"Aku menceraikanmu, Hana. Hari ini, detik ini, saat ini juga."
Hana Anindita terpaku, tangannya yang gemetar mengusap perutnya yang sudah memasuki bulan ketujuh.
Di hadapannya, Bima Erlangga - pria yang berjanji akan menjaganya sehidup semati - menatapnya dengan sorot mata penuh kebencian.
Demi mengejar cinta masa lalunya yang kembali, Bima tega membuang belahan jiwanya sendiri. Bima mengira Hana akan bersimpuh di kakinya, memohon agar tidak ditinggalkan demi janin di rahimnya.
Namun, dugaannya salah besar. Hana hanya tersenyum tipis, mengemasi barang-barangnya, dan pergi tanpa menoleh lagi.
Saat Bima mulai menyadari bahwa Clarissa tidak sesempurna bayangannya, dan saat Hana mulai bersinar di tangan pria lain, sanggupkah Bima menjilat kembali ludah yang telah ia buang?
Atau selamanya ia hanya akan menjadi orang asing bagi anak yang dulu ia tolak kehadirannya?
Kita simak cerita selanjutnya yuk di karya Novel => Karma Suami Durhaka.
By: Miss Ra.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Miss Ra, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Episode 28
"Topeng secantik apa pun akan retak pada waktunya. Di episode ini, Bima akan melihat dengan mata kepalanya sendiri bahwa wanita yang ia bela mati-matian, hingga tega membuang istri yang tulus, hanyalah seorang pelacur perhatian yang haus akan harta. Saat pengkhianatan bertemu dengan rasa jijik, Bima menyadari bahwa ia tidak hanya kehilangan Hana, tapi ia telah menyerahkan hidupnya pada seekor ular."
.
.
Malam merayap semakin larut di Jakarta, namun bagi Bima, waktu seolah berhenti berputar. Rumah mewah peninggalan ayahnya terasa seperti penjara yang mencekik.
Bayangan Hana yang tersenyum terus menghujam jantungnya tanpa ampun. Setiap sudut rumah ini membisikkan kegagalannya.
Dengan langkah gontai dan kunci mobil di tangan, Bima memutuskan keluar. Ia butuh kebisingan untuk menenggelamkan suara-suara di kepalanya.
Ia butuh teman bicara, atau setidaknya, sesuatu yang bisa membuatnya lupa bahwa dalam beberapa minggu lagi, Hana akan sah menjadi milik pria lain.
Bima melajukan mobilnya menuju sebuah high-end club di kawasan Jakarta Selatan. Tempat di mana moral seringkali tertinggal di pintu depan, dan kemewahan menjadi satu-satunya bahasa yang dimengerti.
Lampu neon berwarna ungu dan biru menyambut Bima saat ia melangkah masuk. Aroma alkohol, cerutu, dan parfum mahal menyeruak di udara yang bergetar akibat dentuman musik EDM.
Bima memilih duduk di sebuah meja pojok yang agak gelap, memesan sebotol whisky termahal hanya untuk membuktikan pada dirinya sendiri bahwa ia masih punya kuasa atas hartanya.
Sambil menunggu minumannya datang, mata Bima mengedar ke arah lantai dansa yang penuh sesak.
Awalnya, ia hanya melihat kerumunan manusia yang bergoyang mengikuti irama. Namun, pandangannya terkunci pada satu titik di tengah lantai dansa.
Di bawah lampu strobe yang berkedip cepat, seorang wanita dengan gaun sequin merah, sedang berjoget dengan sangat mesra.
Tangan wanita itu melingkar di leher seorang pria asing yang tampak jauh lebih muda, sementara sang pria memeluk pinggangnya dengan posesif.
Mereka tertawa, berbisik di telinga satu sama lain, dan sesekali bibir mereka bertemu di tengah keriuhan itu.
Darah Bima mendidih, namun rasa sakitnya kali ini berbeda. Bukan lagi rasa sakit karena cinta, melainkan rasa jijik yang luar biasa.
"Clarissa?" desisnya lirih.
Bima tidak langsung melabrak. Ia mengambil ponselnya dari saku jas, mencari kontak Clarissa. Ia menempelkan ponsel ke telinga, matanya terus menatap tajam ke arah wanita di lantai dansa itu.
Di sana, Bima melihat wanita itu merogoh tas kecilnya, melihat layar ponsel sejenak, lalu memberikan kode kepada pria di depannya untuk berhenti sejenak.
Ia mengangkat telepon itu dengan wajah yang tiba-tiba berubah menjadi sok manis.
"Halo, Bima Sayang? Ada apa menelepon malam-malam begini? Aku sedang di rumah, baru saja mau tidur karena kepalaku pening memikirkanmu," suara Clarissa di seberang telepon terdengar manja, mencoba menutupi suara dentuman musik dengan menutup sebelah telinganya.
Bima tersenyum miring. Senyum yang penuh dengan kebencian.
"Hebat sekali, Clar. Sejak kapan kamar tidurmu punya lampu disko dan musik sekeras ini?" ucap Bima dingin.
Clarissa di seberang sana tertegun. "Maksudmu apa, Sayang? Ini... ini suara TV. Aku sedang menonton film dokumenter tentang konser musik ..."
"Berhenti membual, Clarissa," potong Bima. "Coba kau menoleh ke arah bar di sebelah kiri. Di sana ada pria bodoh yang baru saja kau habiskan uangnya miliaran rupiah hanya untuk kau khianati malam ini."
Clarissa membeku di tempatnya. Dengan gerakan kaku, ia memutar tubuhnya ke arah bar. Matanya menyisir kegelapan hingga akhirnya bertemu dengan tatapan mata Bima.
Bima mengangkat gelas whisky-nya yang baru datang, melakukan toast dari kejauhan dengan ekspresi wajah yang datar namun mematikan.
Pria di samping Clarissa mencoba merangkulnya kembali, namun Clarissa segera menepis tangan pria itu dengan kasar. Wajah liciknya bergerak cepat.
Dalam hitungan detik, ia mencoba mengubah raut ketakutan menjadi senyuman menggoda. Ia melangkah membelah kerumunan, meninggalkan pria muda itu tanpa penjelasan, dan menghampiri meja Bima.
"Bima! Astaga, kebetulan sekali kita bertemu di sini!" Clarissa langsung mencoba duduk di samping Bima, tangannya mencoba meraih lengan Bima. "Dengar, pria tadi itu... dia hanya sepupu temanku. Dia sedang sedih, jadi aku hanya mencoba menghiburnya agar dia tidak melakukan hal nekat. Kau tahu kan aku ini terlalu baik hati?"
Bima menarik lengannya, menghindari sentuhan Clarissa seolah wanita itu adalah tumpukan sampah yang bau.
"Menghibur dengan cara berciuman dan berpelukan seperti itu? Kau pikir aku ini buta, Clarissa? Atau kau pikir aku sebodoh itu sampai bisa kau suapi kebohongan murahan setiap hari?"
Clarissa merengut, bibirnya mengerucut manja, senjata yang biasanya berhasil meluluhkan Bima.
"Oh, ayolah, Bima. Jangan cemburu berlebihan. Kita kan sedang stres karena masalah ibumu dan Hana. Aku hanya butuh sedikit udara segar. Lagipula, aku melakukan ini juga untukmu, pria tadi punya koneksi di pajak, aku sedang mencoba melunakkan hatinya agar masalah Erlangga Group selesai."
Bima tertawa terbahak-bahak. Tawa yang terdengar mengerikan di tengah musik yang hingar-bingar.
"Melunakkan hatinya dengan tubuhmu? Kau benar-benar parasit berkelas, Clar."
Bima menuangkan minuman ke gelasnya, lalu menatap Clarissa dengan pandangan yang membuat wanita itu merinding.
"Semalam aku menangis karena Hana akan menikah. Aku merasa duniaku runtuh. Tapi melihatmu malam ini... melihat betapa murahannya wanita yang kupilih untuk menggantikan Hana, aku menyadari satu hal."
"Apa?" tanya Clarissa cemas.
"Bahwa aku bukan hanya bodoh, tapi aku adalah manusia paling malang karena telah menukar emas murni dengan perunggu karatan sepertimu." Bima berdiri, ia mengambil beberapa lembar uang ratusan ribu dan melemparnya ke atas meja untuk membayar minumannya.
"Bayar sendiri sisa belanjaanmu mulai hari ini, Clarissa. Mulai detik ini, semua kartu yang kau pegang sudah diblokir oleh Mamaku. Dan jangan pernah berani menginjakkan kaki di apartemenku lagi, atau aku akan memastikan kau berakhir di penjara atas pencurian aset perusahaan."
Clarissa terperangah, wajahnya memucat. "Bima! Kau tidak bisa melakukan ini padaku! Aku memegang rahasiamu! Aku akan menghancurkanmu!"
Bima berhenti sejenak, ia mendekatkan wajahnya ke telinga Clarissa. "Hancurkan saja. Aku sudah tidak punya apa-apa lagi untuk kehilangan. Cintaku pergi, kehormatanku hilang, dan ibuku membenciku. Kau pikir ancamanmu masih mempan? Silakan lapor ke media, tapi pastikan kau punya uang untuk membayar pengacara saat Mamaku menuntutmu balik atas pemerasan."
Bima melangkah pergi tanpa menoleh lagi. Di belakangnya, Clarissa berteriak histeris, namun suaranya tertelan oleh dentuman musik club yang semakin keras.
Saat Bima keluar dari club, udara malam Jakarta yang polutif terasa sedikit lebih segar. Untuk pertama kalinya dalam waktu yang lama, ia merasa satu beban parasit telah lepas dari pundaknya. Namun, kelegaan itu hanya sesaat.
Ia meraba saku jasnya, menyentuh kotak anting berlian untuk Hana. Matanya menatap ke arah utara, ke arah Sukamaju.
"Satu sampah sudah kubuang, Hana. Tapi bagaimana caranya aku membuang rasa bersalah ini agar aku layak setidaknya bersujud di depan pintumu?" gumam Bima.
Ia menghidupkan mesin mobilnya. Pikirannya kini hanya tertuju pada satu hal - Ia harus menghentikan pernikahan itu, bukan karena ia merasa berhak memiliki Hana kembali, tapi karena ia belum siap melihat Hana benar-benar menghapus namanya dari sejarah hidupnya.
Jangan lewatkan episode selanjutnya yaaa ...
...----------------...
**To Be Continue** ....
Bima semangat 🔥💪🥰