NovelToon NovelToon
Pesona Pengasuh Anak Dokter Duda Nyebelin

Pesona Pengasuh Anak Dokter Duda Nyebelin

Status: tamat
Genre:Dokter / Romansa pedesaan / Pengasuh / Tamat
Popularitas:1.7M
Nilai: 5
Nama Author: Mommy Ghina

Krisna Wijaya, seorang dokter berusia 32 tahun, pulang ke kampung halaman setelah perceraian yang menghancurkan hidupnya. Ia membawa luka, kesepian, dan seorang bayi enam bulan yang kini menjadi pusat dunianya. Di desa kecil Yogyakarta itu, Krisna berniat membuka klinik—membangun hidup baru dengan jarak aman dari perasaan.

Raisa, gadis 19 tahun yang keras dan apa adanya, berjuang membantu keluarganya demi bertahan hidup. Ia tidak bermimpi besar, hanya ingin bekerja dan tidak merepotkan orang tuanya. Takdir mempertemukan mereka dalam sebuah insiden di jalan—penuh amarah dan salah paham.

Namun perlahan, bayi kecil bernama Ezio menjadi jembatan yang tak mereka rencanakan. Dalam pelukan Raisa, Ezio menemukan ketenangan. Dalam kehadiran Raisa, Krisna dipaksa menghadapi egonya sendiri.

Ketika kelas sosial, usia, dan luka masa lalu menjadi penghalang, mampukah dua hati yang sama-sama lelah ini menemukan rumah … satu sama lain?

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Mommy Ghina, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Bab 23. Keputusan Atau Gengsi?

Tangisan Ezio yang tadi sempat turun kembali naik.

Kali ini bukan sekadar merengek.

Melengking.

Nada tipisnya menusuk telinga, naik turun tanpa jeda, seperti sirene kecil yang tak punya tombol mati. Tubuh mungil itu menegang di pelukan Krisna. Punggungnya melengkung, kepalanya mendongak ke belakang, wajahnya merah padam.

“Sudah, Nak … sudah,” bisik Krisna, suaranya serak.

Ia mengayun lebih pelan. Tidak mempan.

Ia menepuk lebih teratur. Tidak juga.

Ezio menendang-nendang, tangannya mengepal keras hingga buku-buku jarinya memucat.

Bu Lita yang sedari tadi menahan diri akhirnya melangkah mendekat lagi. “Coba Ibu lihat.”

Krisna ragu sesaat, tapi akhirnya menyerahkan Ezio. Begitu berpindah tangan, tangisan justru makin keras. Seolah bayi itu protes karena dipindahkan lagi.

“Ya Allah .…” Bu Lita mengangkat bahu Ezio, mencoba mengatur posisinya. “Ini bukan cuma rewel, Kris. Ini ... Ezio sudah capek nangis.”

“Dari tadi juga begitu, Bu,” jawab Krisna, nadanya mulai terdengar tegang.

Lena berdiri beberapa langkah dari mereka, tetap dengan wajah lembutnya. “Mungkin over-stimulated, Bu. Dari tadi pindah-pindah gendongan.”

Bu Lita menoleh sekilas, tidak menjawab.

Tangisan Ezio kini berubah menjadi tersedu-sedu di sela-sela teriakan. Nafasnya terputus-putus.

Krisna mendekat lagi. “Sini.”

Ezio kembali ke pelukannya.

Krisna mengangkatnya ke bahu, menepuk punggung kecil itu perlahan. Tangisan tidak reda. Bahkan terdengar lebih lelah—dan itu entah kenapa justru lebih menakutkan.

“Ini nggak bisa dibiarkan,” gumam Bu Lita.

“Apa lagi, Bu?” tanya Krisna, rahangnya mengeras.

Bu Lita menatap anaknya lama. Ada kekhawatiran yang nyata di sana—bukan sekadar saran iseng. “Hubungi Raisa.”

Kata itu jatuh begitu saja di tengah ruang tamu.

Hening sepersekian detik.

Lena menegang nyaris tak terlihat.

Krisna tidak langsung menjawab. Hanya menatap lantai, lalu Ezio, lalu kembali ke lantai.

“Bu …,” suaranya berat. “Aku sudah punya pengasuh.”

“Pengasuh baru, Kris,” potong Bu Lita pelan tapi tegas. “Ezio dari kemarin seperti ini. Kamu sendiri lihat. Sejak Raisa tidak ada di sini, dia tidak pernah benar-benar tenang, selalu saja rewel."

“Bu,” ulang Krisna, kali ini lebih dingin.

Tangisan Ezio kembali meninggi, seolah ikut menekan suasana.

Bu Lita tidak mundur. “Ibu bukan menyuruh kamu mengganti keputusan. Ibu cuma bilang—telepon saja. Minta tolong datang sebentar. Ketimbang anakmu menangis terus begini sampai kelelahan. Bayi bisa sakit kalau begini terus.”

Kata sakit membuat jantung Krisna berdenyut lebih keras.

Ia menunduk, melihat wajah kecil yang memerah di dadanya. Nafas Ezio tersengal.

Lena melangkah pelan, suaranya tetap selembut kapas. “Bu, maaf saya bicara.”

Bu Lita menoleh.

“Saya masih sanggup meng-handle Ezio, Bu,” lanjut Lena dengan nada sopan. “Anak seusia Ezio wajar kalau rewel. Apalagi dipegang orang yang baru dikenal. Dia butuh waktu untuk adaptasi. Lama-lama nanti juga terbiasa dengan saya.”

Kalimat itu terdengar masuk akal.

Sangat masuk akal.

Ia tersenyum tipis ke Krisna. “Pak Krisna tidak perlu khawatir. Ini proses. Saya tidak keberatan kalau harus ekstra sabar.”

Di dalam benaknya, kalimat lain berputar cepat.

Jangan panggil dia.

Kalau dia datang dan Ezio langsung tenang, habislah aku.

Aku belum dapat tempat di sini.

Tangisan Ezio kembali meledak, membuat Lena sedikit terlonjak. Tapi wajahnya tetap lembut. Tangannya terulur, seolah siap menerima lagi.

Bu Lita menatap Lena cukup lama. Ada sesuatu di tatapannya—tidak kasar, tapi tajam.

“Kamu yakin?” tanya Bu Lita.

“Sangat yakin, Bu,” jawab Lena tanpa ragu. “Saya sudah biasa dengan anak kecil. Anak saya dulu juga begitu waktu masih bayi.”

Bu Rika yang sejak tadi hanya berdiri di ambang lorong dapur kini maju sedikit. “Tapi, Mbak, ini sudah dari jam tiga pagi .…”

Lena tersenyum, memotong halus. “Justru karena masih baru dengan saya, Bu. Kalau sekarang kita panggil orang lain lagi, Ezio makin bingung. Nanti dia tidak belajar percaya.”

Kalimat itu terdengar bijak.

Krisna mengangkat wajahnya perlahan. Logikanya bekerja, berusaha menenangkan perasaannya sendiri yang terus berontak.

Iya.

Mungkin memang cuma adaptasi.

Mungkin memang aku yang terlalu cepat panik.

Ia menatap ibunya. “Bu, Lena benar. Kalau sekarang kita panggil Raisa, nanti Ezio tambah tergantung.”

“Tergantung?” ulang Bu Lita, keningnya berkerut.

“Iya. Nggak mungkin selamanya kita panggil dia tiap Ezio rewel.”

Tangisan Ezio kembali melengking, lebih panjang.

Bu Lita menarik napas dalam. “Krisna. Ini bukan soal tergantung. Ini soal kondisi anakmu sekarang.”

“Aku tahu, Bu,” jawab Krisna cepat. “Aku ini ayahnya.” Nada itu—tajam dan defensif—membuat ruangan terasa lebih sempit.

Lena diam, tapi di dalam hatinya muncul rasa lega kecil.

Bagus. Tetap di posisimu, Pak. Jangan goyah.

Bu Lita menatap anaknya lama sekali. “Ibu cuma tidak ingin kamu keras kepala.”

“Aku nggak keras kepala,” balas Krisna. “Aku cuma mencoba konsisten dengan keputusan saya.”

“Keputusan atau gengsi?”

Krisna terdiam.

Tangannya otomatis mengayun Ezio lebih cepat karena gugup. Ezio makin menangis.

Lena buru-buru mendekat. “Pak, mungkin boleh saya coba lagi? Saya pegang lebih lama, jangan dipindah-pindah.”

Krisna ragu. Lalu mengangguk.

Ezio berpindah lagi ke pelukan Lena.

Tangisannya tidak berhenti.

Bahkan kali ini terdengar seperti protes penuh tenaga terakhir. Wajahnya memerah sampai ke leher. Air mata membasahi pipi.

Lena mengayun pelan. “Ssst … Mbak di sini, Nak.”

Di dalam kepalanya:

Tenanglah.

Tenanglah, tolong.

Jangan rewel lagi.

Bu Lita memejamkan mata sejenak. “Krisna, dengarkan Ibu baik-baik.”

Krisna tidak menoleh.

“Telepon Raisa. Hanya untuk hari ini. Sampai Ezio benar-benar stabil. Setelah itu terserah kamu mau bagaimana.”

“Bu—”

“Kalau anakmu demam nanti karena kecapekan menangis, kamu mau salahkan siapa?”

Kalimat itu menghantam.

Krisna menoleh tajam. “Jangan menakut-nakuti aku, Bu.”

“Ibu tidak menakut-nakuti. Ibu realistis.”

Lena menimpali lagi, tetap lembut. “Bu, insyaallah tidak sampai demam. Saya akan pastikan. Saya bisa mengatur jadwal tidurnya pelan-pelan.”

Krisna menangkap kalimat itu. Ia butuh sesuatu untuk dipegang.

“Aku percaya Lena,” katanya akhirnya.

Bu Lita terdiam.

Benar-benar terdiam.

Tatapannya perlahan berubah—bukan marah, tapi kecewa.

“Percaya itu baik,” ucapnya pelan. “Tapi jangan buta.”

Tangisan Ezio mulai serak. Suaranya parau.

Krisna mendekat lagi, tak tahan mendengar nada lelah itu. “Sini, Nak.”

Ia hampir mengambil kembali Ezio, tapi Lena memeluknya sedikit lebih erat—masih dalam batas sopan, tapi cukup jelas.

“Biar saya dulu, Pak. Jangan sering pindah tangan. Nanti dia makin gelisah.”

Krisna berhenti.

Ia mengangguk.

Bu Lita melihat semuanya.

Gerakan kecil itu.

Keraguan yang tertahan.

Keputusan yang diambil bukan karena yakin—tapi karena ingin membuktikan sesuatu.

“Krisna,” panggilnya sekali lagi.

“Apa lagi, Bu?” Nada Krisna tak lagi sabar.

“Ibu hanya menyarankan saja,” katanya pelan, tapi suaranya mantap. “Kalau tidak mau mendengarkan tidak apa-apa.”

Ia berhenti sebentar. Menatap langsung ke mata anaknya.

“Hanya saja jangan sampai kamu menyesal jika anakmu seperti ini terus, dan akhirnya berujung sakit, karena ego dan gengsimu.”

Kata-kata itu jatuh tanpa teriakan. Tanpa bentakan.

Tapi beratnya seperti batu.

Krisna terdiam.

Lena ikut diam, meski di dalam dadanya berdebar keras. Jangan goyah. Jangan sampai goyah.

1
Tamirah
Ya... namanya aja gadis desa dan dari keluarga yg sangat sederhana, untuk kata kata spt yg diucapkan dokter duda ya bukan gak nyambung tapi Raisa' beranggapan gak mungkilah seorang dokter kota anaknya Pak Kades ada hati sama dirinya yg hanya anak seorang pembantu.Makanya ia selalu bersikap bar bar agar tidak diremehkan.
Tamirah
Ha. ha. ....mulai cemburu.. Krisna...! Gak memberikan kesempatan pada Raisa dan Fahri untuk bersama dgn alasan ibu Lita butuh bantuan alias Raisa dibawa pulang lagi kerumah Bu Lita...modus.
Tamirah
Dengan bergabungnya dua wanita ular untuk menyingkir Raisa maka Krisna akan semakin melindungi Raisa demi kenyamanan anaknya.Hanya Raisa lah yg bisa mengatasi anak sang dokter..itu tdk diragukan lagi.
Tamirah
Kuakui Thor novel mu emang keren habis, pingin baca karya mu yg lain.👍👍👍👍
Tamirah
Wik ....wik..sang janda mulai mengatur strategi untuk memfinah Raisa agar dialah yg jadi pengasuh nya, apa lagi diberi wkt 1 bulan untuk bersaing dgn Raisa tentu banyak rencana jahatnya untuk menjebak Raisa .. lanjut Thor.
Tamirah
Wajar kalau Lena gak terima Raisa jadi pengasuh Ezio,janda itu sangat membutuhkan pekerjaan utk kelangsungan hidup bersama anaknya nya,yg gak ituu karena punya misi untuk mendekati dokter obsesinya berharap dijadikan ibu sambung Enzo, mimpi' kali.... mbak Lena . ....!
Tamirah
Makan ituu gengsi gak peka banget kalau anaknya sdh nyaman dgn Raisa.
Seorang bayi sangat lah peka terhadap orang yg tulus menyayangi nya,begitu ia dijauhkan otomatis tubuhnya merespon yg akhir nya bayi jadi rewel....!
Tamirah
Ternyata Lena gak selugu yg kita duga ia punya tujuan lain, selain dia bekerja sebagai pengasuh Ia juga punya niat untuk mendekati dr Krisna wik wik janda gatal....perlu waspada pada hey..hey Dokter Krisna.Tentu para readers lebih senang Krisna berjodoh dgn anak pembantu dibandingkan dgn janda gatal....!!!!!
Tamirah
Gak usah fikir fikir lagi langsung aja gantikan ibumu bekerja lagi dirumah pak dokter kan lumayan di gaji buat tabungan. sebagai anak pembantu mendapatkan uang dgn hasil keringat sendiri itu sangatlah berarti.
Tamirah
Modus Krisna untuk menjadikan Raisa jadi pengasuh anaknya dgn alasan kaca mobil yg retak 😄😄😄
Tamirah
Suka banget dgn visualnya. ... keren...!!
Tamirah
Mungkinkah Raisa akan bekerja di Klinik Krisna, karena klinik perlu tenaga admin utk proses data pasien.
Tamirah
Sudah biasa laki laki kaya meremehkan orang yg ekonomi nya dibawah standar alias miskin, walau pun tidak semua laki laki punya sikap spt itu.Toh bisa di tebak walau nnt banyak drama antara sang Dokter desa dgn anak pembantu Ahir nya yg bucin ya sang dokter itu sendiri.
Tamirah
Visual dari alur cerita nya keren, awal dari perkenalan yg gak sengaja' tapi akan berlanjut menjadi drama yg mengasyikkan... lanjut Thor.
Maria Ulfah
Syafakillah mama ghina ..dan keluarga
Maria Ulfah
gemezz sin😁😁😁
Pujierde
gak mungkin dok klo lena ngajak makan siang bukan belain lena ya dok tapi lena juga sadar diri dok gak mungkin lgsg ngajakin makan siang
Pujierde
terlalu berani raisa padahal ada bu lita, pak wijaya jadi jangab salahin lena juga klo dia marah karena belum apa" sudah ngajak perang klo memang raisa orang yang masa bodo tentu gak akan nyidir" lena semua orang tau kok klo lena berlebihan dandanannya
Pujierde
jadi seorang ayah itu harus punya hati plus logika bukan hanya punya gengsi jadi tau mana yang tulus dan mana yang gak tulus heran seorang dokter kok hati dan logika gak jalan
Pujierde
iya emang cocoknya namanya dokter oneng bukan dokter krisna 😄😄 laki" gak punya hati yang dia punya tuh gengsi klo dia punya hati harus bisa liat bagaimana anaknya lebih nyaman sama raisa dacal doktel oon klo kata bodel mah 😄😄
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!