NovelToon NovelToon
SISTEM DIMENSI RIMBA

SISTEM DIMENSI RIMBA

Status: sedang berlangsung
Genre:Action / Sistem / Fantasi
Popularitas:4k
Nilai: 5
Nama Author: Khatix Pattierre

“Satu juta tahun sekali, alam semesta memilih wadahnya. Dan kali ini, pilihan itu jatuh pada pemuda yang hampir mati."

Rimba Dipa Johanson hanyalah pemuda yatim piatu yang bertahan hidup di kerasnya pinggiran kota. Hidupnya nyaris berakhir tragis saat dikeroyok preman hingga sekarat di sebuah parit gelap. Namun, di ambang kematian, sebuah cahaya misterius menarik jiwanya masuk ke dalam warisan kuno.

Didampingi oleh Lara, pelayan dimensi yang cantik namun misterius, serta Cesar, serigala legendaris dari Hutan Asura, Rimba memulai perjalanan kultivasinya.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Khatix Pattierre, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

BAB 15: PETIR SURGAWI DAN EVOLUSI BAJA KARBON

Pagi itu di Dimensi Independen, Rimba Dipa Johanson tidak langsung melompat ke arena latihan fisik. Sebagai seorang pemuda yang tumbuh di era digital dan baru saja mengenyam bangku kuliah IT, ia tahu bahwa kekuatan otot harus berjalan beriringan dengan kekuatan finansial dan strategi yang matang. Ia melangkah menuju ruang kendali utama, tempat superkomputer Aether berdiri dengan cahaya birunya yang berpendar tenang.

"Aether," panggil Rimba dengan suara bariton yang mantap. "Aku ingin kau merancang sebuah infrastruktur lelang digital. Aku ingin sistem ini tidak bisa ditembus oleh protokol keamanan standar dunia luar. Gunakan enkripsi berlapis dan jalur komunikasi pribadi. Kita akan menjual salah satu aset terbesar kita."

Rimba kemudian mengambil perangkat perekam yang disediakan dimensi. Ia mulai menyunting video tentang batu Giok Imperial Heart miliknya. Di bawah arahan Aether, video itu bukan sekadar rekaman biasa; sinematografinya menangkap setiap detail serat hijau zamrud yang seolah bernapas, menangkap cahaya yang menembus kedalaman batu tersebut tanpa ada satu pun cacat. Setiap sudut pandang diambil untuk menunjukkan bahwa ini adalah harta karun yang hanya muncul sekali dalam seribu tahun.

"Tetapkan harga pembukaan di angka 30 Miliar Rupiah," perintah Rimba sambil menatap monitor. "Kenaikan tawaran minimal adalah 1 Miliar. Aktifkan lelang ini selama dua minggu waktu dunia nyata."

Rimba menyeringai tipis. Di dalam dimensi, dua minggu adalah waktu yang sangat lama—hampir 30 tahun. Itu memberinya ruang napas yang luar biasa luas untuk berlatih, berevolusi, dan menjadi cukup kuat untuk menghadapi siapa pun yang nanti akan memenangkan lelang tersebut. Ia tahu, orang yang mampu mengeluarkan uang puluhan miliar pasti memiliki koneksi politik atau kekuatan gelap di belakangnya. Ia harus siap.

---

Setelah menyerahkan tugas manajemen lelang, promosi di berbagai platform rahasia, dan kurasi penawar kepada Aether, Rimba kembali ke aula latihan indoor. Namun, sesi latihan kali ini terasa buntu. Meskipun ia telah mengatur gravitasi hingga ke titik ekstrem 625G—sebuah beban yang akan meremukkan tank baja sekalipun—Rimba merasa tubuhnya tidak lagi memberikan respon kemajuan.

Ia bisa bergerak lincah, pukulannya menciptakan ledakan udara yang dahsyat, namun tidak ada suara "derak" yang ia nantikan. Tidak ada sensasi tulang yang mengelupas. Tubuhnya seolah mencapai plafon yang tak kasat mata.

"Ra, kenapa aku merasa seperti ada dinding baja yang mengurung Dantianku?" tanya Rimba saat ia beristirahat di pinggir telaga, membiarkan kakinya terendam di air yang sejuk. Lara duduk di sampingnya, sedang menyisir rambutnya yang panjang. "Aku merasa sudah sangat kuat, tapi kenapa tingkat kultivasiku tidak mau beranjak dari Puncak Gerbang Raga?"

Lara meletakkan sisirnya, matanya menatap Rimba dengan tatapan penuh kebijaksanaan. "Itu karena kamu sedang berada di ambang transisi besar, Rimba. Dari Fase Pembentukan (Gerbang Raga) menuju Fase Manifestasi (Aliran Atma). Di dunia ini, kau tidak bisa naik tingkat hanya dengan bekerja keras di dalam dimensi yang terisolasi."

Lara menjelaskan bahwa Dimensi Independen adalah tempat untuk memupuk energi, namun untuk "melegitimasi" kekuatan tersebut, seorang kultivator harus berhadapan langsung dengan kehendak alam semesta di dunia luar. "Kau membutuhkan Penyiksaan Petir Surgawi. Kau harus membiarkan langit membaptis tubuhmu dengan petirnya. Carilah tempat di mana Qi langit dan bumi bertemu dengan liar; biasanya di puncak gunung yang sepi atau dekat kawah gunung berapi."

Rimba mengangguk paham. "Jadi, aku harus keluar dan menantang langit. Baiklah, mari kita lihat seberapa keras nyali alam semesta ini."

---

Rimba segera berganti pakaian. Ia tahu bahwa perjalanan ini akan sangat berat. Mengingat ia belum pernah ke pegunungan selatan secara langsung, ia tidak bisa melakukan lompatan dimensi secara instan ke sana. Ia harus keluar di titik terakhir yang ia ingat secara detail: pertigaan Desa Kenanga.

"Keluar!"

Wush! Rimba muncul kembali di jalanan aspal desa bersama motor Harley Davidson Fat Boy-nya. Tanpa membuang waktu, ia memutar gas. Raungan mesin 1.800cc itu membelah kesunyian desa saat ia melesat ke arah selatan. Setelah satu jam perjalanan dengan kecepatan tinggi, jalanan aspal mulai berganti dengan tanjakan berbatu yang terjal. Rimba memutuskan untuk menyimpan motornya kembali ke dalam dimensi karena pendakian ke puncak tidak lagi bisa menggunakan kendaraan.

Ia kemudian melesat dengan kecepatan kaki manusia super. Setiap lompatannya mencakup jarak sepuluh meter, mendaki lereng gunung berapi tua itu hingga mencapai puncaknya yang datar dan gersang. Di sana, ia merasakan aliran Qi yang sangat pekat, seolah-olah seluruh energi bumi ditarik ke titik ini.

Sebelum memulai, Rimba masuk sebentar ke dimensi. Ia melepas kemeja flanel dan kaosnya, hanya menyisakan celana latihan yang elastis. Ia tahu, petir akan menghanguskan apa pun yang menempel di kulitnya. Begitu kembali ke puncak gunung, Rimba duduk bersila, memejamkan mata, dan mulai menarik seluruh Qi di sekitarnya masuk ke dalam Dantian.

Seketika, cuaca berubah drastis. Langit yang tadinya biru cerah dalam hitungan detik tertutup oleh gumpalan awan yang hitam pekat dan berat. Angin menderu kencang, suaranya seperti tangisan ribuan roh di puncak gunung. Awan-awan itu bergulung, berputar membentuk pusaran raksasa tepat di atas kepala Rimba.

Fenomena ini begitu masif hingga penduduk di kaki gunung dan kota kabupaten yang berjarak puluhan kilometer keluar rumah dengan rasa takut. Langit seolah-olah akan runtuh. Di kaki gunung, beberapa sosok berpakaian jubah tradisional dan pendekar berhenti bergerak. Mereka adalah para kultivator yang sedang berkelana.

"Lihat itu! Pusaran Petir Surgawi!" seru seorang pria paruh baya dengan pedang di punggungnya. "Siapa yang memiliki nyali sebesar itu untuk naik tingkat di sini?"

"Aura ini... ini adalah transisi menuju Aliran Atma. Tapi kenapa skalanya seperti seseorang yang hendak naik ke tingkat dewa?" sahut rekannya dengan wajah pucat.

---

Di puncak, Rimba merasa tubuhnya mulai membara. Seluruh meridiannya, yang tadinya seperti sungai kecil, kini dipaksa menjadi lautan yang meluap. Dinding Dantiannya mulai retak karena tekanan Qi yang luar biasa besar. Suara krak... krak... mulai terdengar dari dalam dadanya.

"SEKARANG!" teriak Rimba.

BOOM!

Penghalang tingkat dua hancur berkeping-keping. Di saat yang bersamaan, langit seolah terbuka. Sebuah kilat raksasa berwarna biru putih, setebal pohon kelapa, meliuk turun dari pusat pusaran awan. Petir itu menghantam tepat di ubun-ubun Rimba.

"AAARRRRGGGHHHH!"

Rimba merasa setiap atom di tubuhnya diledakkan. Listrik surgawi itu tidak hanya menghanguskan kulitnya, tapi meresap hingga ke sumsum tulangnya. Seluruh tubuhnya rengkah, darah segar mengucur dari pori-porinya, dan otot-ototnya sobek memperlihatkan kerangka Tulang Besi Hitam yang nampak mulai membara kemerahan. Selama beberapa detik yang terasa seperti keabadian, petir itu terus mengalir, membumikan energinya melalui tubuh Rimba.

Rimba tersungkur. Ia bernapas terengah-engah, bau daging terbakar menyengat hidungnya. Namun, saat ia mendongak, celah di langit itu masih ada. Awan hitam masih bergulung-gulung dengan intensitas yang lebih gila.

"Belum selesai?" Rimba tertawa getir, memuntahkan darah hitam dari mulutnya. "Kamu ingin menghancurkanku, hah?! SINI! AKU BELUM MATI!"

Rimba berdiri dengan kaki gemetar. Ia mengerahkan seluruh sisa tenaganya, memicu jurus Tinju Besi dan melepaskan aura naga biru dari tubuhnya untuk menyongsong langit.

Petir kedua menyambar. Kali ini lebih dahsyat, seolah-olah alam semesta mengeluarkan seluruh kemarahannya. Benturan antara aura naga Rimba dan petir surgawi menciptakan gelombang kejut yang meratakan bebatuan di puncak gunung. Rimba kembali dihantam ke tanah, seluruh Qinya terkuras habis, celana latihannya telah hangus menjadi abu, membiarkannya telanjang bulat di bawah langit yang mulai mereda.

"Tenagaku habis... kalau kau datang lagi... aku menyerah," bisik Rimba dengan senyum kemenangan sebelum awan-awan itu akhirnya membubarkan diri.

---

Dengan sisa tenaga yang hanya sebesar biji sawi, Rimba menyentuh gioknya. "Masuk!"

Ia langsung terjatuh ke dalam Telaga Penyelarasan. Begitu tubuhnya yang hancur bersentuhan dengan air telaga yang mengandung sari pati kehidupan, rasa gatal yang luar biasa menyerang. Rimba tidak bisa bergerak, ia hanya bisa merasakan proses evolusi yang mengerikan sedang terjadi.

Seluruh Tulang Besi Hitam-nya mulai retak secara merata. Dari retakan itu, muncul cahaya keperakan yang suram. Lapisan besi hitam yang lama mengelupas, hancur menjadi debu abu-abu yang langsung larut dalam air telaga. Di baliknya, muncul struktur tulang baru yang lebih ramping namun berkali-kali lipat lebih padat: Tulang Baja Karbon.

Bukan hanya tulang, kulit dan ototnya pun tumbuh kembali dengan kecepatan yang tidak masuk akal. Serat ototnya tersusun kembali menjadi lebih liat, lebih responsif, dan lebih kuat. Dalam hitungan menit, Rimba yang tadi nampak seperti mayat terbakar kini kembali utuh, dengan kulit yang lebih cerah dan aura yang jauh lebih tajam. Ia telah resmi menjadi kultivator Tingkat 2 Rendah (Aliran Atma).

---

Sementara itu, di puncak gunung luar, para kultivator tadi sampai di lokasi. Mereka hanya menemukan kawah besar bekas hantaman petir dan tanah yang menghitam. Tidak ada tanda-tanda kehidupan.

"Hanya tingkat dua? Tapi auranya tadi sangat menakutkan," bisik salah satu dari mereka.

"Lihat kerusakan ini. Siapa pun dia, pasti sudah musnah menjadi debu. Tidak mungkin ada manusia tingkat rendah yang bisa selamat dari dua hantaman petir sebesar itu," ujar sang tetua dengan nada prihatin.

Mereka menggelengkan kepala, berasumsi bahwa sang jenius misterius itu telah tewas karena kesombongannya menantang langit. Mereka pun pergi, meninggalkan puncak gunung yang kini menjadi saksi bisu lahirnya seorang monster yang baru saja melampaui batasan manusia biasa. Di dalam dimensi, Rimba membuka matanya di dasar telaga, siap untuk mengguncang dunia dengan kekuatan barunya.

1
Davide David
lanjut thor abdet lagi episodnya👍💪💪💪💪
G.Lo
Semoga nggak putus saja update nya...cerita ok sekali...👍👍
D'ken Nicko
up dobel thor
D'ken Nicko
mantap poll ,up yg banyak
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!