panjang. “Jadi sekarang apa? Kau akan pergi lagi? Menghilang supaya Valeria aman?”
Rodrigo tidak menjawab.
Dan justru itulah yang membuat Valeria panik.
“Kau tidak bisa memutuskan sendiri!” serunya, emosinya pecah. “Kemarin malam kau hampir membahayakan nyawamu. Sekarang kau ingin pergi begitu saja?”
Rodrigo mendekat satu langkah. “Jika aku tinggal, mereka akan terus datang.”
“Dan jika kau pergi?” balas Valeria. “Apa kau pikir mereka akan berhenti hanya karena kau menjauh?”
Sunyi.
Kali ini Rodrigo tidak punya jawaban.
Anne mengamati keduanya, lalu berkata tegas, “Kita tidak bisa menghadapi ini sendirian. Jika ini melibatkan bisnis besar dan orang berpengaruh, kita butuh bantuan.”
Rodrigo menggeleng pelan. “Melibatkan pihak luar justru bisa memperburuk keadaan.”
“Tidak,” sahut Valeria, suaranya kini lebih tenang tapi penuh tekad. “Yang memperburuk keadaan adalah kau terus menyembunyikan semuanya.”
Tatapan mereka bertemu.
Untuk pertama kalinya, bukan hanya ketakutan yang ada di mata Valeria, tapi keberanian.
“Aku tidak selemah yang kau kira, Rodrigo. Ini hidupku juga.”
Rodrigo terlihat terpukul oleh kalimat itu.
Tiba-tiba ponselnya kembali bergetar.
Satu pesan baru.
Kali ini bukan ancaman singkat.
Melainkan sebuah foto.
Rodrigo membeku.
Anne merebut ponsel itu dan menatap layarnya. Wajahnya langsung pucat.
“Val....”
Valeria mendekat, jantungnya berdegup tak terkendali. Foto itu menampilkan toko kue mereka diambil dari kejauhan.
Dan di pojok gambar, tertulis waktu pengambilan. Beberapa detik yang lalu.
Artinya Seseorang masih mengawasi mereka. Tepat di luar sana.