Dunia telah retak, bukan hanya di permukaannya, melainkan di benak dan jiwa segala yang bernyawa. Kegelapan Umbra bukan sekadar musuh yang bisa ditusuk pedang, melainkan kabut tebal yang memisahkan hati dari hati, harapan dari kenyataan, dan cahaya dari tempatnya berpijak. Alam semesta kini hanyalah kepingan-kepingan kaca yang pecah, masing-masing memantulkan bayangan kesendirian yang suram, menunggu tangan yang berani menyatukannya kembali.
Di tengah kehampaan itu, hadirlah Luminar. Bukan sebagai benda, bukan pula sebagai sosok yang bisa dipeluk atau dilihat mata telanjang. Luminar adalah bisikan yang melayang di sela-sela angin, adalah denyut nadi yang tak terlihat namun terasa di setiap detak jantung yang masih berharap. Ia adalah entitas misterius yang wujudnya berubah-ubah bagaikan cahaya yang menembus prisma—kadang berupa aurora yang menari di langit malam, kadang berupa kilatan samar yang hanya muncul di sudut mata saat kita merasa paling sepi.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Nostalgic, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 5: Kemenangan di Tengah Keputusasaan
Rentetan tembakan akhirnya berhenti. Asap tebal hasil dari ledakan demi ledakan masih menyelimuti area tersebut, membuat wujud Luminar yang tergeletak di tanah terlihat samar dan buram di balik kabut kelabu itu. Perlahan namun pasti, Heras mulai bangkit kembali. Ia menumpukan berat tubuhnya pada kedua telapak tangan yang menekan tanah keras, tubuhnya sedikit membungkuk karena kehilangan banyak tenaga. Nafasnya terengah-engah, terdengar berat dan kasar—seperti erangan singa yang baru saja bertarung sekuat tenaga dan kini kelelahan luar biasa.
Tanpa banyak berpikir, Heras mengatur posisi tubuhnya. Ia menundukkan badannya, mengangkat pinggulnya sedikit ke atas dengan kedua kaki siap menapak, persis seperti awalan seorang atlet pelari profesional yang bersiap melesat di garis start. Dalam sekejap, ia meluncur dengan kecepatan yang sangat pesat, meninggalkan debu yang berterbangan di belakangnya. Tujuannya hanya satu: arah di mana induk kepiting humanoid tadi menghilang.
Sosok induk kepiting yang baru saja hendak melarikan diri itu sempat terkejut, namun belum sempat bereaksi lebih jauh. Heras sudah berada di depannya. Dengan ganas, ia melancarkan serangan. Ia melompat tinggi ke udara, memutar tubuhnya di angkasa, dan mengayunkan kakinya dengan kekuatan penuh—sebuah tendangan naga yang sangat memukau, penuh dengan aura kemarahan dan keteguhan.
DUG!
Hantaman itu mendarat dengan dahsyat di tubuh induk kepiting. Tidak ada kesempatan untuk bertahan. Induk monster itu kini hancur berkeping-keping seketika. Pecahan kulit kerasnya yang berwarna merah menyala tersebar ke mana-mana, berceceran di tanah yang sudah penuh dengan kehancuran.
Sesaat setelah musuh hancur, cahaya di dada Heras mulai meredup perlahan. Luminar menghilang secara samar-samar, seolah kekuatannya telah benar-benar terkuras habis, meninggalkan Heras kembali dalam wujud manusianya yang lemah.
Di sisi lain, pasukan pemusnah monster yang menyaksikan seluruh kejadian itu terpaku. Mereka melihat "monster" yang mereka serang justru menghancurkan monster lain yang jauh lebih berbahaya. Mata mereka terbelalak, tidak percaya dengan apa yang baru saja terjadi di depan mata mereka. Suara bisik-bisik mulai terdengar di antara barisan mereka, masing-masing mengeluarkan teori-teori asal-asalan, mencoba memahami situasi yang aneh dan membingungkan ini.
"Monster menghancurkan monster... apa yang sebenarnya terjadi?"
"Apakah itu sekadar perebutan wilayah, atau ada hal lain?"
Tiba-tiba, seseorang yang berdiri paling depan mengangkat tangan kanannya setinggi telinga, memberikan isyarat tegas untuk menghentikan keributan. Sosok itu tampak tenang dan berwibawa, jelas merupakan pemimpin mereka. Dengan gerakan tangan itu, ia menginstruksikan seluruh pasukannya untuk segera mundur dari tempat itu, membiarkan situasi mereda sebelum mengambil keputusan selanjutnya.
Sementara itu, di sudut lain yang jauh dari perhatian pasukan, Heras kini bersembunyi di balik tumpukan puing-puing bangunan—tepat di tempat di mana sisa-sisa tubuh korban berserakan tadi. Matanya yang tadinya tajam kini meredup, kehilangan kilauannya. Seluruh tubuhnya merasakan sakit yang luar biasa, terutama di bagian punggung yang masih terasa panas terbakar akibat tembakan energi tadi.
Dengan sisa tenaga yang ada, ia bergerak hanya menggunakan tangannya, merangkak perlahan dan susah payah menuju sebuah sudut yang gelap dan tersembunyi. Setelah merasa cukup aman, ia membiarkan tubuhnya jatuh bersandar pada dinding puing itu. Saat itulah, tiba-tiba sebuah cahaya lembut namun terang memancar dari dalam dirinya, dan sebuah notifikasi samar terasa di benaknya.
[Level Luminar Naik! Level sekarang: 2]
[Seluruh Atribut Naik +3 Poin]
Kekuatan baru itu perlahan mengalir di pembuluh darahnya, memberikan sedikit kelegaan di tengah rasa sakit yang mendera. Setelah merasakan perubahan itu, Heras perlahan menutup matanya, menyerah pada rasa lelah yang menyergap.