" Tinggalkan saja pacarmu itu. Tampangnya saja seperti tukang galon"
"OHH tidak boleh menghina manusia begitu pak. Biar seperti tukang galon, tapi cinta saya melebihi samudra"
"Halah paling juga nanti kamu nyesal"
Haruna Kojima gadis keturunan Jepang yang biasa di panggil Nana. Setiap hari harus mendengarkan mulut judes bos nya. Siap lagi kalo bukan Abian Pangestu, pria bermulut pedas tidak pandang bulu laki-laki maupun perempuan dimatanya sama. Tapi untungnya Nana punya kesabaran setebal skripsi anak teknik. Jadi ucapan judes sang bos hanya seliweran angin lewat.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Hanela cantik, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Pertemuan Dengan Pak Surya
Pagi itu, suasana di kantor pusat Pangestu Group terasa lebih mencekam dari biasanya. Nana baru saja duduk di kursinya, ketika suara interkom yang melengking memecah konsentrasinya.
"Na! Masuk! Sekarang!"
Itu suara Abian.
Nana berdiri, merapikan rok span hitamnya, dan melangkah masuk ke ruangan luas dengan pemandangan cakrawala Jakarta itu. Di balik meja mahoni besarnya, Abian tampak sedang bertarung dengan tumpukan dokumen. Rambutnya yang biasanya klimis sedikit berantakan, menandakan ia sudah berada di sana sejak subuh.
Abian mendongak, matanya yang tajam menatap Nana seolah sedang memindai kesalahan.
"Jadwal. Bacakan jadwal saya hari ini. Semuanya. Jangan sampai ada yang terlewat, satu detik pun."
Nana membuka tabletnya dengan tenang. Jemarinya menari di atas layar. "Pagi ini pukul 09.00 ada rapat internal dengan divisi pengembangan untuk proyek di Kalimantan. Pukul 11.00 ada sesi tanda tangan kontrak dengan vendor IT. Dan..." Nana menjeda sejenak untuk memastikan detailnya.
"...setelah makan siang, Bapak ada pertemuan penting di Hotel Mulia."
Abian menyandarkan punggungnya ke kursi kerja, matanya menyipit. "Hotel Mulia? Dengan siapa?"
"Dengan Pak Surya dari Global Tech, Pak. Pertemuan ini krusial untuk pendanaan startup baru yang ingin Bapak akuisisi. Pak Surya meminta tempat yang sedikit lebih formal namun santai, jadi beliau menyarankan restoran di sana pada pukul 14.00."
Abian mendengus, jemarinya mengetuk-ngetuk meja secara ritmis. "Surya ya? Dia itu cerewet soal detail. Pastikan semua berkas sudah siap di dalam mobil sebelum kita berangkat."
"Sudah saya siapkan di dalam koper Bapak, Pak," jawab Nana lugas.
Abian terdiam sejenak, menatap Nana yang berdiri dengan postur sempurna di hadapannya. "Lalu, bagaimana dengan seleramu hari ini? Masih ingin makan nasi bungkus yang baunya memenuhi seisi Jakarta itu?"
Nana tersenyum tipis, senyum yang sudah kebal akan hinaan. "Untuk makan siang hari ini, saya sudah memesan salad dari kafe bawah, Pak. Jadi Bapak tidak perlu khawatir soal aura kemiskinan yang menempel di baju saya."
Abian mendengus, namun ada kilat kepuasan yang tertahan di matanya. "Bagus. Setidaknya otakmu mulai bekerja selaras dengan gaji yang saya bayar. Dan satu lagi, Na..."
"Ya, Pak?"
"Pakai parfum yang saya kasih kemarin. Pertemuan di Mulia itu isinya orang-orang yang bisa mencium bau orang susah dari jarak satu kilometer. Saya tidak mau rekan bisnis saya mengira saya mempekerjakan asisten dari pasar loak."
Nana menarik napas panjang. Sabar, Nana. Sabar. Ingat, cicilan apartemen dan tabungan untuk orang tua masih butuh disuapi.
"Tentu, Pak. Saya akan memastikan bau orang susah ini hilang sepenuhnya sebelum kita sampai di sana."
Perjalanan menuju Senayan terasa lebih lambat karena kemacetan Jakarta yang tidak kenal ampun. Di dalam mobil, Abian sibuk dengan laptopnya, sementara Nana sibuk mengoordinasikan beberapa hal melalui telepon.
"Na," panggil Abian tiba-tiba tanpa mengalihkan pandangan dari layar.
"Ya, Pak?"
"Kenapa kamu tidak minta pacarmu itu siapa tadi? Si Kurir Paket itu untuk mencarikan pekerjaan yang lebih santai?"
Nana menoleh sedikit. "Karena saya suka pekerjaan ini, Pak. Dan Rian mendukung apa pun yang membuat saya mandiri. Dia tidak merasa terintimidasi hanya karena pacarnya bekerja untuk CEO yang... yah, sedikit unik seperti Bapak."
"Unik? Kamu mau bilang saya gila, kan? Katakan saja, saya tidak akan memotong gajimu. Paling hanya saya tambah jam lemburnya," ucap Abian dengan nada datar.
"Bapak yang bilang sendiri, bukan saya," balas Nana berani.
Abian menutup laptopnya dengan suara keras saat mobil memasuki area lobi Hotel Mulia.
Abian turun lebih dulu, diikuti oleh Nana yang membawa tas dokumen.
Mereka diarahkan menuju sebuah meja eksklusif di pojok restoran yang menawarkan privasi tinggi. Di sana, seorang pria paruh baya dengan setelan jas abu-abu sudah menunggu. Pak Surya.
"Abian! Senang melihatmu tepat waktu," sambut Pak Surya sambil berdiri dan menjabat tangan Abian.
"Waktu adalah aset yang tidak bisa saya beli kembali, Pak Surya. Jadi saya tidak suka membuangnya," jawab Abian dengan nada formal. Matanya melirik ke arah Nana, memberi kode untuk segera menyiapkan dokumen.
Nana bergerak efisien. Ia mengeluarkan tablet, menyusun draf kontrak, dan meletakkannya di hadapan kedua pria tersebut. Pembicaraan bisnis pun dimulai.
"Saya sudah meninjau proposal Anda, Abian," ujar Pak Surya sambil memperbaiki letak kacamatanya.
"Ekspansi ke pasar digital ini berisiko besar. Valuasi yang Anda ajukan menurut saya terlalu agresif."
Abian sedikit mencondongkan tubuh, matanya menatap tajam lawan bicaranya. "Agresif adalah nama tengah saya, Pak Surya. Jika kita tidak mengunci pangsa pasar sekarang, kompetitor dari Singapura akan menelan kita bulat-bulat dalam tiga kuartal ke depan. Nana, tunjukkan data proyeksi pertumbuhan logistics kita."
Nana segera menggeser tabletnya, menampilkan grafik yang menunjukkan kurva naik tajam.
"Seperti yang bisa Bapak lihat, integrasi sistem baru ini akan memotong biaya operasional hingga 15% pada tahun pertama. Risiko memang ada, tapi mitigasi yang kami siapkan sudah mencakup fluktuasi pasar global," jelas Nana dengan suara yang tenang namun meyakinkan.
Pak Surya mengangguk-angguk, tampak terkesan dengan kesiapan data tersebut. "Asistenmu ini sangat tajam, Abian. Jarang saya melihat asisten yang memahami detail teknis sedalam ini."
"Dia memang saya paksa untuk pintar, Pak Surya. Kalau tidak, dia hanya akan sibuk memikirkan pacarnya yang pengangguran itu," celetuk Abian ketus.
Nana hanya bisa menarik napas dalam-dalam. Di depan klien penting pun, mulut pedas Abian tetap tidak bisa direm.
"Kembali ke poin pendanaan," Abian melanjutkan seolah tidak terjadi apa-apa. "Saya butuh komitmen penuh dari Global Tech. Jika Anda ragu, saya punya tiga investor lain yang mengantre di luar pintu hotel ini."
Pak Surya tertawa. "Kamu selalu tahu cara menekan orang, ya. Baiklah, saya setuju dengan poin-poin utamanya, tapi saya ingin ada penyesuaian pada klausul bagi hasil di tahun ketiga."
"Kesepakatan tercapai," Pak Surya menjabat tangan Abian dengan mantap.
"Saya harap kerja sama ini semulus presentasi asistenmu tadi."
Begitu Pak Surya meninggalkan meja, Abian langsung melonggarkan dasinya dan bersandar dengan kasar di kursi. "Na, kemasi semuanya. Dan bersihkan noda saus di sudut meja itu, memalukan sekali kalau orang lain lihat."
Nana melihat meja yang dimaksud. Hanya ada setetes kecil bekas kopi yang nyaris tak terlihat.
"Baik, Pak Bos yang paling suci," gumam Nana sangat pelan.
"Kamu bilang apa?" Abian menatapnya tajam.
"Saya bilang, baik Pak, akan segera saya bersihkan," jawab Nana dengan senyum paling manis yang ia punya.
senyum yang sebenarnya berarti 'ingin saya tenggelamkan Bapak di kolam renang hotel ini'.
Nana ga ada teman laki Thor kayanya asik deh kalau satu tempat kerja ketemu teman lama