Leana putri tunggal seorang pengusaha yang tidak pernah terekspos, sehingga dia di kenal sebagai anak orang miskin yang masuk ke tempat elit demi menaikkan derajat. Menjadi pacar seorang anak miliyader membuatnya menjadi pusat perhatian, Reno putra ke tiga dari keluarga ternama di kotanya, Ketika berkunjung kerumah sang pacar dia mendapati teman baiknya sedang berduaan. Meminta pertanggung jawaban namun tak di hiraukan Reno.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Dhe vi, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
20
2 Minggu setelah Ray menungguku dan membawaku untuk pulang bersamanya aku merasa seperti istri yang lagi minggat kerumah orang tuanya dan setelah baikkan sama suami baru mau ikut pulang, tapi aku pulang kan karena pekerjaan.
"Pulang kerumah apa ke apart Love".
"Apart saja beb. Lagian kamu ini 2 minggu cuti kerja apa nggak terlalu lama".
"Yang penting kamu pulang sama aku".
"Ya ampun beb, aku cuma pulang kerumah orang tuaku loh".
"Terus, ninggalin pacar sendiri sampai mau 1 bulan begitu? Kalau nggak aku jemput kamu nggak bakalan mau pulang kan".
Aku hanya tersenyum, dia yang terlalu overprotektif atau aku yang terlalu dia sayangi, hah rasanya menyebalkan tapi satu sisi juga menyenangkan.
Begini ya rasanya di sayangi dan di lindungi oleh orang yang sayang sama kita, kalau begini terus aku nggak mau lagi kehilangan.
Ray juga cerita kalau mamanya menghubunginya bahwa anak yang di kandung Melinda adalah laki-laki dan dia sangat senang karena akan ada pewaris lain di keluarga mereka. Aku dan Ray hanya tertawa, bagaimana bisa seorang anak angkat memiliki anak akan menjadi pewaris keluarga Wilder.
"Love, mama mengundang kita makan malam hari ini, kamu cape nggak". Tanya Ray
"Nggak sih, soalnya kan aku tidur terus tadi. Hmmm gimana ya, ya udah deh beb aku mau".
"Oke aku bakal bilang sama mama kamu mau datang".
Jika aku selalu menolak undangan dari mama Ray, aku bakal selalu di cap tidak bisa melupakan Reno dan masih menyimpan rasa padanya.
Tertarik dengannya saja tidak, cowo tidak mau bertanggung jawab begitu malah menyusahkan saja jika terus di pertahankan dan aku akan melewatkan kesempatanku untuk dapat yang lebih baik darinya.
Setelah kami bergantian mandi kami bersiap pergi kerumah utama keluarga Wilder, tarik nafas hembuskan tarik nafas hembuskan. Jika Reno ngomong sembarangan lagi aku akan langsung melawannya jika aku hanya diam saja itu artinya apa yang dia ucapkan benar adanya.
"Baru pulang Lea, ku dengar kamu kabur keluar negeri". Sambut Isabella.
"Nggak kabur Bell aku kerja". Belaku.
"Itu buktinya si Ray nyusul kamu pulang kan sampai cuti 2 minggu". Isabella tertawa lepas.
"Nggak tau nih Bel, padahal aku bilang nanti juga pulang kok".
"Love kamu bilang kemarin kan 1 bulan di sana, kalau aku tidak menyusul mungkin kamu tidak akan pulang lagi kesini". Alasan Ray
"Aku kan kerja beb".
"Sudah-sudah sini Lea temani aku, jangan keseringan sama Ray dia itu over protektif banget orangnya".
Aku mengangguk tanda setuju dengan Isabel, Ray memang seorang over protektif banget.
Saat kami sedang bersantai Melinda turun dari kamarnya menggunakan baju yang begitu minim, seperti kekurangan kain saja.
"Baju apa lagi tuh kekurangan kain banget dia dan senang banget mamerin dadanya yang besar itu". Keluh Isabella.
Kulihat Isabella ini cantik banget, bahkan melebihi Melinda cantiknya dia elegan dan badannya sangat harum aku suka dekat dengannya begini dan yang paling membuatku kagum padanya dia adalah anak seorang ketua mafia di kota ini.
"Dia memang suka begitu Bel, aku nggak heran".
"Untung kamu sudah lepas dari Reno Le, kalau nggak kamu bakalan sengsara sama dia".
"Sengsara kenapa Bel?".
"Diakan....". Isabella belum mnyelesaikan ucapannya sudah di bungkam oleh Asa.
"Belum saatnya beb". Tegurnya.
Belum saatnya? Apa mereka masih menunggu waktu yang tepat. Tapi kenapa sampai sekarang semua itu masih Asael dan Ray tutupi dari kedua orang tuanya.
Mama Ray sejak awal tidak menyukai Reno karena dia anak dari seorang pelakor yang menggoda suaminya dan punya anak bahkan ayah Ray terang-terangan membawa anak haramnya itu kerumah karena ibunya telah meninggal.
"Wah anak perempuan mama sudah pada datang". Sambut mama Ray yang baru keluar dari dapur.
Aku dan Isabella menyalami beliau dan cipika cipiki seperti biasanya.
"Tante ini ada sedikit oleh-oleh untuk tante". Aku menyerahkan buah tangan yang ku beli sebelum pulang ke sini, sebuah coklat batangan yang di dalamnya ada matcha dan beberapa cemilan lainnya, mamaku juga menitipkan sebuah gelang dari batu giok untuk beliau.
"Ya ampun cantik sekali gelangnya, bilangin makasih ya buat mama".
"Iya tante".
"Kekurangan baju kamu Mel".
"Ih mama ini ketinggalan fashion yang baru ya, ini menang begini modelnya bukan kekurangan baju". Ucap Melinda dengan lantang.
Seolah dia memang tau dengan Fashion sekarang, aku hanya bisa tersenyum ternyata Melinda ketinggalan pada fashion.
"Ayo sayang mama Lea sama Isabel kita kemeja makan duluan, para pria masih sibuk di ruang kerja".
Aku dan Isabella mengikuti mama Ray menuju meja makan, seorang bibi sedang menyiapkan makanan di meja makan.
"Tante cuma mengerjakan 1 orang saja ya dirumah".
"Iya Lea, soalnya kan kalau masakkan mama yang handel dia cuma bagian bersih-bersih dan nyuci saja". Jelas mama Ray
"Wah bisa dong Lea belajar masak sama tante".
"Tentu saja sayang mama dengan senang hati akan mengajari kamu, Isabel juga nak".
"Nggak ma, Isa sibuk". Tolaknya
"Duh sayang sekali".
Saat kami sedang berbincang Melinda juga ikut nimbruk di sela-sela obrolan kami.
"Mama, Lea itu pemalas ngapain juga mau ngajari dia kan ada aku di sini ma". Ucap Melinda
"Maaf saya nggak percaya sama kamu, sebaiknya kamu urusi saja kandungan kamu itu". Terdengar kasar, namun beginilah mama Ray beliau tidak menyukai Melinda.
"Masakanku lebih enak lo ma".
"Lebih baik saya masak sendiri dari pada kamu yang masak". Balas mama Ray
Melinda terdiam dan duduk di meja makan.
Para priapun menuju ke meja makan, terlihat Reno sedang stres di sana mungkin dia habis di marahi oleh ayahnya.
Ray datang menghampiriku yang masih berada di dapur dan memelukku dari belakang.
"Lagi apa Love",
"Lagi ngobrol aja sama tante".
"Kok manggil tante ke mama".
"Nggak apa-apa beb, aku hanya sungkan kan kita masih pacaran". Ray membuang nafasnya dengan kasar.
Setelah sedikit-sedikit bantu mama Ray aku dan beliau kembali ke meja makan.
Selesai makan kami masih berkumpul di meja makan untuk menikmati makanan penutup.
Kulihat bibi rumah Ray memberikan makanan penutup yang berbeda dari kami, bahkan makanannya juga berbeda lauknya.
"kenapa dia beda terus ma?". Tanya Isabella
"Kata bibi sih permintaan Melinda karena dia sedang hamil".
"Oh".
Apa Melinda benar-benar di sayangi di keluarga ini bahkan makanannya berbeda pun tidak ada yang mempermasalahkannya. Beruntung banget Melinda sekarang, tapi tidak heran sih karena sejak masa kuliah dulu dia memang seorang yang lebih beruntung dari pada diriku ini.
semangat ngetik thor sampe tamat..