Arisa dikhianati calon suaminya sendiri di hari pernikahan. Namun karena tak mau malu, Arisa memutuskan menikahi pemuda desa bernama Ogi, yang diketahui juga sebagai murid favorit ayahnya Arisa dulu.
Ogi yang sepenuhnya punya usaha kerupuk di desa, membawa Arisa untuk ikut tinggal dengannya ke desa. Saat itulah kehidupan Arisa berubah drastis.
"Suara apa itu, Kang? Aku nggak bisa tidur," bisik Arisa sambil menghimpitkan badannya ke dekat Ogi.
"Itu cuman suara burung hantu atuh, Neng..." sahut Ogi berusaha tenang.
"Kompor gasnya mana, Kang?"
"Di sini masaknya masih pakai kayu atuh, Neng..."
"Ini kenapa sinyalnya nggak ada, Kang? Aku butuh wifi!"
"Di sini wifi belum ada atuh, Neng. Kalau mau sinyal pun harus naik ke tebing dulu."
Banyak pengalaman baru yang harus dilalui Arisa. Bagaimana kisah romantis dan kekocakkan mereka tinggal di desa?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Desau, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Chapter 3 - Pergi Ke Desa
Setelah menyiapkan barang-barang, Arisa siap berangkat. Dia langsung menemui Ogi yang menunggu di depan bersama Fedi.
"Kalian harusnya tidur dulu semalaman di sini. Nggak capek apa?" tukas Fedi.
"Aku ingin pergi sekarang, Pa. Secepatnya," sahut Arisa.
"Kalau aku ikut Neng Arisa aja atuh, Om..." ucap Ogi.
"Ya sudah. Kalian akan di antar ke terminal sama Pak Doni," kata Fedi.
"Iya, Pa. Papa jaga kesehatan ya." Arisa memeluk Fedi. Dia dan Ogi lantas pamit meninggalkan rumah.
Saat masih di mobil, Arisa terlihat masih tenang. Namun ketika sudah di bus, barulah dia menangis. Meski Arisa melakukannya diam-diam, Ogi yang duduk di sebelah tentu mengetahuinya.
Tanpa bertanya, Ogi mengambil tisu dan menyodorkannya pada Arisa.
"Makasih..." ucap Arisa sambil mengambil tisu. Dia lalu membuang ingusnya. Bunyinya terdengar jelas. Namun keadaan bus kala itu sedang banyak penumpang, jadi suara ingus Arisa tidak begitu menarik perhatian.
Selesai membuang ingus, Arisa kembali lanjut menangis. Ia cukup lama menangis berlarut-larut. Sampai tiba-tiba Arisa mendadak tersedak.
Mendengar itu, Ogi sigap menyodorkan sebotol air. Arisa segera meminum air yang diberikan Ogi.
"Makasih..." kata Arisa lagi. Usai minum, dia mengembalikan botol berisi air pada Ogi.
Ogi mengangguk sambil tersenyum. Ia menerima botol yang dikembalikan Arisa.
Arisa lanjut menangis lagi. Membuat Ogi jadi cemas.
"Sudahlah, Neng... Jangan nangis terus, engke cimata na beak atuh..." tutur Ogi, setengah berbahasa sunda.
"Apaan tuh? Kau ngomong apa?" tanya Arisa yang berhenti menangis sejenak.
Ogi tersenyum. "Artinya, nanti air matanya habis. Ulah ceurik terus atuh, Neng..."
"Oh... Terus itu apa lagi? Kau nggak ngejek aku kan?" tanggap Arisa.
"Artinya jangan nangis terus atuh, Neng..." sahut Ogi.
"Nggak mau! Kau nggak tahu bagaimana rasanya dikhianati. Aku akan menangis di sepanjang perjalanan ini. Biarkan saja air mataku habis... Biarkan saja air mata darah yang keluar..." isak Arisa penuh drama.
"Jangan ngomong begitu atuh, Neng... Nggak malu apa dilihatin orang?" sahut Ogi.
"Biarkan saja! Kalau kau malu, pindah duduk saja sana," balas Arisa.
Ogi lantas tak bisa berbuat apa-apa selain membiarkan. Namun dia tersenyum tipis karena merasa yakin kalau Arisa tidak akan menangis di sepanjang perjalanan. Ogi tahu, perjalanan ini akan berlangsung sangat lama.
Benar saja, setelah dua jam, Arisa berhenti menangis karena kelelahan. "Apa masih jauh, Gi?" tanyanya.
"Lumayan, Neng." Ogi menjawab tenang.
Arisa terdiam dan menengok keluar jendela. Dia tampak kecewa.
"Ngomong-ngomong panggil saja aku Akang gitu. Biar lebih enak di dengarnya atuh, Neng..." pinta Ogi.
"Akang? Kang Ogi?" tanggap Arisa. Dia tampak mengusap wajahnya yang sembab.
Ogi mengangguk.
"Baiklah kalau begitu." Arisa mengerti. Dia terdiam beberapa saat karena terpikirkan sesuatu. Ia berkata, "Kita belum membicarakan kontrak pernikahan. Ayo kita bicarakan sekarang!"
"Terserah, Eneng saja. Aku ikut saja," balas Ogi. Nada bicaranya selalu ramah dan hangat. Membuat Arisa merasa nyaman meski baru mengenalnya.
"Oke. Pertama, aku nggak mau disentuh. Jadi nggak ada yang namanya malam pertama bagi kita ya. Kalau kau berani menyentuhku, aku akan lapor polisi!" ujar Arisa dengan ekspresi galak.
Namun Ogi tersenyum melihatnya. Sama sekali tak membuatnya takut. Menurutnya Arisa malah terlihat lucu.
"Kenapa kau senyum? Aku lagi bicarain masalah serius loh ini, Akang!" tegur Arisa.
Ogi langsung merubah wajahnya jadi datar. "Maaf. Urang jangji moal noel, Eneng! (Aku janji nggak akan menyentuh, Eneng!)"
"Nah ini nih satu lagi. Jangan pakai bahasa asing terus pas bicara sama aku. Pakai Bahasa Indonesia. Bahasa kesatuan!" omel Arisa sambil melipat tangan di depan dada.
"Bukan bahasa asing, Neng. Tapi ini bahasa sunda atuh..." ralat Ogi.
"Mau bahasa asing, sunda, atau alien. Pokoknya pakai Bahasa Indonesia pas bicara sama aku. Awas aja kalau ketahuan mengejekku pakai bahasa sunda," timpal Arisa.
"Neng Arisa bisa mempercayaiku," sahut Ogi mantap. Sungguh, dia merasa gemas pada sikap blak-blakkan Arisa. Rasanya dia semakin menyukai gadis itu.