Suaminya berkhianat, anaknya di tukar dan dihabisii. Selama lima tahun dia merawat anak suami dan selingkuhannya yang bahkan tinggal satu atap dengannya berkedok sebagai pengasuh.
Bahkan dirinya diracuni oleh pelayan kepercayaannya. Ratih, berakhir begitu tragis. Dia pikir dia adalah wanita paling malang di dunia.
Namun nasib berkata lain. Ketika dia membuka mata, dia berada tepat dimana dia akan melahirkan.
Saat itu Ratih bersumpah, dia akan membalas suaminya yang brengsekk itu. Dia akan mengambil bunga dari setiap perbuatan suami dan semua yang telah menyakitinya dan anaknya.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon noerazzura, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 6. Racun yang Disiapkan
Satu bulan berlalu...
Fandi dan bibi Erma sudah berpikir untuk memasukkan Sarah ke rumah Ratih. Dengan alasan supaya Ratih tidak terlalu lelah.
Ratih yang berpikir, hari ini pasti akan datang. Tentu saja, tidak menyia-nyiakan kesempatan yang baik.
"Aku rasa bibi benar. Kita butuh orang yang bekerja di rumah ini lagi. Tapi aku tidak butuh pengasuh, ibu sudah siapkan pengasuh dari yayasan yang sangat bisa di percaya. Kita butuh pelayan di bagian laundry!" kata Ratih.
Bibi Erma cukup terkejut. Selama ini bukanya mereka selalu mencuci pakaian di laundry langganan. Kenapa tiba-tiba ingin mempekerjakan pelayan di bagian laundry.
"Nyonya, bukannya untuk laundry..."
"Aku sudah memikirkan ini, Bi. Pakaiannya Rafa, aku jadi tidak percaya kalau di cuci diluar. Pekerjakan saja orang yang bibi rekomendasikan itu. Di bagian laundry, lagipula di sini hanya tinggal tiga orang kan? aku rasa satu pelayan bagian laundry saja cukup!" kata Ratih dengan tegas.
Bibi Erma sedikit heran dengan Ratih. Kenapa dia bisa punya pemikiran seperti itu. Dulu, Ratih itu selalu menurut pada bibi Erma, kenapa sekarang malah tidak pernah melakukan saran dari bibi Erma.
Bibi Erma yang berpikir, kalau Sarah harus bekerja di bagian laundry, itu cukup berat dan melelahkan. Belum tentu juga Sarah mau melakukannya, segera menoleh ke arah Fandi. Dia ingin pria yang sudah menjadi kekasih anaknya selama 7 tahun itu, membantunya.
Mendapatkan tatapan serius dari bibi Erma. Fandi yang berada di samping Ratih mulai bicara.
"Sayang, aku rasa tidak masalah kita pakai jasa laundry luar. Tempat itu sangat profesional..."
"Mas, kamu mana paham. Kamu seharian ada di perusahaan. Setelah itu masih harus bertemu klien, jarang pulang. Tidak pernah tahu kan, kalau Rafa suka merah-merah badannya?" sela Ratih.
Fandi langsung bungkam. Karena semua yang dikatakan Ratih memang benar. Dia lebih sering ada di luar. Setelah dari perusahaan, dia malah sibuk dengan Sarah. Jadi, dia juga tidak bisa membantah Ratih.
Bibi Erma terlihat kesal saat Fandi terdiam begitu saja.
"Nyonya, bibi akan menegur tempat laundry itu. Supaya mereka lebih memperhatikan pakaian bayi..."
"Bibi tidak perlu melakukan itu. Aku sudah pesan mesin cuci yang baru dan juga mesin pengering. Aku juga sudah siapkan kamar pelayan di samping ruangan laundry. Jadi, kalau dia mengerjakan pekerjaannya, dia sama sekali tidak perlu masuk ke rumah utama. Bibi yang harus ambil pakaian dari ruangan laundry. Jangan berpikir aku tidak percaya pada rekomendasi bibi ya. Aku hanya tidak mau Rafa terkontaminasi hal-hal yang tidak penting. Sudah ya, aku akan bawa Rafa ke rumah sakit. Hari ini jadwal Rafa imunisasi!"
Setelah mengatakan semua itu, Ratih langsung bersiap meninggalkan Fandi dan bibi Erma. Dia sama sekali tak perduli pada Fandi.
Kalau dulu, dia pasti akan minta Fandi ikut. Sekarang dia bahkan tidak ingin pria itu ikut.
"Sayang... aku bisa menemanimu!" kata Fandi.
"Tidak usah mas, selama aku belum masuk kantor. Kamu pegang urusan kantor!" kata Ratih yang bahkan tak menoleh.
Perubahan sikap Ratih pada Fandi memang sangat kentara.
"Bi, apa bibi merasa kalau Ratih ini aneh sekarang. Dia seperti tak perduli padaku, dia hanya memperhatikan Rafa. Dulu kalau aku belum pulang, dia terus menghubungiku, bikin pusing, dan mendesak untuk cepat pulang. Sekarang..."
"Ya wajarlah, namanya juga baru punya anak satu. Dia sayang sekali pada Rafa itu juga bagus! sekarang kamu pikirkan bagaimana bicara pada Sarah. Tujuannya masuk rumah ini untuk dekat dengan Rafa. Kalau cuma jadi pelayan laundry, mana bisa dia dekat dengan Rafa!" kata bibi Erma.
**
Di rumah sakit, Maya sudah datang bersama dengan pengasuh yang mereka siapkan. Seorang yang sangat ahli di bidangnya. Wanita yang usianya sekitar 37 tahun itu, punya sertifikat resmi untuk pekerjaannya tersebut.
"Namanya Asih, bibi Asih ini sudah sangat berpengalaman. Kamu bisa mengandalkan dia!" kata Maya.
"Terima kasih, Bu. Dan tolong carikan aku dua orang satpam lagi!" kata Ratih.
Mata mengernyitkan keningnya.
"Loh, kenapa nak? bukannya di rumahmu sudah ada satpam? Joni sudah bekerja di sana 3 tahun. Apa dia mau berhenti?"
Ratih menggelengkan kepalanya.
"Belum bu, tapi sebentar lagi dia akan berhenti!" kata Ratih.
"Oh begitu. Baiklah, kalau masalah itu ibu akan minta ayahmu melakukannya. Dia yang paham masalah itu! bagaimana dengan imunisasi Rafa?" tanya Maya.
"Sudah bu, perkembangannya bagus. Berat badan dan semuanya bagus. Aku akan ambil obat di apotik dulu. Ibu duluan saja ke mobil, tolong bawa Rafa ya, Bu!"
Mata langsung terlihat senang.
"Wah, cucu oma. Tentu saja, Oma akan dengan senang hati bawa Rafa! Bibi Asih, bawa tas Rafa!" kata Maya.
"Baik nyonya!"
Keduanya lantas pergi meninggalkan Ratih. Sementara Ratih mengeluarkan ponselnya.
"Kamu dimana?" tanya Ratih.
[Lantai tiga, di depan ruangan laboratorium]
"Aku kesana!"
Langkah Ratih cepat menuju ke tempat yang di sebutkan oleh seseorang yang dia hubungi tadi.
Hingga dia melihat seorang pria berjas semi formal dengan seorang petugas laboratorium.
"Ben!"
"Kita masuk dulu ke ruangan!" kata Ben ketika dia melihat Ratih.
Di dalam ruangan laboratorium itu. Petugas yang tadi bersama dengan Ben. Meletakkan satu botol kecil berisi cairan bening ke atas meja.
"Ini obat yang kamu minta. Ratih, ini cukup berbahaya, kalau kamu menghirupnya juga..."
"Aku tidak akan menghirupnya!" sela Ratih.
Wanita itu lantas meraih botol bening itu, lalu menoleh ke arah petugas laboratorium itu. "Cara pakainya di semprotkan saja kan?" tanya Ratih.
"Benar, tapi menghirupnya dalam waktu lama. Akan menimbulkan kerusakan organ tubuh bagian dalam!"
"Memang hal seperti itu yang aku inginkan. Berapa lama orang itu akan mati?" tanya Ratih.
Ben cukup terkejut, sebenarnya apa yang ingin dilakukan oleh Ratih. Siapa yang ingin dia habisii perlahan?
"Nyonya minta jangka panjang bukan? Obat ini akan melumpuhkan seseorang secara perlahan dalam waktu 8 sampai 9 tahun. Tapi untuk membuat masalah pada kesehatan secara serius dalam 5 sampai 6 tahun. Sudah akan mulai terasa. Setelah itu, tidak akan ada obatnya!"
Ratih tersenyum puas. Dia sungguh puas dengan jawaban dari pertanyaannya itu.
"Terima kasih, aku jamin tidak akan ada yang tahu. Aku akan membayarmu 100 juta untuk satu botolnya, apa cukup?" tanya Ratih dengan sangat serius.
Petugas itu tentu saja langsung mengangguk. Botol itu hanya berisi 7 mililiter racun saja. Dan di bayar 100 juta. Itu lebih dari gajinya selama 3 tahun.
"Bagus! kalau obat ini habis, aku akan minta padamu lagi!" kata Ratih yang langsung menyimpan obat itu.
Dia berjalan dengan cepat keluar dari laboratorium.
"Ratih!" panggil Ben.
"Ben, aku punya satu pekerjaan lagi untukmu!" kata Ratih menyela sebelum Ben bicara.
***
Bersambung...
Selalu Berpenampilan Rapi. ...
Tidak Berani Melakukan Kontak Mata dan Mencuri-Curi Pandang. ...
Selalu Tersenyum dengan Hangat. ...
Sering Tertawa Ketika Mendengar Lelucon yang Kalian Lontarkan. ...
Salah Tingkah. ...
Respon dan Nada Berbicara yang Berbeda. ...
Memberikan Perhatian Lebih..
Sepertinya Ratih mulai ada rasa..
Tapi dia tak mau mengakuinya..
Padahal Ben sangat berharap Ratih memiliki perasaan yang sama..
Mungkin kah seiring waktu Ratih akan membuka hatinya..?
Bila sudah berpisah dari Fandi, suami zolim nya..
Dan benih-benih cinta mulai tumbuh di hatinya..🤭
Aku kira Sarah adalah istri kedua..
Ternyata dia sama saja murahannya..
Apa mungkin Bi Erma sama juga kelakuannya sewaktu masih muda..?
Ibarat buah jatuh sama sepohon²nya..
Punya anak, namun gak jelas status ayah nya..
Hmm.. Sungguh luar biasa mereka sekeluarga.. 🤭
Jika kau beruntung mendapatkan orang yang tepat, maka bahagia mu hingga ke akhirat..
Namun jika mendapatkan orang yg salah, maka lambat laun juga akan berpisah..
Entah itu di dipisahkan oleh perselisihan, perselingkuhan, bahkan hingga perceraian..
Sebab tak ada lagi kedamaian dan kepercayaan yg didapatkan jika satu sama lain hatinya telah saling bertentangan..
Saling ego untuk membuktikan siapa yang paling benar, tanpa ada yg mau mengalah karena di kuasai fikiran buruk dari setan.. 😁
Selamat Sarahhh.. Rasakan..!
Hukum tabur tuai sedang berjalan..
Perselingkuhan dibalas perselingkuhan..
Setimpal bukan..?!
Seperti yg Ratih rasakan.. 😏
biar Sarah jadi gila 🤣
Bahwa Rafa dan Ben banyak banget kemiripannya..
Perlu di selikidiki nih fakta kebenarannya..
Kalau perlu, Rafa & Ben melakukan tes DNA..
Untuk mengungkapkan fakta yg sebenarnya..
Bahwa malam kejadian itu, Ben lah yang bersama nya..
Bukan Fandi yg me ngaku² yg menolong nya..
Hingga Ratih terpedaya oleh tipuan Fandi padanya..
Jadi penasaran, bagaimana kisah awal kejadian nya.. 🤔
Tanpa menyadarinya, cinta tumbuh begitu saja di dalam hati 2 insan manusia..
Semisal tadinya hanya menganggap teman biasa saja..
Namun karena selalu bersama, terbiasa ada, dan saling mengenal 1 sama lainnya..
Maka saat itulah muncul rasa ketertarikan di hatinya..
Seseorang menyadari bahwa itu adalah perasaan cinta, ketika mereka berdua mulai ada rasa kehilangan salah satunya..
Dengan status teman di awalnya, justru kita bisa mengenal lebih baik tentang masing² karakter & kepribadiannya..
Berbeda dengan mereka yg langsung status pacaran di awalnya, terkadang justru lebih berpotensi untuk menerima orang yang salah dalam hidupnya..
Kenapa..?
Karena ketika kau menerima seseorang dengan status pacar, maka kau mengira bahwa seolah-olah dialah jodohmu yg sesungguhnya.. 😁
Begitu pula perselingkuhan, yg terbiasa selingkuh gak akan jera sebelum datang nya penyakit mematikan, dan di rajam sampai mati.. 🤭